Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
Promo Novel Obsesi Majikan Psychopath


__ADS_3

Novel baru sudah rilis, guys ...


judul: Obsesi Majikan Psychopath


🌺🌺🌺


"Hmmm, incaran didepan mata!" senyum seringai sinis menghiasi sudut bibir milik seorang pria yang misterius, mengenakan hoodie dan kepala yang dilindungi oleh topi. Ia berjalan mendekat menghampiri seseorang yang sedari tadi ia pandang.


"Hai." Ia menyapa seorang gadis yang duduk termenung menatap danau dengan pandangan kosong. Ia mendongak keatas, sedikit menyipitkan mata karena teriknya sang mentari langsung menembak panca netranya


"Eh, hai." sahutnya


Pria itu mendudukkan tubuhnya disamping gadis tersebut. "Sendiri? ngapain duduk dibawah terik?" tanyanya, berbasa-basi


"Ya. pengen aja," jawabnya


"Oh, kenalin, Guntur." Ia mengulurkan tangan kanannya kehadapan gadis cantik ini


Perempuan itu menyambutnya. "Bulan."


Pria itu mengulum senyum, menikmati wajah cantik sang gadis yang selama ini ia perhatikan dari jarak jauh, namun tidak untuk pipi disebelah kanan, ada sedikit luka yang membekas disana. "Kamu bawa koper? mau kemana?"


"Nggak tau. aku nggak punya siapa-siapa lagi." ujarnya, Bulan tengah merindukan sang Almarhum Papi yang sudah tenang disana dan adik lelakinya yang sedang kuliah di Amerika. tanpa terasa air matanya menetes, mengalir begitu kencang menyentuh sudut bibirnya.


"Aku kebetulan lagi butuh pembantu, mau bekerja denganku? hitung-hitung kamu bisa tinggal ditempatku. Aku juga akan membayarmu dengan upah yang tinggi." tawarnya


Bulan berpikir sejenak, cukup lama dan akhirnya menganggukkan kepala.


Bagus! kau akan berada diperangkapku, gadis buruk rupa. batin Guntur


**


Apartement xxx lantai 10, disinilah sepasang anak muda itu, Bulan menatap lekat Apartment yang bernuansa kelabu, khasnya seorang lelaki. cukup luas dan terasa nyaman. Namun--ada satu titik yang menjadi objek perhatian Bulan, yaitu serpihan keramik berserakan di lantai dekat ruang tv.


"Oh, maaf ... aku tadi terburu-buru ingin pergi, hingga menyenggol keramik tersebut. Aku akan membersihkannya." Pria itu bergegas mendekati keramik itu. tapi--langkahnya terhenti oleh gadis tersebut.


"Saya saja!" cegahnya, mengambil alih duluan pekerjaan itu. Pria itu tersenyum seringai sinis, sebelah sudut bibirnya tertarik keatas.


Disisi lain, pada kediaman Cakrawala, seorang wanita parubaya dan putri sulungnya telah menginjakkan kaki dilantai marmer kediaman tersebut. Kedua wanita itu baru saja melakukan shopping, berteriak memanggil putri keduanya dengan suara yang terdengar menggelegar. Bibi yang sedang sibuk di ruang laundry, seketika keluar dari tempat persembunyiannya.


"Kenapa kalian yang datang? mana Bulan!" teriaknya, menatap angkuh pada kedua pembantunya


"Ka-kami tidak tahu, Nyonya, mungkin pergi keluar sebentar." jawab salah satu dari mereka


"Anak tidak tahu diri! sudah buruk rupa malah keluyuran. bawa ini ke kamar saya!" titahnya, menyodorkan beberapa paperbag dari tangannya, diikuti pula oleh putri pertamanya, Mentari, dengan gaya yang serupa.


🌿


Sudah hampir dua minggu, Bulan bekerja di Apartement ini, ia merasa cukup lega karena tidak merasakan lagi siksaan yang dilayangkan Mami dan Kakaknya. Pria ini sangat baik padanya, selalu memperlakukannya dengan baik dan layaknya manusiawi. Padahal--sebenarnya ia belum tahu kelanjutan hidupnya kelak berada disini. akankah bahagia, atau--semakin menderita? bagaikan keluar dari kandang macan, lalu masuk keperangkap singa.


Menit demi menit berlalu dengan begitu cepat, jarum pendek bersilih ganti setelah menit berlalu. Bulan menikmati makan malamnya hanya seorang diri, memikirkan Tuan Guntur yang belum juga pulang.


