Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Extra Part 1


__ADS_3

Kehidupan Ella begitu bahagia bersama keluarga kecilnya, terakhir kali dia melahirkan seorang anak perempuan lucu yang cantik persis seperti dirinya.


Putrinya bernama Inara Calista Johnstone tumbuh menjadi gadis manis berusia 12 tahun, sementara si kembar telah berusia 17 tahun. Hubungannya dengan sang suami semakin harmonis, Gara justru semakin manja padanya. Wanita berusia kepala tiga itu tampak semakin cantik, dewasa dan keibuan.


cup


"Mom, sedang melamun 'kan apa hm? " tanya Daddy Nagara pada sang istri tercinta.


"Hanya teringat masa lalu Dad, waktu berasa begitu cepat ya, padahal baru kemarin aku melahirkan Inara. " ucapnya sambil tersenyum. Daddy Gara mengulas senyum hangatnya duduk di samping wanita kesayangannya tersebut. Pria itu merangkul hangat istri tercinta, sikapnya tetap romantis sama seperti saat pertama mereka menikah dulu.


"Mommy, Daddy. " keduanya menoleh, Mommy Ella mengerutkan kening melihat putranya bersama seorang anak perempuan.


"Evan sayang ada apa nak? "


"Dia Zianka, aku tadi menemukan dia di jalan tengah menangis mom. " Evan mengatakan kejadiannya pada kedua orang tuanya. Meski sikapnya dingin dan datar sama seperti sang daddy, namun dia masih memiliki rasa peduli pada orang lain.


"Sudah jangan takut, aku ada di sini. " Evan memeluk erat tubuh Zianka, kedua orang tuanya ikut iba dengan apa yang di alami Zianka. Mommy Ella menyuruh keduanya duduk, wanita itu mantap lekat gadis manis di dekat putranya.


"Sayang nama kamu siapa nak? "


"Saya Zianka Luna tante, panggil Zia saja. " jawab Zia sambil menghapus air matanya. Gadis itu masih ketakutan setelah hampir tertangkap pria berbadan besar di jalan, untungnya Evan menolongnya. Mommy Ella bangkit, Evan menyingkir dan membiarkan ibunya berbicara dengan Zia. Wanita itu memberikan pelukan hangatnya, mencoba menenangkan Zia yang masih ketakutan.


Setelah tenang Zia mengucapkan terimakasih pada keluarga Evan, Evan mengacak rambut Zia membuat gadis mungil itu menatap kesal padanya. Gadis itu cukup senang bisa mengenal keluarga Evan yang begitu hangat.

__ADS_1


"Sepertinya saya harus pulang tante, takutnya mama aku mencari Zia!


"Biar tante yang hubungi nomor mama kamu sayang, kamu ingat nomor mama kamu? " tanya Mommy Ella dengan lembut. Zia segera memberi tahu nomor sang ibu tercinta,gadis remaja itu menatap lekat wanita paruh baya itu.


"Sebentar lagi mama kamu datang sayang, kamu di sini saja ya. " ucap mommy Ella dengan senyum hangatnya, Zia mengangguk singkat.


Tak lama seorang wanita paruh baya datang, Zia bangkit dan langsung memeluk sang mama. Nyonya Vera mengeratkan pelukannya, mencium pucuk Putri kesayangannya itu. Wanita itu memeriksa keadaan Zia, khawatir akan keselamatan putrinya. "Ma, Zia baik baik saja. untungnya Evam menolong aku dan membawa ke rumahnya. " ucap Zia dengan lembut.


"Nyonya silakan duduk dulu. " pinta Nyonya Ella pada tamunya. Ibu dan anak itu kembali duduk, Nyonya Vera mengucapkan terimakasih pada keluarga Evan. Nyonya Ella menanggapinya dengan senyuman, Zia beralih pada Evan yang tengah bermain game.


"Aku terlalu sibuk sampai mengabaikan putriku sendiri. " Nyonya Vera merengkuh bahu putrinya dan mengumamkan kata maaf. Zia menggeleng kearah sang mama, dia tak mempermasalahkan hal itu.


"Maaf nyonya, lalu di mana suami Anda? " tanya Nyonya Ella dengan hangat.


