
"Calvin dan Caleb ke mana Pi? " tanya Terry pada sang suami, mencari sosok putera kecilnya.
"Lagi ikut oma dan opa mereka, tadi mommy dan daddy datang jemput Calvin dan Caleb! "
Terry memilih duduk di sebelah sang suami, Leon menaruh laptopnya dan fokusnya beralih pada sang istri. "Pi, beneran kamu enggak pengen punya anak lagi, adik untuk Calvin dan Caleb? "
"Tidak sayang, bagiku sudah cukup kita punya Calvin dan Caleb di tengah tengah kita. " Terrypun di landa kebingungan saat ini, memilih menuruti keinginan suaminya, lagian dia sangat tahu apa alasan suaminya melarang dirinya hamil. Wanita itu memberikan kecupan di bibir suaminya sekilas, rasa cintanya pada sang suami kian besar setiap harinya.
"Sayang, bagaimana kalau aku hamil lagi, apa kamu tetap akan menolaknya? " Terrypun memperhatikan suaminya yang diam saja, wanita itu menghela nafas panjang. Leon diam, namun dia merasa aneh dan heran pada istrinya itu.
"Sudahlah lupakan saja sayang. " ucap Terry dengan pelan.
"Apa kamu hamil lagi? "
Terry tak menjawabnya, namun wanita itu meletakan tangan suaminya di atas perutnya. Leon tertegun, menatap lekat kearah sang istri yang di balas senyuman oleh Terry.
"Aku hamil anak ketiga kita hubby! Terry begitu menginginkan anak perempuan, makanya dia begitu antusias dalam kehamilannya kali ini.
"Kamu enggak suka sayang. " cicitnya pelan, melihat raut wajah suaminya yang berubah. Leon dan Terry memiliki dua orang putera, Calvin Andreas Vasques yang berusia 6 tahun dan Caleb Collins Vasques, usianya 5 tahun. Terry merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dirinya memutuskan hal yang menginginkan satu anak lagi tanpa bicara pada suaminya.
"Maafkan aku hubby. " sesal Terry dengan mata berkaca kaca. Leon menghela nafas panjang, memeluk sang istri dari samping, memberinya kecupan di bibir wanitanya.
"Aku tidak marah, asalkan kamu benar benar jaga kesehatanmu dan calon anak kita dalam perutmu. Kamu enggak boleh melakukan hal berat berat, termasuk menggendong
Caleb lagi. " pinta Leon dengan posesif.
Mata Terry berbinar cerah mendengar penuturan sang suami, wanita itu menciumi wajah Leon, melampiaskan rasa bahagianya. Terry teringat kejadian kemarin, dia merasa gugup dan bingung, hal itu di sadari Leon.
"Katakan, apalagi yang kau sembunyikan dariku sayang? "
"Tapi janji jangan marah ya!
"Hmm. "
"Saat aku dan anak anak pergi ke mall dua minggu lalu, aku hampir terjatuh karena di dorong seorang ibu ibu, namun untungnya ada yang menolongku. Sebelumnya aku baru memeriksakan diriku di rumah sakit, waktu itu aku dalam keadaan hamil. " ungkap Terry menjelaskan kejadian minggu lalu yang dia sembunyikan.
"Apa? " Leon sangat terkejut mendengar kejujuran sang istri, manik kelamnya menatap tajam wanitanya. Sebagai seorang suami, dirinya merasa tidak berguna sama sekali.
__ADS_1
"Terry kau, ingin sekali aku mengurungmu sayang di mansion. Please berhati hatilah, ingat kamu sedang hamil. " geram Leon gemas pada istri bar barnya. Terry langsung nyengir, wanita itu bermanja manja di tubuh suaminya.
Lagi lagi Leon tidak bisa marah pada sang istri, dirinya selalu di buat spot jantung oleh istri tercintanya tersebut.
Drt
drt
"Halo Reni, ada apa? "
"Nona pagi ini di butik, ada salah satu pelanggan yang komplain dan memaki maki anda. " ujar Reni asisten Terry.
"Baiklah aku akan ke sana. " Terry menghela nafas panjang, melirik suaminya lalu bangkit. Leon tak bisa tinggal diam, pria itu langsung menyusul sang istri.
Di butik mereka menemui pelanggan yang di maksud Reni. Terry hanya bisa mengelus dada, ternyata Vanya yang berbuat ulah. Dia selama ini diam saat wanita angkuh itu menghina dan memakinya, menyebutnya sebagai wanita murahan.
Vanya menatap sinis kearah Terry, fokusnya teralih pada Leon yang begitu tampan. Terry merasa kesal, melihat bagaimana Vanya memandangi suaminya dengan begitu intens, membuat jiwa bar barnya bergejolak.
