
Malam harinya Gara datang membawa Ella bersama menghadiri pesta yang di adakan orang tuanya. Nickolas dan Hanum datang menyusul, Hanum yang ceria langsung menyapa Ella dan ditanggapi gadis itu.
"Jadi kau calon istri kak Nick, Hanum? " tanya Ella dengan senyuman manisnya.
"Iya dan itupun terpaksa. " jawabnya dengan jujur. Ella menepiskan senyumnya, melihat tingkah Hanum membuatnya tertawa. Kedua gadis itu tampak mempesona, anggun dan seksi, Ella mengenakan gaun putih sedangkan Hanum berwarna merah.
Hanum melirik sinis kearah Nick yang tengah bersama Gara, gadis itu semakin benci padanya. Sebenarnya Hanum sangat membenci pesta, karena dia harus mengenakan gaun dan bermake up. Ella mengulas senyumnya, mengajak Hanum pergi mengambil minuman.
Nagara datang menghampiri mereka, pria itu tanpa malu mencium bibir sang kekasih. "Sayang ayo kita temui mommy dan daddy, kita bicarakan pernikahan kita. "
Ella mengangguk, Gara membawanya pergi. Hanum menatap kepergian mereka lalu menghela nafas panjang. Diapun memilih pergi ke balkon, melihat bintang di atas langit.
"Aku yakin mami dan papi tak mencari keberadaanku!
Hanum jadi merindukan mendiang kakek dan neneknya,hanya merekalah yang sangat sayang padanya. Gadis itu mengambil ponselnya, terlihat sang kakak menghubungi dirinya namun dia tolak.
"Hei kenapa kau melamun di situ. " suara Nick membuat Hanum tersentak dari lamunannya. Gadis itu menoleh, raut wajahnya kembali masam melihat sosok Nick di hadapannya Seringai terbit di bibir Nick, sepertinya dia memiliki rencana menjahili Hanum.
"Setelah menikah nanti, aku tidak ingin tidur di sofa. " ujar Nick dengan wajah serius.
"What, maksud kamu kita tidur seranjang karena aku juga tak sudi tidur di sofa? " pekik Hanum terkejut.
"Hm! "
"Aku juga berhak meminta hakku sebagai suami pada kamu. " ujarnya dengan senyuman mesumnya. Hanum menelan salivanya kasar, membayangkan hal itu membuatnya bergidik ngeri. Tidak, pernikahan itu tak boleh terjadi, dia harus melakukan sesuatu tapi apa?
Nick menahan tawanya melihat raut panik di wajah Hanum. Hanum menghela nafas berat, kembali menatap kearah Nick dengan wajah datarnya. "Aku pastikan pernikahan. itu tak terjadi,aku tidak mau punya suami casanova sepertimu. " desisnya.
"Hei nona, mempunyai suami sepertiku tidak lah rugi, aku bisa memuaskanmu di atas ranjang. " ucapnya vulgar.
"Hentikan om. " sela Hanum dengan ketus namun tak di pedulikan Nick. Pria itu terus menggodanya dengan ucapan vulgarnya.
Bug
"Aw ssh. " ringis Nick sambil menyentuh perutnya yang di tinju Hanum. Hanum langsung tersenyum puas, berhasil membalaskan kekesalannya pada Nick.
__ADS_1
"Rasakan itu om mesum. " Hanum berjalan melewatinya, Nick mengumpat pelan dan mengejar gadis itu. Sementara itu Ella mengobrol bersama kedua orang tuanya yang turut hadir di pesta malam ini. Mereka membahas pernikahan Ella dan Gara.
"Mom, Dad besok aku dan Ella akan menikah secara sederhana, soal pesta aku serahkan pada mommy dan daddy. " ujar Gara sambil tersenyum.
"Baiklah nak, kami akan segera menyiapkan pesta yang megah untuk kalian. " jawab mommy sambil tersenyum ceria. Ellapun bersandar di bahu calon suaminya, memperhatikan keluarganya yang begitu antusias membahas rencana pernikahannya dengan Gara nanti.
"Aku harap mereka selalu bahagia seperti ini, akankah aku bisa bertahan sampai hari itu tiba. " Ellapun berharap dirinya bisa sembuh, bisa berkumpul bersama keluarganya.
"Kenapa sayang, kamu lelah hemm? " tnya Gara. Ella mengangguk, Gara pamit pada orang tuanya, membawa Ella menuju ke kamar. Mami dan Papi menatap kepergian puterinya dengan raut sendu.
Gara mencium keningnya, Ella tersenyum tipis dalam dekapan calon suaminya itu. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap lekat pria yang dia cintai itu. "Mas Gara gak ingin bercinta denganku lagi malam ini? " tanyanya sambil tersenyum.
"Kau menggodaku baby, aku tidak ingin kamu kelelahan sayang!
"Bukankah mas Gara ingin secepatnya punya Gara junior? " godanya. Gara mengusap wajahnya, membalik tubuhnya hingga pria itu mendukung Ella yang berada di bawahnya.
