
πΈπΈ
Zoya segera turun dari ranjang dengan perasaannya yang lega sekaligus berdebar, tak menyangka sang suami akan seagresif itu. beruntung sekali ada yang mengganggu mereka hingga mereka tidak jadi melakukan sesuatu yang masih asing untuknya. sedangkan pria yang duduk di ranjang itu hanya bisa menghembus nafas dengan kasar, kembali menetralisirkan perasaannya yang tak karuan.
Ceklek,
Zoya menatap wanita parubaya yang tengah memegang nampan berisi dua piring, dua gelas air mineral dan dua gelas susu coklat, yang tentunya untuk sang majikan muda. Zoya mengulum senyum manis padanya,
"Eh, Bi"
"Non, ini makan malam untuk Nona dan Tuan, Nyonya yang menyuruh untuk membawakan kesini" ujarnya
"Oh iya Bi, masuklah" ajak Zoya. Bibi pun memasuki kamar Nona mudanya, sebenarnya merasa tidak enak sudah mengganggu kedua pengantin yang lagi sayang-sayangnya ini.
Setelah menaruh hidangan makan malam, Bibi pun segera keluar dan kembali mengunci pintu kamar majikannya sesuai perintah Nona Zura.
Zoya pun mengajak sang suami untuk makan malam, perut gadis itu sudah terasa keroncongan sedari tadi menahan lapar gegara harus meladeni para tamu. Sepasang suami istri baru itu pun melahap hidangan diatas sofa, Ye-Jun dengan manjanya ingin meminta disuapin.
"Sayang, suapi dong" pinta Ye-Jun
"Sudah besar minta suapin, dasar!" gerutu Zoya, Ye-Jun hanya membentuk wajah lucu bin imutnya menatap sang istri. Zoya pun tak menolak, ia lakukan sesuai keinginan suaminya yang manja.
"Suapan dari istri itu ternyata beda ya, kayak ada rasa manis-manisnya gitu" puji Ye-Jun, entah mungkin meledeknya.
"Kayak air le mineral aja" pukas Zoya tersenyum malu.
"Sungguh, disuapin itu lebih enak. ada bumbu keluaran terbaru" lanjutnya
"Apa tu?" tanya Zoya lalu menyuapi nasi ke mulutnya
"Bumbu cinta" gombalnya
"Aih!" gerutu Zoya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
__ADS_1
"I love you" ucapnya lirih, menatap lekat wajah wanita yang paling ia cintai ini.
"Apa aku harus menjawab?" tanya Zoya
"Tentu saja dong, kamu harus mengatakan cinta setiap satu jam sekali" perintahnya
"Hah?"
"Iya sayang, katakan cinta padaku setiap satu jam, oke? emuuach" ulangnya sekali lagi, lalu dengan tak tau malunya langsung mencium pipi Zoya yang kemerahan.
Zoya pun terpaku, darahnya berdesir merasakan sengatan listrik dari dalam tubuhnya tatkala sang suami mencium pipinya tanpa izin. Ye-Jun pun tersenyum kikuk, ia ambil piring diatas meja, memilih menyuapi diri sendiri.
Kini keduanya menjadi salah tingkah, sepasang suami istri yang saling canggung itu pun melanjutkan makan malam dengan piring masing-masing, juga ditemani kekalutan dari dalam pikiran masing-masing pula.
Setelah selesai makan malam sekaligus meminum susu coklat, Zoya segera membawa nampan berisi alat makan mereka. namun sayang sekali, pintu ternyata di kunci kembali oleh Bibi. Zoya pun merasa bodoh, seharusnya tadi dia mengambil kunci itu saat Bibi menghidangkan makan malam di meja kamarnya.
"Sepertinya mereka sengaja mengurung kita" keluh Zoya cemberut, kembali menaruh nampan diatas meja.
"Hmmmm," Tak ada pilihan lain, gadis itu pun menduduki tubuhnya di ranjang samping suami.
Ye-Jun yang kurang mengerti bahasa indonesia, ia pun mengganti channel tv barat. menonton film yang menurutnya bagus dan seru. hingga pilihannya jatuh pada film bergenre romantis sebab film barat lebih seru itu yang romantis-romantisan.
