Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
TCBS BAB 5 | S2 PERNIKAHAN FORMALITAS


__ADS_3

Harmonia memutuskan datang ke makam mantan kekasihnya, dia letakkan sebuket bunga di atas makam itu. Gadis itu sudah merelakan kepergian kekasihnya, hanya saja dirinya ingin mengenang masa masa bersama Dika saat mereka pacaran. "Tenanglah di atas sana Dika, aku janji akan hidup lebih baik!


"Dika, ingat enggak dulu saat kita masih sekolah, waktu camping kamu gendong aku karena kaki aku terkilir. Saat itulah aku jatuh cinta pertama kali pada kamu honey, sekarang kita bisa sama sama lagi. " gumam Nia dengan pelan.


"Aku janji Dika, aku akan mencari orang yang telah membunuh kamu. " Niapun bangkit, berjalan ke luar dari makam. Dari jauh seseorang mengamatinya, lalu sibuk dengan ponselnya.


"Tuan, Nona pergi dari makam mantan kekasihnya. "


"Terus awasi dan ikuti gadis itu!


"Siap tuan. " pria itu segera melajukan mobilnya, mengikuti taksi yang di tumpangi Nia.


Nia kini memilih pergi ke toko bunga milik sahabatnya, Resty. Kedua gadis itu saling berpelukan sekilas kemudian duduk si teras sambil mengobrol.


"Yang sabar ya Nia, aku paham perasaanmu. Pasti berat kehilangan seseorang yang kita cinta dengan begitu mendadak. " Resty menatap iba kearah sahabatnya, Niapun mengangguk kecil. Gadis itu menghela nafas panjang, tersenyum tipis kearah sahabatnya.


"Iya Res, tapi aku sudah merelakan kepergian Dika, aku tidak ingin dia merasa sedih di atas sana!


"Rupanya kamu di sini!


Nia dan Resty langsung tertegun terutama Nia, melihat kehadiran Louis di hadapannya. Resty yang bingung, menyenggol sahabatnya dengan tatapan menuntut. "Kamu menguntitku tuan Louis? "


"Well, apa di mata kamu, aku seorang penguntit nona? "


Nia semakin kesal dengan pria di depannya ini, gadis itu langsung pamit pada Resty setelah itu berjalan lebih dulu, Louis mengekorinya dari belakang. Sopir melajukan mobilnya, selama perjalanan Nia memilih menyibukkan diri, daripada mengobrol dengan Louis. Kini keduanya berada di sebuah pusat perbelanjaan teebesar yang di miliki Louis, Niapun merasa heran mengapa Louis mengajaknya ke mall pikirnya.

__ADS_1


"Ayo turun! Niapun turun dari mobil, berjalan memasuki Mall dan para pelayan telah berjajar, menyambut kedatangan Louis. Mereka berjalan menuju ke tempat pakaian wanita berada.



"Eh apa apaan ini. " Nia terkejut saat para pelayan membantunya memakai gaun pengantin. Setelah selesai pelayan membawa Nia ke luar dari ruangan, Louis cukup puas dengan penampilan mempelai wanitanya. Pria itu menggandeng tangan Nia dan kembali msuk ke mobil. Mereka dalam perjalanan menuju ke Gereja, sesuai rencana Louis mereka akan menikah di sana.


"Apa apaan ini Louis, kenapa aku memakai gaun pengantin? "


"Apakah otakmu bermasalah, begitu saja tidak tahu. Kita akan menikah hari ini, suka ataupun tidak suka semuanya harus terjadi. " pungkas Louis dengan tegas. Niapun mencebik kesal, ingin sekali mencekik leher Louis, sangat kesal dengan sikap pria itu yang lagi lagi seenaknya.


Kini keduanya berdiri di hadapan sang Pastur, Pastur membacakan doa doa dan memulai acaranya.


"Saya bersedia!


"Saudari Harmonia, apa Anda bersedia menerima saudara Louis sebagai suami Anda?


"Mulai sekarang kalian resmi menjadi suami istri. " Louis mengambil cincinnya, menyematkan cincin itu ke jari manis Nia begitu juga sebaliknya. Setelah selesai Louis mencium kening gadis yang baru menjadi istrinya tersebut.


"Kita pulang sekarang. " Louis melenggang pergi di susul Nia yang menghentakkan kakinya kesal. Di dalam mobil Louis sesekali mencuri pandang kearah Nia yang kini memalingkan wajahnya.



