
Dua hari berlalu Xander dan Elena tengah fitting gaun pengantin milik Tante Rose. Elena tersenyum tipis, melihat perdebatan Tante Rose dan Xander.
"Tante, bagian dadanya tak boleh rendah, aku tak suka. "
Tante Rosepun menghela nafas berat, mengangguk pasrah akan keinginan keponakannya itu. Elena menepiskan senyumnya, dia tersenyum geli melihat tingkah posesif Xander padanya.
"Kamu enggak capek sayang! Elena mengusap wajah sang kekasih, Tante Rose berlalu meninggalkan mereka. Xander mengenggam tangan wanitanya, mengecupnya penuh kasih sayang.
"Kamu pasti bosan ya, maafkan aku honey!
Xander tahu diri, jika sikapnya sedikit kekanakan karena terlalu posesif pada Elena. Elena menggeleng singkat, dia tak masalah akan sikap Xander barusan. Pria itu bangkit, keduanya pergi meninggalkan butik.
"Sayang kalau lelah, tidurlah lebih dulu!
"Iya sayang. " Elena memejamkan matanya, Xander menoleh sekilas dan tersenyum tipis, kembali fokus menyetir. Dia segera turun, menggendong tubuh wanitanya dan membawanya ke kamar. Merasa haus, pria itu turun dan pergi ke dapur, meneguk minuman dingin.
Drt
drt
"Halo Al ada apa!
"Begini tuan Anggara Grup ingin menjalin kerjasama dengan anda!
"Baiklah kalau begitu, bawa berkas berkasnya ke mari Aldo. " titah Xander.
"Baik Tuan!
Tak berselang Asisten Aldo datang, mereka pergi ke ruangan kerja Xander. Asisten Aldo menyerahkan berkasnya, Xander langsung memeriksanya dengan teliti.
"Sepertinya Tuan Dacutti sangat ingin sekali bekerja sama dengan Anda tuan. " ujar Aldo. Xander hanya mengangguk singkat, dia merasa penasaran dengan calon kliennya ini. Aldo juga menjelaskan tawaran yang di berikan Tuan Dacutti pada mereka. Selesai memeriksa berkasnya, Xander kembali melirik kearah Aldo.
"Atur pertemuanku dengan tuan Dacutti secepatnya Aldo. "
__ADS_1
"Siap Tuan, tapi saya akan memberi tahu tuan Dacutti lebih dulu. "
"Oh ya tuan kemarin nona Veronica menghubungi saya, menanyakan perihal
Anda. " Aldo memperhatikan tuannya yang tak bergeming, dia sangat paham akan sikap Xander pada Veronica.
"Sepertinya dirinya salah bicara. " batin Aldo merasa menyesal. Mendengar nama Veronica, membuat mood Xander memburuk. Gara gara dia, Elena salah paham dan sangat cemburu padanya. Dia tak ingin membuat wanitanya sakit hati, Xanderpun menghela nafas panjang.
"Maafkan saya tuan, saya salah bicara!
"Sudahlah, tak apa tapi lain kali jangan meladeni Veronica, aku tak ingin Elena kembali salah paham padaku. " tegas Xander yang di balas anggukan oleh Aldo. Aldo segera pamit, ke luar dari ruangan kerja Xander.Asisten Aldo berpapasan dengan Elena, Elena menyapanya ramah dan bergegas menemui sang kekasih.
"Sayang. " ucapnya dari balik pintu.
"Honey kemarilah. " Elena masuk ke dalam, lalu duduk di pangkuan Xander. Xander merengkuhnya posesif, menatap lekat wajah cantik calon istrinya.
"Kenapa sudah bangun hemm!
"Kamu enggak ada di sampingku sayang. " rengek Elena dengan nada manja. Xander tersenyum tipis, sangat suka Elena yang manja seperti ini, mungkin bawaan calon anak mereka. Elena bersandar di dada Xander, menghirup aroma mint kesukaannya dari tubuh sang kekasih.
"Tapi kamu besok mengantarku ke perkebunan strawberry bukan,please sayang kamu maukan? "
"Tentu aku mau, apapun yang penting kamu dan calon anak kita happy. " balas Xander sambil tersenyum. Elena tersenyum sumringah, dia begitu senang karena permintaannya di setujui Xander. Xander terkekeh pelan, Elena menciuminya bertubi tubi.
