
"Pagi semuanya. " Zafira tersenyum ceria seolah tak terjadi apapun hari ini, gadis itu memekik senang melihat kehadiran mami nya di kediaman Johnstone. Semua orang hanya diam,fokusnya kini tertuju pada Zafira yang tampak ceria.
"Kenapa kalian semua melihatku seperti itu tante, om? " tanya Zafira yang merasa canggung.
"Enggak papa Fira, ayo duduk dan mulai sarapan bersama. " jawab Mommy Ella dengan senyuman hangatnya. Mami Amira sendiri justru menahan tangisnya,wanita itu memperhatikan putrinya dengan lekat.
"Sayang, bagaimana kalau hari ini di rumah saja nak? " pinta Mami Amira pada putrinya.
"Tapi Mi, hari ini aku ada jadwal kuliah. Aku enggak mau menunda kuliahku lagi mi seperti tahun lalu hanya karena penyakit dalam diriku. " gumam Zafira sambil memohon pada sang ibu. Mami Amira memberikan izin pada sang anak, Zafira tentu saja sangat senang.
Evan sendiri bingung harus berkata apa pada kekasihnya, jujur perasaannya masih campur aduk mengenai keadaan Zafira sebenarnya. Selesai sarapan Evan dan Zafira berpamitan pada keluarga mereka. Pria itu lebih dulu mengantar kekasihnya pulang setelah itu pergi ke kampus Zafira.
Tiba di depan kampus, Evan menggenggam tangan gadisnya. Zafira langsung memeluknya dengan erat. Pria itu menciumi pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
"Kalau ada apa apa, jangan lupa hubungi aku baby!
"Pasti. " Zafira menciumnya, Evan membalas dan ******* bibir gadisnya. Gadis itu langsung turun setelah ciuman mereka berakhir. Dia melambaikan tangan, lalu bergegas memasuki area kampusnya.
Di dalam kelas Zafira mengobrol sebentar dengan Meisya. Dosen datang bersama mahasiswa baru, seorang laki laki memperkenalkan dirinya pada teman temannya.
Nandika Putra Sadewa, cowok tampan dengan kulit putihnya, sikapnya yang cool menjadi idol kampus. Laki laki itu duduk di belakang Zafira. Melihat respon zafira yang tak tertarik padanya membuat Nandika penasaran.
''Aku penasaran dengan gadis di depanku saat ini. '' batin Nandika.
Seusai jam mata kuliah pertama, Nandika berusaha mendekati Zafira dan Meisya. "Bolehkah aku berkenalan dengan kalian? " tanya Nandika basa basi.
__ADS_1
"Aku Meisya dan ini Zafira. " balas Meisya sambil tersenyum manis pada Nandika. Nandika menyapa keduanya, ketiganya langsung pergi ke kantin. Di sana Meisya memesan makanan untuk mereka bertiga, Nandika sendiri justru menatap Zafira yang sejak tadi tak terlalu banyak bicara.
"Sejak tadi aku perhatikan kamu hanya diam dan melamun, apa kau ada masalah Fira? " tanya Nandika penasaran. Zafira menanggapinya dengan senyuman, dia memberi alasan yang masuk akal hingga membuat Nandika hanya mengangguk.
Mereka makan siang bersama, Nandika diam diam mencuri pandang kearah Zafira. Meisya yang melihatnya mengerutkan kening namun tak berkata apapun. Selesai makan Nandika segera membayar makanan mereka, dia pamit lebih dulu pada Zafira. Setelah kepergian Nandika, Meisya langsung menyengol lengan sahabatnya.
"Kamu ngerasa gak sih Fir? "
"Maksud kamu apa Mei? " Zafira tak mengerti apa yang di maksud sahabatnya.
"Nandika sepertinya tertarik sama kamu deh, terlihat bagaimana dia perhatian sama kamu dari tadi!
"Mana mungkin sih, lagi a kita baru saling mengenal. " sahut Zafira yang seakan tak percaya akan apa yang di katakan Meisya, setelah itu mereka kembali ke kelas.
Tepat pukul dua Meisya mengantarkan Zafira ke rumahnya, setelah itu dia langsung menuju ke apartemen miliknya. Dia melihat mobil mewah yang dia kenal berada di depan apartemen miliknya, Meisya segera turun. Seorang pria tinggi dan gagah tengah menunggunya di luar, senyumnya langsung terbit melihat siapa yang telah menunggunya.
