
πΈπΈ
Dengan langkah cepat Ye-Jun mengitari mobil miliknya, namun langkahnya terhenti tatkala seseorang memanggil namanya.
"Ye-Jun!!!" panggil seseorang yang diketahui adalah seorang wanita. Ye-Jun menoleh ke samping, tampak rekan kerjanya yang berlari memghampirinya.
"Soo Yun, ngapain kesini?" tanya Ye-Jun menatap wanita itu.
"Ini mau berbelanja, kamu sendiri?" tanyanya balik.
"Mau pulang" jawab Ye-Jun menatap mobilnya.
"Temanin aku belanja yuk" ajaknya menggandeng tangan pria tampan itu.
Zoya yang merasa pria itu begitu lama memasuki mobil, ia menolehkan kepala menatap belakang. Zoya terperangah melihat seorang wanita memggandeng tangan Ye-Jun. Zoya mengerutkan dahinya, merasa pernah melihat wanita itu.
"Itu kan-- wanita yang dia ciumi. Astaghfirullah!" gumam Zoya kaget. Zoya pun memutar bola matanya jengah, matanya kembali melirik tangan wanita itu yang menggandeng Ye Jun. Zoya menghembus nafas panjang dengan kasar, segera meraih kresek yang berisi buku dijok belakang dan diam-diam membuka pintu dengan pelan.
Ye-Jun menolak ajakan rekan kerjanya, Soo Yun. sebab ia sudah berjanji mengajak Zoya untuk makan siang bersama. Soo Yun yang mendapat penolakan, menghembus nafas kasar dengan sedikit kekesalan yang merasuki dirinya.
"Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ya. sampai jumpa di lokasi" ucap Soo Yun dengan senyumnya yang terpaksa. ia pun segera melangkahkan kaki memasuki Mall terbesar itu, menjumpai temannya yang tengah menunggu dirinya.
Ye-Jun pun segera membuka pintu mobil, mencondongkan tubuhnya kebawah untuk memasuki mobil tersebut.
"Maaf lam--
Ye-Jun terperangah kaget melihat kursi kosong yang tidak berpenghuni lagi. Ye-Jun mencari Zoya dijok belakang namun tidak ia dapati. Kedua matanya menangkap pintu yang sedikit terbuka, Ye-Jun berdesah kesal mengetahui pujaan hatinya telah pergi tanpa pamit.
"Astaga! sampai segitunya dia marah padaku" gumam Ye-Jun mengusap wajahnya dengan kasar. Ye-Jun kembali menuruni mobil, mencari kesana kemari dimana Zoya berada. Namun sayang, sosok yang ia cintai itu sudah tidak ada lagi diarea Mall tersebut.
"Sial! gara-gara Soo Yun!" umpatnya kesal menendang batu kerikil dengan sepatu pantofelnya.
__ADS_1
Ye-Jun kembali ke mobil dengan rasa frustasinya, wajahnya kembali datar dengan rasa kesal yang membuncah. Ye-Jun tidak menyalahkan kepergian Zoya, ia mengumpat kesal karena Soo Yun yang menyapanya dan berbasa-basi terlalu lama.
Ye-Jun merogoh ponsel, mencoba untuk menghubungi Zoya.
Ditempat Zoya, ia menaiki taksi yang kebetulan melewati dirinya yang sedang berdiri ditepi jalan. Zoya menatap kearah luar jendela, melihat jalanan yang akan membawanya pulang kerumah. Zoya termenung, membayangi dua orang tadi yang teramat dekat hingga pikirannya beralih pada tempo lalu saat Ye-Jun mencium wanita itu.
"Menjijikkan!" gumam Zoya kesal. ia berdecak kesal mengingat kejadian itu, duduk krasak krusuk tak menentu seolah mencari tempat ternyaman.
"Antar kemana, Nona?" tanya Pak supir taksi.
"Ke jalan xxxx, Paman" ucap Zoya memberitahukan alamat rumahnya. pak Supir hanya mengangguk paham.
Ddddrrrrt!!
Ponsel Zoya bergetar, ia segera merogohnya disaku gamis. tercantum nama pria menyebalkan dilayar ponselnya, Zoya pun membuka pesan itu, ada dua pesan yang belum dibaca dari seorang Ye-Jun.
π¬ Kamu dimana? kenapa pergi?
Zoya kembali menyimpan ponselnya, tidak menggubris pesan masuk itu yang sepertinya kembali bergetar.
