
πΈπΈ
Hari berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa perut yang Zoya kandung sudah semakin besar. namun wanita itu masih kuat untuk berjalan, tidaklah sesulit saat hamil pertama.
Hari ini mereka mengadakan syukuran tujuh bulanan di Masjid Central sekaligus menyumbangkan segepok uang untuk Madrasah dan uang jajan pula untuk anak-anak.
Zoya dan sekeluarga Ye-Jun beserta sahabat-sahabat wanita itu, telah menduduki sajadah yang terbentang luas di dalam Masjid. ada pula ratusan Anak Madrasah yang turut meramaikan hingga Penggurus Masjid, Guru, Ustadz dan pemiliknya yaitu Syeikh Daud.
Kemudian acara pun dimulai dengan do'a-do'a yang baik untuk janin dan Ibunya, berharap mereka selalu dilindungi dari segala ke madharatan dan selamat saat persalinan nanti. Zoya, Ye-Jun, Akbar dan Aera beserta Dzaka, menengadahkan kedua tangan seolah sedang berdoa. sedangkan Mama, Papa dan sahabat Zoya juga pasangan mereka hanya menundukkan kepala mendengar doa itu. ada rasa bergejolak dihati Mama dan Papa saat mendengar lantunan ayat ini, hati mereka bergemuruh hebat dan terasa hangat berada disini, ditempat yang suci dan mendengar ayat-ayat suci tersebut. Namun keduanya hanya diam, memejamkan mata seolah tengah mendalami rasa ini.
Beberapa menit kemudian, acara syukuran pun selesai. Ye-Jun membisikkan sesuatu kepada anak buahnya yang sedari tadi duduk di samping Ye-Jun. pria itu mengangguk, ia segera beranjak berdiri dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Tak berapa lama, ia kembali, menyerahkan dua paperbag pada bosnya.
"Ini, Bos!"
"Terimakasih"
Ye-Jun mengeluarkan salah satu isi paperbag, sebuah amplop coklat yang cukup berisi dan menyerahkannya pada Syeikh Daud yang berada tepat disamping kanannya.
"Syeikh, ini ada sedikit rejeki untuk Masjid dan Madrasah" ucap Ye-Jun
"Jun, gak perlu. bulan semalam kamu juga sudah memberikan ini" tolaknya
"Ini atas syukuran istri saya, terimalah"
"Baiklah, Jun" Syeikh itu pun menerimanya.
Zoya, Ye-Jun dan para sahabatnya tengah berbagi-bagi rejeki pada anak yatim piatu yang bersekolah di Madrasah masjid ini. sebuah kotak nasi dan sebuah amplop diserahkan pada masing-masing anak. Mereka antusias sekali dan bergembira, sama seperti sebelumnya saat tujuh bulanan 3 tahun yang lalu, orang kaya ini melakukan yang sama dengan mereka.
"Terima kasih, Eonnie, semoga dedek bayinya sehat terus" ucap bocah kecil berusia 8 tahun
"Aamiin ya Rab, terima kasih ya cantik .. belajar yang pintar"
"Siap, Eonnie! boleh peluk gak?" pintanya
"Tentu saja" Zoya pun membungkukkan tubuhnya sembari menelentangkan kedua tangan. gadis kecil itu berhamburan memeluk Zoya yang sejak dulu ia sukai.
"Terima kasih" ucapnya dengan senyum manis yang terukir
"Sama-sama sayang" jawab Zoya seraya tersenyum
"Rasanya ingin sekali ku memiliki anak perempuan" batin Zoya, mengelus perutnya yang semakin besar.
Hingga satu jam kemudian, acara pun selesai dengan diakhiri makan siang bersama. semuanya turut bersuka cita atas syukuran tujuh bulanan yang diselenggarakan keluarga Artis itu. Zoya, Ye-Jun dan rombongan bergegas memasuki mobil, sebelum pergi mereka menyempatkan dulu untuk memeluk anak-anak tersebut.
"Daaaaah!!" Zoya melambaikan tangan pada mereka semua yang disambut riang pula.
Mobil yang membawa mereka pun semakin lama semakin jauh dari pekarangan Masjid tersebut. meninggalkan kebahagiaan yang tersirat dilubuk hati. Zoya mengelus perut buncitnya, senyum masih terlukis di bibir wanita itu.