"Mungkin lembur." gumamnya, mengendikkan kedua bahu, lalu melanjutkan makan malamnya seorang diri

__ADS_1


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Bulan merasakan kantuk yang sangat hebat. wanita itu bergegas mematikan televisi dan berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai bawah. tidak berselang lama wanita itu tertidur lelap dan akan berlabuh ke alam mimpi yang indah.


"Pa-papi ... bawa Bulan, Pi ..."


Bulan mengigau, tangannya terulur ke udara ingin menggapai sang Ayah yang hadir dialam mimpinya. dahi gadis itu telah penuh dengan pelu, ia acap kali bermimpi serupa walau tidak disetiap malam.


"Pi!!" Bulan terbangun, tubuhnya terduduk dengan detak jantung yang berdetak sangat cepat.


Dan sejurus itu pula, indra pendengarannya menangkap suara dari luar sana, perhatiannya teralihkan pada pintu kamar yang tertutup. "Tuan Guntur, kah? baru pulang? aaah ... aku merasa haus." desisnya, Bulan bergegas turun dari ranjang.


Bulan terpaku didepan pintu kamarnya tatkala melihat pria itu membuka jas hitam yang membaluti kemeja putih telah dinodai oleh warna merah. tubuhnya menegang, pikirannya berkelana, dan mengira itu adalah darah. sejurus itu pula sebilah pisau berigi jatuh ke lantai, suaranya menggema dikeheningan malam.


Bulan ternganga, matanya melotot dan mulut ia tutup melihat pisau yang dibaluri oleh darah. disisi lain, pria itu tersenyum devil menatap raut wajah pembantunya.


"Selamat datang di dunia baru." Pria itu tergelak, kedua tangannya terentang ke samping


"Ma-maksudnya??"


"Ka-kamu pembunuh?" Bulan tercengang


"Hahahaha, akhirnya kamu sudah tahu juga." Ia tertawa dan mengaku tanpa ada rasa bersalah. Guntur merogoh sesuatu dari dalam tas kerjanya, selembar kertas ia layangkan kepada Bulan. "Sekarang, tanda tangani ini!"


Dengan tangan yang gemetar, Bulan berusaha meraih selembar kertas itu lalu membacanya dengan seksama.


"Mengurus kebutuhan lahir dan batinku sampai waktu yang ditentukan, jika menolak, kabur dan mengadu pada orang lain, kau dan keluarga kau akan ku lempar ke neraka!" ancam Guntur, memamerkan foto keluarga Bulan. sungguh membuat wanita itu takut dan merinding.


"Saya mohon, jangan!" Bulan mengiba, menjatuhkan tubuhnya, berlutut pada pria ini


"Maka dari itu, tanda tangani surat yang saya berikan!" teriaknya, untung saja Apartement ini kedap suara hingga tidak menimbulkan kebisingan sampai keluar


Hiks hiks, Papi ... apa salahku? Bulan menangis, begitu pula dengan suara batinnya


Guntur menatap sinis pada wanita yang bersimpuh dilantai, membubuhkan tanda tangannya dibagian bawah kertas itu


Begitu senangnya punya tawanan selugu dan sebodoh ini, sungguh malang sekali, Batin Guntur.


Sorot mata menyapu setiap lekuk tubuh wanita dihadapannya, cukup berisi dan molek. Bibirnya ia gigit kecil, tatapannya terlihat sensual, imajinasinya membayangkan keseksian tubuh dibalik baju itu seakan menuntunnya untuk melakukan sekarang.


Ya, tiba-tiba saja darahnya berdesir hebat, nalurinya yang menginginkan untuk melakukan sekarang, pria itu langsung menyergap wanita ini dalam dekapannya. Bulan terlonjak kaget, kedua bahunya dicengkeram kuat dan menarik tubuh mungil itu hingga membentur tubuh kekar Guntur.


Bulan ternganga, sapuan hangat menyentuh tengkuk lehernya, kecupan demi kecupan mulai terasa menggelikan. Bulan melenguh, kedua tangannya berusaha memberontak.


