Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Musim Ketiga Part 14 -


__ADS_3

Sesuai janji mereka, esok harinya Ella dan Hanum bersama suami masing masing pergi ke salah satu Villa milik Gara. Mereka akan menginap di sana selama beberapa hari sekaligus liburan kecil. "Sayang, pikniknya besok saja ya kamu pasti lelah hari ini. " bujuk Gara pada sang istri.


"Aku maunya hari ini Hubby, aku ingin melihat air terjun dan besok baru piknik. " rengeknya manja. Gara menghela nafas berat, akhirnya mengangguk mengikuti keinginan istrinya. Hanum segera menyiapkan makannya di bantu Bibi Elma. Setelah selesai, mereka bersiap pergi menggunakan mobil.


Mereka berempat kini menikmati pemandangan di dekat air terjun, Ella dan Hanum hanya memperhatikan suami suami mereka yang asyik berenang. Suasana cukup sejuk dan tenang, Ella tersenyum lebar dan sangat betah di sini.


Ella mengusap perutnya yang menonjol dengan lembut, Hanum mengulas senyumnya, dia tak sabar untuk mengandung buah cintanya dengan Nick. "Hanum, apapun yang terjadi ke depannya nanti kamu dan Nick bantu mas Gara ya jaga calon baby dalam perutku nanti saat lahir.


"Kamu ngomong apa sih Ella, jangan aneh aneh deh. " tegur Hanum tak suka. Ellapun menanggapinya dengan senyuman, tak menjelaskan apa maksudnya. Wanita itu menghela nafas berat, mau sampai kapan dia bertahan, menunggu donor jantung.


"Ya Tuhan, kuatkan aku agar aku bisa melahirkan bayi dalam perutku dengan selamat. " batin Ella penuh harap. Dia begitu mencintai calon anaknya, Ella berharap anaknya lahir selamat meski dirinya harus berkorban.


Selesai berenang Gara dan Nick menghampiri istri mereka, Ella menyerahkan handuk pada sang suami. Keduanya segera berganti pakaian, lalu bangkit dan pergi dari sana.


Mereka piknik sambil menikmati pemandangan, Gara menyuapi sang istri dengan salad buah. Ella mengulas senyumnya, menerima suapan dari sang suami. Hanum dan Nick juga tak kalah mesra, keduanya saling menggoda satu sama lain.


"Sayang tadi kamu dan Hanum ngomongin apa, sepertinya serius sekali? " tanya Gara pada sang istri. Ella menghela nafas panjang, lalu menggeleng pelan.


"Gak papa mas, cuma obrolan wanita biasa. " elaknya. Jika Gara tahu, Ella yakin suaminya pasti akan marah besar padanya. Gara mengangguk, selesai menyuapi istrinya pria iru berbaring, dengan kepalanya bertumpu di paha sang istri. Ella mengusap wajah suaminya, Gara sibuk menciumi perut wanitanya.


"Tolong, tolong. " suara jeritan seorang wanita membuat mereka saling melirik satu sama lain.


"Mas Gara, ada yang minta tolong tuh kita samperin yuk. " ajaknya pada sang suami. Gara mengangguk,bangun lalu bangkit dan membantu istrinya. Mereka berempat segera membereskan peralatan makan mereka lalu memasukkan ke dalam mobil setelah itu menghampiri orang yang minta tolong.

__ADS_1


Seorang wanita sambil menggendong bayi berlari dari kejaran seorang pria. Ella meminta Gara dan Nick untuk menolong wanita itu.


"Hei lepaskan dia. " tegas Gara dengan wajah dinginnya. Pria itu melepaskan cengkeramannya lalu berniat menghajar Gara dan Nick, ketiganya terlibat perkelahian. Selesai memberi pelajaran pada pria itu, Gara dan Nick segera menghampiri wanita yang menangis di susul Ella dan Hanum.


"Kau tidak apa apa Nona? " tanya Ella dengan ramah.


Wanita itu mengangkat wajahnya, Ella sangat terkejut begitu juga yang lainnya. Ella menatap wanita di depannya dengan rasa tak percaya. "Kau, kenapa kamu memiliki wajah yang mirip sama aku!