"Umma, kakak-kakak itu gak pulang ke rumah mereka?" celetuk Dzaka
"Gak, Sayang. Mereka tinggal di Panti dan sekolah di Madrasah Masjid itu. kakek Syeikh yang merawat mereka semua sama Paman Akbar" jelas Zoya dengan lembut, diam-diam ada yang mennyimak ucapan Zoya tentang Akbar.
"Wah, banyak teman dong disana yaa .. Dzaka boleh tinggal disitu gak?" tanya bocah polos itu. sontak saja Zoya tercengang,
"Gak boleh. kamu kan masih ada Umma dan Baba .. itu bagi mereka yang gak punya orang tua" jelas Zoya, menelan saliva dengan kasar
"Oh gitu" bocah itu mengangguk paham.
"Sabar, bentar lagi dedek lahir dan Dzaka akan punya teman" timpal Ye-Jun
"Serius, Ba??"
"Iya, Sayang"
"Yeaaaay!!! adek!!" girang bocah tersebut. para penumpang yang duduk di belakang hanya terkekeh melihat aksi bocah nakal itu.
Mobil yang membawa mereka telah tiba di Kediaman Hwan, mengantarkan Aera, Mama dan Papa. kecuali Aena, gadis itu tengah sibuk dengan proses syutingnya.
"Ma, Pa, kita pulang duluan aja yaa, Zoya harus banyak istirahat" ucap Ye-Jun, meminta pengertian orang tuanya.
"Iya, gak apa. banyak-banyak istirahat dan jalan kaki di tiap pagi hari"
"Iya, Ma"
"Jangan lupa minum susu hamil, 3 kali sehari" oceh Mama
"Siap, Ma"
**
Pagi ini, di usia yang ke sembilan bulan, Zoya, Ye-Jun dan putra mereka tengah menikmati cuaca pagi hari dengan teriknya mentari yang begitu menyengat. menginjak aspal yang begitu panas dan melangkah pelan dengan hati-hati merasakan sensasi hangatnya jalan itu.
Suami istri itu berjalan santai seraya mengobrol, mata tak lepas menatap putra mereka yang tengah menendang bola yang ia bawa dari rumah.
"Dzaka jangan jauh-jauh!!" teriak Ye-Jun, melihat putranya menendang bola hingga melambung kejauhan
Dzaka tak mendengar, bocah itu mengejar bolanya yang bergiring jauh dari pandangan. tampak Zoya dan Ye-Jun mulai cemas, melihat anak mereka berlari sejauh itu. namun rasa itu kembali meredam tatkala bocah itu kembali berlari menghampiri mereka.
"Huh huh, capek!" keluhnya, nafasnya tersengal-sengal mengejar bola itu
"Nanti lagi mainnya kalau sudah sampai rumah. sekarang jalan temani Umma"
Bocah itu mengangguk. mendekati Zoya, menggenggam tangan Ummanya dan tangan satu lagi memeluk bola mini itu.
"Umma gak capek?" tanyanya, mendongak menatap wajah sang Ibu.
Zoya tersenyum, menggeleng pelan, "Enggak sayang, lelah Umma hilang kalau ada kamu" tutur wanita itu. keringat mulai menetesi pelipisnya
Sontak saja mendengar itu, Dzaka langsung memeluk sang Ibu dengan cukup lama, Zoya tertegun, mengusap rambut lebatnya dengan lembut.
"Dzaka sayang Umma dan dedek" ucapnya, menatap lagi wajah itu
"Dedek sama Umma juga sayang Dzaka. ah, Hubby, duduk dulu yaa" ucap Zoyaa dengan lembut lalu melihat bangku di sebelahnya dan meminta untuk duduk
__ADS_1
"Iya sayang, ayo duduk" ajak Ye-Jun. mereka menduduki bangku itu.
"Umma, dedek kapan lahir?" tanyanya
"Bentar lagi dedek lahir" jawab Zoya
"Hmmm, gak sabarnya ketemu dedek. emmuach!" Dzaka mengecup perut buncit itu.
**
Setelah cukup lama berjalan kaki di pagi hari yang terik, keluarga kecil itu telah kembali ke kediaman mereka. Zoya menduduki tubuhnya di teras rumah, sedangkan Dzaka berhamburan berlari memasuki kediaman mereka. tampaknya bocah itu tengah kehausan dan berlari menuju dapur.
"Bibi, Dzaka haus" ucap bocah itu
"Yaudah, Bibi ambilin yaa"
"Dzaka ikut" bocah tersebut mengekori bibi ke dapur, mengambil gelas dan air mineral dari dispenser lalu memberikannya pada bocah itu.
