Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Musim Ketiga Part 11 - Sania Aleandra


__ADS_3

"Sayang, rencana kepergian kamu itu di tunda aja ya, kita cari saja dokter di sini. " ujar Gara pada sang istri. Ella menghela nafas panjang, duduk di pangkuan sang suami.


"Kamu sudah setuju lho mas, kok berubah pikiran sih!


"Aku gak mau kamu dan calon anak kita kenapa kenapa sayang. " jawab Gara mengatakan alasannya. Ella hanya bisa menghela nafas panjang, dia mengerti perasaan suaminya.


"Nanti kita bicarakan sama mami dan papi mas, sebaiknya bagaimana! Ella tak mungkin berdebat dengan suaminya untuk saat ini, dia tak ingin terlalu stress dan berpengaruh pada janinnya.


Ella mengambil potongan buah lalu di kunyahnya, Gara mengulas senyumnya melihat istrinya sibuk makan. "Nanti malam ikut mas ya, keluarga besar mas mengadakan pesta sekaligus mengenalkan kamu pada mereka. "


"Iya mas Gara!


Gara bangkit, meninggalkan istrinya menuju ke ruangan kerjanya. Ella menghela nafas panjang, menonton film kartun favoritnya. Maid datang membawakan jus pesanan majikannya itu, Ella segera meminumnya.


tok


tok


Ella menghentikan kegiatannya, bangkit dan hendak pergi ke depan namun salah satu maid menyuruhnya duduk kembali.


"Siapa Bi? " tanya Ella dengan lembut.


"Anu nyonya seorang wanita. " jawab Maid terbata bata. Ella mengernyitkan dahi, seorang wanita masuk dan menghampiri dirinya. Wanita itu berpenampilan Glamor, menatap penampilan Ella kemudian tersenyum miring.


"Jadi kau istrinya Nagara? " tanya wanita itu dengan lantang.


"Ya Aku Daniella Fairy Jonstone, istri mas Gara. Memangnya siapa kau? " tanya Ella penasaran.


"Aku Sania Aleandra, kau tak perlu tahu siapa aku. " ujarnya setelah duduk di sofa tanpa izin Ella. Ella hanya menggeleng melihat tingkah wanita di depannya saat ini.


"Kau tahu bukan Gara, bukan pria sembarangan dan dia seharusnya mendapatkan wanita berkelas sama seperti dirinya. " ujar Sania dengan nada mencemoh.


"Apa yang kau lakukan di sini Sania. " suara bariton Gara menghentikan obrolan Sania dan Ella. Sania menoleh, tersenyum melihat kehadiran Gara.

__ADS_1


"Tentu saja bertemu dengan istrimu, alias istri dari pria yang aku incar dulu. " jawabnya singkat. Gara langsung duduk di sebelah istrinya, memastikan keadaan Ella. Barulah dia melirik Sania dengan tatapan tajamnya. Ella sedikit terkejut mendengar pernyataan Sania.


"Jangan mengatakan omong kosong Sania, kau memang dulu mengejarku tapi ingat aku tak pernah mengharapkan kamu. " ketus Gara dengan nada tak suka. Sania tampak tak terusik dan sakit hati, pembawaannya begitu tenang dan santai. Ella tiba tiba merasa tak suka dengan kehadiran Sania di rumahnya.


Sania menoleh, melirik kearah Ella dengan senyuman tanpa beban. Dia tahu apa yang tengah di pikirkan Ella tentangnya. "Tenang saja aku tak akan merebut suamimu, lagian Gara bukan tipeku lagi. Dia pria yang membosankan menurutku!


"Em benarkah!


"Tentu saja, lagian aku sudah menemukan targetku, tentu suami orang, pria yang menyenangkan tentunya. " kelakarnya sambil tertawa. Ella menatapnya tak percaya, dia menganggap Sania wanita gila.


"Baby dengar, Sania itu wanita gila. Jangan coba coba berteman dengannya. " ujar Gara pada sang istri. Sania mencebik kesal, dia tak menerima ucapan pedas dari Gara.


"Kau tahu kegilaannya, dia hendak merebut pria yang jelas jelas beristri, alasannya pria itu sebentar lagi akan bercerai dari istrinya. " jelasnya. Gara tahu karena dia menyuruh orang untuk menyelidiki Sania dulu.


"Oh My. " Ella benar benar terkejut dengan fakta mengenai Sania. Sania hanya diam saja, tampak acuh saat dirinya menjadi bahan olokan dari Gara. Dia melakukan hal gila ini karena suatu alasan, hanya Sania dan Tuhan yang tahu. Sania sadar jika apa yang dia lakukan sangatlah salah, tapi karena sakit hati dia berbuat nekat.


"Jujur Sania, aku kira kau simpanan


"Kau sangat cantik San, sayang jika kecantikanmu kau gunakan untuk merebut suami orang. " ujar Ella dengan halus sambil melirik suaminya. Gara mengangguk, meninggalkan keduanya menuju ke kamar.


"Aku tahu Ella, awalnya juga berat melakukan hal ini, tapi karena alasan aku nekat. " wajah Sania nampak serius kali ini, namun mengingat wajah pria itu membuat mood Sania kembali baik. Ellapun tak ada niat menghakimi Sania karena dirinya sangat yakin Sania memiliki alasan kuat tentang apa yang dia lakukan.


