
"Terimakasih telah mengajakku jalan jalan kak Ethan, sebaiknya kakak pulang hari sudah sore. " ucap Shenna dengan sopan.
"Yakin, kamu enggak berniat menawariku minum Shen? " tanya Ethan dengan senyuman tengilnya. Shenna menggeleng, Ethan mendesah kecewa namun pria itu tetap tersenyum padanya.
Ethan pamit, pria itu masuk ke mobil dan melesat jauh. Shenna melambaikan tangan menatap kepergian kakaknya Inara itu. Gadis itu masuk ke dalam rumahnya, gadis itu terdiam kaku melihat sang ibu telah menunggunya di ruang tamu.
"Siapa yang mengantarmu tadi Shenna? " tanya Ibu penasaran.
"Kakaknya Inara Ma. " jawab Shenna pendek.
"Mama harap kamu enggak lupa pesan mama sayang. " ujar Mama dengan tegas. Shenna sendiri menghela nafas berat, menatap lekat wajah sang mama tercinta.
"Kami hanya teman Ma, tidak ada hubungan apapun dan nasehat mama selalu aku ingat, jadi mama nggak perlu mengingatkan aku terus. " Shenna langsung pergi ke kamarnya tanpa menunggu mamanya kembali bicara. Mama hanya menggeleng melihat sikap anaknya barusan.
Bruk
Shenna menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, gadis itu tersenyum getir mengingat kejadian masa lalu. Lagipula apa yang dia harapkan, dirinya telah bahagia dengan hidupnya yang sekarang bersama sang mama tercinta tanpa perlu orang lain lagi.
Dering ponselnya membuat fokusnya teralihkan, gadis itu mengambilnya dari dalam tasnya. "Ya halo Nara ada apa? "
"Shen, besok kamu bisa datang enggak ke acara kakak aku, kak Evan? " tanya Inara dengan penuh harap. Shenna terdiam, perempuan itu menimbang nimbang tawaran sahabatnya.
"Ayolah Shenna please!
"Nanti aku kabarin lagi ya. " ucap Shenna yang langsung menutup sambungannya. Shenna berat menolak permintaan Nara, selama ini sahabatnya itu banyak membantunya. Tapi di sisi lain sang mama pasti tidak akan mengizinkan dirinya ke sana.
Tok
tok
__ADS_1
"Shen, Thomy datang mencarimu. " ucap Mama dari luar pintu. Shenna dengan malas bangkit, beranjak membuka pintunya. Gadis itu ke luar dan langsung menemui Tommy, diapun langsung duduk di sofa berhadapan dengan temannya itu.
"Ada apa Tommy? " tanya Shenna pada laki laki di depannya saat ini.
"Besok ikut aku ya Shen, keluargaku akan pergi liburan!
"Maaf Tom, aku tak bisa. Aku ada acara sendiri besok. " tolaknya secara halus.
"Shenna!
"Cukup ma, aku berhak menentukan pilihanku sendiri. Ini hidup Shenna, Shenna bukan lagi anak kecil yang harus menuruti keinginan mama. " sentak Shenna dengan tegas. Mama tersentak kaget, wanita paruh baya itu melihat kekecewaan di kedua manik mata putrinya.
"Shenna sudah Shen. " Tommy berusaha melerai gadis pujaannya dan mencoba menenangkannya. Shenna menepis sentuhan Tommy, dia tak suka dengan cowok di depannya ini. Diapun bangkit, pergi ke kamarnya dengan kekesalan yang luar biasa. Tommy sendiri langsung pamit pulang setelah dirinya di tolak Shenna, mama tentu saja merasa bersalah pada Tommy.
"Ya ampun Shenna. " keluh Mama akan kelakuan putrinya barusan.
"Maaf Nara, untuk kali ini saja kamu tak boleh tahu masalahku. Aku benar benar menganggap kamu seperti saudari aku sendiri meski status kita berbeda, terimakasih telah membantuku selama ini. " gumam Shenna sambil menangis sesegukan.
Gedoran pintu kamarnya dia abaikan, Shenna tahu jika sang mama pasti akan langsung memarahinya seperti biasa. Bukankah selama ini apa yang dia lakukan selalu salah di mata sang mama. "Aku hanya ingin seperti gadis lainnya ma yang memiliki banyak teman, tapi mama melarangku ini itu hanya karena trauma mama dulu. " gumam Shenna.
