
Miranda melampiaskan emosinya dengan minuman alkohol, wanita itu tak akan menyerah begitu saja. "Nagara, aku menginginkan kamu, kamu gak pantas untuk wanita seperti Ella. " racaunya tak jelas. Rasa bencinya semakin besar setelah mendengar operasi Ella berhasil, dia tak akan membiarkan sepupunya itu hidup tenang dan bahagia.
Tok
tok
"Sayang, keluarlah mami ingin bicara sama kamu. " ujar Mami dari luar pintu Miranda. Miranda melempar botolnya, bangkit dan membuka pintunya.
"Astaga Miranda. "Mami begitu terkejut melihat kamar puterinya yang begitu berantakan.
"Bersihkan dirimu, mami tunggu di bawah. Sekarang juga. " tegas Mami yang berlalu pergi. Miranda berdecak pelan, masuk ke dalam dan segera mandi. Setelah selesai wanita itu turun ke bawah, menemui mami nya di ruang tamu.
"Ada apa Mi? " tanya Miranda dengan malas.
"Tamu mami dan papi sebentar lagi akan sampai, sebaiknya kamu jaga sikap dan bicara kamu. " tegur Mami dengan lembut. Mirand mengernyitkan dahi, dia belum paham apa maksud dari ibunya. Tak lama tamu yang di maksud datang, Papipun turut bergabung, menyambut kedatangan tamunya itu.
"Tuan Malik, Nyonya Alva selamat datang di kediaman kami!
"Terimakasih tuan Hendra, nyonya Daisy. " jawab Nyonya Alva dengan ramah. Miranda hanya diam, wanita itu tahu jika pria di depannya tengah memperhatikan dirinya.
"Mira sayang, ayo kenalan dengan putera Nyonya Alva. " ujar Mami.
"Miranda Claire Hutama. "
"Jovano Andreas. " jawab pria itu sambil tersenyum. Miranda berdecak pelan, tak menanggapi kerlingan pria di hadapannya saat ini.
"Nak Miranda, bagaimana menurut kamu putera tante. " cecar Nyonya Alva. Miranda menghela nafas berat, ingin sekali marah pada kedua orang tuanya, dia baru paham maksud kedua orang tuanya.
"Ya Lumayan tampan tante. " jawab Miranda sedikit cuek. Mami langsung melotot padanya, menyenggolnya agar menjaga sikap. Miranda hanya diam tak menanggapinya, wanita itu memaksakan senyumnya di depan tamu orang tuanya.
__ADS_1
"Tante, Om saya mau mengajak Miranda berbicara di luar. " pinta Jovan.
"Silakan nak!
"Mau bicara apa sama aku. " ketus Miranda sambil melipat tangannya di dada. Jovan tampak tersenyum miring, memainkan helai rambut Miranda, langsung di tepis wanita itu.
"Kau menginginkan seorang Nagara Saverio Johnstone bukan? "
Miranda sangat terkejut, bagaimana bisa Jovano mengetahui keinginannya. Pria itu terkekeh, melihat reaksi yang di tunjukkan Nagara padanya. "Apa kau tak malu, menginginkan pria yang telah beristri dan memiliki dua orang anak, kau tak malu di cap pelakor oleh orang orang. "
"Itu bukan urusanmu, sebaiknya diam. " geram Miranda sebal.
"Ini akan menjadi urusanku nona, kau adalah calon tunanganku sekarang. " sahutnya santai.
"Aku hanya ingin Nagara, bukan kamu.." tunjuknya disertai tatapan tajam. Jovan menurunkan telunjuk Miranda, lalu menggenggamnya kemudian mengecupnya singkat.
"ck malangnya aku. " batin Jovan.
"Sebenarnya siapa kamu, bagaimana bisa kamu tahu segalanya tentangku. " geram Miranda.
"Aku Jovano Andreas, calon tunangan sekaligus calon suamimu. " Miranda memutar bola matanya, jengah dengan sikap Jovano yang menyebalkan. Wanita itu memilih pergi, muak berlama lama dengan Jovano yang menyebalkan. Pria itu mendengus sebal, melihat Miranda yang meninggalkan dirinya.
