
Kini Zafira tengah mengobrol dengan tante Asya, ibundanya Meisya. Wanita hamil itu tentu saja terkejut setelah mendengar masa lalu kelam sahabatnya. "Kenapa Meisya enggak pernah cerita sama aku Bun, aku merasa sebagai sahabat tidak berguna untuknya. "
"Fira sayang, Meisya sangat menyayangi kamu dan dia sepertinya tidak ingin membuatmu khawatir dan mengingat saat ini kamu tengah hamil sekarang!
Zafira mengangguk paham, dia jadi kepikiran dengan sahabatnya itu. Dia berharap Garvin bisa menjaga dan melindungi Meisya dari pria gila yang menganggu Meisya. Mereka kembali mengobrol, mami Amira datang dan bergabung bersamanya. Dia melirik jam di tangannya, waktu menunjukkan pukul sepuluh siang.
"Mami, Bunda aku ke kantor Evan. " pamit Zafira pada ibu dan tante Asya.
"Hati hati sayang. " Zafira mengangguk, dia segera mengambil tas dan bekalnya setelag itu pergi. Dia memilih naik taksi menuju ke perusahaan sang suami tercinta. Selama perjalanan, wanita itu mengirim pesan dan menanyakan keadaan Meisya. Setelah selesai dia menyimpan kembali ponselnya dalam tas.
Tiba di perusahaan Zafira langsung turun, dia masih ke dalam kantor yang di sapa para karyawannya. Wanita hamil itu langsung menaiki lift menuju ke lantai 6 di mana ruangan sang suami berada.
Ke luar dari Lift Zafira langsung menuju ke ruangan sang suami, dia mendorong pintunya lalu masuk ke dalam. "Hubby!
Evan menoleh, pria itu tersenyum lebar dan beranjak menyambut kehadiran istri tercintanya. Pria itu menciumnya sekilas lalu mengiringnya duduk di sofa. Zafira segera menyiapkan makanan,
Chicken Fried Rice, makanan favorit Evan.
serta satu botol air mineral.
"Sayang, suapi aku dong. " rengek Evan dengan manja. Zafira tersenyum mendengarnya, wanita itu lantas menyuapi sang suami. Evan sendiri begitu lahap menerima suapan dari istrinya, hingga tak terasa makanan itu habis. Pria itu langsung meneguk air mineral yang di bawa wanitanya.
Selesai makan, Zafira bersandar di bahu suaminya. Evan menggenggam tangannya, dia hanya diam saat istrinya membahas masalah Meisya.
__ADS_1
"Menurutku pria gila itu terobsesi dengan Meisya, Garvin pasti tak akan tinggal diam dalam hal ini. " gumam Evan.
"Bukankah cinta sejati merelakan orang yang dia cintai bersama orang lain tapi sepertinya pria itu bukannya cinta pada Meisya namun obsesi seperti yang kamu ucapkan barusan sayang!
"Yakinlah sayang, Garvin pasti bisa menjaga Meisya dengan baik. " ucap Evan yang di angguki istrinya. Dering ponselnya membuat obrolan keduanya terhenti, Evan merogoh ke dalam saku lalu mengambil ponselnya.
Zafira hanya diam, menyimak obrolan suaminya dengan Garvin di telepon. Selesai bicara Evan memasukkan kembali ponselnya, dia menjelaskan secara singkat pada istrinya. Keduanya bangkit, ke luar dari ruangan dan Evan meminta sang asisten untuk menggantikan dirinya hari ini.
Setelah memastikan istrinya mengenakan sabuk pengaman, Evan melajukan roda empatnya menuju ke rumah sakit. Zafira begitu khawatir akan keadaan Meisya saat ini, haruskah dirinya menghubungi bunda Asya.
Tiba di rumah sakit, keduanya turun dan bergegas menemui Garvin. Pria itu berada di luar ruangan, Evan menepuk pundaknya pelan. "Vin sebenarnya apa yang terjadi, bagaimana bisa Meisya bisa celaka seperti ini bukanlah kamu bersamanya? " cecar Zafira penasaran.
"Ada nomor asing yang menghubungi ku, sepertinya nomor itu mencoba menipuku. Saat aku kembali, aku melihat dua orang pria hendak menyeret Meisya dan menculiknya. " ujar Garvin menjelaskan kronologi kejadiannya.