"Bibi buatkan minum dulu untuk Baba dan Umma yaa"
"Iya, untuk Dzaka juga yaa"
Di depan rumah, Zoya menatap suaminya yang tengah membuka kancing bajunya, lalu menelungkup diatas aspal dan melakukan push up di halaman rumah itu. membiarkan sinar mentari menembak tubuhnya. Zoya tertegun saat tatapannya menatap dada telanjang itu, sungguh menggoda dan menggiurkan.
"Astaghfirullah! apa-apaan pikiranku!" gumam Zoya, menepuk jidatnya pelan.
"Umma!!!" teriak bocah itu, kembali lagi menemui Ibunya
"Umma, Baba ngapain?"
"Sedang olahraga"
"Ooh, Dzaka ikut juga ah!" bocah itu berhamburan mengikuti gerakan sang Ayah yang tengah push-up. Zoya menggeleng-gelengkan kepala menatap tingkah putranya itu, begitu lucu dan selalu ingin tahu apa yang diperbuat orang dewasa.
Ye-Jun yang melihat anaknya mengikuti dirinya seketika ia terkekeh seraya menatap istrinya yang tersenyum.
"Nyonya, Ini minumannya" Bibi mengantarkan segelas kopi, segelas susu hamil rasa vanila, segelas susu vanila untuk anak dan tiga gelas air putih.
"Terima kasih, Bi"
Bibi mengangguk, kemudian kembali masuk untuk menyelesaikan tugasnya. Zoya yang kehausan, langsung meminum air putih hingga tersisa setengah gelas. kemudian beralih pada susu hamil miliknya, meneguk hingga habis tak tersisa.
"Eeeek!! alhamdulillah, kenyangnya. minum aja udah kenyang" gumam wanita itu.
"Walah, sesak pipis lagi! dedek kehausan banget pasti nih sampai nendang-nendang. padahal baru dikasih minum" gerutu Zoya, segera beranjak berdiri dan berjalan pelan memasuki kediamannya.
Zoya memasuki kamar mandi yang terletak di ruang keluarga. mengangkat roknya ke atas lalu membuka ****** *****.
Tanpa sengaja Zoya melihat cairan bening bercampur darah di celana itu, tidaklah banyak, namun mengagetkan wanita itu.
"Da-darah???" Zoya kaget. pandangannya beralih menatap Mrs.V dan pahanya, matanya membelalak kaget melihat cucuran air bening bercampur darah segar yang baru saja keluar.
Zoya meringis kesakitan, perutnya tiba-tiba sakit dan merambat hingga ke pinggang. Zoya berusaha bertahan, dengan tangan yang menggigil ia segera mengenakan ****** ***** itu.
"Aaauh!! Ya Allah! perutku!!" rintihnya kembali
Ceklek,
Dengan sekuat tenaga ia membuka pintu itu. jalan yang terseok-seok seraya memegang perut yang begitu kesakitan.
"Nyonya! nyonya! Nyonya kenapa? mau melahirkan??"
"Sakit, Bi. uuuuh!!"
**
"Baru pembukaan empat, Tuan. kita harus banyak bersabar hingga pembukaan sepenuhnya" jelas Dokter
"Empat?? apakah lama agar bisa mencapai pembukaan sepuluh?" tanya Ye-Jun dengan perasaan yang cemas. bertanya dengan nada sedikit keras
"Biasanya kita hanya menunggu sekitar 6 jam atau lebih"
"6 jam?? selama itu??"
"Kita bisa mempercepatnya kalau Nyonya dibawa berjalan, berolahraga ringan dan buang air kecil juga dapat mempercepat jalan pembukaan"
"Tapi tadi baru saja kami melakukan jalan pagi" keluh Ye-Jun
"Itu hal yang bagus! mungkin saja jalan pagi tadi membuat jalan lahir telah terbuka"
"Hubby! uuh!! sakit lagi!!" Zoya merintih kesakitan
"Sayang!" Ye-Jun menghambur memeluk istrinya
"Sakit, By! aaah... jadi ngompol!" rintih wanita itu. Dokter menghampiri
"Maaf Dok, dia mengompol"
"Tidak masalah, itu hal yang wajar"
"Dok, sakit lagi. aaaaarkh!!"
"Kita cek lagi ya, sepertinya mulai bertambah pembukaannya" ujar Dokter. Zoya kembali berbaring dengan benar, mengangkangkan kakinya untuk di periksa oleh Dokter itu.
