
Dua hari kemudian, Cyra terus merengek, meminta ikut mengantar Rey ke bandara dan sekarang mereka berada di bandara. Reymond sekuat tenaga meyakinkan hatinya yang kini hancur berkeping keping, terpaksa melakukan ini karena janjinya pada sang kakak. Cyra menangis tersedu sedu dalam pelukan sang suami, dia sangat berat melepas kepergian suaminya ini. "Rey, please jangan pergi. Aku enggak mau berpisah sama kamu. " gumam Cyra dengan lirih.
Hati Rey terasa teriris mendengar ucapan istrinya, dia berkali kali menciumi seluruh wajah Cyra. "Selama aku tak ada di sisimu, ingat kamu harus selalu makan demi kesehatan calon bayi kita ini. " ujarnya sambil mengelus perut sang istri.
"Rey, please! rengeknya.
"Maaf sayang, aku pasti akan segera kembali kamu jaga diri baik baik. " Rey beralih menatap bunda dan ayahnya secara bergantian, raut wajah mereka tampak penuh kesedihan. Rey memberikan kecupan terakhirnya kemudian berbalik dan berjalan masuk ke dalam pesawat.
Cyra berteriak memanggil suaminya namun Rey terus berjalan tanpa menoleh ke belakang , menatap sendu punggung Reymond yang menghilang masuk ke dalam pesawat. Bundapun langsung menghampiri menantunya itu kemudian memeluknya, memberikan dukungan pada Cyra. "Bunda hiks, aku enggak mau Rey pergi bunda!
"Sst sayang tenang, masih ada bunda dan ayah di sini yang menemani kamu. " Cyrapun menggeleng keras, air matanya terus menetes tanpa henti. Bunda dan Ayah langsung mengajaknya pergi, ketiganya masuk ke mobil dan sopir melajukannya kencang.
Sepanjang hari Cyra terus menerus menangis di dalam kamar, dia menginginkan suaminya kembali. "Rey pulang Rey, aku enggak mau kamu pergi hiks. " teriaknya histeris.
"Aawh. " Cyra meringis, menyentuh perutnya dan berusaha menenangkan dirinya. Meski begitu dia masih terisak, merasa sangat berat di tinggal suami yang sangat dia cintai. Dia usap perutnya yang menonjol dengan lembut, mengajak bicara calon bayinya mengenai kepergian Reymond.
Di sisi lain Dominic tersenyum puas karena adiknya telah menepati janjinya. Dan kini saatnya sudah waktunya dirinya menampakkan diri setelah lama bersembunyi. Dia akan segera menjemput calon ratunya, pemilik hatinya yang tengah menunggunya. Namun senyumnya langung lenyap kala mendengar kabar jika Cyra tengah sakit. Dominic langsung bangkit, menyuruh para pengawal untuk memboyong Cyra ke istana megahnya.
Bunda menangis sesegukan melihat keadaan lemah menantunya, Cyra terlalu stress hingga dia jatuh tak sadarkan diri. Wanita tua itu berkali kali menghembuskan nafas berat, menatap sendu wajah pucat Cyra. "Maafkan Rey ya sayang, kamu jadi seperti ini karena Rey. Rey melakukannya karena ada alasan, janjinya pada seseorang yang harus dia tepati meski menyiksa fisik dan batinnya. ".
Salah satu maid masuk ke dalam, memberi hormat pada Bunda. "Permisi Nyonya, di luar tuan muda Dominic dan rombongannya sudah datang. "
__ADS_1
"Baiklah, saya akan menemuinya! Maid membungkuk setelah itu pergi, Bunda kembali fokus memperhatikan menantunya yang belum sadarkan diri. Bunda langsung bangkit dan ke luar dari kamar, bergegas menemui putra tirinya.
"Di mana wanitaku berada, aku ingin bertemu!
"Cyra masih belum sadarkan diri, jangan menganggunya nak! Dominic tak peduli, dia berjalan melewati bunda dan ayah menuju ke kamar Cyra.
Skip
Dominic berjalan kearah sisi kanan Cyra kemudian duduk di sebelahnya. Netra gelapnya memandang lekat wanita yang tengah tertidur, pandangannya turun ke perut Cyra kemudian diusapnya lembut. "Seandainya ini adalah bayiku, aku pasti akan sangat bahagia Sweety!
