
Emilia Stefani,wanita yang selama ini tinggal bersama dengan kakek dan neneknya. Karena hutang gadis itu terpaksa menikahi seorang pewaris dari keluarga Osmond. Suaminya Rafael Leonardo Osmond, seorang pria yang arogan, egois dan ambisius. Selama ini hidup Emilia selalu mendapat tekanan dari suami dan mertuanya, nyonya Sarah. Rafael dan ibunya menginginkan anak laki laki darinya, namun Emilia justru melahirkan anak perempuan. Hal itu membuat Rafael marah besar, Emilia yang sudah tidak tahan memilih kabur dari istana suaminya yang bak sangkar emas baginya itu.
oek oek
Emilia terbangun dari tidurnya, segera mengendong princess kecilnya yang menangis. "Kamu haus ya sayang, maafin Ibu nak. "
Setelah baby Khanza puas meminum asinya, Emilia mengajaknya berbicara di sertai candaan. Bayi itu tertawa riang, seakan mengerti dengan ucapan ibunya. Emilia menciuminya dengan banyak kecupan di wajah baby Khanza.
Emilia sendiri juga tidak tahu siapa orang tua kandungnya, selama ini dirinya selalu bertanya pada kakek dan neneknya namun mereka tak pernah menjawabnya. Dia merasa hidup sendirian bersama puteri kecilnya saat ini. Gadis itu bangkit setelah mendengar suara ketukan pintu, melihat sosok Hanum membuatnya heran.
"Sini baby Khanza biar aku saja yang gendong, kita turun ke bawah Em. Ada yang ingin bertemu dengan kamu!
Emilia terdiam, jantungnya berdebar mendengar ucapan Hanum. Keduanya ke luar dari kamar, menuruni anak tangga dan pergi ke ruang tamu. Ella menjelaskan kedatangan orang tuanya pada Emilia. Mami dan Papi nampak terkejut melihat sosok Emilia.
"Kamu? " Mami begitu terkejut melihat Emilia, dia seperti teringat dengan masa lalu.
"Mami, Papi ada apa? " tanya Ella memperhatikan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Ella sayang maafin mami nak, sebenarnya kamu memiliki kembaran. " Mami dan Papi menjelaskan masa lalu mereka pada Ella tanpa terlewatkan sedikitpun. Ella terkejut mendengarnya, Emilia melepaskan kalung yang dia pakai dan di tunjukkan pada semua orang. Mami dan Papi menangis, langsung memeluk Emilia dengan erat.
"Kami orang tuamu nak, Daniella saudara kandungmu sayang!
Emilia membeku, dirinya tak menyangka akan mengetahui jati dirinya setelah sekian lamanya. Mereka berpelukan,melepas rindu yang telah membelenggu selama ini. Ella datang, memeluk saudari kembarnya tersebut. Hanum dan lainnya terharu melihat bersatunya keluarga Ella.
"Mami, Papi ini cucu kalian, Khanza Aulia Stefani. " ujar Emilia sambil tersenyum. Mami dengan antusias menggendong cucu perempuannya, Ella terkekeh melihat kedua paruh baya yang saling berebutan.
"Gak nyangka ya mas, aku punya kembaran dan aku sangat bahagia memiliki saudari. " gumam Ella sambil mengusap perutnya. Gara mencium keningnya, ikut bahagia melihat sang istri bahagia.
"Lalu di mana suami kamu Emi? " tanya Papi pada puteri sulungnya.
__ADS_1
Senyum di bibir Emilia pudar, dia terdiam mendengar pertanyaan papinya. Ellapun menghela nafas berat, menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya tanpa peduli tatapan Emilia padanya. Mami dan Papi harus tahu dengan kehidupan Emilia selama ini.
"Kurang ajar. " geram Papi yang begitu marah dengan penjelasan Ella mengenai kehidupan Emilia. Emilia menghela nafas kasar, memilih diam melihat kemarahan papinya.
"Mulai sekarang Papi melarang kamu ke mana mana nak tanpa bodyguard, bodyguard akan mengawal keselamatan kamu dan cucu papi. " tegas Papi tak terbantah. Papi tak akan rela jika puterinya yang selama ini dia rindukan terus menerus di sakiti jiwa dan raga nya.
"Iya Papi. " jawab Emilia dengan pasrah. Meski begitu dia begitu senang dan bahagia merasakan kasih sayang orang tua yang selama ini dia rindukan. Emilia bangkit, memilih pergi ke luar sebentar, mencari udara segar.
