Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
163. Mulai parno akut


__ADS_3

🌸🌸


Ye-Jun melirik istrinya yang tengah memandang hasil foto USG anak mereka, pancaran bahagia itu melekat diwajah wanita ini. sungguh tak menyangka keduanya akan menjadi orang tua yang memiliki anak kandung yang mungil.


"Umi dan Abi pasti senang mendengar kabar ini" ucap Zoya tersenyum, mengingat kedua orangtuanya.


"Nanti tiba di rumah kita video call Umi dan Abi" ujar Ye-Jun


"Ide bagus. pasti mereka kaget mendengar kabar baik ini" ucap Zoya, menatap suaminya yang sedang menyetir.


Hening, Zoya terus mengukir senyum sambil mengelus-elus perut datarnya, pikirannya tengah berimajinasi tentang anaknya kelak.


"Hubby"


"Hm?"


"Pengen bakso beranak mercon yang jumbo" pinta Zoya merengek, tiba-tiba dirinya menginginkan makanan khas Indonesia itu. air salivanya hampir meleleh membayangi bakso jumbo yang didalamnya ada beberapa bakso kerikil dan cabe rawit merah yang menggoda.


"Kayaknya disini gak ada, Yang" pikir Ye-Jun


"Masa sih By? restaurant Indonesia gak ada juga ya?"


"Ada. tapi gak tau kalau ada bakso atau tidak"


"Hmmm, Hubby harus mencarinya sampai dapat" pinta Zoya penuh penekanan.


"Kalau gak ada?"


"Gak mau tau, harus dapat pokoknya" Zoya tetap memaksa. ngidamnya yang ini harus dituruti walau bagaimana pun caranya.


"Baiklah, nanti aku suruh anak buah mencarinya"


"No! harus Hubby! jangan orang lain" sergah Zoya, mengayun ke kanan kiri jari telunjuknya itu.


Dahi Ye-Jun berkerut, "Emang kenapa harus aku?"


"Karna ini permintaan dedek, harus papanya yang nyari" Zoya terkekeh, mengelus perut datarnya.


"Hhh .. Baiklah, Sayang. demi kamu dan dedek" Ye-Jun pun akhirnya pasrah, harus mencari letak penjual yang menjual makanan indonesia itu di tanah gingseng ini.


Mobil yang membawa sepasang suami istri muda yang tengah berbahagia ini akhirnya tiba di rumah. Ye-Jun dengan posesifnya, memapah sang istri memasuki kediaman mereka membuat Zoya risih dan menghindar. seperti orang tua sepuh saja dirinya diperlakukan.

__ADS_1


"Hubby, stop it! jangan lakukan itu. kamu memperlakukanku seperti nenek-nenek saja" gerutu Zoya, berlalu mendahului suaminya dengan jalannya yang normal. tidak seperti orang sepuh yang berjalan pelan dengan dipapah. πŸ˜‚πŸ˜‚


"Hhh ..." Ye-Jun menghembus nafas kasar, mengikuti sang istri yang berjalan sesuka hatinya.


"Pelan-pelanlah. bagaimana kalau lantainya licin terus kamu terpeleset" teriak Ye-Jun, suaranya menggema hingga menjadi pusat perhatian Bibi. namun Ye-Jun tak mempedulikan pandangan itu. matanya fokus menilik langkah Zoya.


"Hati-hati naik tangga" peringatnya lagi, kali ini tidak berteriak karna jarak mereka hanya dua meter dari belakang.


Zoya menoleh ke belakang, menatap suaminya.


"Iya ini hati-hati. jangan parno berlebihan, Hubby" ucap Zoya


"Baiklah,"


Zoya pun tersenyum, memundurkan langkahnya untuk menghampiri sang suami. lalu merangkul pergelangan tangan suaminya yang bawel itu.


"Ayo jalan" ajaknya dengan senyum semringai


"Dasar kamu" Ye-Jun mencubit hidung mancung istrinya yang menggemaskan.


Kini keduanya telah tiba didalam sangkar emas, tempat pembuatan dedek disetiap malam dan setiap waktu luang. sangkar yang menjadi tempat favorit kala lelah mendera. Zoya langsung memasuki kamar mandi, diikuti sang suami dibelakangnya.


