
Hari hari di lalui Zafira dengan tenang, meski rasa rindunya pada sang suami begitu membuncah. Gadis itu berusaha menahan semuanya termasuk berlari menemui Evan, saat ini dia berada di pusat perbelanjaan. setelah membeli barang yang dia perlukan, wanita itu langsung ke luar dari sana. Dan beberapa hari belakangan ini tubuhnya terasa lemas dan dia juga sering mual di pagi hari.
Merasa penasaran, dia melajukan roda empatnya menuju ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, dia langsung menemui dokter dan meminta untuk di periksa. Detak jantungnya bertalu cepat, dia begitu takut jika hal buruk menimpanya lagi.
"Dari gejala yang nyonya sebutkan sepertinya anda tengah hamil!
"Apa? " Zafira terkejut mendengarnya, dokter menyuruhnya berbaring, lalu membuka ke. meja Zafira dan mulai memberikan gel. Tebakan dokter memang tepat, kini dokter tengah melakukan USG. Setelah selesai Zafira langsung bangun, dokter memberikan obat vitamin dan hasil USG nya pada Zafira.
"Kalau begitu saya permisi! Zafira ke luar dari ruangan dokter dengan tatapan sulit di artikan. Wanita itu menyentuh perut rata nya, dia tak menyangka dirinya menjadi calon ibu saat ini. Zafira menghela nafas panjang, dia begitu bahagia akan kehamilan dirinya saat ini.
Wanita hamil itu memutuskan pergi ke kantor Evan hari ini, dia akan memberitahu suaminya mengenai kehamilannya. Beberapa menit berlalu Zafira turun dari mobilnya, bergegas masuk ke dalam perusahaan. Setelah menyapa karyawan, dia langsung pergi ke ruangan suaminya.
Cklek
Matanya membulat melihat kehadiran Zia di ruangan sang suami, amarahnya langsung membara. "Evan. " teriak Zafira dengan marah. Evan terkejut melihat kehadiran istrinya, Zia sendiri juga tak terduga melihat kehadiran Zafira
Wanita hamil itu langsung mendekat, menjambak rambut Zianka lalu membenturkannya ke tembok. Evan terkejut dengan aksi brutal istrinya, dia berusaha mencegah wanitanya menyiksa Zia.
"Diam kamu brengsek!
"Dan ini buat wanita murahan sepertimu. " Zafira melayangkan tamparannya kearah Zia berulang kali. Evan segera menghubungi asistennya,lalu memeluk istrinya dan membawanya menjauh setelah Zafira mendorong Zia hingga tersungkur.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku tidak akan mau menganggapmu sebagai adikku, anak dari wanita murahan yang merebut papa dari mamiku. " teriak Zafira sambil menunjuk kearah Zia. Zia menangis tersedu sedu, asisten dari Evan datang dan membawa Zia dalam keadaan luka parah.
Zafira menghela nafas kasar, teringat janin dalam perutnya dan dia berusaha menenangkan diri. Dia menepis kasar lalu mendorong tubuh suaminya. "Mau beri alasan apa lagi Van, kenapa kamu membiarkan dia datang ke sini kenapa? " tanya Zafira dengan tatapan kecewanya.
"Maafkan aku sayang, tadi Zia hanya ingin meminta maaf makanya dia datang ke sini. " ujar Evan dengan sungguh sungguh. Zafira hanya diam tak mengatakan apapun lagi, ternyata dia belum bisa berdamai dengan masa lalu. Perpisahan kedua orang tuanya karena orang ketiga membuat Zafira menyimpan kebencian yang dalam.
"Kamu sudah memaafkan aku? " tanya Evan dengan hati hati. Zafira mengangguk, wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, menyerahkan pada suaminya. Evan mengerutkan kening awalnya tak mengerti, setelah mengamati kertas yang dia pegang, matanya langsung berkaca kaca.
"Kamu hamil sayang? "
"Iya hubby. " jawab Zafira yang langsung di peluk suaminya. Zafira membalas pelukannya, Evan melepaskan pelukannya. Raut wajah pria itu begitu bahagia akan kehamilan sang istri.
