
Malam harinya, Cyra tengah di layani oleh pelayan. Mengingat dirinya akan ikut jamuan makan malam di istana Cairos. Berkali kali dia membuang nafas kasar, sebenarnya Cyra sangat tak menyukai hal ini namun tak bisa berbuat apa apa.
"Sudah selesai nona, mari kita ke luar!
Para pelayan membawanya ke luar dari kamar, menuruni anak tangga. Mereka menghampiri sang tuan muda, Ray nampak takjub dan puas dengan penampilan Cyra. " Mari kita berangkat sekarang juga. "
"Iya Tuan Muda! Cyra menggandeng lengan Ray, lalu berjalan bersama ke luar dari istana. keduanya masuk ke dalam mobil, sopir melakukannya kencang diikuti para pengawal dari belakang.
Cyra merasa gugup, pertama kali ikut dalam acara resmi seperti ini, Ray yang menyadarinya segera mengenggam tangan Cyra. Ray memandang Cyra dengan tatapan lembutnya. " Jangan takut, tidak akan ada yang mencemooh kamu di sana!
"Em iya Tuan Muda!
" Mulai sekarang panggil saja aku Ray, jangan terlalu formal saat kita berdua. "
Skip
Istana Cairos
Ray memeluk pinggang Cyra, bersama sama memasuki istana. Banyak bangsawan yang telah hadir dalam pesta dan juga jamuan makan malam. Semua orang langsung beralih, menatap kedatangan Ray dan juga Cyra. Sepasang wanita dan pria datang, menyambut kehadiran mereka. "Malam tuan muda Ray, akhirnya anda datang juga! sapa Charles
" Wanita cantik ini siapanya anda? " tanya Ella dengan lembut.
"Dia Cyra, calon istriku nona Ellaa! Charles dan Ella terkejut mendengarnya termasuk juga dengan Cyra. Cyra menatap tak percaya kearah Ray, Ray hanya menanggapinya dengan senyuman.
" Tuan Muda, Nona Cyra mari kita ke tempat perjamuan. " ajak Ella.
"Iya Nona!
__ADS_1
Beberapa pasang mata memperhatikan Cyra hal itu membuatnya tak nyaman, dia mengenggam erat tangan Ray. " Perkenalkan gadis ini adalah calon istriku, Cyra Arabella!
Semua orang terkejut mendengar penuturan dari Ray, "Tapi tuan muda Ray, bukankah Anda di jodohkan dengan nona Elizabeth. "
"Ini hidupku, tak ada yang berhak mengaturnya dan Cyra lah yang aku pilih menjadi calon pendampingku. " tegas Ray. Semua bangsawan terdiam dan bungkam mendengar ucapan Ray barusan. Ada sepasang netra cokelat, memperhatikan Cyra dengan intens hal itu di sadari Ray.
"Tuan Ivander, saya harap anda bisa menjaga pandangan mata anda pada calon istri saya. " ujar Ray dengan sorot mata tajamnya.
Pria yang di sebutkan namanya, kini langsung menanggapinya dengan kekehan. "Tuan Muda Ray, tipe gadis anda sangat luar biasa, calon istri anda sangat cantik, menarik dan juga seksi. " ujar Ivander dengan santai.
Cyra merasa kesal dengan pria dihadapannya yang terlalu banyak bicara, ingin sekali dia menyumpal mulut pria di depannya dengan tisu. Diapun menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskan pelan, gadis itu memandang kearah Ivander. "Maaf sebelumnya saya ikut nimbrung, sepertinya tuan Ivander sangat jeli ya memperhatikan seorang wanita, atau jangan jangan keseharian tuan Ivander adalah bermain wanita di ranjang. "
"Apa maksud kamu nona? "
"Em begini dari nada bicara anda, sepertinya anda sangat ahli merayu wanita, hal itu tak mencerminkan sebagai seorang bangsawan. "
Ivander merasa tidak terima, diapun bangkit dan menatap tajam kearah Cyra. "Jangan berbicara sembarangan nona, hal bisa jadi pencemaran nama baik saya. " geram Ivander.
Mereka semua makan malam bersama dengan tenang, Cyra bernafas lega dan merasa lelah berdebat dengan pria seperti Ivander.
