Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Twin ESJ Part 23 Tentang Raka & Meisya


__ADS_3

Berbeda dengan nyonya Vera yang tengah menyesali perbuatannya, nyonya Amira kini baru selesai menemani putrinya yang sedang hamil pergi belanja. Dan kini mereka telah kembali, Evan menyambut kepulangan istri dan mertuanya, pria itu begitu mengkhawatirkan keadaan istri tercintanya.


"Sayang, udah jangan ke mana mana lagi. Aku takutnya kamu kelelahan nantinya. " tegur Evan dengan halus.


"Aku juga perlu gerak sayang. " jawab Zafira dengan manyun. Evan memeluknya tak terlalu erat, dia menyentuh perut rata wanitanya. Mami menggeleng, melihat tingkah posesif menantunya.


"Ya sudah aku ke kamar dulu, kamu temani mami ngobrol gih. " ucap Zafira yang di angguki Evan. Setelah kepergian istrinya, pria itu kini berbicara dengan sang mertua.


"Terimakasih ya nak kamu begitu menyayangi Zafira dengan tulus, mami baru melihat dia bahagia seperti ini semenjak menikah dengan kamu dan hamil. " ungkap Mami Amira dengan terenyuh. Evan sendiri juga berusaha membahagiakan Zafira, dia tak akan membiarkan ada orang ketiga masuk dan berniat menghancurkan rumah tangganya.


Mami Amira menyampaikan keputusannya pada sang menantu, Evan tentu keberatan akan keputusan Mami yang ingin menepi di sebuah Desa. Pria itu tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Zafira jika mengetahui hal ini.


"Jika Fira tahu dia pasti akan sedih Mi, dia begitu sayang sama mami begitupun aku. " ucap Evan dengan halus.


"Ini sudah keputusan mami nak, aku yakin Fira pasti akan memahami keputusan mami ini. " balasnya sambil tersenyum. Evan mengangguk pasrah, dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sang mertua. Mami Amira tersenyum tipis, dia bisa bernafas lega. Putrinya telah menemukan pria yang tepat untuk menjadi pasangannya hingga tua nanti.


Di dalam kamar, Zafira telah selesai mengganti pakaiannya. Wanita hamil itu mengobrol dengan Meisya melalui video call, dia mengundang sahabatnya itu untuk makan malam nanti di rumahnya.


"Oh ya Mei, pernikahan kamu dan Garvin kapan akan di laksana 'kan? " tanya Zafira penasaran.


"Mungkin satu bulan lagi Fir, ini aku dan Garvin tengah menyiapkan semuanya di bantu orang tua kami. " ujar Meisya sambil tersenyum.


"Ada bisa yang aku bantu gitu misal dekor atau apapun itu Mei? "

__ADS_1


Meisya menggeleng, dia melarang keras sahabatnya itu untuk melakukan pekerjaan berat. Dia tak ingin Zafira kelelahan, mengingat dia tengah hamil muda saat ini. Zafira sendiri mengangguk pasrah mendengar omelan sahabatnya, saat ini dia tal lagi sendirian. Ada janin dalam perutnya yang perlu perhatian ekstra dan hati hati.


Zafira POV


Apa yang di katakan Meisya ada benarnya, aku harus menurunkan egoku demi kesehatan janin dalam perutku. Sudah cukup selama ini aku membuat semua orang mengkhawatirkan diriku. Maafin mommy nak, mommy janji akan menjaga kamu dengan sebaik mungkin,tumbuh sehat dalam perut mommy sayang.


Dia menutup sambungannya, Zafira menaruh kembali ponselnya di atas laci mejanya. Dia memilih bersandar, lalu meraih sebuah buku kemudian di bacanya dengan santai.


Di sisi lain Meisya hanya diam melihat kehadiran seseorang yang dia benci dari masa lalunya. Ya saat ini gadis itu pamit ke luar untuk membeli kebutuhan wanita namun ternyata dia tanpa sengaja bertemu dengan Raka.


"Hai Meisya, bagaimana kabarmu? " sapa pria itu dengan senyum cerianya.


