
Mami Amira datang memenuhi undangan putrinya, Zafira langsung menjelaskan kedatangan Zia pada ibunya itu. Zia sendiri menghela nafas panjang, menatap lekat wanita yang telah di sakiti ibunya.
"Maafin atas sikap mama dan aku tante, mungkin kehadiran kami berdua membuat hati tanya hancur selama belasan tahun ini. " Zia benar benar minta maaf pada tante Amira atas kesalahan ibunya.
Mami Amira telah memberikan maafnya pada Zia dan nyonya Vera, dia tak ingin menyimpan dendam dalam hidupnya. Ziapun begitu terharu, gadis itu mengumamkan terima kasih pada tante Amira atas kebaikannya. Zafira bernafas lega, melihat ibunya telah berdamai dengan masa lalu.
Nyonya Amira memanggilnya, Zia langsung mendekat dan memeluknya dengan erat. Setelah selesai dia kembali ke tempatnya, Zia bernafas lega dan rasanya beban selama ini yang dia pegang telah berkurang.
"Oh ya Tante, aku dan Abian sebentar lagi akan menikah, bisakah tante memberikan doa terbaik untuk kami. " ucap Zia pada tante Amira. Wanita paruh baya itu mengangguk, memberikan nasehat untuk Zia dengan nada lembutnya.
"Kalau begitu saya pamit dulu tante,kak Fira. " Zia langsung bangkit, Zafira sempat menawarkan sopir untuk mengantarnya namun gadis itu menggeleng. Sepeninggal Zia, mami Amira menoleh kearah putrinya dengan lekat.
Wanita hamil itu menjelaskan jika dirinya telah menerima Zia dan memaafkannya, Nyonya Amira tersenyum lega mendengarnya. Paruh baya itu menyentuh perut bulat sang putri.
Di luar mansion Evan yang baru pulang dari kantor berpapasan dengan Zia. Zia menyapanya sebentar setelah itu pergi melewatinya begitu saja. Evan sendiri tak berkomentar apapun, dia langsung masuk ke dalam sambil membawa pesanan sang istri.
"Sayang, aku pulang. " Evan datang datang menciumnya sekilas, lalu menyapa calon buah hatinya. Dia juga memeluk sang mertuanya sebentar, lalu duduk di sofa tak jauh dari nya.
"Nih sayang, aku belikan sate kesukaan
__ADS_1
kamu. "
Zafira mengangguk, perempuan itu makan dengan lahap. Evan sendiri mengobrol dengan mertuanya, menanyakan perihal kedatangan Zia barusan.
Drap drap
Suara langkah kaki mendekat kearah ruang tamu, Evan bangkit dan menyambut pria paruh baya sahabat Daddy nya. Tuan Rajendra memperkenalkan dirinya pada keluarga keponakannya.
"Mami, Om Jendra seorang duda lho. Mami enggak pengen kenalan gitu? " Evan mencoba menggoda sang mertua. Mami Amira menatap horor kearah sang menantu yang terlampau usil itu. Selesai makan, Zafira menyingkut perut suaminya namun Evan tetap menggoda Mami.
"Sudahlah Mami pulang dulu. " ucap Mami Amira. Evan terkekeh pelan, dia memberi kode pada om Jendra. Om Rajendra langsung menawarkan diri, Mami Amira terpaksa menerima tawarannya. Keduanya bangkit dan pergi meninggalkan ruang tamu.
Kini keduanya berendam aroma terapi di dalam jakuzi, Evan menciumi bahu dan leher wanitanya sambil membelai perutnya.
"Mami tak mudah jatuh cinta sayang, karena masa lalu mungkin Mami menutup hatinya hingga enggan menikah lagi. " cetus Zafira mengutarakan pendapatnya.
"Aku hanya berusaha sayang, jika di terima ya ikut bahagia dan kalau tidak ya kita hargai keputusan mami!
Zafira setuju dengan jawaban sang suami, sudah cukup lama ibunya itu tenggelam dalam penderitaan dan juga kesedihan. Dia ingin sang mami bangkit dan memulai hidup baru dengan memiliki pasangan.
__ADS_1
Mereka kali ini hanya berendam tanpa melakukan apapun, setelah merasa cukup Evan segera bangkit dan membantu istrinya. Keduanya ke luar mengunakan handuk, masing masing segera memakai pakaian.
Zafira memilih bersandar di kepala ranjang dengan kaki dia luruskan, dia sering mengeluh kecapekan pada orang tua serta mertuanya. Evan menyusul, dia memijit kaki istrinya dengan lembut dan pelan pelan, Zafira tampak menikmatinya.
Zafira POV
Apapun keputusan mami aku selalu mendukungnya, jujur Mami aku menginginkan mami bahagia juga seperti diriku dan Evan. Sepertinya Om Jendra, pria yang tepat untuk mami dan aku yakin Om Jendra bisa menjaga dan membahagiakan mami nantinya.
Evan memperhatikan istrinya yang tengah melamun, dia menyentuh tangan wanitanya membuat Zafira tersentak. Wanita hamil itu hanya kepikiran dengan mami nya, Evan paham akan kekhawatiran yang di rasakan sang istri.
"Sudah cukup sayang, kamu pasti juga capek bukan!
Evan ikut berbaring di sebelahnya, tangannya terulur menyentuh perut besar Zafira. Merasakan tendangan halus membuat keduanya memekik kegirangan, mereka sama sama tak sabar menanti sang buah hati lahir ke dunia.
"Kira kira dia laki laki atau perempuan ya sayang? " tanya Zafira dengan antusias.
"Entahlah biar jadi kejutan nantinya sayang, apapun jenis kelaminnya dia tetaplah buah hati kita!
"Iya aku setuju denganmu. " balas Zafira sambil tersenyum manis. Zafira menghela bafas panjang, ikut mengusap perutnya sambil mengajak bicara calon bayi dalam perutnya saat ini. Selain itu keduanya juga membahas perihal hubungan Ethan dan Shenna saat ini.
__ADS_1