
Ethan tampak mengeluh pada sang mommy, dia di suruh untuk menahan diri tak bertemu dengan Shena hingga pernikahan mereka nanti. Merasa bosan, pria tampan itu datang ke rumah sang kakak. dia menjenguk keponakan kembarnya, Deniz dan Disa.
Setelah memarkirkan mobilnya, pria tampan itu lantas masuk ke dalam mansion milik Evan.
"Sore Fir. " sapa Ethan pada kakak iparnya.
"Iya Than, si kembar ada di kamar bersama mas Evan. " ujar Zafira yang di angguki Ethan. Setelah kepergian Ethan, Zafira kembali membuka majalahnya dengan santai. Wanita cantik itu terdiam, memikirkan hubungannya dengan sang suami yang masih renggang.
Tak lama Evan turun, pria itu menatap istrinya dari kejauhan. Dia memutuskan mendekati Zafira yang berada di ruang tengah. Kini keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain. Zafira menghela nafas panjang, dia menekan egonya.
"Maafin aku mas, aku terlalu egois hingga mendiamkan kamu satu minggu lamanya. " ucap Zafira menyesal.
"Aku juga minta maaf sayang, sebagai suami aku justru menyalahkan kamu atas kejadian waktu si kembar lahir. " Evan begitu menyesal akan sikapnya tempo lalu pada sang istri. Pria tampan itu merentangkan tangan, Zafira langsung bangkit dan masuk ke pelukan suaminya.
Keduanya berpelukan dengan erat, melepaskan rindu yang membuncah akibat ego masing masing. Dari jauh Ethan melihat kakak dan iparnya berpelukan, dia bernafas lega melihat keduanya telah berbaikan. Dia lantas mendekat, duduk di atas sofa dengan santai.
__ADS_1
Ehem
Evan melepaskan pelukannya pada sang istri, dia menoleh kearah adiknya dengan tatapan datar.
"Kalau melihat kalian akur kayak gini tuh adem. " cetus Ethan sambil tersenyum.
"Bukannya kamu di pingit Than? " Evan tampak mencurigai adiknya ini, Ethan hanya tersenyum cengengesan.
"Di rumah, aku kepikiran Shena terus, makanya aku ke sini. " jawabnya dengan enteng. Evan mendengus pelan, dia langsung merangkul istrinya dari samping. Pelayan datang membawakan minuman untuk ketiganya setelah itu pamit ke belakang.
Zafira meraih ponselnya yang berdering, ternyata Zia yang menghubungi dirinya. Setelah beberapa menit dia menutup sambungannya lebih dulu. Tak lama Zia dan suaminya datang berkunjung, wanita hamil itu membelikan banyak mainan untuk si kembar.
Pelayan menerimanya, lalu membawanya ke atas dan menyimpannya. Zia dan Abi langsung bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah.
"Bagaimana kabar kamu dan calon baby kamu Zia? " tanya Zafira sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku dan calon baby sehat sehat kak. " jawab Zia sambil tersenyum. wanita hamil itu mengusap perutnya yang membuncit, usia kandungannya memasuki bulan ke empat. Evan dan lainnya memilih mengobrol di ruangan kerjanya.
Sementara kakak dan adik itu saling bertukar pikiran. Canda tawa mewarnai obrolan kedua wanita cantik tersebut.
Di ruangan kerja Evan
"Rencananya aku ingin menjalin kerjasama dengan perusahaanmu Van, bagaimana? " tanya Abi pada kakak iparnya itu.
"Setuju asalkan saling menguntungkan satu sama lain, aku tak masalah. " jawab Evan dengan santai. Abi tersenyum tipis mendengar jawaban Evan barusan, Ethan sendiri hanya diam menyimak obrolan keduanya.
Entah apa yang tengah Ethan pikirkan saat ini, Evan menoleh dan menyengol lengan adiknya itu. Ethan langsung melirik kearahnya sambil tersenyum penuh makna. "Sudah aku bilang, saat ini pikirannya hanya ada nama Shena, Shena dan Shena. " jawabnya dengan lugas.
"Budak cinta. " cibir Evan.
"Memangnya kau tidak? " balas Ethan dengan telak membuat Evan mengatupkan bibirnya rapat. Abi sendiri tergelak melihat perdebatan konyol kakak beradik di depannya ini. Evan mendengus pelan, apa yang di katakan Ethan sangat tepat sekali dan dia tak bisa menyangkalnya. Dia memilih mengalihkan pembicaraan, Evan dan Abi membahas masa ngidam waktu lalu istri masing masing.
__ADS_1
"Aku hanya di anggap patung, mentang mentang kalian punya istri. " sindir Ethan. Evan hanya meliriknya sekilas, mengabaikan ocehan sang adik.