
πΈπΈ
Zoya begitu terpukau pada tempat diketinggian itu. ia dapat melihat langsung keindahan alam dengan udaranya yang segar dan sejuk. Zoya menaruh kedua tangannya pada gembok itu, menghirup dalam-dalam udara segar yang menyeruak masuk kedalam permukaan hidungnya, menikmati udara segar nan bersih yang sudah lama ia rindukan moment seperti ini.
Umi datang mendekatinya, memeluk pinggul sang putri yang nampak khusuk menikmati desiran angin itu.sontak mata yang terpicing kembali terbuka dan menoleh kesamping tampak jelas wajah Umi yang berseri.
"Umi," ucap Zoya lalu menaruh kepalanya dipundak umi tercinta.
"Udaranya segar ya sayang, umi jadi rindu kampung" ujar Ummi teringat kampung halamannya di Bandung, tepatnya dipedesaan.
"Zoya juga, jadi rindu nenek, Mi" ujar Zoya teringat neneknya yang tinggal bersama kakak sang Ummi.
Ye-Jun yang sedang mengobrol bersama Abi pun menoleh ke belakang, tersenyum menatap Zoya yang begitu manja bersama sang Ibu. begitu pun Aera yang menyendiri disudut sana, menatap anak dan Ibu itu sembari tersenyum. terlihat jelas ada guratan rasa rindu dari wajahnya. Ia rindu bermanjaan dengan mama Nam yang selalu tidak memiliki waktu bersama anaknya. sontak air mata pun menetes melihat kebahagiaan itu.
"Ah astaga, kenapa aku bawa perasaan. beruntung sekali eonnie Zoya" gumam Aera terkekeh sendiri.
Ye-Jun termenung dengan leher yang masih menoleh dan bibir yang masih mengembang, Abi yang berbicara pun tak pula ia dengarkan hingga Abi sadar bila perhatian Ye-Jun telah teralihkan menatap sang putri.
"Ehem!! jangan pandang terus putri Abi, atau kau akan Abi nikahkan segera" peringatnya menatap heran anak muda ini.
"Serius bi?" Ye-Jun malah menganggap serius dan begitu senangnya mendengar ungkapan Abi.
"Ah kamu ini, sebenarnya kalian itu tidak bisa menikah" ujar Abi serius. sontak wajah Ye-Jun berubah sedu.
"Kenapa?" tanya Ye-Jun.
"Karna kalian berbeda. wanita muslim tidak boleh menikah dengan pria non muslim, kecuali--" jelas Abi lalu menggantungkan omongannya.
"Kecuali?" tanya Ye-Jun tidak sabar menunggu kelanjutan itu.
"Kecuali kamu bersungguh-sungguh dari hati untuk memeluk agama islam tanpa paksaan apapun, dan tentunya bukan karna Zoya, melainkan ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT" jelas Abi. Ye-Jun pun mengangguk paham akan hal itu.
"Jadi intinya harus seiman dan sekeyakinan?" tanyanya
__ADS_1
"Benar sekali" ucap Abi menatap pandangan kedepan.
"Baik, Bi. Ye-Jun akan terus mempelajari islam melalui buku yang Abi pinjamin" ucapnya tersenyum semringah.
"Ye-Jun, Abi tidak memaksa untuk kamu memeluk islam, itu berdasarkan hati dan keyakinanmu. Abi gak mau kamu memeluk islam hanya karena cinta, Iblis gampang menggoda manusia hingga rasa cinta akan cepat pudar dan hilang" jelas Abi kembali. Ye-Jun hanya mengangguk seolah begitu paham akan maksud Abi.
"Abi tenang saja, Ye-Jun juga tertarik pada Islam setelah membaca buku itu. bukan karena Zoya, sungguh dari hati. aku akan membuktikannya" gumam Ye-Jun didalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Hening, tidak ada percakapan lagi antara kedua pria itu. Abi menoleh ke belakang, tampak mereka asyik berselfie ria bersama-sama.
"Abi, ayo sini!" panggil Ummi. Abi pun menghampiri istrinya, Umi mengajak Abi berfoto berdua, setelahnya bersama Zoya dan terakhir kali satu keluarga. setelahnya Zura dan Malik juga baby boy yang tengah Aera potret.
"Ra, fotoin aku sama baby Auzar dong" pinta Zoya seraya meraih keponakannya dari gendongan sang kakak.