"Bersiap siaplah sayang malam ini kau tidak akan ku biarkan tidur. " ucapnya. Dan malam itu mereka melebur menjadi satu, Ella begitu menikmati sentuhan lembut Gara pada tubuhnya. Keduanya saling memberi dan menerima, melampiaskan hasrat membara di diri mereka berdua.
Di sela sela penyatuan itu, Ella mengusap peluh Gara dan menatapnya lekat. "Aku harap aku segera hamil, sebelum pergi aku memberikan baby junior pada Gara. " batinnya.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu sayang, seolah olah kau akan pergi meninggalkanku. " sahut Gara. Ella hanya menggeleng, segera menciumnya hal itu membuat gairah Gara terbakar. Pria itu semakin menghujamnya kian dalam, Ella terus mendesahkan namanya.
Setelah pelepasan kesekian kalinya, Gara menarik selimut menutupi tubuh mereka. Pria itu menyeka keringat di dahi wanitanya itu, lalu terlelap.
Sinar matahari menerangi kamar mereka melalui celah celah tirai. Gara tampak membuka matanya lebih dulu, melihat ke sisi sampingnya, wanita mungilnya masih terlelap di dalam dekapannya.
Cup
"Selamat pagi sayang!
Ella membuka matanya, tersenyum manis pada sang kekasih. "Pagi juga mas. " jawabnya pelan. Dia justru mengeratkan pelukannya, membelai dada bidang Gara dengan sensual.
"Sayang jangan menggodaku. " geram Gara merasakan jari jari lentik Ella menyentuh tubuhnya hingga ke bawah. Gara justru menyibak selimutnya, memilih memainkan dua bulatan penuh milik Ella. Ella terkekeh, mencium singkat dada Gara, kemudian mendekapnya. Gara membelai punggung polos wanitanya, sejak mengenal Ella hidupnya lebih berwarna sekarang.
__ADS_1
"Mas mandi yuk lalu turun ke bawah. " ajak Ella. Gara menggendongnya menuju ke kamar mandi, terdengar suara ******* dari dalam sana. Satu jam berlalu mereka baru turun, menemui orang tua mereka di meja makan.
"Gara, setelah kalian menikah nanti mami dan papi akan membawa Ella untuk berobat ke negara Y. " ujar mami pada calon menantunya.
"Bagaimana bisa kalian memutuskan ini tanpa berbicara padaku Mami. " ujar Gara dengan nada tinggi.
"Nak, Ellapun sudah setuju dengan hal ini. " sahut mommy. Gara menoleh, menatap tajam kearah Ella yang menunduk. Pria itu menghela nafas kasar, kembali menatap kedua orang tuanya.
"Berapa lama kalian akan berada di negara Y? " tanya Gara.
"Jika pengobatan berhasil, Paling cepat delapan bulan dan jika sebaliknya perlu waktu paling lama dua tahun Gara. " sahut Daddy yang sejak tadi diam. Gara mengeraskan rahangnya, emosinya hampir meledak namun dia tahan saat ini.
"Mami, Papi aku ingin bicara dengan mas Gara dulu. " Ella bangkit, menarik Gara hingga ke luar. Keduanya kini berada di Gazebo, Ella tahu jika Gara tengah menahan emosinya saat ini.
"Mas maaf. " ucap Ella.
"Kita bicarakan nanti, sebaiknya kita harus pergi sekarang. " Gara mengalihkan pembicaraan, pergi lebih dulu dan di susul Ella. Keduanya menikah secara sederhana, guna meresmikan hubungan mereka lebih dulu.
Setelah selesai dengan urusan mereka, mereka pergi ke danau dan berbicara dari hati ke hati di sana. Ella meraih tangan suaminya, gadis itu mengambil nafas panjang sebelum berbicara. "Izinkan aku pergi ya mas, aku hanya ingin segera sembuh dan berbahagia dengan kamu. "
"Kenapa kau mengambil keputusan ini tanpa memberitahuku, apa aku tak penting dalam hidupmu Ella? "
"Bukan maksudku seperti itu mas. " sanggah Ella dengan raut bersalahnya.
"Aku tidak bisa jauh dari kamu sayang, sebagai suami kamu aku tidak izinkan kamu pergi. "
"Mas please jangan egois, ini demi kita mas. Aku tidak mau membuatmu kerepotan dengan penyakitku ini dan lagian ada mami dan papi yang akan menemani dan menjaga aku mas. " bujuk Ella.
Ella melepas genggamannya, memeluk suaminya dengan erat. Gara mencium pucuk kepalanya berulang ulang, memeluknya erat seakan tak ingin mereka berpisah dan berjauhan. "Aku mencintaimu sayang, aku tidak mau berjauhan dari kamu!
"Aku juga cinta kamu mas!
Hati Gara menjadi dilema, di satu sisi dia berat melepas sang istri pergi berobat di sisi lain dis tak boleh egois. Ella mengusap punggung kekar suaminya dengan lembut.
"Seandainya kita tak bertemu dan mengenal, mungkin semua ini tak akan terjadi mas
__ADS_1
Gara. " batin Ella.
tbc