"Siapa nama kamu? "


"Emilia Stefani. " jawab Emillia singkat sambil memperhatikan Ella dengan lekat. Tubuh Ella bergerak mundur dan hampir terhuyung, Gara menahannya dengan cepat. Gara juga masih tak percaya, bagaimana bisa ada wanita yang mirip dengan Ella, istrinya.


Suara tangisan bayi memecah ketegangan saat ini, Emilia segera menenangkan bayinya itu. "Kalau begitu ikutlah dengan kami, aku dan suamiku ingin berbicara denganmu. " ujar Ella.


"Apa yang terjadi, bagaimana bisa kamu di kejar pria tadi Emi? " tanya Ella dengan ramah. Emilia mengatakan kejadiannya, dia begitu ketakutan soal kejadian tadi, dia sangat takut kehilangan bayinya.


Mendengar kisah Emilia, Ella ikut bergetar mendengarnya. Gara segera menenangkan sang istri, Emilia yang melihat kemesraan keduanya memilih memalingkan wajah. "Kenalkan aku Daniella Nagara Johnstone, ini suamiku Nagara dan mereka adik iparku Hanum dan Nick. " jelas Ella.


"Apa mami dan papi merahasiakan sesuatu, jika sebenarnya aku memiliki kembaran. " batin Ella penasaran.


"Terimakasih nona, tuan, kalian telah menolong saya dan bayi saya ini. " ucap Emillia sambil tersenyum.


"Bayi kamu perempuan atau laki laki Emi? " tanya Hanum yang sedari tadi hanya diam mengamatinya.

__ADS_1


"Perempuan, Khanza Aulia Stefani. " jawabnya sambil tersenyum tipis. Ella menoleh kearah suaminya, memberi kode sekaligus meminta izin dan Gara mengizinkan.


"Baiklah sementara kamu boleh tinggal di Villa ini Emi dan kamu juga akan ikut kami ke kota. " ujar Ella dengan senyuman manisnya. Emilia mengucapkan terimakasih pada mereka semua.


"Num, antar Emilia ke kamarnya supaya dia bisa istirahat. " pinta Ella pada Hanum. Hanum mengangguk, mengajak Emilia menuju ke kamar yang letaknya di lantai bawah.


"Mas, kita cari tahu siapa Emilia sebenarnya. Aku penasaran kenapa wajah kami begitu mirip. " ujar Ella yang begitu penasaran. Gara menyuruh salah satu bodyguardnya untuk mencari informasi tentang Emilia Stefani, Ya Gara membawa bodyguard saat mereka pergi ke villa.


#


Sepeninggal Hanum, Emilia segera membersihkan diri dan memakai pakaian yang di berikan Hanum padanya. Dia memperhatikan baby Khanza yang terlelap di ranjang, lalu menghela nafas panjang. "Siapa nona Ella sebenarnya, bagaimana bisa kami memiliki wajah yang mirip namun nasib kami berbeda sangat jauh. " gumamnya.


Emilia duduk di atas ranjang, mengusap pelan pipi bayinya itu, ada rasa getir dalam hatinya teringat ayah dari bayinya yang tak mempedulikan dirinya dan baby Khanza. "Maafkan Ibu sayang, ibu terpaksa menjauhkan kamu dari ayah kamu. Ayah kamu yang lebih menginginkan bayi laki laki, namun Ibu tetap mencintai kamu sayang. " gumam Emilia sambil menghapus cairan bening di sudut matanya.


Rasa sesak dalam dadanya semakin menghimpitnya, Emilia teringat dengan sang nenek yang dia tinggalkan di rumahnya. Dia kabur dari kejaran anak buah suaminya, setidaknya dia bisa bernafas lega karena di tolong Ella dan suaminya itu.


Emilia POV


Kenapa kamu begitu jahat pada aku dan puteri kita mas,kenapa kamu egois sekali. Aku ingin keluarga kecil kita hidup bahagia bersama, namun semua itu hanya angan angan di mataku. Kau boleh saja membenciku mas, namun aku tak akan membiarkanmu mengambil baby Khanza dariku. Cintaku lebih besar pada puteri kita dari pada sama kamu.


Emilia memilih berbaring di sebelah puteri kecilnya, memejamkan kedua matanya dan mengistirahatkan tubuhnya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2