
Pagi ini Ella berjalan santai di sekitar taman dekat mansion keluarga Jonstone. Gadis itu tengah memperhatikan beberapa pasang kekasih yang berada di taman tersebut, mereka saling berbagi tawa bersama. Ella menghela nafas panjang, duduk di sebuah bangku lalu meneguk air mineral yang dia bawa.
"Ya Tuhan, apa aku bisa merasakan hal yang sama seperti orang lain rasakan, tertawa bersama dengan kekasihnya dan hidup
normal dan bahagia. " gumam Ella pelan. Selama ini dia selalu dibayangi ketakutan, setiap hari harus meminum pil hanya demi kesehatan jantungnya.
"Ella. " panggil seseorang
Ellapun menoleh seorang pria datang menghampirinya, gadis itu tersenyum tipis padanya. "Hai Ben, bagaimana kabarmu? " tanya Ella.
"Aku baik, bagaimana keadaan kamu La? " tanya Ben yang mengetahui kondisi temannya itu. Ella hanya tersenyum menanggapinya, Benpun menghela nafas panjang.
Bernard Julius Arkanza alias Ben merupakan seorang dokter muda spesialis penyakit jantung, selama ini dialah yang mengontrol kesehatan Ella. "Kau tahu Ben, terkadang aku ingin menyerah begitu saja dengan keadaan ini, aku pasrah jika sewaktu waktu aku pergi. " gumam Ella.
"Jangan berbicara seperti itu Ella, kau bukan Ella yang ku kenal. Ella yang ceria dan pantang menyerah bukan psimis seperti ini. Aku sangat yakin nanti pasti akan ada donor jantung untuk kamu Ella. "
"Kau tahu Ben, kedua orang tuaku mulai mencurigai keadaanku Ben, aku tak ingin mereka bersedih jika mengetahuinya. " ujar Ella.
Benpun merasa bersalah, memeluk tubuh Ella dari samping. "Maafkan aku Ella, sebenarnya kedua orang tuamu sudah tahu dan merekapun tengah berusaha mencari pendonor untuk kamu!
"Apa! Ben kau benar benar mengingkari janjimu, kenapa kamu memberitahu mereka. " geram Ella kesal.
"Maafkan aku Ella. "
Ella bangkit, emosinya meluap namun tiba tiba rasa sakit menghampiri dadanya. Ben yang panik segera membopongnya, membawanya ke dalam mobil. Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang.
Ben dan suster langsung menangani keadaan Ella yang berbaring. Pria itu merasa bersalah pada gadis yang dia anggap sebagai adik kecilnya itu. "Dokter, ini ponsel nona Ella terus berdering sejak tadi. "
__ADS_1
Ben menerimanya, susterpun pergi. Diapun ke luar karena tak ingin menganggu Ella yang tengah terlelap karena obat. "Halo saya Bernard, teman nona Ella. "
"Di mana Ella sekarang? " tanya Gara.
"Rumah sakit xxx. " Ben mematikan teleponnya, menyimpan ponsel Ella ke dalam saku. Beberapa menit berlalu Gara datang dengan tergesa gesa menghampirinya.
Gara yang awalnya emosi mendadak tenang setelah mendengar penjelasan Ben. Pria itu mengepalkan tangannya lalu masuk ke dalam ruangan rawat Ella. Pria itu membelai wajahnya, lalu di kecupnya kening gadis itu. Ella membuka matanya, gadis itu tersenyum kearah Gara. Dia membantunya bangun, Ella memperhatikan tangannya yang di genggam erat oleh Gara. "Kok Om tahu kalau Ella ada di sini om? " tanyanya.
"Ben yang memberitahuku!
"Dia jahat om, dia anggap aku adiknya tapi dia mengingkari janjinya padaku om. " keluh Ella.
"Orang tuamu berhak tahu Ella, kau jangan egois. " geram Nagara dengan wajah dinginnya. Ella mendadak diam, Nagara segera memeluknya dari samping, diapun berbalik. Pria itu memberikan perlindungan dari balik pelukan hangatnya itu, membuat Ella merasakan nyaman.