"Sayang, bisakah kita bercinta sebagai imbalannya? " Xander kini tengah menggoda wanitanya, Elena nampak merona mendengar ajakan kekasihnya. Wanita itu justru menepuk dada Xander karena gemas akan sikap mesum prianya.
"Aku harap anak kita kelak tidak mesum sepertimu. " cibir Elena.
"Why honey, mesum itu nikmat dan nyatanya kamu selalu me.. " ucapan Xander terhenti kala Elena memagut bibirnya singkat. Diapun melepaskan ciuman mereka, Elena langsung melototi Xander. Xander tertawa pelan, pria itu kini membelai perut rata Elena dengan lembut.
Tak sia sia selama ini dia menggempurnya setiap hari, bibit premiumnya kini telah tumbuh dalam perut Elena, wanita yang dia cintai.Elena sangat suka saat Xander menyentuh perutnya. Semenjak hadirnya Elena dalam hidupnya,, Xander lebih sering tertawa akan tingkah wanitanya.
##
__ADS_1
Di sisi lain seorang pria tengah menghisap rokok di tangannya, terlihat kepulan asap terbang ke udara. Pria itu tersenyum miring, setelah mendapat informasi yang dia inginkan. Dia langsung membuang puntung rokoknya, menuangkan wine ke dalam gelas kemudian meneguknya.
"Well, permainan akan segera di mulai Xander Kane Johnstone!
Entah apa yang tengah di rencanakan olehnya, namun sesuatu yang besar akan terjadi. Pria itu kembali duduk di sofa sambil memegang gadgetnya.
KENZIE ARKANA DACUTTI
Dendam, dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Xander. Entah apa alasannya yang pasti Kenzie begitu dendam pada sosok Xander, rivalnya. Dia akan membalasnya berkali lipat, termasuk apa yang di miliki Xander saat ini. Kenzie menyuruh asistennya untuk mengawasi pergerakan Xander dari jauh.
Zaidan datang memberikan berkas pada bossnya tersebut, Kenzie meliriknya tajam. "Bacakan informasinya padaku!
"Tuan Xander menjalin hubungan dengan wanita bernama Elena Atanasha Simone, keduanya tengah merancanakan pernikahan. Dia juga sempat berhubungan dengan wanita bernama Veronica tuan, di masa lalunya. " Zaidan menyerahkan foto Elena pada Kenzie, Kenzie merebutnya lalu menatapnya lekat. Bibir itu melengkung, membentuk sebuah seringai dan hal itu di sadari asisten Zaidan.
"Apa yang akan kau lakukan boss!
"Hm, kita lihat saja nanti. " Kenzie menaruhnya di atas meja, pria itu kembali fokus pada gadgetnya. Zaidan semakin bingung dengan bossnya yang terlihat santai namun dia memilih diam.
Kenzie bangkit, pria itu pergi ke luar. Dia langsung melajukan mobilnya kencang menuju ke sebuah tempat. Kini dia duduk berhadapan dengan Veronica, wanita itu tampak bingung dan penasaran akan kehadiran Kenzie.
"Kenalkan aku Kenzie nona Veronica!
"Jadi ada apa Tuan menghubungi saya tadi. " ucap Veronica yang terlihat begitu penasaran.
"Bisakah kita berteman nona. " ujarnya basa basi. Veronica mengerutkan keningnya, dia semakin tak mengerti dengan maksud pria di depannnya saat ini. Kenzie tampak mengulum senyumnya, dia sangat tahu jika Veronica saat ini tengah kebingungan.
"Kau mengenal Xander Kane Johnstone." sahut Kenzie to the poin.
"Iya memangnya ada apa? " Kenzie langsung menawarkan kerja sama pada Veronica. Veronica terdiam sejenak, dia tengah menimbang tawaran dari Kenzie kemudian mengangguk setuju.
"Aku pergi dulu, nanti aku kabari untuk awal rencana kita. " Kenzie meletakkan uang di meja, pria itu dengan angkuh pergi dari sana. Veronica menatap kepergiannya dengan tatapan sulit di artikan, entah apa yang di pikirannya saat ini.
"Haruskah aku melakukannya. " gumam Veronica merasa dilema saat ini, namun jujur dia masih sangat mencintai Xander. dari dalam hatinya masih tersimpan nama pria itu sejak dulu. Veronica menghela nafas panjang, bangkit dan ke luar dari Restauran dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
tbc