Dominic kembali berdiri, sekali angkat Cyra berada dalam gendongannya lalu di bawanya ke luar. Bunda dan Ayah terdiam saat Dominic berjalan melewati mereka sambil menggendong Cyra. "Lakukan sesuatu Ayah, bunda takut Dom akan menyakiti Cyra nantinya, mengingat fisik Cyra tengah rapuh saat ini!
"Jika kita melakukan sesuatu, Dominic akan berbuat lebih kejam lagi Bunda. " Bundapun mendesah kasar, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Cyra saat ini.
Dominic membaringkan tubuh Cyra dengan hati hati, dia berkali kali mengusap perut buncit wanitanya dengan lembut. Tak lama Cyra melakukan pergerakan lalu kedua matanya terbuka secara perlahan. Menatap sekelilingnya dalam diam dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. "Kamu siapa, di mana Rey. Di mana suami aku! ucapnya panik.
Dominic mengeraskan rahangnya, melihat wanitanya menyebut nama Reymond. Melihat raut muka Dominic yang berubah membuat Cyra merasa ketakutan. "Dengarkan aku, suamimu bernama Reymond itu pergi berdua dengan adikmu Maura sweety!
"Enggak, enggak mungkin. "
Dominic menunjukkan sebuah video pada Cyra, Tangis Cyra langsung pecah seketika dan melempar ponsel itu dengan emosi meluap luap. Cyra masih tak menyangka jika suaminya begitu tega padanya, padahal dirinya sedang hamil tapi Rey malah membiarkan Maura bersamanya. Cyra merasa tidak terima, dia berusaha turun dari ranjang dan berniat mengambil pisau namun Dominic menahannya dengan kuat.
"Sebaiknya lupakan saja suami brensekmu itu Sweety. " ujarnya sambil menyeringai. Cyra hanya diam namun dia terus menerus menangis, Dominic merasa kesal karena ucapannya tak digubris. Pria arogan itu menatap jengah wanitanya yang tak kunjung berhenti menangis.
__ADS_1
"Simpanlah air matamu itu sweety, kamu hanya boleh menangis saat kamu sudah menikah denganku. " Cyra menoleh dan menatap tajam kearah Dominic. Dominic hanya terkekeh, namun tanganya tak henti hentinya mengusap rambut Cyra kemudian diciumnya.
"Aku sedang hamil, hanya Reymond suamiku!
"Oh ya suami, suami yang meninggalkan istri demi perempuan lain. "
"Kamu tenang saja, aku akan menikahimu saat kamu sudah melahirkan dan kupastikan saat itu kamu tak akan bisa menolaknya lagi
sweety. " Cyra menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar hebat mendengar ucapan Dominic.
"Mulai saat ini jaga dirimu dan kandunganmu baik baik atau aku akan menikahimu dengan paksa atau melakukan hal kejam lainnya. " Dominic bangkit, lalu ke luar meninggalkan Cyra sendiri. Cyra bernafas lega setelah pria dominan itu pergi, namun hatinya semakin takut dan dia kembali teringat dengan Reymond.
"Rey please kembalilah, tolong aku dan jangan biarkan pria kejam ini menikahiku. " batin Cyra penuh harap. Cyra menunduk, di usap perutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Baru beberapa jam dirinya sudah sangat merindukan Reymond dan dia merasa tidak nyaman di kamar asing ini. Cyra memilih menyandarkan dirinya di kepala ranjang, berkali kali menghela nafas panjang.
Cklek pintu terbuka lalu masuklah para maid yang membawakan pakaian ganti dan makanan. Merekapun segera melayaninya, Cyrapun pasah karena para maid memohon padanya agar menurut. Setelah selesai para maid itu segera ke luar membiarkan Cyra istirahat. "Sayang mama janji mama akan kuat demi kamu dan daddy!
"Seandainya ada papa kamu, mama pasti akan sangat senang!
Cyra menoleh kearah Jendela kamarnya, dengan pandangan kosong. Entahlah apa yang dipikirkan wanita hamil itu, hanya Tuhan dan Cyra sendiri yang tahu.
"Mommy, Cyra kangen sama mommy. Cyra ingin berbagi cerita sama mommy. " gumamnya lirih.
bersambung
__ADS_1