"****Adhitama Elvan**** Parvez. " pria yang kini menjadi suamiku, semenjak kami menikah sikapnya masih dingin padaku dan usia pernikahan kami baru menginjak dua tahun. " ungkap Sania mengingat sikap Elvan padanya selama ini. Ella turut bersedih mendengar cerita dari Sania, dia merasa kasihan pada gadis itu.


"Jangan kasihan padaku Ella, aku pantas mendapatkan ini semua. " Sania mengatakan semuanya pada Ella, Ella cukup prihatin pada Sania. Mereka berdua mengobrol panjang lebar, keduanya mulai akrab sekarang.


"Sekali lagi selamat atas pernikahan kamu dengan Gara, semoga selalu bahagia. " ucap Sania dengan tulus.


"Makasih San, kalau ada apa datanglah ke sini. Aku siap mendengarkan keluh kesahmu, kamu masih punya aku dan Gara, Sania!


Sania cukup senang mendengarnya, ternyata Ella begitu baik dan dia sangat pantas untuk Gara. Dia berharap Gara dan Ella bahagia untuk selamanya, Sania jadi iri melihatnya.


"Apa Elvan bisa bersikap baik padaku sama seperti Gara pada Ella, istrinya. " batin Sania.

__ADS_1


"Aku pamit ya. " Sania meninggalkan kediaman Gara, melajukan roda empatnya kencang.



Kediaman Parvez


Pengasuh datang menghampiri Sania sambil menggendong anak kecil. Sania dan Elvan memiliki anak laki laki, usianya satu tahun. Sania segera mengambil putera kecilnya, wanita itu menciuminya. "Mamah cuma keluar sebentar sayang, kamu sudah rindu sama mamah hemm!


Kalandra Keanu Parvez, putera kesayangan Sania sekaligus penyemangatnya.


Suara tawa Andra memenuhi ruangan, dari jauh Elvan memperhatikan istri dan puteranya itu. Sania tiba tiba merasakan kepalanya pusing namun dia abaikan, dia mengajak Andra bermain. Elvan berjalan lurus ke arah sang istri, dengan sigap menahan tubuh Sania yang hampir tumbang.


"Arin. " teriak Elvan yang panik melihat istrinya tak sadarkan diri. Pengasuh bernama Arin itu datang, mengambil alih Kalandra dari gendongan Sania. Elvan segera membopong Sania menuju ke kamar mereka, tak lupa menghubungi dokter.


Dokter datang, memeriksa keadaan Sania yang pingsan, setelah selesai dokter menemui Elvan. "Bagaimana keadaan istri saya dokter? "


"Selamat tuan, Nyonya tengah hamil empat minggu. " ujar Dokter membuat Elvan terkejut. Elvan tersadar dari lamunanya, mengantar dokter ke luar lalu menemui istrinya yang masih berbaring.


Sania menitikkan air matanya, dia sangat terkejut dengan apa yang di katakan dokter. Dia sentuh perutnya, Sania tak menyangka dirinya akan kembali hamil, mengingat puteranya masih kecil. Melihat respon istrinya Elvan menghela nafas berat, meraih tangan Sania. "Seharusnya tak terkejut, mengingat selama ini kita sering melakukannya Sania, apalagi aku melarang kamu meminum pil!


"Tapi bagaimana dengan Andra, El. Dia masih sangat kecil, butuh perhatian aku!


"Aku juga akan menjaga Andra Sania, sebaiknya kamu tenang, ingat kamu sedang hamil calon anak kita kedua. " tegas Elvan. Sania tak berani membantah suaminya, ya selama ini meski hubungan mereka begitu dingin, namun soal urusan ranjang tetap berjalan seperti biasa. Dia mengira Elvan tetap menganggapnya sebagai pemuas hasratnya.


Elvan naik ke atas ranjang, membawa Sania ke dekapannya. Sania mencium aroma tubuh sang suami, entah kenapa dia sangat menyukainya. Dia menikmati usapan Elvan di perutnya, Elvan menatap sang istri dengan lekat. "Tadi kau dari mana? " tanya ELvan


"Aku cuma ke rumah Gara, bertemu dengan istri dari pria itu, kau tahu istrinya sangat baik padaku. "


Mendengar nama Gara di sebut, wajah Elvan kembali dingin dan datar. Dia sangat tidak suka mendengarnya Sania menyebut nama pria itu. "Berhentilah ke sana, kau tak malu jika orang orang melihat kamu dan berfikir ingin menggoda pria itu!


Sania mendorong pelan tubuh suaminya, sudah biasa dia mendengar ucapan kasar Elvan padanya. "Bukankah aku memang wanita penggoda El, aku menggoda kamu hingga kamu bercerai dari istri pertamamu!


Sania turun dari ranjang, untuk saat ini malas berdebat dengan suaminya. Dia tak peduli jika Elvan menganggapnya rendahan sama seperti dulu. Elvan menghela nafas panjang, melihat kepergian istrinya itu. Dia benar benar tak suka jika Sania menyebut nama Gara, pria itu segera turun dan menyusul istrinya ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2