
Tepat pukul sepuluh siang, Zafira pergi ke kampusnya setelah mendapat pesan dari sahabatnya Meisya. Meisya datang, merangkulnya dan keduanya langsung menuju ke kelas.
"Pagi sahabatku yang cantik. " sapa Meisya dengan senyuman lebarnya.
"Pagi juga Mei. " Zafira menaruh tasnya di atas meja, gadis itu berbagai rasa bahagianya bersama sahabatnya. Meisya cukup senang melihat raut ceria di wajah Zafira, gadis berambut cepol itu menyentuh tangan Zafira dengan tatapan seriusnya.
"Sesuai janji kita selama ini, apapun yang terjadi tak ada rahasia di antara kita Fira. " ungkap Meisya dengan serius.
"Aku tahu Mei, tapi aku terkadang gak yakin dengan hidupku sendiri. Kamu tahu bukan apa yang aku alami selama ini, Mami sudah tahu tentang penyakitku. " cuma Zafira lirih takut mahasiswi lain mendengarnya.
"Percaya sama aku, kau yakin pasti sembuh Fira dan kamu bisa melewati ini semuanya. " selama ini Zafira berkeluh kesah pada Meisya termasuk penyakitnya, jadi di antara mereka tak ada rahasia apapun. Keduanya saling berpelukan, Meisya selalu ada dan mendukung penuh sang sahabat. Persahabatan mereka begitu solid hingga terkadang ada gadis lain yang merasa iri dengan keduanya.
Meisya Ratu Jelita sendiri merupakan putri dari seorang pengusaha yang berstatus duda. Semenjak kecil Meisya telah kehilangan sosok figur sang ibu meski begitu tak lantas membuatnya manja dan sombong. Sang Daddy mendidiknya keras dan mandiri, Meisya sendiri justru mencari wanita yang pas agar mau menerima sang ayah dengan tulus tanpa memandang kekayaan ayahnya.
"Kamu gak mau cari pacar gitu Mei, kamu gak iri sama om Erland, papa kamu? " ledek Zafira pada sahabatnya itu. Meisya mendengus pelan, setelah itu tak ada suara lagi karena dosen telah masuk ke dalam.
Setelah mengikuti jam mata kuliah hampir dua jam, kedua gadis itu akhirnya bebas. Mereka memutuskan jalan, mengingat tak memiliki jam matkul lagi setelah ini. Meisya sibuk menyetir sesekali melirik sahabatnya yang tengah fokus dengan ponsel.
Kini keduanya sampai di pusat perbelanjaan, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam. Zafira langsing panik melihat sahabatnya yang menubruk seseorang, Meisya sendiri langsung meminta maaf atas kesalahannya pada pria di depannya saat ini. "Sorry tuan, saya tak sengaja dan maaf tas kecerobohan saya barusan!
Meisya segera menarik sahabatnya untuk pergi dari sana, mereka kembali fokus berbelanja. Di tengah asyiknya memilih gaun, ponsel Meisya justru berdering. Gadis itu langsung menjawab panggilan dari sang papa tercinta.
"Iya Pa ada apa? "
__ADS_1
"Kamu di mana sayang? " tanya Papa penasaran.
"Di mall bareng Fira Pa, memangnya ada apa? " Meisya merasa heran, tak biasanya sang papa menghubungi dirinya jika tidak karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan.
"Nanti malam kamu jangan ke mana mana sayang, teman papa akan datang ke rumah. " setelah mengobrol dengan papanya, Meisya langsung menutup sambungannya. Selesai berbelanja, kedua gadis itu justru berpisah di jalan, Evan telah datang menjemput Zafira. Gadis itu melambaikan tangan menatap kepergian Meisya, lalu masuk ke dalam mobil sang kekasih.
"Bukankah ini belum waktunya kamu pulang Van, aku bisa pulang bareng Meisya tadi. " ucap Zafira menatap kearah sang kekasih yang sibuk menyetir.
"Gak papa Fira, aku pengen ngabisin waktu sama kamu, memangnya tak boleh? "
"Tentu saja boleh. " balasnya tersenyum tipis. Hatinya langsung menghangat mendapati perhatian kecil dari sang kekasih. Evan mengajaknya ke penthouse milik pria itu, Fira cukup terkejut. Keduanya langsung turun dan dia hanya pasrah saat di tarik sang kekasih.
