
πΈπΈ
M A A F K A N A K U
Zoya memerhatikan balon huruf itu satu persatu, ia tak percaya akan apa yang ia lihat hingga Zoya pun mengucek-ngucek kedua matanya agar bisa melihat lebih jelas. dan setelah itu, beberapa orang suruhan itu pun pergi dan berganti dengan orang lain, membawa banner bertuliskan,
...I Love You , Asyifa Zoya...
I hope you will forgive me, dont ignore me, please
(Aku mencintaimu, Asyifa Zoya. aku harap kamu akan memaafkanku, tolong jangan abaikan aku.)
Zoya tersentuh dan terhanyut membaca tulisan itu di Banner, ia pun menoleh ke belakang dan menengadahkan kepala melihat sesosok pria tampan yang putih dan tubuh kekar. Ia adalah Hwan Ye-Jun, pria yang menyebalkan namun sorot matanya selalu ada cinta untuknya. tak pula dipungkiri, Zoya juga sangat mencintai pria itu.
"Oppa," ucapnya lirih
"Ya, ini aku, aku datang menemuimu, Zo" ucapnya dengan wajah sedu bercampur senyum lembut yang menghiasi bibirnya.
Setelah cukup memandang gadis yang teramat ia rindukan, Ye-Jun menjentikkan kedua jarinya hingga orang suruhan terakhir yang berparas bule pun datang menghampirinya. ternyata beberapa orang suruhan tadi adalah turis bule yang ikut menikmati Pantai Kuta tersebut.
Zoya menatap wanita bule yang berpenampilan seksi itu, mata Zoya membelalak kaget melihat penampilan yang super seksi. sedari tadi Zoya hanya memandang apa yang mereka bawa untuknya.
Wanita bule tersebut membawa nampan yang diatasnya adalah kotak perhiasan kecil yang berisi cincin berlian super mahal dan surat keterangan masuk islam yang sudah di laminating. ia tersenyum pada Ye-Jun, Ye-Jun pun tersenyum balik sembari mengambil kotak cincin itu dan surat mualaf miliknya dan menyuruhnya pergi. Zoya masih terpaku pada tempat duduknya, jantungnya berdegup kencang seolah ini adalah mimpi gila berada ditengah-tengah pengunjung pantai yang memerhatikan mereka.
Ye-Jun pun berlutut dihadapan Zoya, dengan tatapan ingin, ia mengacungkan kotak cincin yang memperlihatkan isinya. Zoya membelalak kaget, apa-apaan dengan Ye-Jun yang mau memberinya cincin!
"Will you marry me?"
Deg,
Zoya tercengang mendengar penuturan itu, sorot matanya menatap mata Ye-Jun dengan intens melihat keseriusannya.
Terima! terima!! terima!!!
Sorak sorai begitu meramaikan moment lamaran itu yang cukup romantis, mendengar kebisikan itu Zoya kembali sadar, ia menatap sekitar yang bertepuk tangan seraya mengatakan Terima. Zoya kembali menatap Ye-Jun, mata itu penuh harap namun ia ingat bahwa mereka berbeda keyakinan.
"Maaf, kita berbeda" ucap Zoya dengan sedu walau hatinya sakit dengan kenyataan itu. namun pikiran Zoya salah, sebab Ye-Jun menunjukkan bukti bahwa tidak ada perbedaan lagi.
__ADS_1
Ye-Jun menunjukkan surat keterangan masuk islam pada Zoya, dengan ragu Zoya pun mengambil surat tersebut.
"Aku punya bukti, tidak ada perbedaan lagi. ini, bacalah dengan seksama" lirih Ye-Jun memberikan surat itu.
Zoya mengambilnya dan mulai membaca dari awal hingga akhir.
Sorot matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menatap serius dan membaca isinya dari dalam hati. sesekali Zoya menatap Ye-Jun dengan penuh arti, lalu kembali melanjutkan membaca surat tersebut.
Deg,
"Ternyata beberapa bulan lalu ia sudah mualaf? bagaimana bisa?" bathin Zoya.
"Benarkan? kamu sudah percaya padaku?" tanya Ye-Jun. Zoya pun mengangguk.
"Jadi, apakah kamu mau menikah denganku?" tanyanya lagi. Zoya pun kembali berfikir, sejurus kemudian ia kembali mengingat kalau Ye-Jun sudah dua kali tertangkap basah sedang beradegan ciuman.
"Apakah kamu mau berjanji satu hal?" tanya Zoya
"Apa itu?" tanya Ye-Jun
"Jangan mau menerima adegan ciuman lagi ataupun sentuhan fisik" ucap Zoya lalu segera menunduk menahan rasa malu.
