Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
TCSPT PART 35


__ADS_3

Sore harinya di istana utama, Rafendra datang menemui dua bersaudara itu. Pria itu menampilkan wajah memelasnya di hadapan Dominic dan juga Reymond. Reymond memperhatikan temannya itu dengan senyuman di bibirnya. "Kenapa wajah jelekmu di lipat seperti itu Raf, kurang jatah dari Luna ya. " ledek Reymond.


"Kampret kau Rey, Luna marah padaku soal kedatangan Lia kemarin, udah aku jelasin namun dia tetap ngambek!


.


"Salahmu sendiri kenapa mesti jadi casanova. " celetuk Dominic dengan seringainya. Rafendra memutar bola matanya malas, sahabatnya yang satu ini sukanya memprovokasi bukannya prihatin. Kiara dan Cyrapun hanya bisa menggeleng, melihat kelakuan suami suami mereka.


"Mas Dom, antar aku ke kamar ya. " pinta Kiara dengan nada manja.


"Ya sudah, ayo sayang kita ke kamar. Lagian ada yang ingin aku katakan padamu. " Dominic bangkit, lalu membantu istrinya dan pergi dari sana.


"Brother, kakak ipar lagi hamil jangan disuruh melayani tenaga badakmu. " teriak Reymond dengan usil. Cyra mencubit pinggang sang suami, Rafendra tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.


Dominic dan Kiara duduk saling berhadapan, wanita hamil itu menatap lekat wajah suaminya. "Perusahaanku menjadikan Alessa sebagai modelnya sayang, aku harap kamu enggak salah paham jika aku dan dia kerap bertemu. " ungkap Dominic.


"Terimakasih karena kamu sudah jujur sama aku mas! Kiara menggenggam tangan sang suami, meletakkannya di atas perut. Dominic mengangguk, bibirnya membentuk lengkungan merasakan tendangan dari dalam perut istrinya itu.


"Boy kalian jangan nendang nendang terus, kasihan mommy kalian pasti kesakitan. " bisik Dominic dengan lembut. Kiara tertawa cekikikan mendengar ucapan suaminya barusan. Dominic membantu istrinya berbaring di atas kasur, pria itu dengan lembut memijat kaki sang istri. Setelah selesai memijit, Dominic kembali menatap istrinya lagi yang telah tertidur pulas.


Cup


"Istirahatlah sayang. " gumamnya sambil memperhatikan wanitanya.


Sementara di apartemennya Maura kini tengah berpesta melupakn segala dendam di hatinya. Dia gagal menghancurkan hubungan Rey dan Cyra, untuk itu dirinya akan mendekati Alessa, membujuknya supaya terprovokasi dengan ucapannya. Kini wanita ini memiliki sebuah amplop penting, yang pasti dia tidak akan menyerah begitu saja.


"Sayang, hai kenapa kamu tidak menjawab teleponku. " Rendy, kekasih Maura datang dan langsung duduk di sebelahnya. Maura dengan agresif, duduk di atas paha sang kekasih sambil melepaskan pakaiannya begitu pula dengan Rendy.


"Aaah. " Tanpa pemanasan, Rendy langsung melakukan penyatuan, dia bergerak dengan cepat membuat Maura berteriak mendesahkan namanya. Kedua tangannya dia kalungkan di leher Rendy, tangan pria itu tak tinggal diam menyentuh dan mereemas dua buah sintal Maura.

__ADS_1


"Umh ya sa..yang lebih cepat aakh. " Gerakan Rendy semakin cepat hingga Maura mendapat pelepasannya. Lagi dan lagi dia terus berpacu, hingga ronde ketiga Rendy mengakhiri kegiatan mereka. Namun keduanya masih menyatu, Maura sesekali memagut bibir sang kekasih.


"Honey, menikahlah denganku!


"Tidak Rendy, aku hanya menganggapmu partner ranjangku. Sebaiknya carilah wanita lain dari pada aku karena aku tidak akan pernah mau. "


"Ck please lupakan dendammu sayang. " pungkas Rendy.


"Jangan ikut campur Rendy. " Rendy mengeram kesal, pria itu langsung membopong tubuh wanitanya lalu membawanya ke kamar. Di dalam sana, Rendy menggempurnya habis habisan, sepertinya pria itu tak ada jalan lain selain membuat hamil Maura.


Tengah malam Rendy mengakhiri sesi percintaannya, dia mengagahi Maura dengan kasar dan juga ganas. Pria itu telah memakai boxernya, mengusap tubuh polos wanitanya kemudian menarik selimut untuk menutupinya. Dia memeluk tubuh Maura, ikut tertidur di sebelahnya.