"Sudah pembukaan lima" ucapnya tersenyum
"Sebaiknya bawa jalan-jalan dulu, itu bisa membantu" saran Dokter. Zoya dan Ye-Jun mengangguk paham.
Tok tok
"Masuk!" sahut Ye-Jun
Ceklek!!
__ADS_1
Mama dan Aena berkerubung memasuki ruangan itu. menatap wajah pucat yang tengah berjuang menahan sakit membuat hati Mama Nam merasa iba. Ia berhamburan memeluk menantunya, memberikan semangat pada wanita itu.
"Saya permisi dulu yaa, bila diperkirakan itu akan menunggu satu hingga dua jam lagi. bila ada keluhan panggil saya" ucap Dokter itu pamit
"Baik, Dok"
Setelah Dokter itu pergi, Mama menatap putranya yang tengah menuruni Zoya dari ranjang
"Jun, pembukaan berapa?"
"Lima, Ma"
"Astaga"
"Ma, sakit!!"
"Sabar, Sayang. ini, minum dulu untuk memperkuat tubuh kamu agar ada cairan" Mama menyodorkan air mineral pada menantunya. Zoya meneguk hingga tanpa tersisa.
Zoya pun berjalan pelan disekitar ruangan itu, dipapah oleh sang suami yang selalu senantiasa menemaninya. sedangkan Mama tengah mengupas buah untuk menantunya itu. Aena yang bersama mereka sejak tadi langsung disuruh Mama untuk menemui Dzaka, menemani bocah itu yang kini dititip bersama Bibi.
Satu jam berlalu, Zoya melahap buah yang telah dikupas Mama. walau perutnya kembali sakit, dengan sekuat tenaga ia berusaha meredamnya. Ye-Jun selalu bersama saat dirinya mulai merintih kesakitan.
"Aaaakh!!" sakit itu kembali muncul
"Sayang, sakit lagi? mama akan lihat sudah pembukaan berapa"
"Sayang, tahan!" Ye-Jun menenangkan.
"Astaga!! sudah sempurna! Jun, panggil Dokter!"
"Baik, Ma!" Ye-Jun langsung menekan tombol yang berada dekat dengan ranjang.
**
"Ikuti instruksi saya! ambil nafas, lepaskan lalu mengedan sekuat mungkin, jangan sampai pinggulnya diangkat"
"Baik, Dok"
"Lakukan cepat Dok! dia sudah berpengalaman jadi tidak perlu dikasih tau!" berang Ye-Jun
"Hubby,"
"Baiklah, ayo Nyonya. lakukan"
"Huh!! aaaaaakh!!!!"
"Eeemmmmmh!!!"
"Eeeeeekh!!!"
"Ya sedikit lagi, ayo!!"
"Eeeeeeemh!! eeeeeeeekh!! aaaaaaakh!!!!"
"Oek oek oek oeeek!!
"Alhamdulillah ya Allah," Zoya dan Ye-Jun mengucap syukur
"Selamat yaaaa, dia sehat dan gemuk, cantik pula"
Dokter menunjukkan bayi mungil itu pada sepasang suami istri tersebut.
"Alhamdulillah, sepasang, Yang" Ye-Jun mengelus pipinya yang basah oleh air ketuban bercampur darah
"Jadi siapa namanya, By?" Zoya bertanya, turut mengelus pipi bayi mungil mereka
"Jasmin Qhaira Min-Ji Hwan"
...----------------...
...TAMAT...
Sampai disini kisah Zoya dan Ye-Jun yaaa ...
Kepo sama Aera dan Akbar apakah mereka bersatu dalam pernikahan?? kita lihat saja di novel sebelah, menceritakan kisah Dzaka yang nakal. beda banget dengan kelakuan orang tuanya π
Mungkin aja efek pergaulan di Negeri Gingseng. tapi tenang saja, Dzaka sosok pria yang taat dengan agamanya.
Hwaiting!!!!
Aku harap kalian semua mau mengikuti kisah Dzaka dalam novel berjudul,
Bagaimana bisa dia jadi seorang single daddy??
Kepo gak sih? π π
rilis tanggal 1 juli 2021
......................
Bila berkenan, berikan aku HADIAH yaa agar kembali semangat untuk menulis ππ
caranya begini, bagi yang belum tau
Pilih bunga 19 poin
atau kopi 199 poin
itu tergantung pada kalian yang baik hati π πππ
__ADS_1