Di mobil Ye-Jun, ia terus mengirim pesan kepada Zoya. ia terus menunggu balasan, namun percuma sebab beberapa menit menunggu Zoya tak kunjung membacanya lagi bahkan tidak membalas.
"Shit!!" umpatnya. segera ia menekan pedal gas mobil, melajukannya dengan cepat menuju kediaman yang Zoya tempati.
Zoya telah tiba dirumahnya, membayar ongkos taksi seraya tersenyum lalu membungkukkan sedikit badannya. setelahnya ia pun melangkahkan kaki menuju rumahnya, merogoh kunci didalam tas lalu mencolokkannya kedalam lubang pintu.
Kini Zoya berbaring diatas kasurnya, menatap sekitar tidak ada lagi suara yang menghangatkan jiwanya. rumah pun kembali sepi, membuat Zoya kembali merindukan Ummi dan Abi.
"Ya Allah, semoga Ummi, Abi dan Kakak, selamat sampai Bandung tanpa halangan apapun" gumam Zoya menatap langit langit kamarnya. wajahnya kembali sendu mengingat perpisahan di bandara tadi.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, beruntung Zoya telah makan siang dengan masakan yang dimasak Ummi sebelum pergi tadi. kini Zoya bergegas untuk mandi lalu menunaikan sholat dzuhur.
__ADS_1
Ditempat Ye-Jun, setelah mengunjungi kediaman Zoya namun tidak mendapatkan hasil yang ia inginkan, hingga menunggunya cukup lama di depan rumah itu. Kini Ye-Jun kembali ke Masjid Central untuk menunaikan sholat dzuhur. kebetulan tadi pagi saat bersama Abi dan Syeikh, ia mencatat waktu sholat lima waktu dan apa saja kewajiban yang harus ia lakukan hingga meninggalkan kebiasaan buruk yang dilarang oleh agama dalam sebuah buku catatan.
Kini Ye-Jun menduduki tubuhnya dengan kaki bersila sembari mendengarkan lantunan Adzan yang sangat merdu oleh seorang Muadzin. beruntungnya Ye-Jun telah menghafal gerakan sholat, namun belum hafal ayat-ayat yang dilantunkan. hingga Syeikh pun menyuruh Ye-Jun untuk mendatangi Masjid disetiap waktu sholat. sebab bila mualaf yang belum menghafal ayat ayat sholat, jika ia mendirikan sholat dengan mengikuti imam, ia tetap sah dalam menjalani beribadah penting itu.
Dalam waktu bersamaan, kini Zoya dan Ye-Jun pun sama-sama tengah mendirikan sholat dzuhur di tempat yang berbeda. Ye-Jun mengikuti imam dengan baik, menyimak lantunan ayat suci Al-fatihah yang dibacakan oleh Imam. hingga beberapa menit mendirikan sholat, sholat pun diakhiri dengan cukup baik. Ye-Jun terharu, ini pertama kalinya ia mendirikan sholat di tempat yang paling suci.
"Ye-Jun," panggil Syeikh Daud.
"Ya, Syeikh" sahut Ye-Jun.
"Kalau kamu ada waktu, kemarilah, saya akan mengajarkanmu mengaji dan menghafal ayat-ayat sholat" ucap Syeikh tersebut.
"Inshaallah, Syeikh." jawab Ye-Jun mengangguk.
"Kamu tenang saja, semua jamaah yang merekam kamu tadi pagi tidak akan mempublikasikan kabar ini. Jangan takut dengan pamoritasmu, saya tidak mau ada yang menghujat dirimu nantinya" jelas Syeikh memberitahukan hal itu kepada Ye-Jun.
"Bila dipublikasikan itu juga tidak masalah, ini adalah jalan saya" ujar Ye-Jun tersenyum.
"Alhamdulillah, saya salut dengan kamu"
"Terimakasih, Syeikh, sudah peduli dengan saya" ucap Ye-Jun mencium punggung tangan pria parubaya yang memiliki jenggot didagunya.
"Sebagai sesama muslim, kita harus saling melindungi" ucapnya mengelus punggung pemuda itu.
"Baiklah Syeikh, kalau begitu saya permisi dulu. sebentar lagi akan kembali syutting" pamit Ye-Jun segera beranjak berdiri.
"Baiklah, semoga karirmu sukses. kamu harus ingat dengan larangan Allah" peringatnya.
"Iya, Syeikh. saya harus menjauhkan makanan yang belum tentu kehalalannya. pastinya juga tidak melakukan itu, hehehe" Ye Jun terkekeh tatkala ingin menyebutkan adegan anu-anu dalam berakting.
πΈπΈ
__ADS_1