Shenna POV
Ma, aku tahu sebenarnya mama benci sama aku 'kan karena aku anak hasil kejadian kelam dari pria yang merenggut kesucian mama dulu. Selama ini aku diam Ma, mama sering kali memarahiku dan mengucapkan kata kasar padaku namun aku tak pernah melawan. Sakit ma, harusnya mama menyayangi aku dengan kasih sayang bukan kebencian dan kemarahan yang mama luapkan padaku setiap harinya.
Setelah tak terdengar suara mamanya, Shenna ke luar dari kamarnya. Gadis itu berniat pergi ke dapur namun dirinya di cegah sang mama. "Kenapa tadi kamu menolak tawaran Reyvan, Reyvan pria baik Shenna. " ujar Mama dengan nada tinggi.
"Maksud mama apa, mama menjual Shenna pada keluarga Reyvan? "
Plak Mama justru melayangkan tamparannya ke pipi sang anak. "Jaga bicara kamu, harusnya kamu mencari pekerjaan untuk membuat mama senang. Mama menyesal membesarkan anak tak tahu diri dan pembawa sial seperti kamu Shenna. " sarkas Mama dengan sinis.
__ADS_1
Deg
Shenna merasakan sesak mendengar kalian dari mamanya. Gadis itu memilih ke luar dari rumah sambil berlari mengabaikan teriakan sang mama.
"Kenapa Mama jahat banget sama Shenna, kenapa ma. " Shenna menangis sendirian di tepi jalan, perempuan itu sakit hati sekaligus kecewa pada sang mama. Gadis itu terus berjalan sambil menangis sesegukan, dia kini tak memiliki tujuan.
Setelah menghapus air matanya gadis itu nampak kebingungan sekarang, dia tak memiliki tempat berlindung sekarang."Aku harus ke mana sekarang, aku tak membawa ponsel. " gumamnya lirih.
Dia menatap ke atas langit mulai gelap pertanda hujan akan turun. Tak lama hujan deras mengguyurnya namun tak membuat Shenna berhenti berjalan. Shenna mengabaikan tubuhnya yang terasa mulai mengigil, gadis itu berjalan cukup jauh. Tubuhnya hampir saja tumbah namun seseorang menahannya.
Seorang pria mengangkat tubuh Shenna yang lunglai, membawa pergi gadis itu setelah menaruhnya di dalam mobil. Ya dia Ethan, pria itu memang kembali lagi dan hanya memperhatikan Shenna kejauhan dan melihat apa yang terjadi pada Shenna.
Pria itu memutuskan membawa Shenna pulang ke rumah orang tuanya. Tiba di sana Ethan ke luar dari mobil, menggendong Shenna lalu membawanya ke dalam. Mommy Ella tentu saja panik, menyuruh sang anak membawa Shenna ke kamar tamu.
"Mom, ada apa dengan Shenna? " tanya Inara dengan wajah paniknya.
"Mommy juga gak tahu sayang, mommy urus Shenna dulu nak. " Nara mengangguk, Mommy Ella segera masuk dan mengganti pakaian Shenna, Ethan sendiri pergi ke ruang tengah.
Nara langsung mendekati kakak keduanya itu, mencecarnya dengan berbagai pertanyaan dalam kepalanya. Ethan menghela nafas kasar, pria itu menjelaskan apa yang dia lihat pada adiknya.
"Selama ini Shenna tak mengatakan apapun padaku kak, dia begitu tertutup. Aku sudah berulang kali mendesaknya untuk cerita namun dia tetap bungkam. " keluh Nara mengingat bagaimana sikap Shenna selama ini.
Tak lama Mommy Ella ke luar, wanita paruh baya itu bergabung bersama kedua anaknya. Nara menatap lekat kearah sang mommy, dia begitu penasaran dengan keadaan Shenna.
"Mommy telah mengganti pakaiannya dan memberinya obat, untuk saat ini biarkan Shenna istirahat! Nara bernafas lega, namun dia begitu merasa bodoh karena tak tahu peemasalan sahabatnya sendiri.
Mommy mengusap punggung putrinya, dia paham jika Nara begitu menyayangi Shenna seperti saudarinya sendiri. "Kita doakan semoga Shenna cepat sembuh sayang!
"Iya Mom!
__ADS_1