Keduanya masuk ke dalam apartemen, Mesya begitu manja pada sang kekasih. Gadis itu mengendus di dada bidang sang kekasih hati, Garvin sendiri membiarkannya. Meisya mengangkat wajahnya, Garvin langsung memagut bibir manis gadis pujaannya. Garvin melepaskan tautan bibir mereka, tersenyum tipis menatap penuh cinta Meisya. "Kakak enggak selingkuh 'kan di negara orang? "
"Tentu saja tidak baby, aku akan menyesal seumur hidup jika berani selingkuh dari kamu. Kamu begitu cantik, manis, seksi dan pasti banyak pria yang tertarik padamu membuat sainganku begitu banyak. " gerutu Garvin kesal. Meisya tertawa kecil melihat sang kekasih yang tengah cemburu.
"Kapanpun kakak mau mengajakku menikah aku siap kok. " ucap Meisya yang membuat senyum Garvin kian lebar.
"Kamu enggak mau menundanya lagi baby, aku gak papa jika menunggu satu atau dua tahun lagi? "
"Aku enggak mau egois kak, lagian kak Garvin sudah dewasa dan waktunya untuk menikah dan aku sudah siap jadi istri kak Garvin. " ujar Meisya panjang lebar. Garvin begitu bahagia mendengarnya, pria itu kembali memagut bibir gadisnya dengan lembut dan penuh cinta. Garvin langsung menariknya ke atas pangkuan.
__ADS_1
Pria itu membuka blouse yang di pakai kekasihnya, lalu mencari pengait kaca mata Meisya. Garvin langsung memainkan dua bulatan favoritnya yang cukup besar itu, Meisya melenguh sambil meremas rambut sang kekasih. Setelah puas Garvin menjauhkan wajahnya, pria itu tetap membiarkannya terbuka. Tatapan mereka bertemu, tatapan saling mendamba satu sama lain.
Garvin menggendong gadisnya menuju ke kamar, mereka di sana hanya berbaring. Pria itu kembali memainkan benda favoritnya itu dengan rakus. Meisya melenguh menikmati sentuhan Garvin, dia mengusap kepala sang kekasih dengan penuh kelembutan. Pria itu menyusupkan wajahnya di dada sang kekasih, Meisya merasakan geli namun hanya diam. "Sabar ya kak, kak Garvin akan mendapatkan aku seutuhnya saat kita menikah nanti. " gumam Meisya dengan lembut.
Garvin segera menyingkir, Meisya segera bangkit dan melesat ke kamar mandi. Tak lama gadis itu mengenakan dress pendek yang tak terlalu seksi. Meisya segera naik ke atas ranjang, berbaring di dekat tubuh prianya. "Maaf ya sayang, harusnya aku belum menyentuh tubuh bagian atasmu. " gumam Garvin.
"Enggak papa kak, lagipula aku menikmati sentuhan kamu sayang, asal gak melebihi batas. " balasnya tersenyum manis.
"Ngomong ngomong gimana kabar tante Irene sekarang? " tanya Meisya mengalihkan pembicaraan.
"Mama sering menanyakan kamu Yank, dia tanya kapan kamu siap menikah dengan
aku. " ujar Garvin. Meisya tersenyum manis mendengar cerita sang kekasih mengenai calon mertuanya.
"Aku juga kangen tante Irene, aku pingin masakan buatan mama kamu kak apalagi kue buatan tante Irene sangat enak. " ujar Meisya sambil tersenyum. Garvin mengangguk, pria itu kembali menciumnya singkat dan merapatkan tubuh mereka.
Keduanya saling melepaskan rindu yang menggebu, Meisya begitu menikmati waktu berduanya dengan sang kekasih. Pria itu sedikit melonggarkan pelukannya, meraih ponselnya dan menghubungi sang mama tercinta.
Meisya ingin berbicara dengan calon mertuanya, Garvin membiarkannya. Pria itu hanya diam dan turut mendengarkan percakapan dua wanita berharganya. Setelah selesai Meisya mengembalikan ponsel milik Garvin pada sang pemiliknya. "Kapan kapan kita akan menemui Mama, kamu bisa mengobrol dengan mama sepuasnya
sayang. " ungkap Garvin.
"Oh ya, aku jadi tak sabar!
"Aku lupa, Mama 'kan satu minggu lagi akan pulang ke negara ini dan kita akan jemput mama bareng bareng gimana? ".
__ADS_1
"Oke aku setuju kak!