"Ya Tuhan. " gumam Zafira lirih, dia menitikkan air matanya mendengar kejadian yang menimpa sahabatnya. Evan merengkuh istrinya, berusaha menenangkan wanitanya agar tidak stres dan berujung berimbas pada calon anak mereka.
"Bagaimana keadaan Meisya sekarang dok? " tanya Garvin.
"Nona Meisya begitu syok tuan, di bagian kepalanya terkena benturan namun untung ya tak membuat nona Meisya amnesia. " ujar Dokter panjang lebar. Dokter langsung pergi dari sana, Garvin dan lainnya bernafas lega. Ketiganya langsung pergi ke ruangan Meisya yang telah di pindahkan barusan.
Zafira dan suaminya memilih menunggu, dia memberikan ruang untuk Garvin memastikan keadaan Meisya. Evan meminta istrinya untuk duduk di kursi, Zafira menurut. Perempuan itu mengusap perutnya yang menonjol dengan lembut. Pria itu menggenggam erat tangan sang istri, dia menghela nafas panjang.
"Sayang, apa perlu kita memberitahu bunda Asya mengenai keadaan Meisya saat ini? " tanya Zafira meminta pendapat suaminya. Evan mengangguk, Zafira segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi Bunda Asya.
__ADS_1
Setengah jam berlalu bunda Asya dan Ayah datang dengan langkah buru buru. Kedua paruh baya itu begitu panik setelah mendapat kabar mengenai keadaan putri mereka.
Bunda dan Ayah langsung masuk ke dalam ruangan putri mereka, melihat kehadiran calon mertuanya membuat Garvin bergeser. Pria itu meminta maaf pada mereka akan kegagalannya menjaga Meisya.
"Ayah, Bunda maafin Garvin yang gagal melindungi putri kalian. " sesal Garvin.
"Sudahlah nak, gak perlu menyalahkan diri kamu sendiri Vin. " ujar Ayah Erwin pada calon menantunya. Bunda Asya menangis tersedu, menciumi wajah pucat putrinya. Ayah sendiri begitu khawatir dan berusaha menenangkan istrinya.
Ayah mengajak Bunda untuk duduk di sofa, Garvin kembali duduk di dekat Meisya. pria itu berulang kali menciumi telapak tangan sang kekasih hati. "Maafin aku baby, maaf karena kelalaianku kamu harus celaka seperti ini. " gumam Garvin dengan lirih.
Dia merasakan tangan gadisnya bergerak, pria itu mengangkat wajahnya dan melihatnya telah sadarkan diri. Garvin segera menekan tombol di dekat ranjang kekasihnya. Tak lama dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Meisya saat ini.
"Keadaan nona Meisya saat ini sangat stabil tuan, dan tolong jangan buat dia tertekan mengingat nona Meisya memiliki trauma. " ujar Dokter.
"Kalau begitu saya permisi. " Dokter langsung pergi dari ruangan Meisya. Garvin kembali menatap sendu sang kekasih, tangan Meisya terukur membalas menyentuh tangan prianya itu.
"Sayang, bantu aku bersandar. " pinta Meisya yang di angguki Garvin. Wanita itu mengusap wajah kekasihnya, lalu memeluk Garvin dengan erat. Garvin terus menciumi pucuk kepala wanitanya sambil membisikkan kata kata penyemangat.
Meisya melepaskan pelukannya, memanggil sang bunda agar mendekat. Bunda Asya langsung memeluk putrinya, menciumi kening sang anak dengan lembut penuh kasih sayang. Ayah sendiri bernafas lega melihat keadaan putrinya saat ini.
"Sayang, ada bunda, Ayah dan Garvin yang menjaga kamu. Kamu jangan takut dengan dia ya sayang, kami semua tak akan membiarkan pria itu menyakiti kamu lagi. " ujar Bunda Asya.
"Iya Bunda, maafin Meisya yang membuat bunda dan Ayah menjadi cemas seperti ini. " sesal Meisya. Bunda Asya langsung mencubit pelan hidung putrinya, Meisya tersenyum mendengar sang ibu mengomeli dirinya.
__ADS_1
Meisya juga ingin meminta peluk dari sang ayah, ayah tentu saja menuruti permintaan dari putrinya yang manja ini. Meisya sendiri meledek kekasihnya dari jauh, Garvin menggeleng pelan melihat tingkah usil wanitanya.
"Dasar tukang pamer. " gerutu Garvin yang masih bisa di dengar Ayah. Ayah tertawa pelan, dia segera melepaskan pelukannya.