"Ehem. "
"Tidak akan pernah, bila perlu aku akan menganggumu hingga hidupmu hancur. " jawab Vanya dengan entengnya.
"Wanita murahan sepertimu tak pantas bahagia. " sarkas Vanya.
Rahang Leon memgeras, pria itu tak tahan mendengar makian wanita di hadapannya yang ditujukkan pada Terry, istrinya. "Tutup mulutmu, berhenti menghina istriku atau kau akan terima akibatnya. " geram Leon dengan suara lantangnya.
Leon memanggil bodyguard, Vanya di seret ke luar dari butik dengar cara paksa. Setelah kepergian Vanya, tubuh Terry terkulai lemas, untungnya Leon segap menahannya. Pria itu menggendongnya, membawanya ke mobil dan melesat jauh.
###
Di sisi lain Angela merasa ketakutan, Devon baru saja hendak melecehkannya lagi. Kini gadis itu menangis meraung dalam dekapan sang suami, Louis mencoba menenangkannya. Entah kenapa, melihat Angela yang seperti ini, membuat dadanya terasa sesak dan nyeri. Setelah tenang Angela mengusap wajahnya kasar, menatap lekat kearah suaminya. "Maaf, maafkan aku yang terus menyusahkanmu Louis. "
"Bisakah kamu menghilangkan jejak Devon yang ada di tubuhku Louis. " pinta Angela.
"Tapi Angel.. "
Area ++
__ADS_1
Angela lagi lagi memohon padanya, Louis membopongnya dan merebahkan di atas ranjang. Pria itu melepaskan pakaian mereka hingga keduanya sama sama polos. Dari bibir hingga dada wanita itu tak luput dari ciuman Louis, Louis terus menjamah tubuh Angela tanpa terlewatkan.
Hasratnya begitu membara, melihat tubuh sang istri yang begitu seksi di matanya. Pada puncaknya, Louis mulai menyatukan milik kerwka dengan hati hati, Angela meringis kesakitan kala ada sesuatu yang mengoyak di bawah sana.
"Aaah. " teriaknya kala Louis berhasil menyatukan tubuh mereka, tangan pria itu mencakar punggung kekar Louis. Louis tak menyangka, ternyata istrinya masih begitu suci namun tak menghentikan kegiatannya itu.
Louis terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat, pagi itu suasana begitu panas. Angela terus mendesahkan nama suaminya, sesekali tangan wanita itu mengusap peluh suaminya. Ronde ketiga Louis menyudahi kegiatan penuh keringat itu, pria itu menjatuhkan dirinya ke samping setelah menarik selimut ke atas.
"Setidaknya kamu yang mendapatkan kesucianku Louis bukan Devon. " Angela bernafas lega, wanita itu tersenyum ripis memandang sang suami.
"Bodoh, bagaimana kalau aku hanya menginginkan tubuhmu, hanya menjadikan kamu pemuas nafsuku. "
"Tak apa, anggap saja itu ucapan terimakasih dariku, selama ini kamu selalu menolongku. " sahutnya.
Louis tak bisa berkata kata, bagaimana ada wanita setegar Angela di dunia yang kejam ini. Pria itu memberikan kecupan di kening, lalu turun di bibir istrinya, Angela menikmatinya. Tak di pungkiri dia merasakan kenyamanan, saat bersama dengan Louis.
"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah. " Louis memperhatikan istrinya yang kini memejamkan kedua matanya. Pria itu menghela nafas berat, manik hitamnya memperhatikan Angela dengan intens.
Menjelang siang, Angela baru bangun dari tidurnya. Wanita itu segera membersihkan diri di bantu Louis, setelah itu memakai dress yang disiapkan sang suami. Dia berjalan ke luar dari kamar, mencari sosok suaminya.
"Kamu sudah bangun. " Louis datang xari arah dapur, pria itu meraih tangan istrinya kemudian menyematkan cincin ke jari manis Angela. Angela terpaku, menatap suaminya tak percaya.
"Ini cincin pernikahan kita. "
Angela memeluk sang suami, Louis membalas pelukannya dan sesekali mencium keningnya singkat.
"Mommy, Daddy. " pekik si kecil Liana.
Keduanya melepaskan pelukan mereka, Angela beralih menatap si kembar dengan senyuman di bibirnya. "Selamat pagi sayang, wah rupanya pangeran dan princess mommy sudah rapi dan wangi rupanya! "
"Tentu saja mom, tapi kapan aku dan kak Logan punya adik mommy? "
Angela melirik suaminya dengan pipi memerah, Louis tersenyum tipis dan mengacak rambut anak anaknya.
"Secepatnya Twins! "
tbc
__ADS_1