
Kiara hanya diam saat Dominic mengajaknya bicara, sepertinya wanita hamil itu masih belum menerima kehamilannya. Dominic menghela nafas kasar, melihat sikap wanitanya yang cenderung diam setelah di nyatakan hamil. Kini Dominic duduk di sebelah Kiara, ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengusap perut rata wanitanya. "Maaf Ki, sikapku yang mudah marah, membuat hidupmu hancur. "
Kiara menatap tak percaya, seorang Dominic mau meminta maaf padanya. Terlambat hidupnya telah hancur dan sekarang dirinya dinyatakan positif hamil. "Biarkan calon baby tumbuh di rahimmu Ki, dia tidak salah tapi akulah yang salah. "
Dominic bangkit lalu jongkok, dia menciumi perut rata wanitanya. Kiara merasa terenyuh, tangannya mengusap lembut kepala Dominic. "Tumbuh dengan baik diperut mommy ya sayang, daddy dan mommy mencintai kamu. "
Setelah berbicara dengan calon anaknya, Dominic kembali duduk dan membawa Kiara ke atas pangkuannya. Kedua manik mata mefeka bertemu, saling menyelami rasa masing masing. "Dengarkan aku baik baik Kiara, mulai sekarang kamu panggil aku Mas dan aku akanbertanggung jawab atas apa yang lakukan padamu., "
"Tapi - " Dominic melihat ketakutan yang terpancar di kedua manik Kiara, rasa bersalahnya semakin besar pada wanita hamil ini. Dominic langsung memeluknya, pria itu berkali kali menghembuskan nafas berat. Dominic melepaskan pelukannya, melirik jam tangannya sekilas.
Dominic bangun dan membopong tubuh wanita menuju ke kamar. Suara ******* dan erangan terdengar dari dalam kamar, AC dalam kamar tak mampu meredamkan suasana panas saat ini. Kiara tertegun kala permainan prianya yang kini berubah lembut dan tak kasar seperti biasanya, dia usap dahi Dominic yang berkeringat. Dominic tersenyum senang kala Kiara tengah menatapnya dengan penuh kelembutan. "Mas Dom udah ya, tubuh kamu berat. "
Dominic menjatuhkan dirinya di samping Kiara. Lalu membawa tubuh wanitanya ke dalam dekapannya. Kiara mendusel manja di dada bidang polos Dominic setelah itu kembali menatap Dominic. "Mas aku ingin kebebasan, apa kamu akan memberikannya!
"Apa ini karena pria bernama Rama itu!
Kiara memalingkan wajahnya, dia takut Dominic akan berbuat kasar lagi padanya. Dominic menghela nafas panjang, mengangkat dagu Kiara hingga tatapan mereka bertemu. "Apa kamu benar benar tega meninggalkan calon anak kita kelak saat dia lahir sweety!
"A-Aku.."
"Ya sudah kita mandi. " Dominic membawa tubuh wanitanya ke kamar mandi.
__ADS_1
Skip
Keduanya ke luar dari mansion, Dominic mengajak Kiara jalan jalan. Kini keduanya dalam pusat perbelanjaan, Kiara menatap tangannya yang di genggam oleh Dominic. Apalagi melihat sikap pria arogan itu yang sangat berbeda daripada kemarin kemarin.
"Mas, kenapa kamu bersikap lembut padaku. Sebenarnya apa rencanamu saat ini. Apa kamu belum puas membuatku menderita, sandiwara kamu benar benar menjijikan. " ujar Kiara dengan penuh keberanian.
"Terserah kamu, kalau menganggap perhatian aku ini sebagai kebohongan. " Pria itu membeli semua barang termasuk dress, lalu membayarnya setelah itu keduanya ke luar. Dominic masih terdiam, tangannya kini mengusap lembut perut rata Kiara, Kiarapun membiarkannya.
Kiara masih ragu, sikap pria di sebelahnya ini mudah berubah ubah hal itu membuatnya bingung. Tiba tiba dia teringat nama Cyra yang disebut Dominic saat pria itu mencumbunya dengan kasar. "Oh ya Mas, siapa gadis yang bernama Cyra itu dan sepertinya dia sangat berharga bagimu!
"Kau tidak perlu tahu! Dominic tancap gas, melajukan mobilnya kencang. Kiara tak lagi bertanya, namun dia mengusap perut ratanya dengan lembut. Dominic meliriknya, sudut bibirnya terangkat dan pria itu mengulas senyumannya.
