
πΈπΈ
Kini giliran Sinhye untuk maju ke depan, mengerjakan soal yang diberi oleh bu dosen yang dingin dan berwajah datar itu. Sinhye pun memerhatikan soal yang sedang ditulis, sontak ia pun tak mengerti akan jawaban dari soal itu. Ia pun memutar otaknya, bekerja sekeras mungkin untuk mengingat apa rumus soal tersebut. Sinhye pun mengambil spidol yang diberikan bu dosen, ia mulai mengerjakan dengan asal-asalan, entah apa yang dipikirkannya, otaknya berkecamuk mengerjakan soal itu.
Bu dosen mengernyitkan dahinya, tentu saja ia heran akan jawaban asal itu. Bu dosen yang tidak suka bertele-tele itu pun segera menyuruh Sinhye untuk kembali duduk.
"Duduklah, hukumanmu menguasai semua rumus dalam setengah jam. dan setelah itu kamu akan saya panggil lagi" ujar dosen tersebut. Sinhye pun mengangguk, kini ia harus fokus menguasai rumus daripada menatap kebencian pada geng Zoya. Tentu saja mereka semua tau konsekuensinya bila tidak bisa mengerjakan untuk kedua kali, yaitu harus berjalan seperti katak ditengah-tengah halaman kampus. Hukuman itu sungguh membuat siapa saja merasa malu termasuk geng Hayoon.
Kini giliran Hayoon dan Jinhyu untuk mengerjakan soal masing-masing dalam satu papan tulis. untung saja mereka berdua telah menghafal rumus-rumus sebelum dipanggil. sialnya, Hayoon pun bingung akan soal yang diberikan. sontak ia pun lupa akan rumusnya membuat ia berfikir keras untuk memutar memorinya kembali. Sedangkan Jinhyu, dengan gampangnya ia mengerjakan soal tersebut dengan begitu mudah. Hayoon meliriknya, sedikit tercengang melihatnya begitu cekatan.
"Jinhyu! rumus ini apa? aku lupa" bisiknya. Jinhyu pun melirik soal milik Hayoon, seketika ia pun ingat akan rumusnya.
"Aku tau" sahutnya dengan suara yang pelan.
"Apa?" tanya Hayoon.
"Ehem!! silakan kembali duduk, Hayoon! kau harus mengulang lagi rumus-rumus itu. kuasai semuanya" ternyata Bu dosen pun memerhatikan mereka berdua sedari tadi karna Hayoon belum juga menulis. Hayoon pun terkejut, padahal satu langkah lagi ia akan tau rumusnya dari Jinhyu.
"Sial!" gumamnya didalam hati.
"Baik" ucapnya pada Bu dosen dan segera melangkahkan kaki menuju bangkunya sembari berdecak kesal.
Jinhyu pun telah selesai dengan tugasnya dan itu dinyatakan benar. ia pun berjalan menuju bangku dengan perasaannya yang begitu bahagia tak terkira karna kini ia kembali bersantai seraya menonton drakor didalam ponselnya. Sekarang giliran Zoya, dengan cekatan ia dapat menyelesaikan soal itu dengan mudah. Tidak perlu heran, sebab Zoya adalah mahasiswi terpandai dikelas itu. Wajar saja karna Zoya selalu belajar dan mengulang pembelajaran sebelumnya dalam waktu senggangnya. Bu dosen pun tersenyum melihatnya, untuk pertama kalinya ia tersenyum kepada mahasiswa yang membuat hatinya luluh dan senang.
"Bagus Zoya, kamu memang yang terbaik bisa menyelesaikannya dengan cepat" puji bu dosen seraya tersenyum.
"Ini semua karna ibu kok, terimakasih ya bu" ucap Zoya. Bu dosen pun mengangguk lalu menyuruh Zoya untuk kembali duduk.
__ADS_1
Disisi lain, Hayoon yang memerhatikan mereka pun merasa tidak suka dan mengomel tidak jelas.
"Kebanyakan drama!" gumam Hayoon menatap sinis.
"Belajarlah Yoon, atau kau akan berjalan kodok ditengah lapangan" ucap Sinhye yang tengah fokus belajar.
"Ah sungguh membosankan" gerutunya mengotak-atik buku ditangannya.
Hingga satu jam kemudian, kelas kedua pun telah selesai dengan lancar tanpa ada yang terkena hukuman untuk ketiga kalinya. Semua mahasiswa bersiap-siap untuk keluar dari kelas itu, begitu pun Zoya and the gengs.
