
LIKE, VOTE DAN KOMEN
Terry kini tengah bersantai di ruang tamu sambil memakan buah apel. Leon pulang, wanita itu bangkit dan menyambut kepulangan sang suami. Seperti biasa pria itu mencium bibirnya lalu turun ke perut rata Terry.
"Bagaimana sayang, apa kerjasamanya berjalan sukses. " ucap Terry.
"Iya hanya saja ada kendala sayang, klien yang ingin bekerja sama denganku adalah orang tua perempuan yang menganggumu kemarin di butik. " ujar Leon dengan jujur.
"Papanya Vanya, astaga pasti perempuan gila itu memang sengaja mendekatimu Yank. " sungut Terry sebal. Leon menghela nafas panjang, sudah pasti istrinya cemburu padanya.
"Apa aku batalkan saja hemm? " Terry menggelengkan kepalanya hal itu membuat Leon keheranan.
"Lanjutkan saja hubby, asalkan kamu jaga hatimu agar tak berpaling dan tergoda pada Vanya. " Leon mengangguk, pria itu sangat kagum dan semakin mencintai istri bar barnya.
"Sayang, penampilanmu sangat menggodaku hemm. " bisiknya sambil menggigit leher sang istri. Kedua pipi Terry menyembulkan rona merah, wanita itu mengusap lengan suaminya yang kini berada di atas perutnya.
"Mana mungkin aku berpaling sayang, justru aku semakin tergila gila padamu, kamu selalu memberi kepuasan untukku di ranjang dan memberi tiga anak untukku. " gumam Leon sambil mengusap perut istrinya. Terry menoleh, menatap penuh cinta suaminya, laki laki yang dia cintai sejak mereka bertemu.
"Mommy, Daddy. " Calvin dan Caleb masuk ke dalam berlari kearah orang tuanya di susul oma dan opanya. Leon dan Terry tersenyum hangat, memyambut kepulangan dua putera kecil mereka. Keduanya menciumi pipi Calvin dan Caleb secara bergantian.
"Bagaimana liburannya sayang, apa menyenangkan? "
"Sangat mommy, oma dan opa mengajak kami ke Zoo. " celoteh Caleb pada ibunya. Terry menatap kedua puteranya secara bergantian.
"Sayang dalam perut mommy, ada calon adik kalian. " ujar Terry dengan senyuman manisnya.
"Yeay kami akan punya adik. " Keduanya saling berpelukan, setelah itu menciumi mommy tercintanya. Oma dan Opa sangat senang mendengar kabar kehamilan Terry yang ketiga ini.
"Kehamilanku yang ketiga ini, juga baru di ketahui Leon mom, aku menginginkan anak perempuan. " ungkap Terry dengan senyuman di bibirnya. Mommy Kiara tak masalah dengan kehamilan menantunya, hanya saja keduanya bisa membagi waktu, mengingat Leon dan Terry sama sama sibuk.
__ADS_1
"Nanti malam Calvin dan Caleb tidur sama opa dan oma ya. " ujar Leon pada kedua puteranya yang di balas anggukan kedua bocah tampan itu.
"By, bagaimana kalau kita adain piknik bersama Louis dan si kembar juga. " tawar Terry dengan senyum merekahnya. Leon setuju dengan ide yang di sampaikan istrinya, pria itu mengambil ponselnya dan memberi tahu saudara kembarnya.
drt
drt
Leon memeriksa ponselnya, tanpa basa basi dia mematikan panggilan dari Vanya. Terry yang melihatnya, wajahnya berubah cemberut dan terlihat jelas jika dirinya cemburu. Wanita itu bangkit, pergi ke luar dengan raut kesalnya mengabaikan teriakan sang suami.
"Jadi Vanya mulai menghubungi nomor Leon, kenapa Leon tidak bilang sih. " gerutu Terry sesaat dirinya berada di gazebo. Terry benar benar muak dan kesal, dengan tingkah kecentilan Vanya. Dia mengirim pesan pada Vanya, mengajak perempuan itu ketemuan.
Terry bangkit, bergegas masuk ke mobil dan melesat kencang. Leon menatap kepergian istrinya sambil mengumpat berkali kali.