"Hahahahahaha" Ye-Jun tertawa ngakak mendengar permohonan itu dari mulut pujaan hatinya. ternyata hal itulah yang menjadi penyebab gadisnya mendiamkan dirinya.
Zoya yang mendengar tawa mengejek itu sontak menatapnya dengan tajam, Para penonton merasa gemas dengan sikap keduanya, ini cukup terhibur karna mereka begitu berdrama disiang bolong ini.
"Kenapa ketawa!" ketus Zoya kesal. Ye-Jun pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia pun memegang kedua lengan gadis itu, masih posisi berjongkok. Ye-Jun pun segera menceritakan semuanya.
"Nona manis, sebenarnya itu bukanlah ciuman sungguhan. kami punya trik agar adegan terlihat sungguhan. aku akan berikan contoh padamu" Ye-Jun segera berdiri dan menghadap para pengunjung yang menonton mereka.
"Siapa disini yang berpasangan kekasih?" teriak Ye-Jun.
"Kami" sepasang bule mengacungkan tangan kanan mereka.
"Bisakah kemari?" tanya Ye-Jun. mereka mengangguk dan menghampiri Ye-Jun juga Zoya. Zoya melihat penampilan bule itu membuatnya menggelengkan kepala. si wanita mengenakan bra, roknya cukup panjang namun memiliki belahan hingga ke paha. sedangkan si pria, bertelanjang dada dan celana selutut namun sang junior begitu menonjol dengan jelas.
"Astaghfirullah, pakaian mereka menodai mataku" gumam Zoya dalam hati. ia pun kembali fokus melihat wajah mereka saja.
__ADS_1
"Apa yang mau dilakukannya?" gumam Zoya heran. hingga Ye-Jun pun menyuruh mereka untuk saling berhadap-hadapan.
"Zo, perhatikan mereka" ucap Ye-Jun menyadarkan Zoya.
"Dasar pria gila! sungguh memalukan. apa yang mau diperbuatnya pada mereka" bathin Zoya. Zoya pun memerhatikan mereka sesuai pinta Ye-Jun.
"Lihatlah dari samping, aku akan memajukan wajah mereka, namun si pria ini menyampingkan wajahnya ke samping wajah wanita. lihatlah, kamu bisa melihat bibir mereka seperti menempel namun sebenarnya tidak tersentuh. kemarilah, bibir mereka tidak tersentuh kan? namun dilihat dari samping seperti berciuman?" jelas Ye-Jun.
"Benar, bagaimana bisa ya, aku melihatnya seperti asli" ucap Zoya.
"Begitulah triknya sayang. apalagi melihat langsung dari tv, sangat jelas kalau sedang berciuman. padahal tidak" ucap Ye-Jun.
"Sungguhkah seperti itu?" tanya Zoya. Ye-Jun mengangguk.
"Kalian boleh pergi, terimakasih" ucap Ye-Jun pada pasangan bule tersebut. ia pun kembali menatap Zoya lalu memegang kedua tangannya.
"Aku tidak akan melakukan adegan vulgar dengan sungguhan. itu hanya trik dan kamera bisa memanipulasinya" ucap Ye-Jun dengan lembut.
"Ya, aku percaya" Zoya mengangguk.
"Jadi apakah kamu mau menerima lamaranku?" tanya Ye-Jun dengan suaranya yang keras dan lantang.
Terimaaaaaa!!!!!
Sorak mereka semua termasuk para sahabat Zoya yang terharu dengan adegan itu.
"Aku akan menerimanya kalau kamu bisa melafaskan surah Ar-rahman dari ayat 1-40 dihadapan Abi dan Ummi tanpa melihat Al-qur'an" bisik Zoya pada telinga pria itu. sontak saja Ye-Jun tercengang mendengarnya.
"Tapi karena aku tidak mau kamu merasa malu dikhalayak umum, aku akan menerima lamaran itu. tapi jangan senang dulu, kamu masih dapat lampu kuning. dan ketika kamu melafaskan surah itu pada Abi, lampu hijau akan menyala terang" lanjutnya.
"Berarti kalau aku bisa menghafal surah tersebut dengan lancar, maka kamu akan menerima lamaranku?" tanya Ye-Jun memastikan.
"Ya"
"Oke, aku akan perjuangkan cintaku padamu" ucap Ye-Jun masih dalam posisi berbisikan.
Ehem!! Ehem!!
__ADS_1
πΈπΈ