
Hari berikutnya Dominic mengepalkan tangannya, melihat dan mendengar rekaman cctv yang ada di ruang tamu. Paman Eden benar benar keterlaluan, berani beraninya pria tua itu mengintimidasi istrinya. Diapun segera ke luar dari ruangan kerjanya, berjalan cepat meninggalkan mansion. Dengan terburu buru pria itu menyambar ponselnya, mencari kontak Revan sang asisten.
"Revan siapkan jet sekarang juga, aku harus pergi ke negara di mana bibi Rose berada. " ujar Dominic.
"Iya Tuan. "
Dominic menyimpan ponselnya, tancap gas meninggalkan pelataran mansion miliknya. Empat pukuh lima menit akhirnya sampai di bandara, pria itu segera turun dan menghampiri Revan yang bersama bodyguard. Dominic menyerahkan kunci mobilnya pada sang bodyguard. "Bagaimana persiapan sudah siap Revan? "
"Sudah Tuan, mari berangkat!
Dominic berjalan lebih dulu, Revanpun mengekorinya dari belakang. Keduanya masuk ke dalam pesawat, tak lama kemudian pesawat itu lepas landas.
Skip
Di negara Perancis, Dominic mendatangi kediaman bibinya berada. Kedatangannya di sambut meriah oleh para sepupunya, ya paman Eden dan Bibi Rose memiliki dua orang anak Gerry dan Gabby. Geraldpun langsung menyambutnya dengan pelukan, pria itu menatap lekat sepupunya. "Ada apa Dom, kenapa kamu datang ke mari begitu tiba tiba? " tanya Gerald.
"Katakan pada ayahmu, jangan pernah mengusik keluarga kecilku. "ujar Dominic dengan raut datarnya.
"Oh aku dengar kamu sudah menikah, aku penasaran wanita seperti apa yang kamu cintai itu Dom. " seru Gabby dengan seringainya.
"Kaupun tidak perlu tahu Gab, kita hanya sepupu bukan saudara kandung, kuperingatkan sekali lagi jangan pernah mengusik istri dan anakku jika masih maka aku akan menghancurkan kalian. "
Gabby mendengus kesal mendengar penuturan Dominic, dia semakin penasaran istri dari sepupunya ini. Bibi Rose menghela nafas panjang, menatap lembut pada keponakannya itu. "Maafkan pamanmu ya nak, pamanmu itu begitu ambisius dan Bibi sangat menyayangkan akan sikapnya padamu!
"Bibi Rose aku pamit pulang, istriku pasti tengah mengkhawatirkan aku!
"Memangnya kamu enggak menginap saja nak!
"Lain kali saja Bibi, aku akan mengajak istri dan dua jagoanku ke mari. "
"Ya sudah kamu hati hati. " Dominic mengangguk, bangkit dan pergi begitu saja di susul Revan.
Setelah kepergian Dominic, Gabby langsung duduk di sebelah kakaknya sambil melirik kearah ibunya. "Lihat Mami, keponakan tersayangmu itu berani beraninya mengancam kita. Cih dasar tidak tahu diri. " sindirnya sinis.
"Gabby, diam jangan banyak bicara. " sela Gerry dengan tatapan datarnya.
__ADS_1
"Kakak, kenapa kamu masih belain Dominic sih, padahal pria itu mencari kesalahan papi. " decak Gabby.
"Aku bilang diam, kau tidak usah ikut campur. " bentak Gerry pada sang adik. Gabby mengatupkan bibirnya rapat, mendengar bentakan dari sang kakak. Gerry semakin kesal pada adiknya, dia segera bangkit dan berlalu dari sana. Mami Rose hanya menggeleng, melihat pertengkaran putera dan putrinya.
##
Sore menjelang malam, Kiara terus menerus menatap kearah jam dinding. Raut wajahnya terlihat cemas sosok suaminya tak kunjung pulang. "Apa aku telepon mas Dom saja ya, aku takut dia kenapa kenapa? "Kiara mengambil ponselnya, lalu mencari kontak sang suami.
"Tidak aktif. " gumam Kiara dengan raut cemasnya.
Oek oek
Kiarapun menaruh kembali ponselnya, dia langsung menggendong baby Leon yang merengek hendak menangis.
"Cup cup sayang, putera mommy yang tampan, jangan nangis nak!