**
Setelah makan malam, mereka semua menikmati pesta, berdansa bersama pasangan masing masing. Ray dan Cyra berdansa bersama, sesekali Ray menyelipkan anak rambut Cyra dengan lembut. Cyra kini merasa gugup di tatap intens oleh Ray, Ray tersenyum kecil melihat sikap Cyra.
"Em Ray, aku ingin pergi ke toilet!
"Baiklah, biar aku antar kamu ke sana. " Cyra menggeleng, diapun berlalu pergi dari hadapan Ray. Ray kini berbincang dengan bangsawan lain, Ivander langsung menyusulnya dengan senyuman penuh arti.
Cyra ke luar dari toilet dan merasa lega, terkejut melihat kehadiran Ivander di sana. "Minggir tuan, aku mau lewat. " Cyra berusaha mendorong tubuh besar Ivander namun Ivander tak bergeming.
Ivander tersenyum miring, menyentuh dagu Cyra dengan lembut dan hendak menciumnya. Plak Cyra menampar nya dengan keras, tatapannya menusuk dan menatap tajam pada Ivander. "Jaga sikap anda tuan Ivander. " geram Cyra dengan emosi tertahan.
"Wow ternyata kamu sangat liar dan agresif aku sangat suka. " Ivander berjalan mendekati Cyra, Cyra memundurkan langkahnya dan berusaha menjauhi pria kurang ajar di hadapannya.
__ADS_1
Di sisi lain Ray melirik jam tangannya, dia terlihat cemas karena Cyra tak kunjung kembali. Dia memutuskan pergi ke toilet menyusul Cyra ke sana, sampai di sana dia mengeraskan rahangnya. Menarik pakaian Ivander, lalu menghajarnya habis habisan.
Bugh
bugh
"Ray please udah. " ucap Cyra mencoba menahan Ray yang emosi. Ray menghentikan aksinya, dia menatap tajam kearah Ivander.
"Kupastikan kamu akan hancur beserta kerajaannya, berani beraninya mengusik wanitaku. " geram Raymond. Ray mengajak Cyra pergi dari sana, mereka berpamitan pada bangsawan lain setelah itu ke luar. Cyra langsung memeluk punggung Ray dari belakang, berusaha meredakan emosi tuan mudanya itu.
Setelah tenang Ray berbalik dan memeluk tubuh Cyra sekilas kemudian masuk ke dalam mobil. Sopir melajukan mobilnya meninggalkan istana Cairos, selama perjalanan Cyra mengenggam tangan Ray. "Aku mohon kontrol emosimu Ray, aku enggak mau membuat citramu sebagai bangsawan menjadi tercemar hanya karena aku!
Ray menghela nafas kasar, dia mengangguk. Namun diam diam dia telah merencanakan sesuatu untuk memberi pelajaran bagi Ivander tanpa sepengetahuan Cyra.
**
Istana Wallace
Keduanya turun dari mobil, berjalan memasuki istana. Terlihat sangat sepi mengingat hari sudah larut malam. Ray mengenggam tangan Cyra, hingga mereka sampai di lantai atas. Cup Ray mencium kening Cyra dengan lembut setelah itu menjauhkan wajahnya. " Maaf atas sikap emosional aku tadi, kamu pasti terkejut!
"Sudahlah jangan di bahas Ray, sebaiknya kamu istirahat! Mereka masuk ke kamar masing masing, Cyra menutup pintu kamarnya pelan. Gadis itu langsung pergi ke kamar mandi, berendam supaya rasa penatnya sedikit hilang.
Setelah selesai dia mengambil piyama lalu memakainya, Cyra menghempaskan dirinya di kasur. Hari ini begitu berat baginya, setelah berdebat melawan Elizabeth dan kini harus berhadapan dengan pria murahan seperti Ivander.
" Huft hidupku semakin rumit dan sulit. "
"Jika aku kembali ke kediaman madison, aku yakin daddy mendesakku menerima perjodohan dengan Bryan. " batinnya. Cyra mengusap wajahnya pelan, menarik selimut menutupi hingga sebatas dada.
"Lebih baik tinggal sementara di istana sambil memikirkan cara untuk kabur. " pikirnya.
Cyra memejamkan kedua matanya, tak butuh lama diapun terbang ke alam mimpi.
bersambung
__ADS_1