
Sementara sorenya Evan pergi ke pusat perbelanjaan, mengantar adiknya Inara yang ingin membeli buah.
"Evan. " panggil seseorang. Evan menoleh, tertegun melihat sesesok gadis menghampirinya. Dia Zianka, gadis itu langsung menyapa sahabat masa remajanya itu. Nara yang melihat sang kakak mengobrol dengan gadis lain hanya mampu berdehem.
"Oh ya Van, siapa dia? " tanya Zianka penasaran.
"Dia Inara, adikku. " balas Evan singkat. Zianka bernafas lega mendengarnya, gadis itu diam diam tersenyum. Nara menarik sang kakak untuk mendekat lalu sesekali melirik kearah Zianka.
"Jaga sikap kakak, kak Evan sudah punya kak Zafira. " bisik Nara pelan. Evan hanya mengangguk tanpa menanggapi nasehat adiknya. Zianka sendiri ikut bergabung bersama kakak dan adik itu, Nara merasa sebal dengan tingkah gadis yang ada di sebelah kakaknya itu.
"Mending kamu pergi aja deh, kamu perempuan bukan, kenapa kamu menempel kakakku terus nona Zia. " ketus Nara yang mengeluarkan kekesalannya. Zia tentu saja tersentak kaget akan pengakuan Nara barusan. Evan langsung menegur adiknya itu, Nara tak peduli dan tetap bicara.
"Sudah sana pergi, kamu suka banget nyela pembicaraan orang sih, gak sopan tahu. " ceplos Nara dengan sinis. Gadis itu menarik kakaknya pergi dari sana, Zianka menatap kepergian keduanya dengan raut kesal.
Brak
"Astaga Nara!
"Lain kali kakak tuh jangan hanya diam saja kalau ada ulat bulu nempel di tubuh kakak. " omel Nara sebal. Evan menghela nafas panjang, memasang sabung pengamannya.
"Kamu itu jangan bersikap kurang ajar seperti tadi Nara, Zia itu teman kakak sejak remaja dulu. " sahut Evan memberikan penjelasan pada adiknya.
"Huh teman, mana ada wanita dan pria berteman kak. Aku lihat si Zia itu sepertinya menyukai kakak, apa jangan jangan gadis itu yang selama ini membuat kakak galau ya? " tebak Nara. Evan mengatupkan bibirnya rapat, pria itu tak menjawab pertanyaan adiknya.
"Well, jika kak Zafira tahu hal ini dan mengenai gadis itu, dia pasti akan marah besar sama kakak. Aku harap saat itu kakak tak akan menyesalinya saat kakak justru memilih si ulat bulu itu daripada kak Fira. " ujar Nara memberi peringatan kakaknya. Evan hanya diam, dia langsung melajukan mobilnya dengan kencang.
__ADS_1
Tiba di kediaman orang tua mereka, Evan tak berbicara apapun pada adiknya. Pria itu menjatuhkan dirinya di sofa, mommy Ella menatap putra sulungnya itu dengan lekat. "Sayang, apa kamu ada masalah? " tanya Mommy Ella khawatir.
"Enggak ada mom!
"Apa Nara berbuah nakal di luar sana, cerita sama mommy nak? "
Nara mencebik kesal mendengar tuduhan sang mommy, gadis itu tampak menatap malas kearah sang kakak yang hanya diam saja. Evan menghela nafas panjang, menatap ibunya sambil tersenyum. Pria itu mengatakan kejadian tadi pada sang ibu, mommy Ella menoleh dan menatap Nara dengan tatapan mengintimidasi.
"Memangnya Nara salah mom, lagipula meski gadis itu teman lama kak Evan tapi tingkahnya kayak ulat bulu, suka menempel. " cetus Nara santai tanpa peduli pelototan sang mommy tercintanya.
"Oh Zia ya, kenapa kamu tak mengajaknya ke sini Van, mommy rindu sama dia!
"Gak sempat mom, ini semua ulah Nara yang seenaknya. " gumam Evan. Nara berdecak pelan, gadis itu berani mengumpati sang kakak setelah itu pergi begitu saja. Diapun terlanjur kesal dengan Evan yang justru membela Zia di depannya. Melihat kelakuan adiknya membuat Evan hanya mampu menggeleng.
