
"Ih Bapak ini, ya nggak sekarang juga kali mereka nikahnya. Ya tunggu Anita cukup umurnya" terang Bu Suci.
"Justru itu yang nggak boleh Bu. Sekarang misalkan mereka sudah dekat terus apa itu bisa menjamin mereka akan jadi suami istri. Sedang dalam agama kita itu tidak boleh mendekati zina. Kalau kita suka dengan laki-laki itu dan berharap menjadi mantu kita cukuplah kita doakan yang terbaik untuk mereka. Sejauh apapun mereka kalau memang jodoh pasti akan di dekatkan. Sebaliknya kita dekatkan dengan sedekat-dekatnya kalau memang tidak jodoh pastilah akan tambah jauh" terang Pak Susanto pada istrinya.
"Iya Pak. Aku yang salah" ucap Bu Suci menyesal.
"Sekarang temani mereka semua Bu!" perintah Pak Susanto pada istrinya.
"Iya, tapi Bapak minum obat dulu ya" pinta Bu Suci halus.
"Baiklah" jawab Pak Susanto pasrah.
Bu Suci keluar kamar ketika melihat suaminya telah selesai makan dan minum obat dan terlihat Pak Susanto siap memejamkan matanya.
"Pada sudah selesai makannya?" tanya Bu Suci pada mereka yang masih duduk di meja makan yang besar tersebut.
"Itu ada yang belum" ucap Bu Wawan menunjuk Anita.
"Ayo Ibu temenin" ucap Bu Suci sambil duduk di sebelah Anita.
Astuti dengan cekatan mengambilkan nasi untuk ibunya.
"Lauknya apa Bu?" tanya Astuti pada Ibunya.
"Sama sayur sop dan ayam aja" jawab Ibu Suci.
__ADS_1
"Mari semuanya" ajak Bu Suci.
"Kami sudah kenyang Bu" jawab Pak Wawan.
Nampak Gilang mengajak Dwi berbincang. Begitupun Komar mengajak orang tuanya berbincang ringan.
"Bapak sudah tidur Bu?" tanya Astuti.
"Sudah" jawab Bu Suci singkat setelah menyelesaikan makannya.
Setelah selesai makan para kaum lelaki duduk-duduk di teras rumah dengan ditemani cemilan dan kopi hitam yang disediakan Astuti.
Ketiga laki-laki tersebut rupanya para perokok, kecuali Dwi yang tak merokok.
Sedang para kaum wanita membereskan tempat makan dan membersihkan piring-piring yang kotor.
"Maaf ya Bu, Anita mau belajar dulu di kamar" pamit Anita pada kedua Ibu yang tengah asyik berbincang.
"Iya nak, semoga ujian besok dipermudah ya" jawab Bu Wawan.
"Aamiin" jawab semua yang ada di ruangan tersebut.
"Mbak temenin ya dek" ucap Astuti.
"Ayo Mba" jawab Anita.
__ADS_1
Jadilah Anita dan Astuti masuk ke dalam kamar Anita.
"Pelajaran apa besok dek?" tanya Astuti.
"Bahasa Indonesia Mbak" jawab Anita.
"Sini Mbak bantu tanya jawab ya" pinta Astuti.
"Iya...iya Mbak" jawab Anita semangat.
Jadilah mereka berinteraksi sampai tak terasa dua jam terlewati. Saat mereka berhenti karena kelelahan akhirnya kedua kakak beradik tersebut ketiduran dalam kamar Anita.
Bu Suci mengecek kamar Anita yang tiba-tiba senyap. Padahal sebelumnya begitu gaduh karena semangat mereka saling bertanya jawab hingga tak sadar mereka saling mengeraskan suaranya.
"Pada tidur rupanya. Seneng sekali liatnya" ucap Bu Suci pelan.
Dwi yang berjalan menuju kamarnya dan melewati kamar adiknya pun ikut melihat apa yang ibunya lihat.
"Mungkin mereka kelelahan Bu, apalagi Anita yang terganggu tidurnya semalam" ucap Dwi.
"Astuti juga pasti terganggu tidurnya semalaman" celetuk Bu Suci asal.
"Sok tau Ibu" jawab Dwi sambil tersenyum dan berlalu.
Saat menjelang sore suasana rumah keluarga Pak Susanto kembali hangat.
__ADS_1
Mereka pada sibuk keluar masuk bergantian ke kamar mandi.