"Bagaimana menurutmu baby? " tanya Evan dengan lembut.
Cup
Fira tentu saja membalas ciuman kekasihnya, untuk pertama kalinya mereka berciuman seperti ini. Evan sendiri justru menarik tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Ada rasa hangat dalam dirinya setiap kali berdekatan dengan Zafira.
Zafira mengatur nafasnya yang tersengal, gadis itu menatap kesal sang kekasih yang tampak tersenyum kearahnya. Gadis itu terdiam kaku setelah merasakan sesuatu yang telah terbangun.
"Ehem, biarkan aku turun Van!
"Kenapa memangnya? " Evan semakin mengeratkan pelukannya, dalam hati merutuki adik kecilnya yang terbangun. Zafira mengalungkan kedua tangannya ke leher Evan, posisi keduanya begitu intim saat ini.
__ADS_1
"Maafkan atas sikapku dulu padamu baby, kita mulai semuanya dari awal. " ucap Evan dengan serius. Zafira mengangguk, Evan kembali mendekapnya dengan erat.
Evan POV
Mulai sekarang aku akan melupakannya, ada Zafira yang selalu berada di sisiku apapun yang terjadi. Aku mulai merasakan nyaman dengannya, aku harap keputusan ini memang yang terbaik. Fira maafkan aku atas sikapku yang dulu, pasti ada ucapanku yang benar benar menyakitimu baby. Ternyata aku memang menginginkan kamu Fira, terbukti setelah ciuman kita, adil kecilku terbangun.
Evan melepaskan pelukannya, pria itu langsung menurunkan sang kekasih. Dia menciumnya sekilas lalu bangkit setelah pamit pada sang kekasih. Zafira sendiri paham apa yang ingin di lakukan Evan saat ini, namun dia tak bisa membantunya.
Sepeninggal Evan, Fira merasakan pipinya memanas. Dia teringat akan ciumannya bersama Evan barusan, Zafira tak menyangka kekasihnya itu akan menciumnya dengan liar seperti tadi.
Dua jam berlalu Evan baru kembali, pria itu menyerahkan minuman untuk kekasihnya. Zafira menikmati jus yang di buatkan oleh kekasihnya, Evan sendiri justru menatap dalam kearah gadisnya. Gadis berambut blonde itu menoleh, tampak salah tingkah melihat sorot mata Evan padanya yang tampak tak biasa. Dia segera memeluk Evan, menyembunyikan rona merah di pipinya. Evan tersenyum geli melihat tingkah malu malu sang kekasih hati.
"Oh ya ngomong ngomong, Ethan sibuk apa dia? " tanya Zafira sambil menatap wajah tampan kekasihnya.
"Kenapa kau menanyakan dia baby? " Evan mengerutkan kening, nada bicaranya terdengar datar. Zafira menghela nafas panjang, mencium bibir prianya sekilas kemudian tersenyum manis.
"Aku 'kan cuma bertanya sayang, kamu cemburu hm dia saudara kembar kamu lho. " ujar Zafira sedikit menggoda sang kekasih. Evan mendengus pelan, Zafira justru tertawa kecil melihat responnya. Gadis itu kembali menciumi kekasihnya, lalu berbisik sesuatu di telinga Evan. Seringai Evan terbit, pria itu menyukai tingkah agresif kekasihnya.
"Aku mencintaimu Evan, sangat. " ungkap Zafira dengan tulus. Pria itu begitu senang dengan ungkapan cinta Zafira padanya, secepatnya dia akan berusaha mencintai gadisnya itu.
"Aku harap kelak diriku masih bertahan saat kamu mengatakan cinta padaku Evan. " batin Zafira.
"Thanks you for loving me baby. " bisiknya pelan. Mereka kembali berpelukan, tangan keduanya saling bertautan satu sama lain. Zafira merasakan kenyamanan, hatinya tampak bahagia saat bersama pria pujaan nya.
__ADS_1
Evan menciumi tangan Zafira berulang kali, Zafira tampak terenyuh dengan perlakuan Evan padanya.