
Bohong jika dirinya tak merindukan sosok suaminya, Emilia begitu menahan rasa sesak melihat sosok Rafael, pria yang menjadi suaminya sekaligus ayah dari anaknya itu. Wanita itu menangis dalam dekapan Mami, Mami menatap sendu sang putri sambil mengusap punggungnya. Mami dan Papi sudah tahu apa yang terjadi, Papi semakin tidak suka dengan sosok Rafael, menantunya.
"Kenapa Emi harus bertemu dengannya Mi, kenapa. " gumam Emilia menangis sesegukan di pelukan sang mami. Ella tak kuasa menahan kesedihannya melihat saudara kembarnya menderita seperti saat ini.
"Sudah sayang, tenangkan dirimu. Papi tak akan membiarkan Rafael menyakiti kamu dan baby Khanza lagi. "ucap Mami dengan lembut. Emilia menghentikan tangisannya, wanita itu berusaha tegar menghadapi ini semua.
"Lalu keputusanmu apa nak, bertahan atau melepaskannya? " tanya Papi menatap puteri sulungnya.
"Entahlah Pi, Emi masih memikirkan semuanya dengan matang matang. " jawab Emilia dengan tegas. Emilia benar benar dalam posisi dilema, di satu sisi dia membenci suaminya namun di sisi lain Emilia begitu mencintai suaminya itu. Dia juga memikirkan puteri kecilnya yang masih membutuhkan sosok ayahnya.
"Sebaiknya kita kembali ke kota sekarang. " ujar Gara yang sedari tadi hanya diam memberikan pendapatnya. Papi dan Mami setuju, mereka lekas bangkit dan bersiap untuk kembali ke kota.
Emilia dan baby Khanza ikut bersama mami dan papi ke rumah mereka. Ella dan Gara langsung pulang, Gara tak ingin istrinya kelelahan. "Mas, nanti malam kita ke rumah mami dan papi ya, aku ingin dekat dengan Emilia. " ucap Ella.
"Sayang kamu sudah cukup lelah dengan kegiatan kita tadi,apa tidak sebaiknya besok saja. " bujuk Gara membopong tubuh sang istri menuju ke kamar.
"Tapi mas. " sela Ella. Gara memberi tatapan tajam padanya, Ellapun mengangguk pasrah. dia tak bisa mendebat keputusan suaminya saat ini.
"Kita mandi bersama. " Gara membawa istrinya ke kamar mandi, setelah menyiapkan air keduanya segera melepas pakaian mereka lalu masuk ke dalam bathtube.
Ella akui jika dirinya memang sudah lelah, kini wanita itu menikmati pijatan sang suami. Gara justru memainkan dua buah persiknya membuat Ella melenguh pelan, pria itu melakukan penyatuan dari belakang. "Umh. " gumamnya.
Gara melakukannya dengan lembut dan cepat, setelah puas mereka segera mandi dan ke luar. Pria itu melayani istrinya dengan baik, Ella berkali kali menolaknya namun tak dia dengarkan.
Ella memperhatikan suaminya yang tengah berganti pakaian, dia begitu beruntung memiliki suami seperti Gara, begitulah pikirnya. "Mas, aku kasihan sama Emilia dan baby Khanza, kenapa mereka harus mengalami hal ini. " ucap Ella dengan lirih.
__ADS_1
"Tuan Rafael begitu kejam, bagaimana bisa dia memperlakukan saudariku seperti itu. " desahnya berat. Gara menghela nafas berat, berbalik dan menghampiri istrinya itu. Dia usap kepala sang istri dengan lembut, menatap Ella dengan pandangan memujanya.
"Mas Gara gak akan bersikap seperti itu
'kan? " tanya Ella was was.
"Tentu saja tidak, apapun jenis kelamin calon anak kita aku tak masalah, asalkan kamu dan calon baby baik baik saja!
"Terimakasih ya mas, mas Gara mau menerima aku apa adanya, aku beruntung memiliki suami seperti Mas Gara! Gara mengulas senyumnya, mencium kening istrinya singkat. Ella mengusap perut buncitnya dengan lembut, Gara memberikan kecupan untuk calon anak mereka.
"Mas besok antar kamu cek kandungan ya sayang sekalian ingin tahu jenis kelaminnya apa. " ucap Gara dengan antusias. Ella mengangguk, terkekeh melihat suaminya yang begitu bersemangat.
Gara mengambil ponselnya, berbincang dengan ibu mertuanya sebentar lalu memberi tahu istrinya. Mami dan Papi akan memperkenalkan Emilia di depan semua orang nanti malam.
