
"Bagaimana hasilnya? "
"Bayi dalam kandungan istriku berjenis kelamin, kembar laki laki paman. " ujar Dominic dengan seringainya, menatap sinis kearah paman Eden.
Pria tua itu tak bergeming, dia masih terkejut dengan penuturan Dominic barusan. Dominic berdecih melihat reaksi yang ditunjukkan pamannya itu, sepertinya paman Eden tengah merencanakan sesuatu. "Kau yakin jika bayi dalam kandungan wanitamu ini, adalah milikmu. "
Kiara merasa tersinggung dengan ucapan yang terlontar dari bibir paman Eden. Dominic mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras mendengar ucapan sang paman yang meragukan calon anaknya. "Aku yakin, sangat yakin paman. Untuk itu jangan pernah menganggu keluarga kecilku jika paman tidak ingin mengalami hal yang tak terduga. "
"Kami pamit pulang. " Dominic membantu istrinya berdiri, lalu membawanya pergi dari restauran.
"Cih hanya demi wanita hina itu, Dominic berani mengancamku. "
"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan besar. "
"Hm. "
##
Di sisi lain Rafendra menghampiri sang calon istri yang tengah melamun di teras. Luna tersenyum simpul, menatap kehadiran sang kekasih hati. "Rafen, haruskah kita menikah di Amerika sayang? "
"Memangnya kenapa sayang, apa ada hal yang mengganjal pikiranmu!
"Hanya saja berat ninggalin Cyra dan Kiara, mereka sudah kuanggap seperti saudara sendiri Honey. " balas Luna dengan lirih. Rafendra langsung mengusap lembut kepala calon istrinya, lalu mendaratkan kecupan di puncaknya. Pria itu mengerti dengan perasaan gadisnya, Rafen mengulum senyumnya sambil mengusap pipi Luna.
"Ya sudah, kita atur ulang pernikahan kita bagaimana? "
"Sepertinya tidak deh sayang, aku merasa enggak enak sama keluarga besar kamu, kita tetap menikah di sana sesuai rencana awal. " Luna langsung berhambur memeluk prianya, Rafen membalasnya dengan erat. Tangan mereka saling bertautan satu sama lain seakan tak terpisahkan.
"Permisi Nona, Tuan ini minuman dan camilannya. " pelayan datang menaruh makanan dan minuman di atas meja, setelah itu kembali ke dalam. Luna menarik tengkuk Rafen, lalu memagut bibirnya dan pria itu membalasnya. Keduanya saling memisahkan diri setelah keduanya hampir kehabisan nafas, Luna tersenyum manis pada sang kekasih.
__ADS_1
"Kalau di pikir pikir, takdir itu lucu ya, menyatukan kamu dan aku jadi kita, jelas jelas pertemuan kita kayak tom and jerry. Aku ingat berkali kali menolakmu honey, tapi kamu tak menyerah begitu saja. "
"Iya kamu benar nona galakku. " goda Rafen sambil menjawil hidung mancung sang kekasih. Luna tertawa kecil, merasa malu karena dirinya dulu, bersumpah tak akan menyukai Rafendra namun sekarang malah bucin pada prianya itu.
"Rafen keluar. " teriak seseorang, tak lama seorang wanita masuk ke dalam halaman mansion milik Rafen. Rafen dan Luna mengerutkan kening, melihat kehadiran wanita itu.
"Lia, ada apa kenapa kamu berteriak!
"Kamu harus bertanggung jawab, aku hamil Rafen. " ujar Lia sambil menyentuh perutnya. Rafendra dan Luna langsung terkejut, mendengar penuturan dari Lia. Luna menoleh, menatap tajam kearah kekasihnya itu dengan sorot tatapan penuh intimidasi.
"Tunggu Sayang, aku bisa jelaskan! Rafen menoleh, menatap Lia dengan rahang mengeras. Dia ingin sekali mengumpat pada Lia namun dia mencoba menahannya.
"Jaga bicaramu Lia, sejak kapan aku menyentuhmu jangan mengada ngada sialan. " maki Rafendra dengan emosi di wajahnya.
"Hiks kau jahat Rafen, kita melakukan hal itu saat kau mabuk waktu itu di acara ulang tahunku. " jelas Lia sambil menitikkan air matanya. Lunapun semakin sakit hati dia sudah tak tahan, bangkit dan berjalan meninggalkan keduanya.
"Luna sayang, tunggu. " Rafen langsung mengejarnya namun Lia berusaha menahan kepergian pria itu.