###



"Morning baby!


"Kenapa kamu tidak mengenakan pengaman Rendy. " ujar Maura dengan kesal. Rendy menopang satu tangannya di kasur, pria itu tersenyum tanpa merasa bersalah pada sang kekasih.


"Aku sengaja sayang, aku pingin kamu hamil buah cinta kita. "


"Kau. " Maura semakin kesal dengan kekasihnya itu namun Rendy malah memagut bibirnya kembali lalu melepaskan ciumannya. Maura langsung menepis kasar tangan Rendy, lalu turun dari ranjang.


Skip


Selesai mandi keduanya turun ke bawah, Maura pergi ke dapur hendak membuat sarapan. Pria itu menelan salivanya kasar, melihat penampilan seksi wanitanya di pagi hari, kemeja putih tanpa menggunakan apapun di dalamnya.


Rendy berjalan pelan menghampirinya, Grep pria itu memeluk pinggang sang kekasih. Rendy mengecupi leher wanitanya, membuat Maura mengeliat geli. Tangan pria itu meremas dua gunung kembar Maura dari dalam kemejanya, Maura mendesah menikmati sentuhan kekasihnya. Pria itu langsung membalik tubuh Maura lalu mengungkungnya.

__ADS_1


"Dengarkan aku sayang, turuti keinginan aku atau kamu mau aku lapor ke polisi atas tindakanmu selama ini hemm!


Tubuh Maura langsung menegang, dia menatap lekat kearah Rendy. Wanita itu menghembuskan nafas berat, melirik sinis kearah kekasihnya. "Apa yang kau inginkan Rendy. " desis Maura.


"Lupakan dendammu, menikah denganku dan kupastikan hidupmu terjamin. Aku sangat mencintaimu Ra, aku melakukan ini demi kebaikanmu. " ucap Rendy dengan tulus.


Maura awalnya tak percaya, namun kedua manik cokelat Rendy tak berbohong. Hatinya tersentuh dengan apa yang diucapkan Rendy barusan. Benda kenyal itu kembali bertemu, saling beradu dengan panas dan liar. Setelah ciuman berakhir, Rendy mengangkat tubuh wanitanya ke atas meja, pria itu membuka kemeja Maura dan mulai menyusu dengan rakus layaknya bayi.


"Engh umh! Maura mendesah, tangannya meremas rambut sang kekasih hati, lalu menekan kepala Rendy di dadanya. Rendy tersenyum di kala kulumannya, sepertinya dia sangat senang dengan reaksi dari Maura.


Rendypun menghentikan kegiatannya, memperhatikan wajah sayu Maura membuat senyum di bibirnya terbit.


Drt


drt


Rendy mengambil ponselnya, dia mendesah pelan melihat siapa yang menghubungi dirinya. Maura tersenyum sinis, dia sudah tahu siapa yang menghubungi Rendy barusan. "Kenapa tidak di angkat, bukankah biasanya kamu sangat bersemangat!


Maura turun dari atas meja, mengancingkan kembali kemejanya. Dia melipat tangannya di dada, menatap tajam kearah Rendy dengan senyuman sinisnya. "Dengarkan aku tuan Rendy, kita tidak bisa bersama orang tuamu tidak setuju, hubungan kita hanya sebatas timbal balik. Aku balas budi dengan menggunakan tubuhku dan semuanya sudah lunas bukan!


"So pintu ke luar ada di sana, jangan menganggu waktuku yang berharga. " sengit Maura dengan tatapan sinisnya. Rendy menyimpan ponselnya, dia tak bisa berkata kata dengan pernyataan Maura barusan.


"Biar ku tebak kau sudah bosan denganku bukan, apa jangan jangan kamu berniat mencari sugar daddy yang bisa memberimu uang dan kegiatan ranjang yang panas. " ejek Rendy.


"Whatever, terserah kamu menganggapku apa, Aku tak peduli Rendy! Rendy merasa kesal, darahnya mendidih mendengar ucapan Maura, ada rasa cemburu dan tak rela jika Maura pergi dari sisinya. Pria itu langsung pergi dari sana meninggalkan Maura sendiri. Maurapun memperhatikan kepergian Rendy dengan tatapan nanarnya. "Inilah hidupku, hanya kehampaan dan kekosongan, sendirian tanpa memiliki keluarga. " batinnya.


bersambung


"

__ADS_1


__ADS_2