"Oke, 1 2 3"
Cekrek
"Yeaaay, terimakasih aunty Aera" ucap Zoya meniru suara anak bayi. dan kini Aera pun meminta untuk difotoin bersama Ye-Jun juga Zoya yang menggendong Auzar, telah banyak yang mereka ambil di momentum taman itu. begitu senangnya berada disana hingga Ye-Jun mengajak Zoya untuk menaiki kereta gantung yang berada disana, tidak jauh dari mereka.
"Is apaan sih, enggak" tolak Zoya. ia pun kembali teringat akan kejadian tadi yang blak-blakkan menerima tawaran itu.
"Tadi katanya mau sampai kamu tarik tanganku" goda Ye-Jun terkekeh.
"Sekarang sudah gak mau lagi!" tolaknya lagi.
"Ayo dong eonnie, kita naik bertiga. kan ada Aera" ajak Aera menarik tangan Zoya dengan paksa.
"Abi, mereka maksa" rengek Zoya pada orangtuanya.
"Kan bertiga, tidak apa-apa" ucap Abi lalu mengerlingkan sebelah matanya pada Ye-Jun.
"Yes!!" dalam hati Ye-Jun beryes-ria. Abi begitu mendukungnya, asalkan sang putri tetap aman dan terjaga.
__ADS_1
"Abi jahat hii, kak Zura ayolah kita naik berdua aja" ajak Zoya pada kakaknya.
"Gaklah, kakak mah sudah booking sama kang Malik" ucap Zura tersenyum senang mengerjai adiknya itu.
"Pergilah, tidak usah malu pada pria tampan ini" ledek Ummi. Zoya mencebikkan bibir bawahnya, merasa kesal tidak ada yang menolongnya.
"Yuk ah eonnie" paksa Aera. Zoya pun terpaksa menurut dan pergi bersama-sama untuk menaiki kereta itu.
Ye-Jun dan Malik sudah mmbeli tiket, kini giliran mereka menaiki wahana ekstrim itu. Zoya menatap kebawah dari balik kaca, kakinya menggeletek merasa takut berada di tempat itu.
"Aku gak ikutlah, nanti jatuh lho" gerutu Zoya pada Aera.
"Tenang aja eonnie, ini dijamin aman kok" ucap Aera menenangkan Zoya. Zoya menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya dengan pelan seolah bersiap-siap untuk melahirkan. Aera terus memegang telapak tangan calon kakak iparnya, menenangkannya dari kengerian wahana ini. Zoya tampak pucat namun ia bisa mengendalikan perasaannya.
"Bismillahirahmanirahim" Zoya pun mengucapkan basmallah sebelum kereta gantung itu dijalankan, hingga pada akhirnya kereta pun berjalan.
"Aaaaaaaa!!!!" Zoya berteriak kencang didalam ruangan itu, menutup kedua matanya seraya memegang erat telapak tangan Aera dan Ye-Jun. Ye-Jun bersikap tenang, melihat tangannya yang dipegang seketika senyum merekah mengembang dibibirnya.
"Dasar, cari kesempatan dalam kesempitan" gumam Aera tanpa bersuara.
"Astaga, ini nyaman sekali. tidak rugi mengajaknya menaiki wahana ini" gumam Ye-Jun didalam hati dengan senyum manis menatap Zoya.
"Allahuakbar, Allahuakbar, selamatkan kami" ucap Zoya disela ketakutannya.
"Eonnie, buka matanya, lihatlah ini seru" suruh Aera.
"Tidak mau" elak Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Santai saja, Zoya. rileks, kita aman" ucap Ye-Jun mengelus punggung Zoya. Zoya pun membuka sedikit kedua matanya, melihat pemandangan didepan yang begitu menakjubkan lalu beralih menatap ruangan kereta yang ia naiki.
"Alhamdulillah, ternyata benar, kita aman" ucap Zoya tersenyum senang lalu menatap kebawah. namun belum sempat menoleh, Ye-Jun langsung melarangnya.
__ADS_1
"Jangan lihat kebawah, itu akan membuatmu takut kembali" ucap Ye-Jun menenangkan wanita yang ia cintai itu. masih menatap tangannya, Zoya enggan melepaskan pagutan telapak tangan tersebut.
πΈπΈ