Posesifnya Sang Ceo

Posesifnya Sang Ceo
Extra Part 2 ( Nickolas Family )


__ADS_3

Keluarga kecil Hanum juga tampak bahagia, Nick mengajak keluarga kecilnya berlibur. Si kecil Ciara telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan manis juga pemberani. Ciara memiliki seorang adik laki laki yang bernama Matthew Azkara Johnstone yang usianya terpaut lima tahun di bawah Ciara.


Matt seringkali menjahili kakaknya hingga terkadang membuat Ciara ngambek dan tak mau berbicara dengan adiknya itu. Pertengkaran keduanya membuat orang tua mereka hanya mampu menjadi penonton.


"Mommy pusing melihat kalian selalu berdebat sayang!


"Matt duluan yang menjahili aku mom. " cetus Ciara dengan wajah kesalnya. Mommy langsung menatap kearah putranya dengan tatapan penuh peringatan, Matt hanya tertawa tanpa merasa bersalah.


Ciara bangkit, beranjak dari sana sambil menghentakkan kakinya kesal. Mommy Hanum menghela nafas dalam melihat kepergiannya putrinya, dia paham jika saat ini Ciara tengah ngambek.


"Kak Ciara kenapa sih marah marah terus. " cetus Matt dengan santai.


"Kamu jangan jahilin kakak kamu nak. " tegur Mommy Hanum pada putranya.


"Oke mom. " Matt kembali bermain game dalam ponselnya.


"Permisi tante, om. " seorang gadis seumuran Ciara datang berkunjung, mommy Hanum bangkit dan menyuruhnya langsung menemui Ciara di kamarnya. Raelyn Azura, teman satu sekolah Ciara.


tok


tok


"Cia, aku masuk ya. " Zura mendorong pintu kamar sahabatnya lalu masuk ke dalam. gadis itu menggeleng melihat kelakuan Ciara yang tengah berguling di atas ranjang. Gadis itu bangun setelah melihat kehadiran Zura di kamarnya.


"Kenapa, kok kayaknya kamu lagi badmood!


"Matt jahili aku lagi. " Ciara mengatakan bagaimana kelakuan jahil adiknya itu pada Zura. Zura terkekeh mendengarnya, dia merasa kehidupan Ciara penuh warna, mengingat memiliki saudara yang super usil.

__ADS_1


"Tumben kamu kesini Ra, ada apa? " tanya Ciara penasaran.


"Kayaknya aku bakal pindah sekolah deh bareng mami aku Cia! Zura memberitahukan rencana kepindahannya pada Ciara, wajah Ciara berubah murung setelah mendengarnya. Gadis berambut kuda itu langsung menghiburnya, menyakinkan Ciara jika mereka masih bisa berkomunikasi.


Keduanya langsung berpelukan dengan erat, Ciara tak rela jika harus berpisah dengan sahabat terbaiknya itu. Zura selalu ada saat dia lagi ada masalah dan mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Kau marah padaku Ci? " Zura kini memperhatikan wajah muram sahabatnya. Ciara tak mengatakan apapun, gadis itu terlihat bersedih mendengar rencana kepindahan Zura.


"Memang nya kapan kalian akan pindah Ra? " tanya Ciara.


"Besok pagi sih Ci!


"Aku pasti akan merindukanmu Aura, kau sahabat terbaikku!


Aura menanggapinya dengan senyuman, mereka kini membahas si kembar Evan dan Ethan. Ciara mengerutkan kening, menatap sahabatnya itu dengan tatapan memicing. "Jangan bilang kamu suka sama salah satu dari mereka Ra? " tebak Ciara asal.


Azura tentu saja tak mau mengaku, gadis itu terus mengelak dari tebakan Ciara mengenai si kembar. Keduanya sama sama berbaring di atas ranjang, Zura memilih membahas hal lain agar suasana tak canggung.


"Baiklah Dad, Mom setuju!


Daddy Nick lagi lagi menciumnya, mendekapnya dengan erat dan keduanya bernostalgia mengingat awal pertemuan mereka dulu. Mommy Hanum tak menyangka dirinya bisa berada di tahap sekarang ini setelah melewati banyak badai yang menghadang.


