
πΈπΈ
"Huh, ngusir!" gerutu Ye-Jun, lalu menyodorkan tangannya untuk disambut sang istri. Zoya yang mengerti, langsung mengecup punggung tangan itu.
"Anak pintar! aku pergi dulu, Assalamualaikum" pamit Ye-Jun, tak lupa pula mengecup kening sang istri. lagi lagi Zoya dibuat malu, pipinya merona merah menatap semua orang yang melihat keromantisan mereka.
Seperginya Ye-Jun, para sahabat pun langsung mendekati Zoya, menggodanya hingga membuat gadis itu semakin malu.
"Ciee, sweet banget" goda Cristella, menduduki tubuhnya disamping Zoya
"Kami jadi baper nih gara kamu, Zo" gerutu Ayaana yang turut memerhatikan mereka sedari tadi.
"Makanya cepatan nikah" ledek Zoya, menatap Ayaana dan Kim Joong secara bergantian.
"Entar deh lulus kuliah" ucap Kim Joong, membuat Ayaana mencebik kesal.
"Secepatnya lebih baik, tengok tuh pacarmu ngambek" ledek Zoya terkekeh.
"Hmmm, tidaklah" elak Ayaana.
"Guys, rasanya nyaman sekali ya gak ada mereka lagi" ucap Cristella tersenyum senang menatap bangku bekas yang dipakai oleh geng Hayoon. kini telah diganti oleh orang lain.
"Benar banget, gak ada musuh kita lagi tau" timpal Ayaana
"Tapi gak seru juga sih gak ada teman ribut" sambung Zoya terkekeh, kadang merasa kasihan pada Hayoon yang menjadi korban kejahatan kakak sepupunya. Gadis itu mesti pindah ke Universitas lain bersama gengnya, agar tidak berurusan lagi dengan Zoya. apalagi mengetahui gadis itu tengah mengandung, membuat Ye-Jun harus memaksa pihak kampus untuk mengeluarkannya. Ya, Ye-Jun tahu bila istrinya itu punya musuh di kelas.
"Hmmm, doyan banget sih lihat muka masam dia" gerutu Cristella
"Gak gitu lho, Cris .. pengen aja lihat wajah mereka yang kesal karna apa yang diinginkan gak terwujud" timpal Ayaana terkekeh. satu server sekali dengan pemikiran Zoya.
"Nah itu benar"
"Iya pulak. hahahaha"
__ADS_1
Deruan hentakan high hells ke lantai menuju kelas, terdengar nyaring di gendang telinga setiap pemiliknya. semua Mahasiswa yang sibuk mengobrol atau sibuk dengan dunia masing-masing, sontak merapikan posisi duduk mereka dengan teratur. Hingga dosen wanita yang seusia Mama Nam pun memasuki ruangan itu. wajahnya yang datar, tatapan yang dingin, menatap mereka satu persatu. sebagian dari mereka hanya bisa menelan saliva dengan kasar.
"Baiklah, selamat pagi semuanya" sapa Bu Dosen
"Pagi!!" sahut mereka semua.
Hingga materi pertama pada pagi itu pun dimulai dengan hikmat dan penuh konsentrasi yang tinggi.
**
Beberapa bulan kemudian, tidak terasa perut Zoya sudah membesar. usia kandungan sudah memasuki sembilan bulan. sungguh tidak sabarnya untuk menjumpai anak pertama mereka, malaikat kecil yang selalu dinanti banyak orang. Pagi ini Zoya tengah jalan pagi bersama Ye-Jun, yang selalu setia bersamanya diwaktu luang.
"Dedek makin berat yang?" tanya Ye-Jun, meringis iba melihat beban sang istri yang mengandung anaknya.
"Begitulah, By. namanya juga sudah tumbuh besar. tapi dedek enteng kok, iya kan nak?" ucap Zoya, lalu berbicara pada janinnya.
"Kasihan aku melihatmu, harus menahan beban dedek"
"Apa sih By, ini sudah kodrat wanita untuk hamil dan melahirkan. kami sebagai wanita malah sangat senang dan bahagia bisa mengandung"
"Hhh ... ya enggaklah, By. mana mungkin aku marah hanya karna dedek, kuliahku terhenti sebentar. kamu ada-ada saja" gerutu Zoya terkekeh. sungguh suaminya ini menggemaskan sekali.
