Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
161. Zoya pingsan


__ADS_3

🌸🌸


Duaar!!


Jreng jreeeng! πŸ˜‚


Ye-Jun tersenyum seringai menatap seluruh mata yang tengah melotot, kaget bahkan mulai riuh dengan pembicaraan mereka yang tentunya menjelek-jelekkan dua calon mempelai itu. yang satunya bodoh, yang satunya berhati iblis.


Mama Nam begitu marah dan merasa dipermainkan, juga dipermalukan didepan umum. Ia menoleh menatap kekasihnya, mengepalkan tangan dan melangkahkan kakinya dengan cepat.


Plak!!


Satu tamparan berhasil ia layangkan. pria itu tak berkutik karna kedua tangannya sudah ditahan oleh anak buah anaknya. begitu juga Soo Yun. sedangkan Aena menatap tak percaya sahabatnya itu, tubuhnya terduduk seolah ia yang paling shock daripada ibunya.


"Aku juga bodoh" batin gadis itu.


"Kamu juga Soo Yun! tante menganggap kamu sudah seperti anak sendiri bahkan mengijinkan kamu mendekati putraku. tapi ternyata begini ulah rencana kalian kepada keluargaku!" Mama Nam marah besar, hatinya bergemuruh hebat dan bersiap melayangkan tamparan yang sama kepada ayahnya.


"Maaf tante, maaf" Soo Yun menangis, Mama hanya bisa mengepalkan tangannya. namun dia geram melihat wanita iblis ini, Mama pun menarik rambut panjang wanita itu.


"Aaaw, Tan" rintihnya.


"Masih mau mama bersama iblis itu?" tanya Ye-Jun, Mama menoleh pada anaknya, mendekatinya sembari menggelengkan kepala.


"Tidak, hiks hiks, maafkan mama, Nak" mama berhambur memeluk anak sulungnya, menangisi kebodohannya pada putranya itu. hingga beralih pada suaminya, memeluknya erat dan mengiba mohon ampun pada pria yang setia bersamanya walau dirinya sudah berselingkuh.


"Papa, maafkan Mama, mama begitu bodoh, hiks hiks. mama mohon maafkan mama"


"Ra," tangannya juga menyambut putri bungsunya itu. Papa Hwan begitu tak tega, setetes air mata juga keluar dari pelupuk matanya.


"Papa sudah maafkan" ucap lirih Papa, mengelus punggung istrinya.


"Ma, apa mama sudah memberikan surat warisan itu padanya?" tanya Ye-Jun, menghentikan tangisan ibunya.


"Be-lum. tapi berada dirumah pria itu. oh tidak!!" Mama mulai histeris, merasa takut bila surat itu telah diambil oleh pria brengsek itu.


"Tenang saja, Ma. ini suratnya" Ye-Jun menunjukkan surat itu kepada sang Ibu. Mama bernafas lega, namun sejurus itu Ye-Jun langsung merobek kertas tersebut dengan tatapannya yang dingin.


"Ke-napa--"


"Agar mama tidak berselingkuh lagi dan mudah diperdayai seseorang! makanya aku akan merobek surat ini" ucap Ye-Jun enteng.


"Itu tidak akan terjadi lagi"

__ADS_1


"Siapa tau"


Ye-Jun beralih ke semua orang para hadirin, menyuruh mereka untuk segera pergi dari ruangan itu. mereka menurut, dan berhambur keluar termasuk pendeta. hanya sisa keluarga Ye-Jun dan dua iblis itu.


Diluar, para tamu langsung dihadapkan oleh beberapa orang berjas hitam, tentu saja itu adalah anak buah Ye-Jun yang bertugas memeriksa ponsel mereka dan menghapus rekaman video apabila ada yang merekam.


"Ponsel"


"Untuk apa?"


"Dilarang merekam kejadian didalam. apabila terdapat, kami harus menghapusnya"


"Ba-baiklah"


Dan mereka semua pun langsung menyerahkan ponsel tersebut, anak buah Ye-Jun menghapus video itu yang sempat direkam. agar kejadian ini tidak disebarkan oleh pihak manapun. Ya, tentu saja pencitraan Nyonya Nam dan Nona Aena tidak hancur. hanya saja dua iblis itu yang akan hancur nantinya.


Kembali kedalam ruangan, Ye-Jun langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa dua iblis itu kedalam tempat penyekapan yang tentunya sangat gelap dan tanpa cahaya sekalipun.


"Ye-Jun, lepaskan aku! ini semua rencana papa! bukan aku!" SooYun meronta-ronta ingin dilepaskan.