Sore itu Terry mengajak ketemuan Vanya di cafe, seperti biasa Vanya memasang wajah angkuhnya di hadapan Terry. "Dengar Vanya jangan pernah berfikir untuk merebut Leon dariku dengan cara murahanmu itu. " geram Terry
"Oh kau takut, suamimu berpaling dariku Terry. " tantang Vanya dengan nada sinisnya.
"Tidak, buat apa aku takut. Aku sangat yakin Leon begitu mencintaiku, nyatanya aku hamil anak ketiga kami. " pungkas Terry sambil menyentuh perut ratanya. Vanya mengepalkan tangannya, dia merasa tidak terima akan kenyataan yang dia terima.
"Tutup mulutmu sialan. " maki Vanya terpancing emosinya, wanita itu bangkit dan hemdak menampar Terry. Sret tangannya di cegah Leon, lalu pria itu menghempasnya kasar. Dia segera menghampiri sang istri, Terry beranjak dari duduknya dan memeluk sang suami. Dengan sengaja Terry bergelayut manja di hadapan Vanya, Vanya semakin muak melihat tingkah Terry. Dia tak akan menyerah begitu saja, dia bangkit dan pergi begitu saja dengan raut kemarahan di wajahnya.
"Sayang apa kau baik baik saja? " tanya Leon dengan nada khawatirnya.
"Iya hubby, aku baik baik saja. " jawab Terry sambil tersenyum.
Leon bernafas lega, mengajak istrinya pulang untuk beristirahat. Terry menahan tangan sang suami, Leon menatapnya bingung. "Kenapa berhenti sayang, ayo masuk ke mobil? "
"Hubby, bukankah itu Louis, bersama siapa
dia? " tunjuk Terry kearah Louis dan Angel yang turun dari mobil. Leon menoleh, ternyata benar saudaranya datang bersama seorang wanita.
__ADS_1
"Kita samperin yuk. " ajak Terry.
"Besok saja, sebaiknya kita pulang dan kamu harus istirahat. " tolak Leon. Terry menurut, mereka masuk ke mobil, mobil itu melesat jauh meninggalkan cafe.
## Di sisi lain Vanya tengah mengamuk, orang tua wanita itu menghela nafas kasar, melihat kelakuan puteri mereka. "Papa please, lakuin sesuatu agar Leon segera menjadi milikku. " pinta Vanya.
"Iya Pa, Vanya benar. Jika kita memiliki menantu seperti Leon, aku yakin perusahaan papa akan semakin maju dan sukses. " bujuk mama.
"Iya Papa setuju, tapi bagaimana caranya. Bukankah setahu papa, Leon sudah menikah? " gumam papa.
"Ya istri Leon adalah Terry, perempun yang aku benci sejak dulu. " geram Vanya.
Tak lama papa tersenyum miring, lalu berbisik di hadapan istri dan anaknya, Vanya nampak puas dengan rencana sang papa yang begitu brillian menurutnya.
Vanya bangkit, melenggang pergi ke kamarmya dengan senyuman di bibirnya. Wanita itu masuk ke dalam kamar, menaruh tas di meja rias. Dia buru buru membersihkan diri, lalu berganti pakaian.
Vanya menatap lekat foto Leon dalam ponselnya, dia baru saja mengambil foto Leon dari media. Dirinya juga yang meminta papanya, untuk menjalin kerjasama dengan pria pujaannya itu. "Aku yakin sebentar lagi kau akan jadi milikku Leon Sebastian Wallace. " gumam Vanya.
Semua kriteria pria yang dia inginkan ada di diri Leon, Vanya tak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan Leon. Dia tak peduli dengan status Leon saat ini. Vanya mencoba menghubungi nomor Leon namun tak bisa.
"Sial, sepertinya nomorku di blokir. " geram Vanya kesal.
###
"Kenapa kamu enggak bilang kalau Vanya sering hubungi kamu, kamu sengaja ya. " ketus Terry pada sang suami.
"Bukan gitu sayang, aku enggak ingin kamu kepikiran hingga kamu stress nantinya. " jawab Leon dengan sabar menghadapi istrinya yang sensitif.
Terry tetap berwajah masam, wanita itu merajuk, belum percaya pada suaminya. Leon menghela nafas kasar, menghadapi istrinya memang membutuhkan kesabaran ekstra.
"Pokoknya kamu jauhin dia, jangan sampai terjebak oleh wanita muka dua itu. " sungut Terry.
__ADS_1
"Iya, aku tahu sayang!
tbc