
Dominic menelusupkan wajahnya di leher wanitanya, tangannya tak berhenti mengusap perut besar Cyra. Cyra merasakan geli, Dominic mengecupi tulang selangkanya dengan lembut kemudian mencium puncak kepala wanitanya. Cyra menoleh ke samping, menatap kearah Dominic, Dominic tersenyum tipis lalu memagut mesra bibir Cyra dengan lembut.
Cyra mengalungkan tangan ke leher Dominic, ya kini Cyra duduk di paha pria itu. Dominic tak masalah dengan berat badan Cyra yang naik semenjak hamil. "Dom, sekali saja aku ingin bertemu dengan Reymond untuk terakhir kalinya sebelum aku menikah denganmu! ucapnya dengan lembut.
"Tidak!
"Aku mohon sayang. " ucap Cyra sambil memohon, Dominic langsung luluh mendemgar panggilan mesra Cyra padanya. Dominic menghela nafas panjang lalu mengangguk namun kini seringai licik terbit di bibirnya.
"Tapi setiap malam kamu harus melayaniku, itu syarat dariku bagaimana!
"Dasar mesum, baiklah aku setuju. " Dominic tersenyum puas dengan jawaban wanitanya. setelah itu mulai menjamah lekuknya yang indah. Cyra mendesah pelan menyebutkan nama Dominic. "Sayang pelan pelan, aku sedang hamil besar. "
Dominic menyatukan tubuh mereka, dia bergerak pelan mengingat kandungan wanitanya. Cyra meremas kuat rambut calon suaminya itu, beberapa saat kemudian setelah mendapat puncaknya keduanya langsung mengakhiri kegiatan mereka. Dominic membenahi pakaian wanitanya begitu juga dengan dirinya.
"Aku akan mengatur pertemuan kamu dengan Reymond sweety, tapi ingat jangan melakukan sesuatu yang membuatku marah!
"Terimakasih sayang, aku janji akan menjaga sikapku. " ujarnya sambil tersenyum cerah. Dominic sebenarnya tidak rela jika wanitanya bertemu dengan Reymond namun dirinya tak mau membuat Cyra bersedih lagi.
Cyra langsung bangun di bantu Dominic, wanita hamil itu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri begitu juga dengan Dominic. Selesai bergantin pakaian, Dominic menghubungi Revan asistennya.
"Kamu hubungi Reymond, atur pertemuan dengannya, aku dan calon istriku akan bertemu dia!
"Baik Tuan! Dominic menyimpan ponselnya dalam saku, Cyra datang menghampirinya lalu keduanya ke luar dari kamar. Dominic dengan pelan menuntun wanitanya hingga ke luar dari mansion, keduanya masuk ke dalam mobil dan sopirlah yang menyetir.
"Sweety setelah kita menikah nanti, aku harap kamu juga siap mengandung benihku. " ujar Dominic sambil memandang kearah Cyra. Cyra mengangguk, dia sudah menerima kehadiran Dominic selama beberapa bulan ini.
__ADS_1
"Tapi kamu akan menerima babyku ini bukan. " ucapnya pelan.
"Tentu saja, bukankah dia princessnya kita berdua. " pungkasnya sambil menciumi perut Cyra, Cyra bernafas lega mendengarnya. Dia usap kepala Dominic dengan lembut, bibirnya tersenyum tipis memperhatikan Dominic. Dominic teringat kesepakatannya dengan Reymond, dia benar benar tak tega untuk memberitahu Cyra mengenai kesepakatan itu.
"Aku ingin melimpahinya dengan kasih sayang penuh buat calon baby girl, melihat pertumbuhannya hingga dia dewasa nanti. " gumam Cyra penuh harap. Dominic tak bisa berkata kata lagi, dia merasa tertampar dengan jelas jika Cyra sangat menyayangi calon bayi dalam kandungannya. Apakah dia akan sanggup jika memisahkan Cyra dari calon babynya nanti entahlah.
Kini mereka sampai di mall, keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Dominic menghentikan langkahnya, Cyra yang melihatnya merasa bingung, langsung memegang lengan Dominic.
"Kenapa berhenti, bukankah kita akan membeli perlengkapan baby? "
Dominic menoleh, memegang kedua bahu wanitanya, kini dia nampak sangat serius kali ini. "Sebaiknya kita tak perlu menyiapkan perlengkapan baby sweety!