Ethan dan Inara pulang di antar sopir, keduanya ikut bergabung bersama dengan keluarganya. Nyonya Ella memperkenalkan putra putrinya pada Nyonya Vera. Beberapa saya berlalu setelah berbincang dengan keluarga Johnstone, nyonya Vera dan putrinya berpamitan untuk pulang.


Evan menghentikan permainannya, menoleh dan menatap kearah Zia yang berpamitan padanya. Laki laki itu mengangguk dan menatap kepergian Zia dan ibunya dalam diam.


Mereka berdua masuk ke dalam taksi, Zia menggenggam tangan sang mama tercinta. "Mama, apa Papa memang tak pernah menginginkan aku? tanya Zia tiba tiba.


Nyonya Vera menghela nafas dalam, menghembuskan secara perlahan. Wanita itu menyentuh tangan putrinya, menatapnya dengan lekat. "Maafin mama sayang, mama mungkin belum bisa menjadi istri yang baik untuk papa kamu hingga papa meninggalkan kita. " sesal mama dengan sorot sendunya.


Mereka berpelukan, Zia menangis dalam diam dan merutuki kebodohannya. Gadis itu tak membenci sang papa sesuai kedinginan sang mama. "Sebaiknya lupakan papa ma, Zia hidup sama mama berdua sudah cukup kok Ma!

__ADS_1


"Zia tak mau mama menangisi papa, pria yang jelas jelas telah meninggalkan kita. " pungkas Zia. Nyonya Vera mengeratkan pelukannya, wanita itu sekuat tenaga menahan tangisannya.


Nyonya Zia POV


Zia maafin mama sayang, seharusnya kamu memiliki figur seorang papa namun papa kamu memilih pergi dari kehidupan kita. Mama sayang banget sama kamu nak, mama harap kamu kelak menemukan bahagia kamu dan tak memiliki nasib sama seperti mama. Perceraian mama dan papa ternyata mempengaruhi kehidupan kamu sayang, maafin kami nak!


Tak lama mereka turun dari taksi, Nyonya Vera mengajak putrinya masuk ke dalam apartemen. Zia langsung pergi ke kamarnya, gadis itu melesat ke kamar mandi untuk bersih bersih. Selesai dengan aktivitasnya, gadis itu merebahkan dirinya di atas ranjang. Entah apa yang tengah dia pikirkan saat ini, seakan ada beban yang tengah dia pikirkan.


"Papa, kenapa papa ninggalin Zia dan mama. Kenapa papa tak temuin Zia, apa Zia tak berarti apa apa untuk papa. " gumam Zia entah pada siapa.


Mata Zia berkaca kaca merindukan sosok sang papa, gadis itu menangis terisak. Dia ingin memiliki keluarga yang lengkap seperti gadis lainnya. Selama ini dia memendamnya sendiri, dia takut sang mama bersedih jika selalu membahas mengenai papa. Dirinya ingin sekali bertemu sang papa, meluapkan keluh kesahnya yang selama ini di pendam nya sendiri.


"Maafin Zia ma, karena Zia membuat papa pergi dari kehidupan kita! Zia selama ini terus menyalahkan dirinya sendiri tanpa mamanya ketahui. Diapun mengusap wajahnya kasar, teringat dengan Evan membuat seutas senyuman terbit di bibirnya.


"Meskipun sikapnya dingin, Evan juga memiliki sisi baik dan hangatnya. " cuma Zia pelan. Dia beruntung memiliki teman seperti Evan, dia berharap kelak bisa bertemu dengannya lagi. Zia menghembuskan nafas berat, menarik gulingnya kemudian memeluknya dengan erat.


"Sayang, bolehkah mama masuk nak? "


"Masuklah Ma, pintu tak di kunci. " jawabnya pelan. Mama membuka pintunya lalu masuk ke dalam, wanita itu langsung duduk di dekat sang anak. Ziapun bangun, berpangku di pangkuan sang mama. Mama Vera mengusap lembut kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sekali lagi maafin mama ya sayang, perceraian mama dan papa membuat kamu tak bisa memiliki keluarga utuh. " gumam Mama dengan lirih.


"Ini bukan salah mama, please jangan salahin diri mama lagi. " mohon Zia.

__ADS_1


__ADS_2