Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Musim Ketiga Part 17


__ADS_3

Sepanjang pesta Emilia terus dibuat jengkel dengan tingkah suaminya, wanita itu tersenyum getir. Kenapa tidak sejak awal Rafael bersikap lembut dan perhatian setelah kelahiran baby Khanza. Kenapa baru sekarang setelah dirinya menjauh dan pergi dari sisi Rafael. Ella datang, memberikan pelukan untuknya agar tenang. "Meskipun kita baru bertemu, aku yakin kamu bisa melewati ini semua Emi!


"Makasih ya El, aku beruntung memiliki saudari sepertimu dan sebentar lagi aku punya keponakan. " jawabnya sambil tersenyum. Ella mengangguk, keduanya kembali berpelukan sekilas.


Rafael datang dan lagi lagi Emilia menghindar, pria itu terus mengikuti sang istri dan mengajaknya bicara berdua. Ella di tahan Gara agar tidak ikut campur dengan urusan Emilia dan Rafael.


"Pesta sudah selesai sayang, sebaiknya kita istrihat dan menginap di sini semalam. " ujar Gara pada sang istri. Ella mengangguk, dia pasrah kala tubuhnya di gendong sang suami menuju ke kamar.


##


Pagi ini mereka berkumpul di meja makan, Gara melayani istrinya dengan baik dan tak lupa membuatkan segelas susu untuk Ella. Emilia mengulas senyumnya melihat kemesraan Ella dan Gara tanpa mempedulikan sosok suaminya yang berada di sebelah dirinya.


"Mi, Pi ada hal yang ingin aku katakanpada kalian. " ujar Emilia.


"Katakan saja nak. " jawab Mami dengan senyuman hangatnya.


"Aku sudah memutuskan akan bercerai dari mas Rafael. " ujarnya membuat semua orang tercengang terutama Rafael.


"Sayang, bisakah kita bicarakan ini dengan baik baik. " bujuk Rafael yang di balas gelengan oleh Emilia.


"Keputusanku tak bisa di ganggu gugat. " putus Emilia tegas. Rafael menghela nafas kasar, raut wajahnya menunjukkan kesedihan mendengar keputusan sang istri. Rafael menoleh kearah Ella, memelas kearah adik iparnya itu.


"Ella please, bujuk Emilia agar mengurungkan niatnya. "


"Meski aku saudara kembar Emilia, tapi aku tak berhak ikut campur dalam urusan kalian. " jawab Ella tenang.


"Apa kau senang melihat aku dan Emilia bercerai hah. " geram Rafael yang lepas kendali. Gara yang awalnya tenang mendadak emosi mendengar ucapan Rafael.

__ADS_1


"Jaga bicara kamu Rafa!


"Mas Rafa. " Emilia benar benar tak menyangka dengan suaminya yang menuduh Ella seperti tadi. Mood Ella yang sensitif semenjak hamil dan emosi nya tak labil membuatnya meledak.


"Melihat sikap egoismu memang kau tak pantas untuk Emilia. " balas Ella tak kalah sengit melampiaskan emosinya. Suasana berubah dan panas dan tegang, Ella tidak menyangka jika Rafael menganggap dia picik.


"Aargh. " Ella menyentuh dadanya lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri, Gara yang awalnya marah mendadak panik. Pria itu membopong istrinya yang pingsan dalam pelukannya, semua orang panik melihatnya. Mami dan Papi menyusul menantunya, kini tinggalah Emilia dan Rafael.


Plak


Emilia menamparnya keras, dia begitu kecewa dengan sikap suaminya. "Lihat bukan, karena ulahmu Ella jatuh pingsan, jika terjadi sesuatu dengan adikku, aku tak akan memaafkanmu mas. " bentak Emilia langsung bangkit dan menyusul keluarganya.


Rafael merutuki kebodohannya, kini dirinya menyesal karena tak bisa menjaga emosinya. Kini Ella tengah di tangani dokter, Gara meninju tembok di dekatnya. Dalam hatinya Gara hanya bisa mengumpat dengan sikap Rafael. Mami terus menangis dalam dekapan papi, Gara juga telah menghubungi orang tuanya dan Nickolas untuk datang.


