Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
175. Kehebohan teman Ye-Jun


__ADS_3

🌸🌸


Selesai sholat, Ye-Jun langsung menghampiri teman-temannya yang bertamu pada sore itu. sedangkan Zoya, menatap cara ummi memandikan putranya. Zoya belum bisa memandikan bayi yang baru lahir itu. dirinya belum berani mengambil alih seutuhnya pada makhluk kecil tak berdaya, apalagi tulangnya rapuh dan Zoya sangat takut bila tubuh anaknya akan terkilir jika ia yang mengurusnya. Selagi ada Ummi, Ummi akan membimbing putri bungsunya itu hingga Zoya benar-benar mahir.


"Nanti sudah agak lima hari, kamu harus coba mandikan sendiri" tutur Ummi, menyabunkan tubuh cucunya


"Tapi umi temanin" pinta Zoya


"Tentu saja nak"


"Dulu, apa kak Zura sama sepertiku?" tanya Zoya, mengingat Ibunya dulu yang harus menempati kediaman kakaknya di Jakarta selama beberapa hari.


"Iya, dia juga takut menyentuh Auzar" ucap Ummi terkekeh


"Ppfffft!! kalau Ummi?" tanya Zoya


"Ummi berusaha walau ragu. tentunya ditemani mertua Ummi. dia sangat sabar sekali" ujar Ummi,.memorinya kembali nostalgia pada 23 tahun yang lalu.


"Ummi hebat" puji Zoya, lalu Ummi kembali fokus menyiram tubuh Dzaka yang menegang merasakan sensasi hangatnya air mandi.


Ummi menyuruh anaknya untuk mengenakan pakaian pada Dzaka, Zoya melakukannya dengan pelan dan hati-hati, setelahnya menaruh bayi itu diatas bedong dan meliliti tubuhnya. Zoya berhasil, dirinya sangat gembira sekali.


"Berhasil, Mi!" girang Zoya, mengusap keringat yang menempel di dahinya.sungguh mengurus bayi yang baru lahir begitu menguras tenaga wanita itu.


"Ya Allah, Nak, sampai berkeringat pula" gerutu Ummi


"Hehhehe, namanya pertama kali, Mi" ucap polos Zoya sembari terkekeh. gadis itu pun mengambil bayinya yang sudah tak memejamkan mata lagi.


Di ruang tamu, Ye-Jun tengah bercengkerama bersama teman-temannya. wajah pria itu masih dingin, namun masih tetap meladeni mereka.


"Ayah baru kok wajahnya datar amat" ledek salah seorang teman sesama aktor


"Apa sih! aku kesal sama kalian" keluh Ye-Jun


"Wooow! kenapa kami?" timpal yang lainnya.


"Tidak ada"

__ADS_1


"Ayolah sob! berikan senyuman manismu pada kami"


Ye-Jun tersenyum kecut,


"Jadilah, daripada enggak. ohya, mana istrimu? lama sekali, ck!"


"Sabarlah, kau menanti isteriku disaat suaminya masih ada" gerutu Ye-Jun


"Weleeeeh!! baper pula kawan ni! ku tunggu jandanya ya" temannya menggoda Ye-Jun, membuat Ye-Jun kesal dan melemparkan bantal sofa pada temannya.


"Shit!"


"Hahahahaha! sudahlah Jun, tentu saja kami ingin melihat bayimu" ucap salah seorang temannya


Panjang umur! yang dinanti pun akhirnya datang menemui tamu-tamunya. Zoya dan baby Dzaka, menghampiri om-om tampan teman Babanya. ditemani Ummi yang turut menghampiri mereka.


"Ibu, salam" ucap teman-teman menantunya, menyalimi Ummi dengan penuh rasa sopan dan hormat.


"Salam juga" balas Ummi, membiarkan tangannya disalimi para lelaki itu.


"Hai, Zoya" hanya menyapa, tanpa menyalimi atau menyentuh tangan istri sahabatnya itu. Zoya hanya tersenyum manis pada mereka. sedangkan Ye-Jun memperhatikan mereka dengan tatapan membunuh kalau berani menyentuh sang istri yang sedang ia rangkul itu.


