
πΈπΈ
Ye-Jun terkekeh melihat raut wajah Zoya yang sedikit jutek mendengar guyonannya. bukan hanya guyonan, tapi ia serius untuk mengatakannya. hingga pesanan mereka pun datang dibawa oleh pelayan. makanan berkuah yang hangat sangat cocok disantap disaat dingin-dingin begini.
"Silakan"
"Terimakasih"
Zoya dan Ye-Jun pun langsung menyantap sarapan pagi mereka dengan penuh kenikmatan. perut yang sudah keroncongan membuat Zoya begitu tampak terburu-buru menikmatinya.
"Pelan-pelan, entar tersedak" peringat Ye-Jun menatapnya.
"Hm"
Ye-Jun menggelengkan kepala melihatnya. ia pun kembali melahap makanan itu.
Kini makanan berat telah mereka santap hingga habis. Zoya dan Ye-Jun beralih pada menu penutup yaitu Chocolava. melihatnya saja membuat saliva Zoya ingin menetes. tanpa berlama-lama keduanya langsung mencicipi coklat itu dengan pelan untuk menghayati rasanya yang menggiurkan.
"Rasanya ini tidak ingin cepat habis deh, enak banget" ucap Zoya.
"Kita bisa beli lagi" sahut Ye-Jun.
"Emh, tidak usah. uangku hanya sedikit, pas-pasan untuk makanan tadi" ucapnya tersenyum kecut.
"Zoya, aku yang membayarnya. kamu simpan saja uangmu" ucap Ye-Jun lalu menyuapi coklat itu.
"Eh, tidak per--
"Pelayan!" panggil Ye-Jun mengangkat tangannya. Pelayan tadi pun kembali datang menemui mereka,
"Bungkus chocolava itu dua lagi ya" ucapnya.
"Baik, Tuan"
Zoya pun terperangah mendengarnya, bisa-bisanya pria ini malah memesan lagi untuknya itu.
"Aku tidak mau menerima itu kalau kamu yang bayar" ucap Zoya
"Hahaha, siapa juga untuk kamu" ketus Ye-Jun, hingga membuat Zoya melotot dan cemberut.
"Jadi?" tanyanya.
"Untukku-lah" ucapnya terkekeh. sontak saja Zoya pun mencebikkan bibirnya lalu menunduk kebawah seolah ia tengah merasa malu sudah terlalu percaya diri sekali.
"Hahahahaha,"
"Habiskan makananmu. apa doyan berlama-lama denganku?" ledeknya. Zoya pun langsung mengangkat kepala, memasang wajah juteknya kembali.
__ADS_1
"Ogah!" ketusnya segera melahap coklat itu dengan cepat. Ye-Jun menggelengkan kepala, seru sekali menjahili gadis didepannya itu.
Hingga tidak terasa makanan bonus itu pun telah habis dan sangat licin. Zoya dan Ye-Jun pun meminum teh hangatnya yang masih tersisa. dan tiba tiba yang ditunggu pun datang, pesanan Ye-Jun berupa chocolava datang menghampirinya.
"Ini, Tuan" ucapnya menaruh diatas meja.
"Berapa semuanya?" tanya Ye-Jun. pelayan pun menghitung semua pesanan itu. setelah mengetahuinya, Ye-Jun pun segera ke kasir untuk membayar tagihan itu.
Setelah selesai membayar, ia pun kembali mendatangi Zoya yang masih duduk di meja makannya.
"Ayo," ajak Ye-Jun sembari mengambil bungkusan itu. Zoya mengekorinya menuju mobil.
Setiba didepan mobil, Ye-Jun menghentikan langkah kakinya, menoleh kebelakang menatap Zoya yang sedang memeluk lengannya.
"Ada apa?" tanya Zoya.
"Ini, untuk kamu" Ye-Jun memberi bungkusan itu padanya seraya tersenyum.
"Hah?" Zoya tampak bingung menatap pria tinggi didepannya itu.
"Iya, ini ambillah. aku sengaja membelinya untukmu. bukannya kamu bilang tidak ingin cepat habis? kamu bisa memandangnya terus setiap saat" ucap Ye-Jun.
"Baiklah," Zoya pun mengambil bungkusan itu dari tangan Ye-Jun.
"Bagus!" Ye-Jun tersenyum senang, dengan usilnya ia mengelus-ngelus kepala Zoya dengan kasar hingga jilbabnya pun sedikit kusut dibuat olehnya.
"Habisnya aku sangat gemas padamu" ucap Ye-Jun terkekeh lalu merangkul pundak Zoya saking senangnya. Zoya yang merasa pundaknya berat pun sontak kaget melihat tangan kekar itu merangkulnya.