Ye-Jun memutar bola mata jengah, enggan mendengar teriakan wanita itu. Zoya menghampiri suaminya, mengelus lengan itu seolah untuk menenangkannya.


"Zoya,"


"I-iya, Tante" Zoya menoleh, menunduk wanita tua itu.


"I-iya, Ma" Zoya masih saja tetap menunduk, Mama Nam pun langsung memeluk gadis itu, sungguh ia merasa sangat bersalah sudah membencinya bahkan membiarkan Soo Yun untuk merebut putranya dari tangan gadis ini.


"Maafkan Mama, nak" ucapnya lirih, air mata kembali jatuh membasahi jilbab Zoya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ma. mama tidak salah" ujar Zoya, menenangkan wanita itu.


Sedangkan Aena masih terduduk ditempat yang sama, menatap datar tanpa ekspresi melihat Ibu dan kakak iparnya. Aena hanya diam membeku, hatinya mencelos merasa bersalah juga pada wanita itu. namun ia masih gengsi untuk mengakui kesalahannya.


"Aena," Aena menoleh pada ayahnya.


"Kamu tidak menyukai Papa? apa kamu kecewa mamamu tidak menikah dengan pria itu?" tanya Papa lirih.


Sontak saja pertahanan gengsinya runtuh seketika. Aena beranjak berdiri lalu berlari kecil menghampiri Papanya dan langsung memeluk tubuh renta yang masih bugar itu.


"Hiks hiks hiks, Pa ... Maafkan Aena sudah jadi anak tak tau diri, maafkan Aena membiarkan Mama bersama pria itu. Aena sayang sama Papa, maafkan Aena. hiks hiks hiks" tangis yang tertahankan seketika pecah dipelukan sang Papa.


"Sudahlah, kalian hanya khilaf dan gila harta" ucap Papa Hwan.

__ADS_1


Uwek!!


Uwek!!


Zoya memuntahkan isi perutnya di tempat itu. rasa yang tertahankan sedari tadi akhirnya pecah juga sebab sudah tak kuat menahan mualnya. akibat mencium beragam aroma tubuh para tamu membuat perutnya tidak enak. dengan sekuat tenaga wanita itu menahan rasa yang bergejolak.


Ye-Jun begitu khawatir, ia langsung mengelus punggung istrinya yang teramat ia cintai. seketika muntah itu terhenti, Zoya menatap semua orang dengan wajahnya yang pucat dan sayu.


"Zoya, kamu gak apa-apa nak?"


Deg!!


Zoya pun akhirnya pingsan dipelukan sang suami.


**


"Dokter! dokter!!" Ye-Jun berteriak hebat di lobi rumah sakit itu. suaranya yang menggema, menjadi pusat perhatian semua orang. Para suster mendatanginya dengan membawa brankar, langsung saja Ye-Jun menaruh tubuh tak berdaya istrinya itu ke atas brankar.


Ye-Jun dan sekeluarga berlari mengikuti brankar yang diseret dengan cepat itu. kini Mama Nam sudah tak mengenakan gaun pengantin lagi. ia telah mengganti pakaiannya saat berada di mobil menuju perjalanan kerumah sakit.


"Tunggu diluar ya, kami akan memeriksanya" ucap Suster, Ye-Jun mengangguk.


Mereka pun menunggu diluar, menatap pintu ruangan itu.


"Apa dia sedang sakit?" tanya Mama


"Tidak, Ma. kadang dia memang suka mual" jawab Ye-Jun, wajahnya frustasi.


"Mama rasa--


Ucapan mama terhenti sebab dokter menghampiri mereka, sontak saja Ye-Jun dengan sigap beranjak berdiri menghadap dokter itu.


"Kamu tau keadaan istrimu?" tanya dokter


"Tentu saja tidak, makanya kami bawa kesini" ucap Ye-Jun, merasa pertanyaan itu sungguh konyol.


"Apa dia pernah mual? atau sesuatu yang berubah pada dirinya?" tanya Dokter itu.


Ye-Jun menghembus nafas kasar, sungguh dokter ini bertele-tele.


"Jawablah dengan tenang" bisik Mama Nam.


"Pernah, beberapa kali tapi tidak sering. perubahannya dia tidak suka makanan manis, padahal sebelumnya dia sangat menyukai itu" jawab Ye-Jun dengan tenang.

__ADS_1


"Sudah saya duga. selamat ya, istrimu hamil"


🌸🌸


__ADS_2