"Antar aku ke rumah sakit, di mana gadis itu di rawat! Evan mengangguk, pria itu bangkit dan mengajak istrinya ke luar dari perusahaan. Dia meminta sopir membawa mobil istrinya pulang, sepanjang perjalanan ke rumah sakit tak ada obrolan apapun di antara pasangan suami istri.
"Sampai kapan kak Fira membenciku seperti ini. " batin Zia penuh harap. Tak lama Mami Vera datang, wanita itu begitu mencemaskan masa putri kesayangannya. Melihat keadaan putrinya yang penuh luka membuat hatinya terasa perih.
"Sebenarnya apa yang terjadi sayang, katakan pada mama? " tanya Mama Vera dengan raut paniknya. Zia hanya diam, dia bingung menjawab pertanyaan ibunya barusan.Gadis itu terkejut melihat kehadiran Zafira dan Evan, Mama Vera menoleh dan raut wajahnya berubah datar.
"Untuk apa kalian ke sini? " tanya Mama Vera dengan ketus.
"Bagaimana perasaan tante, melihat orang kesayangan terluka? " sinis Zafira menatap wanita seumuran ibunya.
"Apa maksud kamu? "
__ADS_1
"Inilah yang tante lakukan beberapa hari yang lalu, tante mendorong tubuh ibuku di saat mami lagi sakit dan apakah itu pantas? " geram Zafira. Evan berusaha menenangkan istrinya, dia tak ingin wanitanya stress hingga berpengaruh pada janinnya. Nyonya Vera merasa tidak terima, namun tangan Zia menghentikan aksi ibunya.
Zafira menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri agar tak lepas kendali lagi. Dia melirik Zia melalui ekor matanya, raut wajahnya tampak datar. "Aku sudah membiayai pengobatan kamu, dan aku harap setelah ini jangan muncul lagi di hadapanku atau di kantor suamiku jika tidak ingin di cap pelakor!
"Jika kau memiliki harga diri, kau tanamkan ucapanku ini dalam otakmu dan lakukan!
Zafira mengajak suaminya pergi, diapun menghiraukan teriakan mama Vera. Setelah ke luar dari ruangan Zia, mereka sampai di parkiran langsung masuk ke mobil. Selama perjalanan pulang, Zafira tampak melamun.
Zafira POV
Aku hanya ingin hidup tenang, tak berurusan dengan tante Vera dan anaknya. Tak peduli jika ini di bilang egois, setidaknya aku memilih jalanku daripada menerima mereka menjadi bagian keluargaku. Ingin tadi rasanya aku lampiaskan semua rasa sakitku selama ini pada mereka namun aku urungkan, aku tak ingin janin dalam perutku terkena imbasnya.
"Kita ke rumah mommy dan Daddy lebih dulu By!
"Tentu. " Evan menghela nafas lega, melihat istrinya yang kembali tenang setelah mengamuk tadi. Tiba di kediaman keluarga Johnstone, mereka langsung turun dan masuk ke dalam.
"Mom, Dad. " sapa Zafira sambil tersenyum. mommy Ella bangkit, bergegas menghampiri menantunya, memeluknya erat hingga suara Evan menyadarkan sang mommy.
"Mom jangan erat erat, istriku sedang hamil. " ujar Evan dengan halus. Mommy terkejut, wanita itu lantas bahagia dan memberikan selamat pada anak dan menantunya. Daddy Nagara tersenyum senang melihat putra dan menantunya kembali berbaikan, terlebih kabar kehamilan menantunya membuatnya sangat bahagia.
Zafira meminta maaf pada kedua mertuanya akan sikap kekanakannya selama ini, mommy Ella tentu tak masalah dan mengajak menantunya segera duduk di susul Evan. Kini mereka semua tengah berkumpul di ruang tengah, Nara dan Ethan bergabung bersama mereka.
"Jadi tak lama lagi aku punya keponakan dong. " pekik Nara dengan antusias. Zafira membenarkan ucapan adik iparnya, keduanya saling berpelukan. Mereka semua tampak bahagia atas kabar kehamilan Zafira saat ini. Mommy memberi nasehat pada puteranya agar menjaga mood Zafira selama kehamilan.
__ADS_1