"Hubby mau ngapain masuk?" tanya Zoya, menyelidik


"Orang mau ambil air wudhu kok" gerutu Zoya


"Yasudah buruan, kita sholat berjamaah"


"Ya"


Zoya pun mengambil air wudhu, Ye-Jun memerhatikan dengan intens. betapa bahagianya ia memiliki istri secantik ini bak bidadari surga, sifatnya yang elok laksana malaikat tanpa sayap. Ye-Jun mengulum senyum lebar, pandangannya kembali menatap perut datar yang sering ia jamah itu.


"By, hallo" Zoya menyadarkannya, menaik-turunkan telapak tangannya dihadapan wajah suami.


"Eh, u-udah siap?" tanya Ye-Jun, gelagapan.


"Udah. lamunin apa sih, By?"


"Gak ada. keluarlah. hati-hati"


"Hm"

__ADS_1


Kini giliran Ye-Jun yang mengambil air wudhu. setelahnya mereka pun segera melaksanakan kewajiban 5 waktu sebagai seorang muslim yang taat.


Ye-Jun menjadi imam untuk sang istri, walaupun baru pandai dan masih tahap belajar lebih dalam perihal agama, namun ia sudah mampu menjadi imam untuk sang istri. Zoya pun begitu, tetap menyuport suami dalam belajar, meluangkan waktu untuk membaca buku agama, sekaligus mendalaminya.


Setelah selesai sholat, Zoya pun membaringkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang. sehabis pingsan tadi membuat tubuhnya begitu cepat kelelahan walaupun kabar kehamilannya membuat tubuh itu lupa bila sedang kurang sehat.


"Tidurlah, pasti tubuhmu lelah sampai terpingsan tadi" suruh Ye-Jun


"Iya, By. seketika tubuhku kembali bugar mendengar kehamilanku. eh sekarang mulai terasa lelah" keluhnya


"Itu karna kamu terlalu semangat dan banyak bergerak makanya jadi cepat lelah. gak salahkan kalau suamimu yang tampan ini parnoan?"


"Hehehe, iya, By. tapi parno mu itu berlebihan lho. masa jalan doang harus dipapah, Ck!" gerutu Zoya terkekeh.


"Sudahlah! kalau bawel terus aku akan memakanmu!" ancam Ye-Jun, dirinya dalam posisi menyamping menghadap Zoya dengan tangan kanan yang menjadi penyangga kepalanya.


"Uh takut!!" ledek Zoya, memasang wajah yang sangat imut, membuat Ye-Jun menelan saliva menatap wajah imut sang istri.


"Meledek ya? sini kamu!" Ye-Jun menangkup tubuh sang istri, menggelitiki pinggulnya hingga Zoya tertawa terpingkal-pingkal diatas kasur itu. sungguh geli, ya tentu saja geli digelitikin di area pinggul, perut bahkan ketiak.


Karna terbawa suasana, Ye-Jun pun juga ikut tertawa ngakak, seisi kamar itu bukan lagi suara desahan namun telah berganti dengan tawa lepas dari mulut keduanya.


"Ah hahaha, sudah, By. aduh gelinya" Zoya meringis, masih dalam posisi tertawa menahan rasa geli itu.


"Huh sakit perut aku yang, makanya jangan meledekku" gerutu Ye-Jun, menghentikan aksinya dan kembali merebahkan tubuh di ranjang itu.


"Iya iya! hah! capeknya" nafasnya tersengal-sengal, kembali mengatur pernafasannya yang sesak setelah tertawa lebar.


"Tidurlah" suruh Ye-Jun, Zoya mengangguk, ia pun memeluk tubuh sang suami dengan erat, menghirup aroma maskulin yang menyeruak masuk kedalam hidungnya.


"Aku suka aromamu. aroma orang-orang di gedung tadi membuatku mual" Zoya mulai meracau, padahal Ye Jun baru saja ingin memejam mata.


"Besok harus pakai masker, untuk antisipasi"


"Iya, By"


"Tidurlah, aku ngantuk sekali" ucapnya, kembali memejamkan mata. sedangkan Zoya tak menyahut, ia masih asyik menghirup aroma wangi itu.


Hanya terdengar deruan nafas yang teratur di gendang telinganya, Zoya yang masih belum memejamkan mata itu, sejenak mendongak menatap wajah si pemilik tubuh yang ia peluk. mata yang terpejam, pria itu sudah tak sadarkan diri lagi dan pergi ke alam mimpi.


"Dasar, cepat amat tidurnya" gerutu Zoya, ia kembali mengerat pelukannya, berusaha memejamkan mata hingga akhirnya gadis itu tertidur.

__ADS_1


Zzzz ....


🌸🌸


__ADS_2