Skip
"Terus awasi istana Wallace, terutama kegiatan Reymond dan Cyra. " Dominic mengakhiri obrolannya, dia menoleh ke belakang dan menatap tajam kearah Kiara. Kiara terlihat gugup dan takut, melihat Dominic yang berjalan kearahnya.
"Kamu mendengar semuanya Kiara? "
Kiara menelan salivanya, melihat sorot tajam yang ditujukan padanya. Dia masih belum menjawabnya, membuat Dominic semakin murka. "Cepat jawab Kiara, apa kamu tuli. " bentak Dominic.
"Iya aku dengar. " tubuh Kiara langsung bergetar, dia ketakutan setelah Dominic membentaknya, ditambah dirinya tengah hamil makanya sensitif. Dominic mengusap wajahnya kasar, tersadar dirinya telah membentak wanitanya.
"Maaf. "
__ADS_1
Kiara menghapus air matanya dengan cepat, dia menghela nafas dalam dalam lalu memghembuskannya dengan pelan. Ternyata pria di hadapannya saat ini masihlah arogan, temperamental dan suka memaksa.
"Gadis itu sudah memiliki suami, tak seharusnya kamu menganggunya mas. Aku tak tahu alasanmu apa, tapi jika karena dendam maka lebih baik kamu mengakhirinya. Dendam hanya akan membuatmu hilang arah. " ujar Kiara panjang lebar. Setelah berkata demikian, Kiara langsung pergi ke dapur, meninggalkan Dominic yang tengah berperang dengan pikirannya.
Di dapur dengan cekatan Kiara membuat nasi goreng, setelah selesai wanita itu membawanya ke meja makan, tak lupa mengambil dua gelas air. Dominic datang mendekat, memperhatikan wanitanya yang begitu lahap. "Ayo di makan mas, aku harap kamu menyukainya. "
Dominic langaung mencobanya, setelah dirasa pas pria itu makan dengan lahap. Suasana makan malam tampak hening, keduanya sama sama enggan mengeluarkan sepatah kata. Sesekali pria itu melirik kerah Kiara dalam diam hingga selesai makan malam. Kiara hendak membereskan meja makan namun Dominic menghalanginya.
"Kenapa Mas? " Kiara melirik tangan Dominic yang mencekal tangannya.
"Tinggalkan saja, biar pelayan yang membereskan. Jangan membantah aku! Dominic melepaskan cekalan tangannya, Kiara memgangguk tanpaembantah ucapan Dominic, setelahnya wanita itu naik ke atas dan di susul Dominic.
Di dalam kamar, Kiara melirik sekilas kearah Dominic yang masuk ke dalam. Dia dan Dominic bukan pasangan, dirinya meyakinan bahwa, Dominic hanya menganggapnya ibu dari calon anaknya, tak lebih. Dominic menaikkan alisnya melihatnya Kiara yang memperhatikannya. "Ada apa, apa kamu menginginkan sesuatu? "
Kiara menggigit bibir bawahnya, ragu untuk mengatakan keinginannya pada Dominic. Dominic menghela nafas panjang dan kini berdiri di hadapan Kiara. "Katakan saja, aku tidak akan marah sama kamu!
"Em aku ingin tidur dalam pelukanmu, "
Dominic membuka kemejanya, lalu melemparnya setelah itu naik ke atas ranjang dan berbaring. Kiara menyusulnya, ikut berbaring di sebelahnya kemudian Dominic memeluknya. Kiara menghirup aroma mint yang menguar dari tubuh Dominic, dia menyembunyikan wajahnya di dada prianya itu.
Tak lama terdengar suara dengkuran halus, Dominic menunduk kecil lalu tersenyum hangat, melihat Kiara yang sudah terlelap dalam pelukannya. Cup dia itu mencium kening dan bibir wanitanya secara bergantian.
Dominic teringat ucapan Kiara yang kini terpatri dalam otaknya. Dia usap wajahnya kasar, lalu memgelus pipi wanitanya. "Sekali lagi maafkan aku, aku selalu menyakitimu. " Mungkin seiring sejalannya waktu, dendam dalam hatinya akan sedikit demi sediki akan terkikis.
__ADS_1
bersambung