Malam harinya pasangan suami istri itu tengah bersiap untuk makan malam di luar. Setelah selesai keduanya turun ke bawah, Ciara menggoda kedua orang tuanya yang tampak cantik dan tampan malam ini.


"Zura kamu di sini dulu ya nak, temani Ciara dan Matt. " ujar Mommy Hanum pada sahabat putrinya.


"Iya Tante, tante jangan khawatir dan selamat bersenang senang. " ujar Zura dengan senyuman lebarnya.

__ADS_1


"Dad, Mom aku gak mau punya adik, cukup satu punya kakak yang bawel seperti kak


Cia aja. " celetuk Matt sambil menunjuk kakaknya. Tentu saja kedua orang tuanya saling melirik satu sama lain, suasana tampak canggung.


"Matthew. " pekik mommy dan daddy bersamaan. Matthew tertawa terbahak melihat tingkah malu kedua orang tuanya. Remaja itu melambaikan tangan menatap kepergian kedua orang tuanya. Ciara tentu saja cemberut mendengar pengakuan adiknya yang super menyebalkan.


Zura tertawa sambil memegangi perutnya, memperhatikan interasi kakak adik di depannya saat ini. Tawanya terhenti mengingat besok dia akan ikut pindah bersama orang tuanya. Matt menghentikan tawanya, menatap lurus kearah Zura yang tampak melamun. "Hei kenapa kamu kak, kakak gak mungkin mikirin hutang 'kan? " tanya Matt dengan asal.


Ciarapun menabok tangan adiknya itu lalu menatapnya dengan tajam. Mattpun langsung mengatupkan bibirnya rapat saat sang kakak bercerita. Remaja laki laki itu berniat menghibur sahabat dari kakaknya itu dengan tingkah konyolnya.


"Kamu lucu juga Matt!


"Aku sangat suka di puji gadis cantik sepertimu kak, bagaimana kalau kita saat dewasa nanti kamu menikah denganku? " tawar Matthew sambil tersenyum.


Plak Ciara kembali menepuk keras lengan sang adik, Matthew meringis kesakitan karena ulah kakaknya. Zura tersenyum geli mendengarnya, menganggap ucapan Matthew hanya sekadar lelucon biasa.


"Sudahlah Ci, kasihan Matt, kesakitan tuh. " tegur Zura pada Ciara. Ciara berdecak pelan, memilih menyalakan televisi, mencari tayangan yang menghibur. Mereka terus berbicara sambil menonton, sedangkan Matt sendiri asyik dengan ponselnya.


"Sudahlah aku tidur duluan ya. " Ciara bangkit, membisikkan sesuatu pada Zura setelah itu pergi dari sana. Zura menoleh kearah Matthew sambil tersenyum.


"Selama aku gak ada nanti, jaga dan hibur kakakmu Matt. Ciara pasti akan kesepian nantinya, selama ini aku selalu ada untuknya begitu juga dengan Ciara. Kami seperti saudari perempuan yang saling berbagi apapun satu sama lain, hingga tak ada rahasia di antara kami. "


Matt menyimpan ponselnya dalam saku, menoleh kearah gadis di depannya dengan lekat. "Ya aku janji, mengenai ucapanku tadi sepertinya aku serius. " ungkap Matthew.


Zura justru tergelak mendengar pengakuan Matthew barusan, gadis itu mengacak acak rambut Matt membuat lelaki itu kesal. "Kamu itu jangan berpikiran aneh aneh deh Matt, lebih baik kita fokus pada sekolah kita, supaya kelak cita cita kita tercapai. " ujar Zura dengan lembut.


Matthew menghembuskan nafas berat, lelaki itu hanya mampu mengumpat dalam hati melihat respon yang di tunjukkan Zura barusan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita istirahat Matt. " Zura bangkit, meninggalkannya lebih dulu. Matt menatap kepergiannya dalam diam, dia mengacak acak rambubya frustrasi. Dengan tangan terkepal dia bertekad akan menjadi pria sukses kelak. Dia ingin membuat orang tuanya bangga dan juga Zura.


"Aku pasti menjadi pria yang sukses dalam hal apapun seperti ucapanmu Zura! Matthew bangkit, bergegas menuju ke kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan kamar Ciara. Sementara sepasang suami istri tengah menikmati waktu berdua di luar sana.


__ADS_2