Gadis itu tersenyum, mendengar detak jantung Gara yang berdetak cepat sama halnya dirinya. Lagi lagi Ella terkejut kala Gara menyatukan bibir mereka, gadis itu menikmati ciuman lembut dari Gara. Setelah ciuman berakhir, tangan Ella melingkar ke pinggang Gara. "Om, ingin dengar tidak impian aku!
"Ya aku ingin dengar. "
"Tentu saja bisa, tapi aku tidak suka dengan kata katamu pergi dengan tenang. Aku akan melakukan segala cara agar kau sembuh Ella!
"Om, bisakah kita pulang sekarang. " pinta Ella sambil merengek.
"Hm ayo. " Gara bangun, membopongnya ke luar setelah menemui Dokter Ben dan mendapat persetujuan. Pria itu melajukan roda empatnya, meninggalkan area rumah sakit.
Gara menurunkan Ella, keduanya masuk ke dalam penthouse. Gadis itu pergi ke ruang tamu, lalu berusaha menghubungi Rendy, kekasihnya. "Kak Rendy kok nomornya gak aktif ya, apa dia begitu sibuk!
"Om Gara, apa yang aku katakan tadi lupain aja ya om. Lagian aku sudah punya kak Rendy, aku ingin hidup bahagia bersamanya. " ucap Ella sambil melirik Gara.
"Kau yakin dengan Rendy, atau jangan jangan pria itu tengah bersama wanita lain. " ujar Gara setengah meledek. Bibir Ella mencebik kesal mendengarnya,dia tak suka akan ucapan Gara barusan. "Enggak mungkin om, aku sangat percaya pada kak Rendy!
__ADS_1
"Hn terserah kamu!
Merasa bosan, Ella menaruh ponsel dan pergi ke kamarnya. Tak lama gadis itu kembali dan bergegas ke teras, Gara yang melihatnya segera menyusul gadis itu.
"Om Gara kenapa sih cium aku terus, dasar modus. " protes Ella setelah ciuman mereka terlepas. Gara terkekeh, melihat rona merah di pipi Ella. Ellapun berenang ke tepi, menikmati suasana tenang dan menenangkan. Gara menahan senyumnya, lantas meraih tubuh Ella lalu memutarnya.
Ella terpekik, mengeratkan pelukannya ke leher Gara, pria itu terus menggodanya. Gara dengan sengaja merapatkan tubuh mereka, Ella bisa merasakan sesuatu yang menusuknya.
"Itu apa Om? " tanya Ella polos.
"Itu Reaksi alami dari tubuhku saat berdekatan dengan kamu Ella. " jawab Gara sambil tersenyum miring.
"Aku ingin lihat Om Gara menikah, biar aku saja yang menjadi bridesmaidnya om. " ucap Ella sambil tersenyum membayangkannya. Gara justru tak peduli dengan ucapan Ella, dia hanya fokus pada penampilan Ella yang cukup seksi di matanya.
"Jika kau yang aku inginkan bagaimana? " tanya Gara memancing respon dari Ella. Ella menatap tak percaya kearahnya kemudian tertawa lepas.
"Om gak mungkin suka sama aku 'kan, gadis penyakitan?
"Menurut kamu, bagaimana baby? " tanya Gara dengan senyuman di bibirnya.
Ella segera mendorongnya, lalu melanjutkan berenangnya. Salah satu maid datang, menyajikan minuman dan cemilan setelah itu pergi begitu saja. Setelah puas berenang, Ella naik keatas segera memakai bathrubenya begitu juga dengan Gara. Gadis itu segera meneguk jus favorirnya, Gara tersenyum geli melihat tingkahnya yang buru buru. "Kenapa kamu buru buru sekali Ella? "
"Aku gak mau lama lama, takut di terkam singa jantan yang buas. " Gara tergelak mendengar ucapan Ella barusan. Gara menahannya untuk tetap duduk, mau tak mau Ellapun menurut.
"Aku tidak akan menggodamu lagi Ella, kau harus semangat berjuang demi kesembuhan kamu dan orang orang yang sayang sama kamu!
"Om benar, aku bodoh ya om karena terlalu psimis dengan apa yang aku alami. "
__ADS_1
Gara mengusap kepalanya lembut, Ella hanya diam dan tatapan mereka bertemu. Gadis itu memutusnya lebih dulu, merasakan debaran jantungnya kian cepat.
tbc