
Dwi nampak kaget dengan penjelasan dokter Nugroho yang bagai buah simalakama baginya.
"Baiklah dok, Bapak akan kami bawa pulang hari ini juga" ucap Dwi.
"Silahkan, saya mengijinkannya. Tolong tebus obat ini di bagian farmasi, urus administrasi dan check up 2 hari lagi ya" kata dokter Nugroho.
"Baik dok" jawab Dwi singkat namun pikirannya kacau.
Akankah ia akan memberitahukan yang lain mengenai semua ini?
"Gimana Mas?" tanya Anita.
"Bapak sudah boleh pulang. Tolong Anita bawa Bapak ke kamar dan kamu beresin semua barang-barang. Aku mau ambil obat dan urus administrasi" terang Dwi.
"Iya Mas" jawab Anita patuh.
"Dek, gimana Bapak? apa sudah boleh pulang?" tanya Astuti pada adiknya.
"Bapak sudah boleh pulang Mbak. Ini aku mau urus administrasi dan ambil obat" jawab Dwi.
__ADS_1
"Ini buat tambahan bayar administrasi siapa tau ada tambahan" Astuti memberikan sejumlah uang kepada adiknya.
"Nggak usah Mbak, paling sudah tercover semua sama asuransi" tolak Dwi.
"Dah pegang aja buat jaga-jaga" paksa Astuti.
Akhirnya Dwi pun menyerah dan menerima uang tersebut
Dwi melangkah menuju ruang administrasi dan mengurus semuanya. Dan benar saja, semua biaya rumah sakit hingga pemeriksaan pada dokter sudah tercover semua dalam asuransi keluarga yang tiap bulan dibayar Dwi.
Dwi melangkah ke bagian farmasi untuk mengambil obat kemudian kembali ke kamar perawatan bapaknya.
Pak Susanto yang sudah terlihat lebih segar sudah duduk di atas kursi roda yang sudah siap di dorong Anita. Begitupun Bu Suci yang telah siap dengan tas di bahu dan bawaan lainnya fi tangan kanan dan kirinya. Tak lupa Gilang yang tengah berusaha cari perhatian di keluarga itupun tak kalah sibuk membawa barang lain yang belum terbawa Bu Suci.
"Wah, sudah siap pulang semua nih, ayo kita pulang sekarang. Semua sudah beres" ucap Dwi.
"Let's go" jawab Anita bersemangat sambil mendorong Bapaknya.
Sampai di tempat parkiran rombongan terbagi menjadi dua mobil.
__ADS_1
Mobil Komar berisi Bapak dan Ibu Susanto, Dwi sebagai pengemudi dan Anita. Sedang di mobil Pak Wawan berisi Gilang sebagai pengemudi Bapak dan Ibu Wawan serta Komar dan istrinya.
Dua puluh menit dengan kecepatan sedang 40 km/jam dua mobil berhasil sampai di pelataran rumah keluarga Susanto.
Dengan langkah tertatih dan dengan di bantu Anita dan Dwi dari sebelah kanan dan kiri Pak Susanto, mereka memasuki rumah tersebut dengan terlebih dahulu Bu Suci membukakan pintu utama rumah tersebut.
Pak Susanto diantar kedua anaknya ke kamarnya untuk beristirahat.
Sedangkan Bu Suci dengan dibantu Astuti menyiapkan makan siang mereka yang tertunda beberapa jam.
"Gimana rasanya bisa kembali di rumah dan kamar ini lagi Bapakku?" tanya Anita menggoda Bapaknya.
"Tentu bahagia sekali, apalagi ditemani anak-anakku yang baik-baik sekali" jawab Bapaknya tak kalah menggoda.
"Bapak nyindir ya?" ucap Dwi tak mau kalah.
"Nggak. Sungguh benar kalau kalian ini sangat-sangat baik. Di luar sana banyak orang tua yang diperlakukan tidak baik saat sakit bahkan disalahkan karena tidak bisa menjaga kesehatannya sendiri hingga anak-anaknya harus kerepotan merawat dan menjaga orang tuanya" terang Pak Susanto.
"Makanya Bapak sangat bersyukur memiliki kalian yang tak pernah mengeluh menjaga dan merawat Bapakmu ini yang sudah tidak berdaya seperti ini" lanjut Pak Susanto.
__ADS_1