Rafen langsung menepis kasar tangan Lia, menatap dingin wanita di hadapannya. "Berani beraninya kamu menantangku Lia, katakan siapa yang menyuruhmu datang ke mari hah. " bentak Rafen.
"A-aku, aku tidak.. "
"Wanita sialan. " Rafen mendorongnya keras hingga tersungkur setelah itu berlari mengejar sang kekasih. Pria itu mengumpat, gagal mengejar Luna dan dipastikan kekasihnya
sangat marah padanya. Rafen tancap gas, melaju kencang menuju kediaman keluarga Luna.
"Aah, hiks kamu jahat Rafen. " teriak Luna di dalam kamarnya yang tidak kedap suara. Gadis itu memukul mukul gulingnya, melampiaskan segala rasa kecewa dan juga amarahnya yang memuncak. Dia patah hati untuk pertama kali, ini semua karena Rafendra, pria yang sangat di cintainya.
"Brengsek kamu Rafen. " makinya dengan emosi meletup letup. Luna terus menyumpah serapahi Rafendra, sesekali mematikan ponselnya yang sedari tadi berdering. Dadanya berdenyut nyeri, teringat dengan pernyataan Lia mengenai kehamilan wanita itu.
__ADS_1
Dirinya tak menyangka jika Rafen, memang pria bajiingan sekaligus pengecut. Gadis itu memikirkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi, apa jangan jangan Rafen tidak tulus cinta padanya, hanya menginginkan tubuhnya atau menyembunyikan belangnya pikirnya dengan perasaan tak karuan.
"AKU MEMBENCIMU, SANGAT MEMBENCIMU RAFENDRA. " air matanya terus mengalir tanpa henti namun Luna membiarkannya, terdengar suara isakan kecil kala Luna menutupi wajahnya dengan bantal.
"Sebentar lagi kita akan menikah Rafen, tapi kenapa kamu mengkhianatiku dengan perbuatan bejadmu itu hiks. " Luna menangis sesegukan, pernikahan yang diimpikannya langsung lenyap seketika. Dia tak bisa membayangkan, bagaimana kecewa dan malunya kedua orang tuanya nanti.
Tok
tok
tok
"Sayang, buka pintunya. Aku mau jelasin semuanya, apa yang dikatakan Lia tidak benar sayang. " ujar Rafen dari balik pintu.
"Pergi Rafen, aku tidak mau berbicara denganmu. " teriak Luna dari dalam. Rafendra tak menyerah, pria itu kembali mengetuk pintu dan memanggil nama Luna, Lunapun mengabaikan dirinya. Hampir satu jam akhirnya Rafendra menyerah, pria itu menuruni anak tangga dan pergi ke ruang tamu. Dia menjatuhkan dirinya di atas sofa, memijit kepalanya yang terasa pusing.
Paman Albert datang, memperhatikan calon menantunya. Rafendra mengusap wajahnya kasar, menatap lekat calon mertuanya itu, lalu menjelaskan apa masalahnya. "Sumpah paman Al, aku tidak pernah melakukan hal itu. Sepertinya Lia melakukan hal itu karena suruhan seseorang paman, aku mohon percayalah. " ujar Rafen dengan wajah serius.
Pria tua itu menghembuskan nafas berat, dia yang mendengar cerita Rafen ikut kesal dan emosi, Paman Albert mempercayai ucapan Rafendra meski di awal pria itu kecewa pada Rafen, karena membuat puterinya patah hati.
"Jika benar, memang siapa yang menyuruhnya nak, apa kamu punya musuh? "
"Hanya satu orang paman, yaitu paman Eden, paman dari Dominic dan Reymond. Paman Eden tahu, kalau aku sering membantu Dominic selama ini. " Rafen menghela nafas panjang, dia benar benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan paman Eden.
"Paman Eden, pria yang sangat ambisius dan keinginannya harus terpenuhi. " lanjutnya.
"Luna terlanjur marah dan kecewa padaku paman, apa yang harus kulakukan sekarang! Rafen merasa frustrasi, sepertinya dia harus menemui paman Eden secepatnya. Paman Albert merasa kasihan pada calon menantunya ini.
"Paman dan bibi akan membantumu, menjelaskannya pada Luna nak. " ujar Paman Albert dengan tegas.
__ADS_1
"Terimakasih paman. " Rafen merasa sedikit lega karena calon mertuanya mau kembantu dirinya. Dia berharap kalau Luna mau memaafkan dirinya dan tidak salah paham pagi padanya.
bersambung