Hingga sedang serius menonton, tiba-tiba suatu hal yang tak terduga pun terjadi, adegan tak senonoh ditampilkan didalam layar itu membuat Ye-Jun yang melihatnya langsung menelan ludah dengan susah payah. sedangkan Zoya menutup kedua matanya saat adegan itu hampir menyentuh bibir pemainnya.
"Ganti ih" suruh Zoya, namun Ye-Jun tetap diam tak menyahut. ia sibuk memerhatikan dengan lekat adegan ciuman yang liar hingga beralih pada gelutan diranjang walau tak diperlihatkan aktivitas bercocok tanam.
Tubuh pria itu semakin meremang, sang junior pun bangun tanpa permisi maupun tanpa perintah. Ye-Jun menoleh ke samping menatap istrinya yang masih menutup mata, sesekali Zoya memberi celah pada jarinya untuk melihat adegan itu yang suaranya begitu mengganggu.
Apakah hal itu akan terjadi malam ini? Zoya begitu takut saat merasakannya, ia teringat akan perkataan Cristella bahwa barang pria begitu besar dan panjang, sedangkan barang wanita begitu kecil dan rapat. Zoya pun membayangkannya, ia pun bergidik ngeri ketika mengingat ucapan Cristella yang tidak ada akhlak itu.
Tiba-tiba pertanyaan itu pun terjawab, tubuhnya kembali menegang dan darahnya kembali berdesir dengan sangat hebat tatkala Ye-Jun menarik kakinya hingga ia tertidur. Ye-Jun dengan tak tau sopannya, ia langsung menindih tubuh mungil itu. mata Zoya membelalak, menatap rambut lebat suaminya, dimana wajah itu tengah mengendus aroma tengkuk lehernya yang masih dibaluti jilbab.
"By," panggilnya lirih
__ADS_1
"Hm," sahut Ye-Jun yang masih berjibaku mengendus aroma istrinya.
"Harus sekarang?" tanya Zoya. Ye-Jun menghentikan aktivitasnya, menatap dalam wajah polos itu yang begitu tampak shock.
"Bolehkah?" tanya pria itu
"Hmm, aku takut" jawabnya
"Aku akan melakukannya dengan lembut, sakit sedikit setelah itu kamu akan merasa nyaman" jelas Ye-Jun
"Hmmm," Zoya tampak berpikir bingung, Ye-Jun yang sudah tidak sabar pun segera membuka jilbab sorong gadis itu ke atas hingga memperlihatkan rambut diatas kepalanya. Zoya terbelalak kaget, suaminya seagresif ini menginginkannya tanpa menunggu jawaban darinya.
Seketika mata gadis itu memicing, tubuhnya bergeliat dan suaranya sedikit mende*ah merasakan gelinya tengkuk leher yang dijil*t, diendus, bahkan disesap. Ye-Jun semakin terbawa suasana, meninggalkan jejak kunjungannya lalu beralih pada bibir mungil merah ranum yang dirasanya begitu lembut itu. ia langsung menyerangnya, menempelkan bibir mereka hingga si lidah yang tak tau diri itu meronta untuk membuka celah mulut lawan mainnya. Zoya yang ikut terbawaa suasana pun membuka mulutnya, membiarkan si lidah tak tau diri bergeriliya masuk mengobrak abrik isi mulutnya.
Emmh,
Zoya kewalahan menerima serangan si li*ah yang tak tau diri itu, nafasnya tersengal-sengal seolah paru-parunya tak bisa lagi memberikan pernafasan. Zoya pun menangkup kedua pipi sang suami, menjauhkan wajah itu dari wajahnya.
"Kenapa?" tanya Ye-Jun heran
"Aku sesak nafas," keluhnya. Ye-Jun hanya tersenyum tanda mengerti
"Maaf, pasti ini pertama kali untukmu" tebaknya, Zoya mengangguk.
"Aku akan berpindah tempat," ujarnya lalu menduduki tubuh sang istri, membuka kancing gamis sembari menatap wajah sang istri yang menampikkan rambut hitam legam nan lebat itu.
"By, mau ngapain?"
"Buka bajumu sayang"
"Hah?"
πΈπΈ
__ADS_1