
πΈπΈ
Ketiga wanita itu membuka matanya tatkala mendengar suara seorang wanita dan riuhnya suasana diluar lift itu. mereka terkejut melihat banyaknya orang yang tampak heran. mereka pun segera bangun, berlekas pergi sambil menundukkan wajahnya karena malu. setelah semua orang tadi memasuki lift, tiga wanita ini bernafas lega bahkan sangat bingung.
"Malu banget" gerutu Soo Yun
"Perasaan tadi liftnya gak gerak, kok bisa tiba di lantai dasar ya" Aena bingung
"Entahlah kak, ayo kita pesan kamar" ajak Hayoon
"Tidak perlu! kita cabut aja. merinding bila harus disini apalagi menaiki lift itu" Soo Yun bergidik ngeri. mereka bertiga pun beranjak pergi meninggalkan Hotel itu dan segera menancap gas menuju Seoul.
Zoya dan Ye-Jun duduk berselonjor sambil menonton dan memakan cemilan yang mereka pinta pada pihak hotel, kali ini Zoya merasa lelah, tidak ingin untuk bercinta lagi.
Merasa bosan menonton, ia pun membaringkan tubuhnya dengan benar dan memejamkan mata. sejenak ia menatap suaminya yang tengah serius menonton televisi.
"Yang, kita masuk berita lho" ucap Ye-Jun yang masih fokus menonton.
"Sayang," Ye-Jun menatap kebawah tampak sang istri yang telah tertidur menghadap dirinya.
"Yaaaa tidur" gumamnya, ia pun memilih mematikan tv dan turut membaringkan tubuhnya hingga memeluk sang istri yang teramat ia cintai ini.
***
Pagi menjelang, dinginnya cuaca yang telah dituruni rintikan hujan, kini tengah menyambut hangatnya mentari dari atas sana. meninggalkan bekas air di dedaunan dan rerumputan yang tampak segar bugar. hangatnya pagi setelah dingin melanda, sepasang sosok pengantin baru tengah keluar dari lobi dan diikuti oleh dua pasang anak manusia yang tengah kasmaran.
Ye-Jun berlekas menaiki mobil yang telah dijemput anak buahnya, tampak Zoya tengah melambaikan tangannya pada sahabat yang turut pulang ke Seoul dengan mobil yang berbeda pula. Zoya pun memasuki mobil menyusul suaminya, hingga setelahnya mobil pun siap melaju memecah jalanan yang hening di pagi itu.
"Hubby, setelah ini aku masuk kampus gak yaa? kebetulan masuk siang" tanya Zoya bingung, ingin rasanya untuk kembali ke kampus setelah beberapa hari libur.
"Besok aja ke kampus, kita istirahat di rumah. dari hari pernikahan di Bandung lalu langsung kesini pasti sangat membuatmu lelah, apalagi dengan pergumulan kita" ucap Ye-Jun tersenyum seringai diakhir kata.
"Apaan sih! yaudah besok balik ke kampus" Zoya menurutinya, lagian benar juga ia sangat capek dan lelah dengan kesibukan selama beberapa hari ini.
__ADS_1
"Sepulang ini aku langsung ke lokasi syuting ya sayang, gak lama kok" ucap Ye-Jun sesaat keheningan terjadi. Zoya menatap suaminya, mengerutkan dahi pada pria itu.
"Ngapain kesana? apa gak rehat dulu?" tanya Zoya
Ye-Jun menghembus nafas kasar, "Waktu cutiku sudah habis, Sayang. Aku akan pulang cepat" jelasnya. Zoya pun manggut mengerti.
"Kamu beruntung hari ini tidak akan ku terkam, apalagi dirumah ada Aera yang menemani kamu" ujarnya setelah melihat sang istri yang tampak sedih.
"Benar juga, aku akan lepas dari pria ini untuk beberapa saat. aku juga merindukan Aera" bathin Zoya. Zoya mengangguk tersenyum menatap suaminya.
**
Dua jam lebih berlalu, kedua insan itu telah tiba di kediaman Hwan yang megah nan mewah. mereka disambut hangat kedatangannya oleh seluruh pelayan, menundukkan kepala sambil tersenyum ramah kepada Tuan dan Nona mudanya. begitu pun dengan dua sejoli itu, turut menunduk membalas hormat mereka.