Kini mereka berempat telah berada di parkiran, Cristella dan Ayaana celingak-celinguk berharap Oppa Hwa Ye-Jun mendatangi mereka, namun yang dicari pun tak nampak membuat mereka berdua berdesah, menghembuskan nafas kasar. Zoya memerhatikannya, entah kenapa mereka berdua tampak frustasi.
"Kalian kenapa?" tanya Zoya.
"Oppa, kirain oppa akan kesini lagi" ujar Ayaana.
"Iya kali. ayo ah pulang" ajak Cristella. Ayaana dan Zoya pun mengangguk, kini mereka pun memasuki mobil masing-masing. Zoya memasuki mobil Cristella, sedangkan Ayaana bersama Kim Joong.
Mobil pun meninggalkan pekarangan kampus itu, memecahkan jalanan yang hiruk piruk teramat memekikkan karna banyaknya anak kampus yang turut meninggalkan kampus itu.
Beberapa menit kemudian, Mobil Cristella telah tiba dikediaman Zoya. Zoya melambaikan tangan kepada mereka semua, berdiri tegap seraya memandang mobil itu hingga menghilang dari pandangannya. Kini Zoya pun memasuki rumah untuk beristirahat. Hari ini begitu melelahkan membuat Zoya enggan membuka gamisnya dan memilih membaringkan tubuh diatas tempat tidur tunggal itu.
Zoya menatap langit-langit kamarnya, ia seperti memikirkan sesuatu mengingat beberapa hari lagi keluarganya akan datang ke Seoul. Hingga bentuk bibir pun melebar, menampakkan senyum manis dengan ukiran gigi yang berjejer rapi. Zoya tersenyum karna mendapatkan ide, ia berniat untuk membuat kejutan padaa keluarganya nanti.
Ting tong, Ting tong,
Tiba-tiba bunyi bell pun terdengar digendang telinga milik Zoya. lamunan tentang rencananya pun seketika buyar oleh kedatangan tamu yang memencet tombol bell itu. Segera Zoya bangkit dari baringnya, merapikan jilbab seraya berjalan menuju ruang tamu untuk menyambut tamu siapa yang mendatanginya.
__ADS_1
Tok tok,
"Iyaaaa" sahut Zoya dari dalam. ia pun memutar kunci lalu membuka pintu utama rumah itu.
Sontak Zoya terkejut, tercengang, terpelongo, terdiam dan terheran. Semuanya bercampur menjadi satu melihat tamu yang datang itu. Zoya pun tersadar dari lamunannya menatap orang itu, ia pun kembali menunduk dan menetralisirkan perasaannya yang begitu aneh ia rasakan.
"Ka-kamu, Ada apa kemari?" tanya Zoya pada seseorang itu yang memiliki tubuh tinggi, badan seperti atletis walau sedikit kurus dan tentunya berwajah tampan dan mengenakan topi. Siapa lagi kalau bukan Hwan Ye-Jun, si public figure yang sedang bucin pada gadis berkerudung syar'i itu.
"Hai Asyifa, boleh aku masuk?" tanyanya sopan.
"Maaf, disini hanya kita berdua dan tidak boleh dua orang yang bukan muhrim berduaan didalam rumah" ujar Zoya menolak.
"Ohya? tapi disini bebas mau menerima tamu siapa saja walau antara pria dan wanita" ucap Ye-Jun.
"Maaf, aku tidak berpegang teguh pada itu. ada apa kesini, Tuan?" tanya Zoya tanpa memandang wajahnya, hanya menatap ke arah lain.
"Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin memberikan ini padamu" ucap Ye-Jun memberikan sebuah kartu milik Zoya. Zoya pun semakin terperangah dibuatnya, ia menatap Ye-Jun dengan tatapan heran.
"Bagaimana bisa KTP saya ada bersama Tuan?" tanya Zoya heran.
"Asyifa, aku senang bila kau memandang wajahku yang tampan ini" gumam Ye-Jun didalam hati. Ia tampak melamun menatap intens wajah cantik nan manis itu.
"Ehem!! hallo" Zoya pun jadi salah tingkah dibuatnya karna Ye-Jun terus memandangnya. Sontak Ye-Jun pun tersadar dari lamunannya dan ia pun jadi ikut salah tingkah seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hmm, kamu ngomong apa?"
πΈπΈ
__ADS_1