
"Ini sebagai peringatan untuk kamu Miranda, berhenti mengganggu Nagara dan istrinya. " Jovano sengaja membuat perusahaan orang tua Miranda bangkrut, dia menarik sahamnya membuat tuan Ryan marah besar hingga jatuh pingsan. Miranda menunduk, wanita itu menangis histeris menerima kenyataan pahit ini. Sang ibu meninggalkannya bersama sang papi yang tergolek lemah di rumah sakit.
"Kau mau ke mana Van? " Miranda mengangkat wajahnya, melihat Jovano yang berniat meninggalkannya, pria itu berbalik dan menatap datar padanya.
"Aku pergi, urusan kita telah selesai. Aku harap setelah ini kau bisa berubah, tak lagi menganggu kehidupan orang lain. " ucapnya dingin. Miranda menatap tak percaya kearah pria di depannya saat ini, menghela nafas panjang dan segera bangkit.
"Tuan, aku mohon bawa aku bersamamu!
"Ternyata kamu menyalah artikan perhatianku padamu Miranda. Dengar ini baik baik, aku hanya menganggapmu sebagai teman tak lebih, jadi jangan terlalu berharap padaku. " Jovano melenggang pergi, Miranda menatap kepergiannya dengan sendu dan kecewa.
"Aku memang jahat dan kejam, bukankah aku berhak mendapatkan kesempatan kedua. " gumamnya lirih. Wanita itu menyesal, kehidupannya telah hancur sekarang, apa yang akan dia lakukan. Miranda segera pergi ke rumah sakit, ingin mengetahui keadaan papinya.
"Maafin Mira Pi, karena keegoisan Mira, papi menjadi seperti ini sekarang. " Miranda menangis terisak melihat keadaan papinya saat ini.
Wanita itu masuk ke dalam, dia tersenyum melihat papinya yang telah sadar. "Maafin Mira Pi,ini semua karena Mira. " sesalnya diiringi air mata.
"Papi juga minta maaf Mira, Papi belum bisa membuatmu dan Mami bahagia. Setelah ini berubahlah, carilah kehidupan yang lebih baik. " setelah mengatakan hal itu Tuan Ryan menghembuskan nafas terakhirnya, Miranda menangis sambil mengguncang tubuh sang papi.
"Papi, jangan tinggalin Mira sendiri. " teriaknya putus asa. Tubuhnya luruh ke lantai di dekat tubuh sang papi. Gadis itu kini sendirian sekarang, suster menutup jenazah papinya.
Siangnya setelah pemakaman selesai, Miranda masih belum beranjak dari makam papinya. Gadis itu terus meminta maaf pada mendiang ayahnya itu, akan sikapnya selama ini. Jovano datang mengucapkan duka pada Miranda setelah itu pergi, Miranda tersenyum getir.
Miranda menghapus air matanya kasar, mungkin ini karma yang harus dia terima atas ulahnya selama ini. Bangkit, melangkah gontai meninggalkan area pemakaman. Gadis itu memesan taksi, selama perjalanan Mira tak henti hentinya menangisi kepergian papinya.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan sekarang. " selain perusahaan papinya bangkrut dan di ambil alih Jovano. Dia juga telah di putuskan kontraknya dari perusahaan yang menaunginya sebagai model. Tiba di kediamannya, Miranda segera turun dan masuk ke dalam.
Miranda segera mengemasi pakaiannya, lalu menghubungi orang yang akan membeli mansion. Diapun memutuskan pindah, memulai hidupnya dari awal dengan identitasnya yang baru. Setelah menerima transferan dari penjualan rumah, Miranda langsung pergi dari sana.
Dia memilih membeli rumah jauh dari keramaian, meski rumah yang dia beli tak sebesar mansion Papinya namun cukup bagus dan terkesan mewah. Miranda segera membereskan pakaiannya ke dalam lemari, setelah itu berendam dengan wewangian bunga mawar. "Mulai sekarang aku harus hemat, sebaiknya aku besok cari pekerjaan. " gumam Miranda.
Selesaikan berendam, wanita itu memakai pakaiannya. Menyambar ponselnya, menghubungi teman temannya namun tak ada yang bisa menolongnya. Miranda menghela nafas kasar, saat ini tak ada orang yang bisa membantunya.