Teringat Rafael suaminya, Emilia tersenyum getir. Dia yakin suaminya pasti menemukan penggantinya seperti keinginan ibu mertuanya. "Mungkin ini memang pilihan terbaik untuk kita Mas, kita berdua seperti langit dan bumi, selamanya aku tak akan pernah bisa bersanding dengan kamu. "
Tanpa Emilia tahu, Rafael seperti orang gila mencari keberadaannya. Pria itu selalu melampiaskan kemarahannya dengan minum alkohol saat anak buahnya gagal menemukan Emilia dan baby Khanza. Rafael mengambil figura foto di mana dirinya dan Emilia tertawa bahagia, saat dirinya menyentuh perut Emilia yang membuncit.
Rafael kembali membaca surat yang di tinggalkan istrinya sebelum pergi, dia menggenggam erat cincin pernikahan Emilia dengan erat. "Kau di mana sayang,kenapa pergi bersama baby Khanza. " gumamnya dengan raut penyesalan. Dia begitu menyesali perbuatannya, mengekang istrinya sedemikian rupa hingga membuat Emilia memilih pergi dari sisinya. Rafael masih ingat dengan ucapan Emilia padanya saat mereka bertengkar.
"Kau egois mas, aku harap kau sadar dengan kesalahanmu sebelum semuanya terlambat. Mungkin dengan kepergianku membuat hidupmu kembali seperti semula, sempurna tanpa ada beban sepertiku. Dan sekali lagi maafkan aku yang tak bisa mengabulkan keinginanmu. "
"Kau masih memikirkan wanita itu Rafa. " protes Nyonya Sarah kesal.
"Emilia istriku mommy. " gumam Rafael yang tenggelam dalam penyesalannya.
"Istrimu itu tak ada gunanya Rafa, dia tak melahirkan bayi laki laki sesuai keinginan
kita. " geram Nyonya Sarah.
"Lupakan dia, segeralah nikahi Renita. " tegas nyonya Sarah yang berlalu ke luar dari kamar Rafael. Rafael mendesah berat, pria itu hanya bisa mengumpat kesal. Hanya Emilia yang dia inginkan sekarang, tak ada wanita lain.
"Maafkan aku Emilia, maaf!
Drt
__ADS_1
drt
Rafael mengambil ponselnya, berbicara dengan seseorang. Setelah selesai dia bangkit, segera membersihkan diri. Tanpa berpamitan pada ibunya, pria itu melenggang pergi begitu saja. Mengendarai roda empatnya dengan kencang menuju ke tempat yang di katakan anak buahnya.
Setelah sampai Rafael turun dari mobil, melihat sosok istrinya tengah bersama Hanum dan Nickolas. Saat ini mereka berada di pusat perbelanjaan, dengan langkah seribu pria itu mendekati sang istri tercinta.
"Sayang. " panggil Rafael pada istrinya. Emilia menoleh, terkejut melihat sosok suaminya yang berada di dekatnya. Nick dan Hanum memperhatikan pria di depan mereka saat ini.
"Berhenti di situ mas Rafa!
Rafael menghentikan langkahnya, wajah Emilia tampak dingin dan datar. Tak ada senyum manis, kehangatan dari sikap sang istri untuknya. "Untuk apa kau ke sini Mas Rafa? " tanya Emilia dengan sinis.
"Aku merindukanmu sayang, maafkan atas semua sikap kasarku padamu. "
"Tidak semudah itu mas, kau boleh saja menghinaku tapi aku tak bisa diam saat kau tidak menerima baby Khanza yang jelas jelas darah dagingmu. " geram Emilia.
"Aku tahu kau hanya ingin anak lelaki bukan, jadi ceraikan aku dan pergilah dari sini. Anggap saja kau tak memiliki istri tak berguna sepertiku. " ucap Emilia sekuat tenaga berusaha menahan tangisnya.
Deg
Hati Rafael begitu sakit mendengarnya, kini dia bisa merasakan apa yang di rasakan Emilia saat dirinya bersikap kejam pada istrinya itu. Hanum segera memeluknya, memberi kekuatan pada Emilia yang rapuh.
"Tapi sayang. " Rafael hendak mendekatinya namun Nick segera mendorongnya menjauh.
"Kau tidak dengar apa yang di katakan Emilia padamu Tuan. " tegas Nickolas.
"Jangan ikut campur urusanku. " geram Rafael dengan amarah tertahan. Hanum segera membawa Emilia pergi dari sana di susul Nickolas. Rafael menatap nanar kepergian sang istri.
TBC
__ADS_1