"Ririn tolong jagain baby Louis ya. "
"Iya Nyonya! Kiara membawa baby Leon ke luar dari kamar, dia memutuskan untuk menunggu kepulangan suaminya di ruang tamu. Tak lama Bunda dan Ayah datang berkunjung, Kiara memyambut kedatangan mereka dengan hangat.
"Nak baby Louis ada di mana? "
"Kiara sayang, ada apa nak kok kayaknya cemas banget!
"Bunda, mas Dom pergi tiba tiba tanpa pamit, sampai sekarang dia belum kembali bunda. " ungkap Kiara dengan raut paniknya. Bundapun mengerti dengan apa yang di rasakan menantunya.
"Biasanya mas Dom pamit sama aku tapi ini dia pergi mendadak!
"Mungkin Dominic ada urusan sebentar sayang, kamu harus tetap positif thinking nak. " Kiara menghembuskan nafas berat, apa yang di katakan oleh bunda ada benarnya.
Sementara itu Dominic masih berada di Paris, saat ini pria itu berada di hotel untuk menginap. Dominic menghembuskan nafas berat, banyak panggilan masuk dari istrinya hal itu membuatnya merasa bersalah.
"Halo sayang, maafin mas ya!
"Mas ke mana saja sih bikin aku khawatir tahu enggak!
__ADS_1
"Aku lagi di Paris sayang, besok aku pulang. Maaf ya bikin kamu khawatir sayang karena baru hubungi kamu!
"Ya sudah kamu hati hati. "
Tut sambungan terputus, Dominic menaruh ponselnya di meja. Pria itu memutuskan berbaring di atas ranjang, menatap langit langit kamar hotelnya, tempat dia menginap.
**
Esok harinya Kiara bersama Ririn menjemur baby twins di balkon. Kiara tersenyum kecil, melihat kedua puteranya yang semakin menggemaskan setiap harinya. "Nyonya, baby Louis dan baby Leon montok ya, pipinya minta di unyel unyel. " seru Ririn.
"Iya kamu benar Rin, jadi enggak sabar lihat baby twins L dewasa. " kekehnya.
"Sayang. "
Kiara menoleh, terkejut melihat sosok suaminya telah pulang. Diapun langsung bangkit dan bergegas berhambur ke pelukan Dominic. Dominic merengkuh erat sang istri, mendaratkan kecupan di kening dan bibir Kiara. Dominic melepas pelukannya, keduanya bergabung bersama si kembar, Ririn memutuskan pergi dari sana.
"Wah wah pipi twins makin gembul ya, cup
cup. " Dominic menciumi kedua pipi twins L. Kiara mengulum senyumnya, hatinya menghangat melihat tiga orang terkasihnya. Pria itu beralih menatap istrinya dengan penuh cinta, Kiara bersandar di dada sang suami.
"Mas urusan kamu sudah selesai? "
"Sudah sayang, mas pastikan tidak akan ada lagi orang yang menganggu keluarga kecil
kita. " Kiara hanya mengangguk, dia kembali fokus pada baby twins.
Keduanya bangkit, lalu mendorong kereta baby twins lalu kembali ke dalam. Kiara mengajak kedua bayinya turun ke bawah, membiarkan suaminya membersihkan diri.
"Pagi Oma, Pagi Opa. " ucap Kiara menirukan suara anak kecil.
"Cucu oma sudah wangi rupanya. " Bundapun langsung menciumi kedua cucu tersayangnya itu. Tak lama Dominic datang dan bergabung dengan mereka, mereka sarapan bersama pagi ini. Sementara Dominic dan Ayah berbincang, membahas bisnis sejenak sambil sarapan. Para wanita tengah sibuk dengan baby twins yang gembul.
Kiara menghela nafas dalam, dia teringat orang tuanya yang sudah tiada. Tak di pungkiri dalam hati kecilnya dia merindukan mereka, merindukan keluarganya berkumpul. "Ayah, Ibu lihatlah cucu cucu tampan kalian, seandainya kalian masih ada Kiara pasti sangat senang melihat kalian bermain dengan si kembar!
Dominic memperhatikan istrinya, dia langsung meraih tangan sang istri hingga Kiara menoleh kearahnya. "Ada apa sayang, kenapa kamu hanya diam? "
__ADS_1
"Enggak kok mas, aku teringat ayah dan ibu. " pungkasnya sambil tersenyum.
tbc