"Well, permainan baru akan di mulai. " seringai terbit di sudut bibirnya, Jovanka kembali ke dalam, bergabung bersama kedua orang tuanya. Mami dan Papi meminta maaf akan sikap Miranda pada Jovan, Jovan tak mempermasalahkannya. Sementara Miranda merasa moodnya hancur setelah bertemu Jovano. Dia merasa pria itu menjadi halangan dirinya untuk merebut Nagara dari Ella.
"Ah sialan, aku akan membuat perhitungan denganmu Jovan! Miranda benar benar kesal sekaligus marah pada Jovan, pria asing yang tiba tiba menjadi calon tunangannya.
Di sisi lain Emily tengah menenangkan dirinya, wanita itu masih teringat dengan obrolannya dengan Hanum. "Mi, mi. " Emily menoleh, tersenyum lebar melihat kehadiran puteri kecilnya yang tengah di gendong Rafael.
Rafael mendekat, Emily mengambil alih puterinya dan memberikan kecupan di wajah Kanaya. Hati pria itu menghangat, melihat dua perempuan kesayangannya tengah berinteraksi. "Sayang, aku sudah membujuk mama agar tak egois dan menekan kamu lagi. "
__ADS_1
"Maaf mas, tapi keputusanku tetap sama. " tegas Emily tanpa menoleh kearah Rafael. Rafael mendesah pelan, dia begitu kecewa dengan pernyataan istrinya.
"Selama ini aku diam mas saat kamu dan mama menekan aku, karena keinginan kalian yang egois aku tersiksa! Rafael menyadari kesalahannya selama ini, karena egonya dirinya melukai hati istrinya terlalu dalam.
Emily mengusap pipi puterinya, dia bisa bertahan sampai sekarang karena Kanaya. "Setelah kita berpisah, mas bisa mencari wanita yang bisa memberikan kamu anak laki laki. "
Rafael langsung memeluknya, Emily sempat terkejut namun hanya diam. Sejak tadi dia mencoba menahan tangis, sekarang tak sanggup lagi. Pria itu diam,merasakan kemejanya basah, dia sedikit mengeratkan pelukannya. Setelah beberapa saat Rafael melepas pelukannya, Emily mengusap air matanya dan kembali fokus pada puteri kecilnya. "Naya sayang, kelak kamu dewasa jadilah gadis yang kuat dan tegar ya nak, mommy harap kamu selalu bahagia. "
Rafael terenyuh, dia begitu menyesali sikapnya yang telah menyakiti wanita sebaik Emily. "Aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi, aku ingin memulai semuanya dari awal bersama kamu, keluarga kecil kita bisa kembali berkumpul lagi.
Emily berusaha mencari kebohongan di manik suaminya namun dia tak menemukannya. Dengan segala pertimbangan, diapun akhirnya mengangguk. Rafael tersenyum lebar, menciumi wajah istri dan anaknya. Mungkin ini memang yang terbaik untuk mereka, Emily lakukan ini demi princess kecilnya.
"Sayang, mulai sekarang kita akan tinggal di Villa milikku, memulai kehidupan yang baru di sana. "
"Bagaimana dengan berkas perceraiannya mas. " sela Emily yang sedari tadi hanya diam.
"Aku sudah membatalkannya, sekali lagi maafkan aku honey! Emily mengusap sayang suaminya, dia melihat rasa penyesalan di wajah sang suami. Emily bernafas lega sekarang, bersandar di dada sang suami sambil megendong princess kecil mereka.
drt
drt
Emily mengambil ponselnya, dia tersenyum lebar membaca pesan dari Hanum mengirimiku pesan, memberitahu keadaan Ella. "Hanum bilang, Ella sudah sadar mas dan aku harap setelah ini Ella hidup bahagia bersama suami dan baby twins. "
"Sama seperti kita sayang dan maafkan aku atas sikapku pada Ella, membuat Ella masuk ke rumah sakit. "
"Aku sudah memaafkanmu mas, lupakan kejadian kemarin. " ujar Emily dengan tulus. Rafael mengangguk, setelah itu mereka kembali bermesraan seperti dulu lagi. Emily tertawa pelan mendengar gombalan sang suami. Rafael tersenyum tipis, melihat senyum dan tawa istrinya yang kembali lagi membuatnya bahagia.
"Setelah ini kita temui mami dan papi, aku akan meminta maaf pada mereka atas semua kesalahanku! Emily mengangguk, dia kembali fokus pada si kecil Kanaya.
__ADS_1