Milka Aleena Namira, identitas baru milik Miranda saat ini. Dia bangkit, bergegas ke luar, segera mencari pekerjaan hari ini. Lagi lagi penolakan yang dia dapat, membuat Mira kecewa dan memutuskan pergi ke Cafe Love.
"Pesan capucino satu. " ujarnya pada pelayan. Setelah pelayan pergi, wanita itu menatap pemandangan dari balik kaca. Tak lama pelayan kembali, Mira segera menyesap capucinonya dengan tenang.
Mirapun bangkit, tanpa sengaja menabrak seseorang. Wanita itu menoleh mendengar seorang wanita mengumpati dirinya. "Maafkan saya nona, saya tidak sengaja. "
"Kau buta hah, kau mengotori pakaian mahalku ini. " pekik wanita itu kesal. Mira menghela nafas berat, tanpa dia sadari sepasang mata memperhatikannya. Dia menoleh, tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang menatapnya. Mira memalingkan wajahnya, segera pergi dari sana.
"Sudahlah Del, kau bisa membeli pakaian lainnya yang lebih mahal. " seru pria di sebelahnya dengan tenang. Wanita yang tengah marah itu berdecak pelan, mengandeng tangan suaminya ke luar dari Cafe. Pria itu meminta istrinya pulang lebih dulu, memberi alasan ada pekerjaan yang belum dia selesaikan.
Nelson Brees Emre, Presdir dari perusahaan Emre Corp. Ketampanannya banyak di puja oleh para wanita meski Nelson telah memiliki istri bernama Delia Pranata Emre. Pria tampan dengan mata birunya itu melajukan roda empatnya dengan kencang, menghubungi salah satu anak buahnya.
Pria itu kembali ke perusahaannya, asistennya memberitahu ada wanita yang melamar pekerjaan. Nelson menyuruh Arya menghubungi wanita itu untuk datang sekarang.
__ADS_1
"Masuk!
Miranda masuk ke dalam di temani asisten Arya, asisten Arya memilih ke luar. Nelson mendongak, terkejut siapa wanita yang berdiri di depannya saat ini. "Siapa nama kamu nona? "
"Milka Aleena Namira Tuan. " jawab Mira pelan dengan nada gugupnya.
"Kau butuh pekerjaan Al? "
"Iya Tuan. " jawaban Mira entah kenapa membuat seringai Nelson terbit. Pria itu bangkit, berjalan mendekati Mira yang masih berdiri.
"Jadilah pemuas nafsuku, aku akan menjamin kehidupan kamu Aleena. " suara serak terngiang di dekat telinga Mira. Mira tampak melotot, tak percaya akan tawaran dari Nelson padanya.
"Tidak. " pekiknya seraya mendorong tubuh Nelson yang begitu menghimpitnya. Nelson sedikit terdorong, pria itu tersenyum miring,baru pertama kali dirinya di tolak seperti sekarang. Mira berbalik, hendak membuka pintu ruangan Nelson, terkunci. Wanita itu mengumpat perlahan, terdengar suara tawa membuatnya menoleh.
"Maaf Tuan saya rasa, saya tidak butuh tawaran Anda. Saya akui saya bukan wanita baik baik, tapi saya tak ingin terjerat dalam kesalahan untuk kedua kalinya. " tegas Mira.
"Tolong buka pintunya Tuan. "
"Aku tidak mau. " Mira mengepalkan tangannya, Nelson kembali memeluknya dengan erat. Pria itu kembali menggodanya dengan sentuhan sentuhan nakalnya, Mira mencoba menahan desahannya. Wanita itu terus berontak, Nelson akhirnya menciumnya membuat Mira melotot dan marah.
Plak Mira langsung menamparnya setelah ciuman itu berakhir, gadis itu tampak memerah menahan amarahnya. Nelson menyentuh pipinya yang terasa perih, lalu terkekeh pelan menatap kearah Mira. "Kau memang brengsek tuan. " makinya dengan emosi menggebu gebu.
Setelah itu Mira berlalu ke luar, Nelson membuka pintunya. Nelson menatap kepergian Mira dengan senyum tercipta di bibirnya.
__ADS_1
tbc