
Dan tiba saatnya Evan dan istrinya pulang ke negara x, kini mereka dalam perjalanan menuju ke bandara. Jujur Sebenarnya dia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang istri, namun pekerjaannya yang telah lama dia tinggalkan mungkin saja menumpuk saat ini.
"Sayang, ada apa kenapa kamu terlihat resah saat ini? " tanya Evan pada istrinya. Zafira menghela nafas berat, bersandar di dada sang suami.
"Entah kenapa perasaanku tidak nyaman hubby, apa di sana telah terjadi sesuatu pada keluarga kita? " tanya Zafira dengan raut khawatirnya.
"Mungkin hanya perasaan kamu saja
sayang. " ucap Evan berusaha menenangkan istrinya. Zafira mengangguk, dia membenarkan ucapan sang suami mengenai keluarga mereka.
kini keduanya turun dari mobil, mereka bergegas masuk ke dalam pesawat. Evan menyuruh istrinya untuk beristirahat, mengingat perjalanan mereka cukup jauh nantinya. Zafira tentu saja menuruti perintah suaminya, dia beristirahat di sebuah ranjang yang tersedia di sana.
Setelah menempuh wakru berjam jam, akhirnya mereka tiba di bandara negara x, sopir telah menunggunya. Keduanya masuk ke dalam mobil, sopir melajukan mobilnya setelah menyimpan barang majikannya.
Evan dan Zafira sampai di kediaman mereka malam hari. Keduanya sama sama menuju ke kamar sambil menyeret koper. Tanpa membereskan pakaian mereka, keduanya langsung bersih bersih kemudian berbaring di atas ranjang.
Pagi hari tiba dengan begitu cepat, cahaya matahari mulai memancarkan sinarnya yang terang. Mommy Ella dan Daddy Nagara datang pagi buta buta ke rumah putranya.
"Evan dan Zafira mana Bi? " tanya Mommy Ella pada pelayan.
"Tuan dan Nyonya belum turun nyonya besar, mungkin sebentar lagi. " ujar sang pelayan yang langsung pamit ke dapur. Kedua paruh baya itu memilih menunggu di meja makan, tak lama pasangan suami istri yang mereka tunggu akhirnya turun juga. Zafira langsung menciumi sang mertua, memastikan keadaan mommy saat ini.
"Fira sayang, mommy sudah sembuh nak. " ucap mommy Ella dengan hangat.
"Huft sebenarnya apa yang terjadi hingga mommy jatuh sakit? " tanya Zafira penasaran. Mommy dan Daddy saling melempar lirikan satu sama lain, Evan menatap orang tuanya dalam diam. Dia merasa kedua orang tuanya telah menyembunyikan sesuatu dari dirinya dan Zafira.
"Mommy hanya kelelahan sayang!
Zafira mengangguk, wanita itu langsung melayani suaminya kemudian duduk sebelah suaminya. Mereka sarapan bersama dalam suasana tenang, diam diam mommy memperhatikan menantu tersayangnya setelah itu kembali makan.
__ADS_1
Selesai dengan aktivitas paginya, Zafira meminta izin pada sang suami. Evan sendiri justru menawarkan diri untuk mengantar istrinya ke rumah mami Amira. Namun Zafira menolaknya, gadis itu bangkit dan pergi ke kamarnya untuk mengambil tas. Setelah itu turun dan bergegas pergi dari sana di antar sopir.
"Semoga tak terjadi sesuatu dengan
mami. " gumam Zafira penuh harap. Tiba di sana dia meminta sopir untuk menunggu, wanita itu langsung masuk dan mencari keberadaan sang mami tercinta.
"Mami astaga. " matanya membulat sempurna melihat sang mami tergeletak di atas lantai. Diapun langsung berteriak memanggil pelayan, Zafira segera mengambil ponselnya lalu menghubungi sang suami. Setelah menyimpan ponselnya dalam tas, dia berusaha membangunkan ibunya tersebut.
"Mi bangun mi. " gumam Safira dengan panik.
"Bi, sebenarnya ada apa kenapa mami jatuh pingsan seperti ini? " tanya Zafira pada pelayan di dekatnya.
"Anu non, nyonya besar tadi bertengkar dengan nyonya Vera, keduanya terlibat pertengkaran hebat dan nyonya Vera mendorong nyonya Amira, padahal nyonya Amira dalam keadaan kurang fit. " jelas sang pelayan dengan panik. Zafira sangat terkejut mendengar penjelasan dari pelayannya, dia kembali berusaha membangunkan sang mami tercinta.
Evan datang dengan nafas memburu, pria itu terkejut dan langsung membantu istrinya mengangkat mami Amira menuju ke kamar. Setelah membaringkan mertuanya, dia langsung menghubungi dokter. Lalu menenangkan istrinya yang tampak panik dan khawatir akan keadaan mami.