Setibanya di mansion, Nia hendak pergi ke kamarnya namun Louis merangkul pinggangnya. Gadis itu berusaha menjauhkan dirinya, menatap kesal pada suaminya itu. "Dengarkan aku my wife, jaga sikapmu dan aku harap kamu tidak melakukan sesuatu yang membuatku marah!


"Lepaskan aku tuan Louis, pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas. Seharusnya Anda tahu jika sebenarnya saya tidak pernah menginginkan ini. " tegas Nia dengan gamblangnya.

__ADS_1


"Oh ya Kamu bukan siapa siapa di sini, Akulah yang berhak menentukan pernikahan ini formalitas apa tidak! Nada bicara Louis terkesan arogan dan sombong, Nia memilih diam karena malas berdebat dengannya. Gadis itu segera menghempaskan tangan suaminya dan segera pergi dari hadapan Louis. Bibir Louis sedikit terangkat, melihat sikap Nia padanya begitu menarik.


Louis segera menyusul sang istri menuju ke kamar mereka, pria itu berjalan menghampiri Nia yang tengah kesulitan melepas gaunnya. Dia menarik resleting gaunnya, tangan kekarnya mendekap tubuh Nia dari belakang. Tubuh Harmonia menegang, gadis itu berbalik dan tatapan mereka bertemu. "Apa yang Anda lakukan tuan Louis? "


"Panggil aku Louis atau panggilan mesra lainnya, asalkan jangan panggil Tuan lagi. " desak Louis. Lagi dan lagi Niapun hanya bisa menghembuskan nafas berat, dia hanya mengangguk pasrah. Setelah itu melepas pelukannya pada istrinya, Nia segera mengambil dressnya dan pergi ke kamar mandi.


Skip


Louis mengirim pesan pada kakek Rusell, pria itu menjalankan rencananya dengan cara mengancam kakek tua itu. Dia langsung bangkit, menghampiri Nia yang sepertinya melamun di Balkon. Dari balik pintu dengan intens dia perhatikan istrinya itu, terlihat Nia yang tengah menyentuh kalung yang dia genggam.


"Dika. " gumam Nia dengan lirih. Rasanya begitu menyiksa, dia harus menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Selain itu Nia juga harus kehilangan pria yang sangat dicintanya, untuk selamanya. Louis yang memdemgarnya, langsung melipat tangannya di dada, memasang wajah datarnya tanpa ekspresi.


Cih


Kenapa dirinya begitu tidak terima Jika Nia masih memikirkan mantan kekasihnya yang telah tiada. Louis merasa seakan ini bukan dirinya yang biasanya, ketenangannya terganggu saat Nia hadir dalam hidupnya. Entah kenapa dia tidak suka istrinya menangisi pria lain di hadapannya.


Niapun memakai kembali kalungnya, berbalik dan terkejut melihat Louis. Louis berjalan mendekat, Niapun memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terhimpit di pembatas balkon. Louis mengungkung tubuh Nia, menatap lekat gadis di depannya.


"Sebenarnya apa tujuanmu Louis, aku yakin kau memiliki tujuan tertentu dalam menikahiku. " ujar Dewi dengan rasa bersalahnya. Louispun hanya diam, dia masih terus memperhatikan Nia hingga gadis itu sedikit salah tingkah. Niapun merasa jengkel sendiri, pertanyaannya tidak di balas oleh suaminya.


"Tanpa aku jawab, kamu pasti akan tahu suatu saat nanti. Yang jelas mulai sekarang lakujan apa yang menjadi kewajiban seorang istri pada suaminya. "


"Tidak ada kontak fisik Louis, kau boleh saja membawa jaalang ke sini asal jangan menganggu privasiku! Sikap Nia yang begitu cuek membuat Louis sedikit geram padanya.


Louis menjauhkan dirinya, memberi jarak pada tubuh mereka. Nia bernafas lega, terbebas dari kungkungan sang suami, apalagi tatapan Louis yang begitu mengintimidasinya. Tanpa mengatakan apapun Louis langsung ke luar dari kamar, Niapun ikut ke luar karena bosan.

__ADS_1


Louis langsung pergi ke ruangan kerjanya, Niapun memilih bersantai di ruang tamu. Kepalanya terasa pusing, dia masih terkejut dengan kejutan dari Louis.


tbc


__ADS_2