"Ingat Van, mommy berharap kamu tidak mempermainkan perasaan Zafira. Jika kamu tak menyukainya, lebih baik lepaskan dia dari sekarang daripada nanti saat rasamu pada Zia kian dalam. " tegur mommy. Evan menghela nafas panjang, terdiam mendengar nasehat dari sang ibu.
"Mom, aku ke kamar dulu. " Evan beranjak, memilih pergi dari sana. Ethan dan Daddy datang, bergabung bersama dengan mommy Ella.
Daddy Gara menangkap kekhawatiran di wajah istrinya, pria itu mengerti dengan perasaan sang istri. Ethan sendiri justru hanya diam, bukan tak peduli dengan urusan pribadi saudara kembarnya itu namun dia cukup menghargai privasi Evan. "Sudahlah mom, daddy yakin Evan bisa menentukan pilihannya sendiri. " bisik Daddy Gara dengan lembut.
"Kalau kamu Than bagaimana, apa sudah ada calon yang ingin kamu tunjukkan pada mommy dan daddy nak? " cecar mommy dengan tatapan penuh selidik.
"Belum mom. " jawab Ethan sambil tersenyum penuh arti.
Mommy Ella hanya menggeleng, dia hafal akan kelakuan putra kembarnya yang satu ini. Daddy Gara melirik kearah Ethan, Ethan justru tersenyum tengil pada ayahnya. Pria paruh baya itu mendengus pelan, sebal akan kelakuan putra tengilnya.
__ADS_1
"Mom, Dad. " Nara turun dan menemui orang tuanya di ruang tamu.
"Teman aku nanti akan ke sini sebentar lagi. " Nara menjelaskan sosok sahabatnya pada kedua orang tuanya. Tentu saja mommy menyambutnya dengan hangat, wanita itu justru tak masalah akan kedatangan teman putrinya.
Suara bel berbunyi, pelayan langsung sigap membuka pintunya. Seorang gadis tampak ragu dan malu berjalan menuju ke ruang tengah. Nara bangkit langsung memeluk sahabatnya itu. "Yuk kita duduk, kamu fufuk di dekat kak Ethan ya. "
Shenna Xavera, sahabat dekat Inara. Nara mengenalkan sahabatnya pada keluarganya, Mommy Ella memuji kecantikan yang di miliki Shenna. Gadis itu merupakan blasteran bule amerika, Shenna merasa malu atas pujian dari ibunya Nara itu.
"Oh ya Shen, kamu harus hati hati dengan kakak Ethan ini, dia pria playboy. " adu Nara pada Shenna temannya. Ethan mendengus pelan, kesal akan kelakuan adiknya itu. Dia juga menjelaskan silsilah keluarganya agar Shenna tak kebingungan nantinya.
"Lagian siapa juga yang suka sama sahabatmu yang kurus kering ini. " cetus Ethan asal. Shenna melotot tak terima mendengar ucapan Ethan padanya. Mommy Ella langsung menegur putranya, Ethan hanya tersenyum tanpa dosa.
"Kak Ethan. " pekik Shenna kesal. Ethan bangkit, pria itu berlari menghindari kejaran Shenna. Nara mendukung sahabatnya, Daddy Gara justru tertawa akan kelakuan Ethan yang super jahil.
"Ayo kejar aku hahahaha, dasar kuring. " ledek Ethan dengan tawa menyebalkannya. " teriak Ethan. Shenna berdecak pelan, gadis itu merasa kesal dengan pria tampan itu yang seenaknya menyebutnya kurus.
Gadis berambut cokelat itu berhenti, mengatur nafasnya yang tersengal. Dia pun memilih duduk di kursi taman, tampaknya dia lelah mengejar Ethan. Ethan berhenti, pria itu menoleh dan menatap iba. Dia langsung mengambil minuman di dapur lalu membawanya ke taman, menyerahkan minuman itu pada Shenna.
"Terimakasih kak. " ucap Shenna dengan senyuman manisnya.
"Hm. " Ethan memilih duduk di sebelahnya, sesekali melirik kearah samping dan menatap Shenna dengan lekat. Setelah tenang, dia menoleh dan tersenyum pada Ethan.
"Keluarga kakak begitu ramai dan menyenangkan ya. " ungkap Shenna.
"Iya, selama ini mommy dan daddy mendidik kami dengan begitu tegas namu tak sampai menggunakan kekerasan. " Ethan menjelaskan bagaimana kehidupan keluarganya selama ini yang begitu hangat. Shenna cukup kagum setelah mendengar penjelasan Ethan barusan.
__ADS_1