
"Rencana si sama Arifah yang rumahnya desa sebelah itu loh bu. kalau masalah administrasi biar aku dan Arifah yang urus di dinas terkait" jawab Anita.
"Ibu si seneng-seneng aja kamu nggak pergi-pergi dari rumah, tapi apa layak usaha ibu buat praktek kalian. Sekolah negeri loh nit..." ucap Bu Suci masih tak percaya.
"Layak lah Bu..., semua peralatan juga sudah lengkap kok. Nanti di survey dulu dari pihak dinas UMKM dan pihak sekolah" jelas Anita.
"Wah harus ada jamuan dong kalau akan ada tamu kesini nanti" ucap Bu Suci.
"Ya layaknya tamu ya di jamu semampu kita Bu. Tapi kalau lebih baik mereka diberi hasil karya Ibu sendiri bu, pasti mereka tambah semangat mendampingi kita.
Kemarin ada yang cerita kalau kita di survey dinas UMKM terus selang beberapa hari mereka dapat bantuan mesin.
Siapa tau kita juga begitu bu, jadi kita tidak usah susah-susah beli mesin jahit bu..." cerita Anita panjang lebar.
__ADS_1
"Tapi lebih baik kita beli sendiri daripada kita berharap pada bantuan nanti kenyataannya kita tidak dapat yang ada kita malah kecewa. Kalau kita punya sendiri kan enak. Kalaupun kita dapat bantuan ya Alhamdulillah itu berarti bonus. Gitu aja ya..." Bu Suci ungkapkan pendapatnya.
"Terserah Ibu aja lah. Yang penting besok aku ajak Arifah buat urus semuanya. Minta do'anya ya bu, biar semua urusan lancar dan cepat beres" ucap Anita.
"Pasti, do'a Ibu menyertaimu" jawab Bu Suci
"Makasih Bu, Aku mandi dulu ya. Masalah Baju Muslim modern nanti tak liat kalau habis mandi ya bu" ucap Anita sambil berlalu.
"Ya" jawab Bu Suci singkat.
"Eh...kamu dah pulang?" tanya Ibu pada Dwi yang tiba-tiba masuk ke ruang jahit Ibunya.
"Iya, tadi udah ucap salam di depan cuma mbak Suti yang jawab.
__ADS_1
"Maaf Ibu nggak denger. Itu tadi adikmu Ibu suruh bantuin Ibu ngerjain jahitan baju muslim model sekarang yang banyak variasinya. Ibu liat ketrampilan adikmu sudah baik, apalagi yang model-model anak muda gitu" jelas Bu Suci.
"Terus dia mau?" tanya Dwi balik.
"Mau, malah dia bilang mau ngurus semua keperluan PKL di dinas UMKM dan perijinan dari sekolah supaya bisa PKL di rumah aja dan Ibu sebagai pendamping lapangan nya katanya" jelas Bu Suci.
"Wah...., kabar bagus tuh. Jadi Anita nggak susah-susah magang di pabrik garmen jauh-jauh buat khawatir banyak orang. Kalau katak gitu aku juga mau nemenin dia ngurus semuanya" ucap Dwi antusias.
"Katanya dia mau ngajak temennya yang dulu pernah kesini yang rumahnya di desa sebelah si Arifah apa siapa itu" tambah Bu Suci.
"O...., Arifah itu. Ya Baguslah. Perempuan memang bagusnya tak usah keluar rumah, terlalu berbahaya dunia luar itu" ungkap Dwi.
"Bapakmu kok belum pulang?" tanya Bu Suci penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Tadi Bapak nunggu bayaran dari Pak Ahmad. Karena lama jadi aku di suruh pulang duluan. Nanti kalau urusannya dah selesai aku jemput lagi. Ibu nggak usah khawatir" jelas Dwi.
"Ibu khawatir kalau Bapakmu kecapean dan ngedrop lagi. Obatnya tadi dah dimun apa belum?" tanya Bu Suci pada Dwi yang selalu menjadi pengawal Bapaknya.