Dokter datang, langsung memeriksa keadaan mami Amira, selesai memeriksa mereka ke luar dari kamar.
"Nyonya Amira tampak stress hingga tubuhnya langsung drop. " ujar Dokter yang menjelaskan panjang lebar mengenai keadaan nyonya Amira. Evan mengantar dokter ke luar setelah menyerahkan vitamin obatnya.
Zafira sedikit lega setelah mendengar penjelasan dokter tadi. Tapi teringat ucapan pelayannya membuat amarahnya seketika timbul. Diapun bergegas menuruni tangga, dia tampak berpapasan dengan suaminya.
"Sayang kamu mau ke mana? "
"Menemui wanita yang mendorong mami, memangnya apa lagi!
"Apa kamu mengenalnya sayang? " tanya Evan penasaran.
"Iya dia Nyonya Vera Arunika, wanita yang merebut mendiang papi dari mami Amira dulu. " ungkap Zafira yang membuat Evan terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu jangan menuduh sembarangan sayang, mungkin kamu salah paham. " ujar Evan dengan halus.
"Sembarangan apanya, memang benar Evan dan aku tidak mengada ada. " bentak Zafira dengan nada tinggi. Evan tersentak kaget,dia baru melihat kemarahan di manik istrinya saat ini. Wanita itu kelepaskan bicaea, dia mengatakan semuanya pada sang suami. Evan langsung mengatupkan bibirnya rapat, dia tak menyangka akan kejutan yang baru dia terima.
"Apa kamu mengenal dia? "
"Em dia adalah ibu dari gadis masa laluku. " gumam Evan pelan. Zafira sangat terkejut mendengar pengakuan suaminya, cairan bening merambat di kedua pipi halusnya. Jadi cinta pertama suaminya sendiri adalah anak dari pelakor itu.
"Sayang. " Evan hendak menyentuhnya namun Zafira lebih dulu menepisnya. Gadis itu menangis terisak, hatinya sesak mendapati kenyataan yang ada. Perempuan itu belum bisa menerima jika Evan ternyata cinta pertama Zia.
"Kenapa kamu harus berhubungan dengan anak dari pelakor itu Evan, kenapa. " teriak Zafira dengan histeris. Evan sendiri merasa hancur melihat istrinya tampak histeris, tatapannya berubah penuh kebencian padanya. Diapun langsung mengusir sang suami dari kediamannya, Evan terpaku melihat kerapuhan wanitanya.
Rasa bencinya semakin mencuat, bayangan masa lalu di mana mendiang papinya berbuat kasar pada sang mami teringat jelas dalam ingatannya. Mendiang papinya begitu tega pada mami dan dirinya, dan justru lebih memilih keluarga Zia.
"Kau tahu karena Zia dan ibunya, keluargaku hancur lebur. Papi memilih wanita itu dan anaknya daripada kami, kau tak akan mengerti perasaan aku dan mami Van. " ujar Zafira dengan nada rendah.
"Dulu aku berjanji, aku akan membenci siapapun yang berhubungan dengan Zia dan ibunya sang mantan pelakor itu. " geram Zafira dengan raut datarnya. Evan menggeleng, pria itu tak ingin di benci oleh istrinya sendiri. Dia kini juga menangis sama seperti istrinya, hati keduanya sama sama hancur saat ini.
Zafira sendiri kini tengah di hadapan dilema, haruskah dia memaafkan suaminya dan menerima masa lalu sang suami atau justru tetap membenci. Dia hanya mampu menahan semuanya dalam diamnya.
"Aku juga tidak tahu sayang, maaf ini juga bukan keinginan aku jika takdir kita seperti
ini. " gumam Evan dengan lirih. Zafira hanya diam membisu, namun dia terus menangis tanpa henti.
Di antara mereka kini ada tembok yang menghalangi keduanya untuk bersatu.Zafira berusaha mengontrol dirinya yang meledak ledak, dia tak ingin penyakitnya kembali kambuh. "Pulanglah, biarkan aku sendiri di sini bersama mami dan tolong jangan temui aku untuk sementara. " ucap Zafira tanpa menatap suaminya.
"No, aku tidak akan meninggalkan kamu sayang. " tolak Evan.
"Aku bilang pulanglah Van, tolong penuhi permintaanku!
__ADS_1
Evan mengusap wajahnya kasar, hatinya begitu perih melihat istrinya kini membenci dirinya. Diapun mendekati wanitanya, mencium keningnya singkat setelah itu pergi. Zafira menatap nanar kepergian suaminya, dia tak menyangka hubungannya dengan sang suami akan seperti ini.
"Aku harus apa sekarang? "