"Syukurlah, ayo kita balik. udah hampir setengah jam kita berjalan. balik pulang juga butuh setengah jam lagi" gerutu Ye-Jun
"Ya sudah, Ayo"
Kedua calon orangtua muda ini pun kembali berjalan pelan menuju kediaman mereka. jalan kaki dengan kaki telanjang, membiarkan telapak kaki langsung menyentuh aspal dan merasakan hangatnya dari pancaran sinar mentari. katanya bagi ibu hamil, sangat bagus dibawa jalan kaki pada pagi hari, untuk merangsang jalan yang mudah bagi bayi saat melahirkan nanti.
"Hubby, Ummi jam berapa sampai nanti?" tanya Zoya, disela berjalannya
"Nanti jam 10, Yang" jawabnya.
Ya, sebentar lagi Ummi akan tiba di Seoul untuk menjenguk, sekaligus menemani putrinya yang tengah mengandung tua. Zoya yang meminta akan kehadiran ibunya, sudah cukup lama wanita itu tidak bersua dengan sang ibunda.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Zoya dan Ye-Jun tiba di istana cinta mereka. Istana yang akan menjadi rumah pertama untuk anak-anak mereka. Istana yang menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecil itu, dan istana itu pula menjadi kediaman mereka hingga tua nanti. Zoya memutuskan untuk mengikuti sang suami, dan menempati Kota Seoul untuk selama-lamanya.
"Tuan, sarapan pagi sudah siap" ucap Bibi, menyapa mereka saat Ye-Jun melewati ruang tamu.
"Baik, Bi. kami mandi dulu" ucap Ye-Jun. mereka pun memasuki kamar sementara yang terletak di lantai dasar. meninggalkan kamar utama untuk sementara demi sang istri yang tengah hamil tua. Ye-Jun tidak ingin bila nanti istrinya bolak balik menjelajahi tangga, pikirannya langsung traveling bila terjadi yang tidak diinginkan.
"Hubby mandilah dulu, aku pengen duduk dulu" suruh Zoya
"Gak mau mandi berdua denganku?" tanya Ye-Jun, dengan tatapan yang sensual.
Bug!
Zoya melemparkan bantal ke arah suaminya, untung pria itu dengan sigap menangkap bantal tersebut.
"Yang ada malah kunjungi dedek lagi! capek tau, tadi malam udah" gerutu Zoya.
Sedangkan Ye-Jun terkekeh diambang pintu itu.
"Awas nanti malam" ancam Ye-Jun, lalu menutup pintu kamar mandi tersebut.
"Huh, pria itu! rajin sekali kunjungi dedek" gerutu Zoya
Setelah sarapan pagi selesai, Zoya dan Ye-Jun menghabiskan waktu pagi di belakang rumah, menikmati alam hijau yang membentang, udara yang masih segar beradu ruang untuk memasuki paru-paru si pemiliknya. sangat sejuk sekali.
Zoya menduduki tubuhnya di tepi kolam renang, membiarkan kakinya yang berayun-ayun menyentuh air kolam yang menyejukkan. rasanya ingin menyebur, namun sang suami lagi-lagi melarangnya.
"By, kangen teman-teman" keluh Zoya, menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. pandangannya jauh kesana memikirkan teman-temannya itu.
"Baru semalam ketemu udah kangen aja" gerutu Ye-Jun
"Gak tau nih, bawaannya pengen ada mereka terus disini" ucap Zoya
"Jangan bilang si dedek yang pengen" tebak Ye-Jun. kebiasaan Zoya meminta ini itu dengan alasan si dedek yang pengen. dirinya sampai harus mengundang grup Twice untuk mendatangi kediamannya, mengingat wanita itu mulai sering menonton Twice dan BTS diberbagai acara. dan satu lagi, dirinya menginginkan pecel lele dan sambal belacan khas buatan Indonesia. tentu saja harus sang suami yang membuatkannya tanpa bantuan siapapun. masa sulitnya hanya satu, tidak ada terasi di Negeri Gingseng ini hingga Ye-Jun harus membeli terasi di Restaurant Indonesia.
__ADS_1
"Dedek sepertinya cowok, By. dia pengen cewek ada didekatnya. hihihi"
πΈπΈ