Malam harinya Ella dan Gara datang ke hotel, tempat di mana mami dan papi mengadakan pesta dadakan. Keduanya mengenakan pakaian yang senada berwarna biru langit, dengan posesif Gara membawa Ella menemui orang tua mereka. Ella tampak gemas dengan keponakan cantiknya itu, Emilia terkekeh melihat tingkah kembaran nya. "Ya ampun Ella kau hiperaktif sekali, ingat lho kamu sedang hamil. " tegur Emilia sambil tersenyum.
Papi dan Mami meminta Emilia ke depan, Emilia menurut sambil menggendong puterinya. Papi memperkenalkan puteri dan cucunya itu pada semua tamu undangan, Emilia Stefani / Anastasya Emilie Rodriguez. Tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan sepasang manik kelam milik suaminya. Emilia begitu terkejut melihat sosok Rafael yang berada di antara para tamu.
"Bagaimana bisa mas Rafa ada di sini? " batin Emilia dalam hati. Dia merasa gugup melihat sosok sang suami, Emilia menoleh kearah orang tuanya dan memberi kode pada mereka. Gadis itu menyerahkan baby Khanza pada neneknya, lalu pergi dari sana.
"Pi, apa tidak apa apa membiarkan Rafael menemui puteri kita? " tanya Mami pada suaminya.
"Tidak apa apa Mami, jika Rafael macam macam dan kembali menyakiti Emilia, Papi sendiri yang akan turun tangan menghajarnya. " tegas Papi. Mamipun mengangguk, fokusnya kembali pada cucu kesayangan mereka ini.
Sret
__ADS_1
"Emilia tunggu. " Rafael mencekal tangan istrinya, Emilia menghempasnya kasar. Berbalik dan berhadapan dengan pria yang dia cintai sekaligus dia benci saat ini.
"Apalagi Mas,apa mas belum puas menyiksa fisik dan batinku? " sela Emilia dengan wajah datarnya.
"Aku turut senang melihat kamu telah menemukan keluarga kandungmu Emi, sekali lagi maaf atas sikap egoisku padamu! Rafael benar benar menyesali perbuatannya yang begitu kejam pada istrinya.
"Aku maafkan, sekarang pergilah karena aku ingin bersenang senang dengan keluargaku. " sinis Emilia. Rafael menggeleng, dia tak menyetujui keinginan sang istri. Pria itu langsung mendekapnya erat, melampiaskan rasa rindunya pada Emilia. Emilia berusaha memberontak namun percuma, tenaganya kalah jauh. Diapun pasrah saat dirinya di peluk oleh Rafael.
Jujur Emilia begitu merindukan suaminya, ingin selalu bersama Rafael di setiap waktu namun kenyataan tak seindah angannya. Rasa sakit dalam hatinya tak kunjung mereda, dia begitu mengingat bagaimana perlakuan Rafael dan ibunya kepada dirinya.
"Aku sangat merindukanmu sayang!
"Aku juga mas, aku juga sangat merindukan kamu. " batin Emilia dalam hati. Tersadar dari apa yang dia lakukan, Emilia segera mendorong tubuh suaminya. Rafael menghela nafas kasar, berdecak pelan melihat penampilan istrinya malam ini. Dia tak rela melihat kecantikan Emilia di nikmati oleh pria lain.
"Kau ternyata di sini Emi? " suara berat seseorang membuat mereka menoleh, seorang pria datang menghampiri Emilia. Emilia bernafas lega melihat pria yang baru di kenalnya itu datang. Steven Antonio.
Rahang Rafael mengeras melihat kedekatan istrinya bersama pria lain. dirinya dianggap tidak ada oleh keduanya. Sekuat tenaga dia mencoba menahan amarahnya yang hampir meledak. "Siapa dia Emi, apa kau lupa kau masih istriku sayang? " ujar Rafael menekankan kata istri.
"Halo Aku Steven Antonio, teman dekat Emilia. Paman Danu yang mengenalkan aku pada Emilia. " jelas Steven. Rafael kini mengepalkan kedua tangannya, tatapan tajamnya kini beralih pada Emilia. Emilia hanya diam tak peduli dengan tatapan suaminya itu. Gadis itu tahu jika suaminya kini tengah menahan amarahnya sekarang.
"Aku tahu aku salah Emi, tapi ingat kau harus jaga sikapmu, Kau istri dari Rafael Leonardo Osmond. " tegas Rafael menarik tubuh istrinya agar menempel padanya. Emiliapun hanya pasrah, memberi kode agar Steven untuk pergi dan pria itu terpaksa menurutinya.
"Dia sudah pergi sekarang, tolong lepaskan aku Mas. " Emilia menepis tangan suaminya dari pinggang rampingnya. Dia memilih pergi dari sana dan berbaur bersama keluarganya yang di susul Rafael. Ella menatap kehadiran Rafael, kakak iparnya dengan wajah kecutnya.
"Ternyata masih punya nyali juga dia setelah apa yang dia lakukan pada Emilia. " batin Ella kesal.
__ADS_1
tbc