Dua sejoli itu telah tiba di kamar Ye-Jun, ruangan yang sangat rapi dan terdapat banyak perubahan didalam sana. Ye-Jun tersenyum, semua perintah untuk anak buahnya telah diselesaikan dengan matang, yaitu membawa barang dan pakaian milik sang istri dari kediaman kontrakkannya.
"Hubby, kenapa ada meja belajar dan buku-buku ku?" tanya Zoya heran, mendekati tempat itu.
"Karna disinilah tempatmu lagi sayang, kamu bisa belajar disana" ucapnya
"Tentu saja itu tugas anak buahku. merekaa juga memberikan uang kontrakkan 5x lipat" jawabnya bangga.
"Hah??? banyak benar"
"Begitulah, ayo kita ke ruang ganti" Ye-Jun menarik tangan sang istri untuk menuju ruang ganti yang didalam lemari sudah berjejeran pakaian lama sang istri dan ada pula pakaian yang baru. membuat Zoya terperangah dan takjub.
"Banyak banget, ini masih baru lho"
"Ya, memang. anak buahku yang memborongnya" ucap Ye-Jun tersenyum, sembari melipat tangannya didada dengan gaya cool pria itu.
"Kan sudah dibilang, aku gak suka koleksi" gerutunya
"Tapi usahakanlah di pakai semuanya"
__ADS_1
"Ya, baiklah"
Sudah cukup berdebat, Ye-Jun pun berpamitan pergi dengan sang istri. ia harus kembali pada dunianya, dan membiarkan Zoya untuk tetap di kamar.
Zoya merasa bosan di kamar itu, ia pun memilih keluar berniat untuk membantu Chef memasak. kebetulan hari sudah siang, pasti para Chef sedang berkutat di dapur.
"Ada yang bisa saya bantu, Paman?" tanya Zoya yang tiba-tiba telah memasuki area dapur. salah satu dari mereka menoleh ke belakang, terkejut akan kedatangan nona barunya.
"Eh, eh Nona, jangan kesini. nanti Tuan marah" Chef itu tampak gelagapan.
"Tidak kok, rumah juga sepi kelihatannya" ucap Zoya.
"Tapi sama saja, Non. Orang rumah tidak boleh ikut campur dengan pekerjaan kami" gerutunya.
"Tapi Zoya suntuk, Paman. Aera sekolah kata Bibi tadi" ucapnya sendu, tak ada teman disini. apalagi ini rumah mertuanya, bukan rumahnya sendiri yang bebas mau ngapain termasuk malas-malasan. sedangkan tinggal di rumah orang, ia merasa segan bila harus berdiam diri di kamar.
"Tapi--"
"Paman kelamaan. Zoya akan bantu apa pun termasuk cuci bekas alat masak" ucapnya mulai memungut alat yang sudah kotor dan bersiap mencucinya.
"Nona, bagaimana kalau Tuan marah? kita akan di pecat" timpal yang lainnya. kebetulan di ruang itu ada dua chef dan Zoya.
"Saya yang akan menjelaskannya. aku mohon yaa, tidak mungkin aku bermalas-malasan" ujar Zoya, kembali mencuci alat dapur.
Pada akhirnya dua chef itu membiarkan Nonanya untuk melakukan apa saja. mencuci alat kotor, melihat cara mereka masak, bahkan membantu. Zoya merasa senang sekali, tak luput ia juga mengajak mereka mengobrol agar suasana tidak canggung.
Tak berapa lama, semua sajian makan siang telah selesai, Zoya mengambil alih untuk membawanya ke meja makan. awalnya para Chef takut bila Nonanya ketahuan, tapi Zoya masa bodoh dan bersikeras ingin melakukannya.
Disaat Zoya tengah sibuk menyajikan diatas meja, tiba-tiba Tuan Hwan ingin menaiki tangga dan tanpa sengaja melihat menantunya tengah membawa sajian makanan siang ke atas meja dengan tubuh yang dikenakan celemek.
"Zoya," sapa Papa Hwan.
"Eh, Papa" Zoya menghampiri Papa Hwan lalu menyalimi punggung tanganny.
__ADS_1
"Kamu ngapain?"
πΈπΈ