"Mi, Pi maafkan aku, gara gara aku Ella harus mengalami kejadian seperti ini. " sesal Emilia yang mulai merutuki kebodohannya.


Dokter ke luar dari ruangan, Gara bangkit dan menemui Dokter. "Bagaimana keadaan istri saya dokter? " tanya Gara dengan cemas.


"Keadaan Nyonya Ella semakin parah tuan, nyonya perlu segera donor jantung, sementara jangan buat Nyonya Ella stress yang akan mempengaruhi calon bayinya!


Gara merasakan sesak yang teramat sangat mendengar kondisi sang istri, pria itu segera masuk ke ruangan Ella. Tersenyum getir melihat sosok istri kesayangannya terbaring lemah di ranjang pasien. Di kecupnya kening istri kecilnya dengan penuh cinta, dia tak peduli dengan dirinya yang dicap sebagai pria cengeng. "Tetap bertahan sayang, aku dan calon anak kita membutuhkan kamu!


"Eungh hubby. " Ella membuka matanya, dia terdiam melihat sosok suaminya menangisi dirinya. Merasakan sentuhan di kepalanya Gara mengangkat wajahnya, menciumi wajah pucat Ella.


"Maafkan aku mas, aku membuat kamu dan keluarga kita cemas. " ucapnya menyesal. Gara membantunya berbaring, Ella bersandar di dada sang suami dengan tangan bertautan.


"Aku takut sayang, aku takut kamu ninggalin aku. " gumam Gara lirih. Ella mengusap dada suaminya, mencoba menenangkan suaminya itu.

__ADS_1


Ella POV


Seandainya kita tak saling mengenal dan mencintai, keadaan tidak akan seperti sekarang mas Gara. Aku juga tidak mau melihatmu hancur hanya karena takut kehilangan diriku. Terkadang aku ingin menyerah begitu saja tapi aku masih teringat calon bayi dalam perutnya. Maafkan aku mas, aku merasa menjadi beban untuk kamu.


"Please sayang, kamu harus jaga kesehatan kamu demi aku dan calon anak kita. " pinta Gara sambil memohon. Ella menatap lekat wajah suaminya,lalu mengangguk kecil. Di be lain ya rahang kokoh Gara lalu di akhiri kecupan singkat di sana.


Mami dan Papi masuk ke dalam, Gara memilih turun namun Ella menahannya. Keduanya memeluk puteri mereka itu, memastikan keadaan Ella. Ella semakin merasa bersalah, membuat semua orang khawatir. "Mami, di mana Emilia sekarang? " tanya Ella mencari sosok kembarannya.


"Emilia merasa bersalah padamu sayang, dia merasa dirinya penyebab kamu pingsan. " jawab Mami. Ella menghela nafas kasar, meminta kedua orang tuanya menenangkan Emilia.


"Mami dan Papi juga perlu menemani Emilia, dia juga perlu support kalian dalam menjalani apa yang dia putuskan tadi. " jelas Ella.


"Bagaimana dengan kamu nak? "


"Mas Gara yang akan jaga aku Pi. " lanjutnya yang diangguki oleh Papi. Mami dan Papi pamit pada mereka, keduanya keluar. Ella bisa merasakan apa yang di rasakan Emilia, memang berat dengan keputusan saudarinya itu.


"Mas aku ingin tidur di pelukan kamu. " ucap Ella dengan nada manjanya. Gara mengulum senyumnya, membawa istrinya ke pelukan nya dengan hari hati agar tak menindih perut istrinya. Terdengar suara dengkuran halus, membuat Gara menunduk.


"Istirahatlah sayang, dan cepat sembuh. " bisik Gara dengan lembut.


Di usapnya pipi chubby sang istri, Gara begitu takut kehilangan wanita yang dia cintai ini. Baginya Daniella adalah segalanya, dunianya dan separuh nafasnya. Tangannya turunke bawah, mengusap perut bulat sang istri tercinta.


"Daddy mohon nak, dukung mommy kamu agar kuat bertahan, mommy dan daddy selalu mencintaimu sampai kamu lahir nanti. "


Teringat dengan Rafael, dia mengepalkan tangannya. Gara akan membuat perhitungan dengan kakak iparnya itu, amarah dalam dirinya hampir meledak namun sebisa mungkin dia tahan.


tbc

__ADS_1


__ADS_2