"Dont touch me!" berontak Zoya melepaskan tangan itu.
"Hehehe jangan marah. aku reflek" ucap Ye-Jun tanpa bersalah lalu memasuki mobilnya itu.
"Reflek eekmu!" gumam Zoya menatap sinis pria itu. ia pun juga turut memasuki mobil, tetap duduk dibagian belakang.
Kini mobil pun mulai melaju meninggalkan pekarangan resto itu, meretakkan es salju dengan roda mobilnya yang berputar. Ye-Jun menatap Zoya dari spion, tampak gadis itu tersenyum menatap kebawah. ia yakin pasti Zoya tengah membuka bungkusan itu.
"Jangan dimakan, lihat saja biar tidak cepat habis" ucapnya tersenyum jahil.
"Apaan sih, aku juga tidak mau ini. mending ku berikan sama Ibu kontrakkan" ucap Zoya yang tak mau kalah.
"Ohya?" tanya Ye-Jun
"Ya" jawabnya menatap sinis belakang kepala pria itu.
"Kita mau kemana lagi nih?" tanya Ye-Jun
"Pulang" ketusnya
__ADS_1
"Yakin gak mau habisin waktu denganku? dua hari besok kita gak bertemu lho" ucap Ye-Jun menatap gadisnya dari spion.
"Iya, aku pengen pulang" ucap Zoya
"Mending kerumahku saja, kebetulan Aera lagi libur sekolah" ucapnya tersenyum.
"Aera dirumah?" sontak saja Zoya langsung tersenyum semringah mendengarnya.
"Ya. kamu ajak dia masak-masakan." ucap Ye-Jun.
"Wah seru juga itu! tapi uangku gak cukup untuk beli bahan-bahan masakannya" ucap Zoya seketika cemberut.
"Tidak perlu memikirkan itu. dirumah stoknya selalu ada" ucap Ye-Jun terkekeh melihat wajah sedunya.
"Yasudah, ayo deh. udah lama banget gak ketemu Aera" Zoya sudah tak sabar lagi bertemu dengan adiknya Ye-Jun itu.
"Dia tidak mau jalan denganku, setidaknya aku bisa lihat dia dirumah itu" gumam Ye-Jun didalam hati yang teramat senang.
Tidak terasa mobil yang membawa mereka pun telah tiba dikediaman Ye-Jun. Zoya terperangah menatap kearah luar, rumah bak istana yang sangat besar dan berlantai tiga. beda jauh dengan kediamannya yang berlantai dua. tapi desaignnya hampir sama, hanya saja rumah Ye-Jun tampak megah dan terkesan modern klasik.
"Ini rumahmu?" tanya Zoya terpukau.
"Ya, rumah siapa lagi" tanyanya.
"Keren sih rumahnya" gumam Zoya tercengang. hingga lamunan Zoya pun buyar tatkala mobil yang telah berhenti. Ye-Jun pun keluar dari mobilnya, segera ia membuka pintu untuk gadisnya itu.
"Silakan nona muda" ucapnya menyuruh Zoya untuk keluar.
"Ih apaan sih, lebay" ucapnya segera menuruni mobil itu. Zoya kembali menengadahkan kepalanya, memandang seluruh rumah yang teramat indah itu.
"Mau sampai kapan berdiri disana? ayo masuk" ajak Ye-Jun. Zoya mengangguk, dan mengikuti langkah kaki pria itu.
Begitu pun didalam kediaman tersebut, Zoya kembali mengedarkan pandangan menatap seluruh isi rumahnya yang sangat menakjubkan. hingga seseorang dari atas tangga menyipitkan mata menatap lekat gadis yang baru masuk itu kerumahnya.
"Siapa wanita yang bersama Oppa itu?" gumam AeNa. ya gadis itu adalah AeNa.
"Penampilannya, aduh, menyilaukan mata" ucapnya tak suka. hingga Ye-Jun dan Zoya yang ingin menaiki tangga pun menatap sebentar perempuan itu.
"Siapa dia? cantik sekali" gumam Zoya didalam hati.
"Kau mau kemana lagi?" tanya Ye-Jun ketus pada sang adik.
"Bukan urusanmu" ketus Aena lalu kembali melangkahkan kaki menuruni tangga melewati kedua orang itu. Zoya terperangah melihatnya, ia pun membungkukkan sedikit tubuhnya menghormati gadis itu. Namun gadis itu sombong sekali hingga enggan untuk menyapanya bahkan tidak untuk melihatnya.
"Dia sombong sekali, beda sama Aera" gumam Zoya heran.
πΈπΈ
__ADS_1