"Dzaka besok kalau udah besar mau jadi apa?" tanya pria yang menggendong bayi itu


"Mau jadi aktor kayak om" jawab yang lainnya dengan suara khas bayi


"Enggak-enggak! aku mau jadi penyanyi kayak Oma Nam" timpal yang lainnya


"Mau jadi boyband? nanti main sama anak om yaa" ucap om yang menggendong.


"Anakmu? married aja belum" ucap teman di sebelahnya


"Tidak mesti married, sekarang aku bisa memberikannya teman dari wanita yang ku tiduri" ucapnya


"Ehem!" Zoya berdehem, tenggorokannya terasa kering tatkala telinganya menangkap ucapan itu. Zoya sangat mengerti arti perkataannya. sungguh miris sekali, mau buat anak bersama wanita yang ditiduri? dan tanpa menikah. begitulah kalau tinggal di negara orang ini, hukum syariat islam tidak berlaku. ya iya, disini islam adalah minoritas, bisa berbuat seenak jidat seperti orang barat di belahan bumi sana.


"Sayang, minum dulu" Ye-Jun memberikan segelas jus jeruk untuk istrinya. Zoya meraih, meneguk jus itu.

__ADS_1


"Temanmu gak ada akhlak, masa kasih teman untuk Dzaka sama perempuan yang-- ah ntahlah" bisik Zoya, menatap sengit pada pria itu


"Itu hal biasa" ucap Ye-Jun


"Terus, kamu juga mau melakukan hal biasa itu sama wanita lain? apalagi aku sedang masa nifas!" gerutu Zoya, masih berbisik. namun emosinya kembali mencuat.


"Eh eh bukan gitu, itu kan mereka bukan aku. aku cukup bersamamu saja. nanti malam kita akan mengulangi yang tertunda tadi ya" bisik Ye-Jun tersenyum seringai


"Apa!" Zoya reflek mencubit perut suaminya. membuat Ye-Jun merintih kesakitan menahan perihnya cubitan setan dari sang istri.


"Aduuuh!!" rintih pria itu meringis. sontak mereka semua yang fokus pada Dzaka, menolah pada Ye-Jun


"Kau kenapa, Jun?" tanya temannya


"Enggak, kalian, bawa sini anakku!" pinta Ye-Jun, mengusap perutnya yang masih perih lalu mengulurkan kedua tangan untuk menyambut bayinya itu. sudah cukup lama bersama mereka, ia rasa.


"Apa wartawan sudah kesini?" tanya salah seorang temannya


"Belum. ku rasa mereka dilarang buat keributan disini" jawab Ye-Jun


"Iya pula. secara rumah kalian berada disini. sangat terpencil dan terjaga sekali. kami bisa masuk karna diberi ini sama tante Nam" menunjukkan sebuah kartu akses tanda berhak memasuki lingkup lingkungan disini


"Kalian ini! bagaimana bisa Mama memberikan kartu itu?" tanya Ye-Jun terperangah


"Tentu saja kami pinjam. sebelum kesini, kami sudah datang duluan tapi malah disergah sama securitynya. katanya sih harus memiliki kartu akses yang dipegang oleh keluarga pemilik rumah disini" jelas yang lainnya. Zoya dan Ye-Jun pun mengangguk paham.


Zoya pun juga begitu, meminjamkan kartunya kepada sahabatnya agar bisa memasuki komplek ini. tentu saja berlaku untuk satu kendaraan. dan kartu itu hanya diberi kepada Zoya, Ye-Jun, Papa Hwan dan Mama Nam.


"Sungguh malang sekali kalau saja wartawan berusaha untuk kesini namun gagal" Ye-Jun terkekeh


Wajar saja area kediamannya sangat sepi, dan udaranya pun sangat bersih juga segar. hanya keluarga pemilik rumah yang bisa memasuki area ini dan tentunya minim sekali kendaraan memasukinya.


"Yasudah kita pulang dulu ya" pamit mereka


"Baiklah, kembalikan lagi kartu itu pada Mamaku!!" peringat Ye-Jun, bisa bahaya kalau mereka yang pegang.


"Ya ya percayalah padaku" ucapnya, kemudian mereka berpamitan pada Tuan rumah lalu berbondong-bondong memasuki mobil.

__ADS_1


Setelah kepergian mereka semua, Zoya dan Ye-Jun memasuki kediaman mereka, bersama bayi yang tengah tertidur dengan lelap itu.


🌸🌸


__ADS_2