"Tidak ada perlawanan, sesuai isi surat itu!!" mata elang itu menghunus tajam menatap sepasang netra mengkilat milik Bulan


"A-aku mohon jangan sekarang, aku belum siap." buliran air mata pun jatuh juga membasahi pipinya, ia takut menatap mata iblis itu, Bulan menunduk membuang pandangannya pada pria ini


"Hanya sebentar." ujarnya, langsung menggendong tubuh mungil ini menuju kamar yang ditempati oleh Bulan


Bulan yang malang, namanya yang menerangi malam kini telah berubah haluan dalam waktu yang singkat, hidupnya semakin suram dan tidak bercahaya lagi. Didalam hatinya hanya menginginkan Papi Cakra, Papi tercintanya yang telah lebih dulu meninggalkannya.


Bulan pasrah, ia menerima perlakuan pria ini yang akan menyetubuhi tubuhnya. Sesuai dengan isi surat perjanjian, memintanya untuk mengurus kebutuhan batinnya.


Aku akan membuktikannya, geram Guntur membatin

__ADS_1


Pria kejam yang tidak punya hati ini langsung menindih tubuh suci yang belum tersentuh itu, masih bersih dan tampak bergemetar. Guntur berjanji akan membuatnya rileks malam ini, dengan rasa syahdu nan nikmat yang belum pernah keduanya rasakan. Dalam sekali tarikan, piyama yang dikenakan Bulan seketika robek, buah baju beterbangan kemana-mana, ia tercengang, pria ini benar-benar sangat liar, berbeda sekali akan keramahannya kala itu.


Bulan melemas, matanya terpejam dengan mulut yang mulai mengeluarkan *******. Dadanya yang masih padat dan kencang, disergap dengan begitu buasnya. memainkannya, menjilatnya dan menyesap, rasa ini kian melebur menjadi rasa yang penuh kenikmatan.


"Aaaah ...."


Bulan menggeliat, sapuan bibir pria ini beralih ke perutnya, memberikan rasa geli disana hingga berpindah ke area terlarang yang selama ini telah ia jaga dengan susah payah. dengan terpaksa ia menyerahkan kehormatannya malam ini, demi keutuhan keluarga dan dirinya. Ia tidak ingin mereka kenapa-napa ditangan pria psikopat itu.


Sungguh gembiranya berhasil merangsang wanita ini, Guntur bergegas memasukkan miliknya yang pernah dihina hingga membekas disanubarinya, ia akan membuktikannya malam ini bersama Bulan, sang penerang malam.


"Kurang baik apa aku sama kamu, wahai perawan? aku masih punya hati untuk memberikan rangsangan supaya kamu tidak terlalu kesakitan." ocehnya, sembari memasukkan anaconda secara perlahan kedalam goa sempit yang masih suci itu


"Tau apa kamu tentang aku? ooooh!!" Bulan mengerutkan wajahnya menahan rasa perih dibawah sana, kedua tangannya meremat kuat seprai disisinya.


Dua jam kemudian, penguji pertama telah berhasil dengan sempurna, Guntur merasa lega dengan kepuasan yang ia alami bersama gadis ini.


"Cuci kemejaku hingga bersih!" pria kejam ini menunjuk pakaiannya yang berserekan dilantai, Bulan bergeming, dalam tatapan kosong ia memandang langit-langit kamar sembari menangisi nasib hidupnya. wanita itu terisak kuat, air mata mengucur deras membasahi pelipisnya hingga jatuh kesela rambut. Bulan tidak menyangka, hidupnya seperih ini harus tinggal bersama pria jahat berdarah dingin itu.


"Mami ... maafkan Bulan yang sudah kabur dari rumah, Bulan durhaka, Allah memberikan ujian yang tidak pernah Bulan duga. hiks hiks hiks!" Ia menangis kencang, tubuhnya bergetar dengan isakan yang membuatnya sesegukan.


Disisi lain, Guntur yang telah tiba di kamar dalam posisi telanjang, langsung membuka laci dan mengeluarkan sesuatu.


Entah apa itu ...


🌺🌺🌺


Klik profilku, lalu judul tersebut ya πŸ˜‰


...----------------...


Baca juga karya teman author yang lain ya, nggak kalah bagus dan menarik lho πŸ˜‰


*Judul: Pengantin kecil Alvaro


Author: Reesha Swee


*Judul: Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)


Author: Reesha Swee


*Judul: Berbagi Cinta: Selir Badass


Author: Dhevis Juwita


*Judul: Selir Rahasia CEO Casanova


Author: Irma Rahmawati


*Judul: Berbagi Cinta: Pesona Pembantu


Author: Wulandari


*Judul: Pemanas Ranjang Sang Majikan

__ADS_1


Author: Wulandari


__ADS_2