"Kenapa memangnya? "
"Aku sudah menyiapkan semuanya. " pikiran negatif dalam kepalanya langsung lenyap mendengar pengakuan Dominic. Diapun bernafas lega sekarang, keduanya kembali ke dalam mobil.
Drt
drt
drt
Dominic : Aku tak akan pernah melarangmu bertemu calon anakmu saat kelak dia lahir Rey, tapi hanya saja mengenai kesepakatan itu kamu benar benar jahat pada Cyra.
Dominic menghela nafas panjang, saat ini dirinya benar benar dilema. Dia menatap kearah lain, memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah antara dirinya dan Reymond. Cyra sebenarnya penasaran, apa yang telah terjadi namun dia tak berani bertanya pada pria yang akan menjadi suaminya kelak. "Domi, ada apa sepertinya ada yang kamu pikirkan saat ini, kau bisa membaginya denganku. "
"Aku tidak papa, lebih baik kita jalan jalan, kamu pasti sangat bosan di mansion bukan! Dominic mengalihkan pembicaraannya, dia tak ingin Cyra bertanya lagi. Cyra mengangguk, diapun bersandar di bahu lebar Dominic.
__ADS_1
##
Di sisi lain Luna, sepupu Cyra tengah mengumpati pria yang telah menabrak mobilnya dari belakang.Gadis itu berkacak pinggang, menatap tajam kearah pria dihadapannya. "Cepat ganti rugi, sedari tadi aku ngomong kamu diam saja, kamu bisu ya. " oceh Luna.
"Aku akan memberimu Black Card sebagai ganti rugi asalkan kamu mau menjadi istriku nona. " seru pria asing itu.
"What, are you Crazy Mr. " pekik Luna dengan keras. Luna segera menutup mulutnya, pria di depannya terkekeh pelan. Luna merasa jengkel, dia langsung masuk ke mobilnya kemudian tancap gas. Pria itu menyeringai senang, menatap kepergian Luna.
Pria itu adalah Rafendra Arsenio Haidar, Rafen segera masuk ke mobilnya lalu tancap gas, dia juga tak lupa menghubungi sahabatnya. Rafendra bersiul senang, baru pertama kali bertemu dengan gadis yang bawel dan berani seperti Luna. Sampai di pelataran rumah sahabatnya, Rafen segera turun dan bergegas menekan belnya.
Pintu di buka oleh salah satu maid, maid itu mempersilakan Rafen masuk. Rafendra tersenyum, lalu masuk dan pergi ke ruang tamu. "Memangnya Dominic kemana, tumben sekali dia ke luar? "
"Tuan pergi bersama Nona Cyra tuan Rafen, calon istri tuan Dominic. " setelah berkata seperti itu maid itu langsung pergi, Rafendra tak terlalu terkejut dengan penjelasan maid barusan. Dia sangat tahu sifat sahabatnya yang arogan, pemaksa dan juga ambisius.
"Ternyata dia sudah bergerak lebih cepat dari yang aku kira. " Rafendra menggeleng, dia memilih memainkan ponsel sambil menunggu kepulangan sahabatnya itu. Tiba tiba bayangan wajah Luna terlintas di pikirannya, Rafendra berdecak kesal dan tertawa kecil, mengingat hal gila yang dia lakukan tadi.
Mengganti rugi dengan syarat menikah dengannya, memang benar benar ide gila ck, untung tampan.
"Ah sial, kenapa tadi aku tidak menanyakan nama dan meminta nomor gadis itu, dasar bodoh! Rafendra merutuki kebodohannya, kini dia semakin penasaran dengan gadis galak itu.
Tak lama maid kembali, menyajikan minuman untuk Rafendra setelah itu pamit undur diri. Pria itu segera menyesap kopinya perlahan, lalu menaruhnya kembali di atas meja. Satu jam kemudian, terdengar suara klakson mobil dari luar. Dominic dan Cyra masuk ke dalam dan menemuinya di ruang tamu.
"Rafen sejak kapan kamu ada di sini? "
"Ya sekitar satu jam, ngomong ngomong wanita di sebelahmu, yang kamu inginkan selama ini bukan. " pungkasnya. Dominic mengangguk, dia membantu wanitanya dengan hati hati. Rafendra langsung mengulurkan tangannya, Cyra menyambutnya.
"Rafendra Arsenio Haidar. "
__ADS_1
"Cyra Arabella. " Cyra tersenyum lalu menarik tangannya, dia kembali mengusap perutnya. Rafendra memperhatikan penampilan Cyra setelah itu melirik Dominic dengan seringainya.
bersambung