"Saya harus pergi, permisi! Meisya berusaha menghindar namun nampaknya Raka menahannya. Meisya menepis sentuhan pria itu dan buru buru masuk ke dalam mobilnya, melesat kencang meninggalkan area itu.Raka tersenyum penuh arti menatap kepergian mantan kekasih yang masih dia sukai itu.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi di saat aku mau memulai hidup yang baru. " gumam Meisya resah.


"Bunda, bunda. " teriak Meisya memanggil sang ibu tercinta. Bunda Asya datang menghampiri putrinya, paruh baya itu terlihat kebingungan melihat putrinya yang datang memeluknya tiba tiba. Bunda langsung mengajak putrinya untuk duduk lebih dulu sebelum bicara.


Meisya kini berusaha menenangkan dirinya, tampak jelas jika gadis itu tampak panik, ketakutan dan gelisah.


"Mei sayang, ada apa nak kenapa wajah kamu pucat seperti ini? " tanya Bunda Sya dengan raut paniknya.


"Aku tadi bertemu dia bunda. " ujar Meisya lirih. Bunda tak mengerti siapa yang di maksud oleh putrinya, Meisya langsung menyebutkan nama Raka dan membuat Bunda terkejut. Diapun langsung memeluk erat putrinya, dia paham dengan ketakutan yang di miliki Meisya saat ini.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi padanya di masa lalu, hanya bunda dan Meisya yang mengetahui hal ini tentang Raka. Setiap mendengar nama itu, tubuh Meisya langsung bergetar ketakutan.


"Sayang tunggu di sini, bunda mau ambilkan kamu minuman. " Bunda Asya langsung bangkit dan bergegas pergi ke dapur, tak lama dia kembali dan menyerahkan minumnya pada sang anak. Meisya segera meminumnya dengan pelan, Bunda Asya menaruhnya kembali ke atas meja.


Meisya menghela nafas berat, dia berusaha tenang dan menyembunyikan ketakutannya. Tak lama Garvin datang, membawakan buah untuk calon istri dan calon mertuanya itu.


"Siang sayang, siang Bunda. " sapa Garvin sambil tersenyum.


"Siang juga nak Garvin!


Setelah menaruh buahnya, pria itu menoleh dan mendapati kekasihnya habis menangis hal itu membuatnya panik. Garvin terus mencercanya beberapa pertanyaan pada Meisya, gadis itu hanya mengelak dan mengatakan dirinya baik baik saja. Dia langsung mendekapnya erat, Meisya menenggelamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya. Bunda Asya pergi meninggalkan keduanya, memilih bergabung bersama Ayah di belakang.


"Kalau ada masalah cerita sama aku baby, aku tidak ingin kamu memendamnya sendirian. " gumam Garvin lirih. Meisya hanya diam tak mengatakan apapun, dia hanya diam menikmati pelukan kekasihnya ini. Berkali kali pria itu menciumi pucuk kepala Meisya dengan penuh kelembutan.


Meisya menjauhkan wajahnya, dia tersenyum manis pada kekasihnya. "Moodku lagi memburuk baby, mungkin dua hari lagi masa periodeku datang. " elak Meisya dengan penuh keyakinan.


Garvin bernafas lega mendengarnya, pria itu menggenggam erat tangan sang kekasih hati. Tatapan mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain. Meisya langsung mencium bibir sang kekasih untuk meyakinkannya, Garvim tersenyum geli melihat tingkahnya.


"Mulai berani ya hm, kamu goda aku


sayang? " ledek Garvin pada kekasihnya. Meisya tersenyum malu, dia memukuli dada kekasihnya agar berhenti menggodanya. Garvin tertawa renyah, dia kembali memeluknya dari samping. Meisya memilih membahas pertemuan awal mereka supaya pembicaraan mereka teralihkan, dia tak ingin kekasihnya tahu dalam masalahnya.


"Maafin aku kak, maaf aku belum bisa mengatakan masa lalu aku pada kamu sayang. Terimakasih telah hadir dalam hidupku, setidaknya kamu dan orang tuaku adalah sumber kekuatan aku mencoba menghadapi kenangan pahit itu. " batin Meisya penuh harap.

__ADS_1


Bunda Asya kembali bersama ayah, bunda membawakan camilan untuk Garvin dan Meisya. Mereka kini terlibat obrolan santai di selingi candaan yang tertuju untuk Meisya.


__ADS_2