Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
132. Mengganggu lagi?


__ADS_3

Melihat pria itu berwajah sedu, hati Soo Yun begitu senang diatas penderitaan pujaan hatinya. ia begitu sangat yakin bila yang dikatakan Hayoon benar. sedikit demi sedikit ia berjalan pelan mendekati Ye-Jun, berniat ingin menenangi hatinya.


"Kamu tampak sedih, ceritalah padaku" ucap Soo Yun dengan lembut sembari tangannya mengelus lengan Ye-Jun.


"Ah, bukan apa-apa. aku akan ke bawah dulu" ucap Ye-Jun tersenyum tipis.


"Kamu yakin tidak ingin curhat? selagi aku disini?" tanya Soo Yun setengah teriak tatkala Ye-Jun hampir menginjak anak tangga.


"Kita ngobrol dibawah aja" ajak Ye-Jun, lalu segera menuruni tangga dengan cepat menuju dapur. sebab tenggorokannya begitu kering, ia ingin meminum air mineral yang akan melegakan tenggorokannya.


Diatas, Soo Yun dan Aena beryes-ria, begitu girangnya mereka melihat wajah sedu pria itu seperti baru saja mendapat angin segar. Soo Yun pun bergegas mengajak Aena untuk menuruni tangga, menanti Ye-Jun di meja makan yang masih kosong itu.


Setelah lega menyiram tenggorokannnya dengan air mineral, Ye-Jun keluar dari dapur meninggalkan para Chef yang sibuk berkutat dengan masakannya. Ye-Jun juga meminta untuk dibekalin makanan miliknya untuk ia bawa ke lokasi syutting sebentar lagi.


Ye-Jun menatap dua gadis sudah menduduki bangku di meja makan, ia pun turut duduk dan menatap Aena dengan lekat.


"Kenapa?" tanya Aena yang heran dengan tatapan itu.


"Tinggalkan kami," suruh Ye-Jun, Aena pun mengangguk dan menggeser bangkunya kebelakang untuk memberi celah ia akan keluar.


"Ada apa?" tanya Soo Yun mengiba


"A-aku-- entahlah Yun, hatiku begitu sakit rasanya" ucap Ye-Jun menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa sedihnya.


"Sakit hati kenapa, hm?"


"Aku melihatnya jalan bersama pria lain. saat di foodcourt kemarin, aku berlari mengejarnya, aku mengikuti dia menaiki taksi hingga ia turun ke Bandara. aku menunggunya untuk apa dia kesana, hingga aku melihatnya bersama pria lain." jelas Ye-Jun sedih


"Oh, astaga! aku tak percaya itu. bukannya dia wanita muslimah yang menjaga auratnya seperti yang kamu katakan" Soo Yun menatap tak percaya


"Entahlah, aku tak mengerti. memang iya dia wanita sholehah taat beribadah. tapi tidak tau soal hati dan rasa? bisa saja dia juga mencintai orang lain"

__ADS_1


"Aku rasa itu temannya deh, apa kamu gak menyelidiki lebih dalam?"


"Teman apaan, orang gandengan dan pelukan gitu" tutur Ye-Jun


"Itu kan hal biasa dalam hubungan pertemanan sekalipun"


"Entahlah, hatiku terasa sakit saja. aku ajak ia bertemu, dan kami bertemu. ia memutuskanku begitu saja. aku yakin pasti karna pria itu" geram Ye-Jun mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah melihat wajah Soo Yun, teman curhatnya.


Soo Yun menarik nafas dalam, meraih punggung tangan yang mengepal itu mengelusnya lembut.


"Sabar, mungkin bukan dia wanita yang tepat untukmu. ada wanita lain yang pasti mencintaimu dengan tulus kok" ucap Soo Yun


"Iya, tapi sekarang aku ingin sendiri dulu. aku sudah cukup trauma dengan wanita" tutur Ye-Jun segera beranjak berdiri dan kembali menaiki tangga dengan cepat.


Sedangkan Soo Yun masih terpaku di tempatnya, tersenyum seringai nan devil menatap ke arah depan. perasaannya kini sangat senang, mereka sudah bubar dengan rencana yang ia jalani. tapi satu didalam benaknya yang ia tak mengerti, pria mana yang gadis itu sewa untuk menggelabui Ye-Jun? ataukah memang benar pria itu orang yang cintai menemuinya di Seoul?


"Ah bodo amat! yang penting Ye-Jun ku sekarang" ucapnya tersenyum senang, kemudian ia segera pergi ke atas untuk menemui Aena, tak sabar untuk menceritakan semuanya.


"Jun, tak makan dulu?" sapa Papa Hwan yang baru saja pulang dari kantornya.


"Ye-Jun makan di lokasi aja, Pa" ucapnya segera menyelonong pergi ke dapur untuk mengambil pesanannya berupa kotak bekal makan malamnya.


"Ini, Tuan. dan brownies redvelvet buatan Non Aera. ia juga berpesan berikan pula untuk Non Zoya" ucap Chef menyodorkan tiga kotak makanan yang dibungkusi dengan paperbag.


"Ah, terima kasih, Paman" ucapnya lalu segera pergi. dilihatnya meja makan, tak tampak gadis kecil kesayangannya itu hingga ia pun bertanya pada Aena.


"Na, mana Aera?" tanya Ye-Jun


"Itu, baru dipanggil Bibi ke kamarnya. biasalah si kutu buku itu" ujar Aena. seketika Ye-Jun memandang tak suka pada adiknya yang sudah mengejek adiknya sendiri.


"Pa, Ye-Jun pamit dulu" ucapnya segera menciumi punggung tangan ayahnya dan berlalu pergi. diam-diam SooYun memandang kepergian pujaan hatinya.

__ADS_1


Di kediaman Zoya, ia sedang berkutat dengan buku-bukunya yang menguraikan kalimat panjang dalam setiap lembarnya. membuat siapa saja yang melihat lembaran demi lembaran itu pasti akan bosan dan suntuk. namun tidak untuk gadis manis berkerudung itu, ia sudah dijuluki gadis kutu buku nan cupu oleh teman sekolahnya dulu, hingga bagi Zoya buku itu tidaklah hal yang membosankan. melainkan ilmu yang terus digarap oleh otaknya.


Sedang asyik membaca buku bahkan menghafal rumus, tiba-tiba sekali lagi ia diganggu oleh sesuatu yang menyebalkan. Zoya yakin sekali, ini pasti ulah calon suaminya. ia pun meraih jilbab yang tergantung dihanger lalu mengenakannya. dengan langkah yang malas ia tetap berjalan menuju pintu utama.


Ting tong!


"Iya, sabar!" teriak Zoya menyahut.


Ceklek,


Sekali lagi tebakannya benar,


"Hubby, apalagi sih? selalu datang menggangguku" rengek Zoya dengan wajah imutnya, membuat Ye-Jun sangat geram.


Ye-Jun pun mencubit pipi tembem gadis itu, "Dasar kamu, menggemaskan sekali. ini, aku hanya bawakan titipan dari Aera" ucap Ye-Jun menyodorkan kotak makan untuk Zoya.


"Wah makanan lagi? tadi coklat lava, sekarang cake ini?" ujar Zoya kegirangan mengintip sedikit isi kotak itu.


"Ya. makanan saja moodnya langsung berubah senang. habiskan itu ya, aku pergi dulu ke lokasi" pamit Ye-Jun menyodorkan tangan kanannya. Zoya pun mengerti, ia meraih telapak tangan itu lalu menempelkannya pada keningnya sendiri.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, hati-hati, By. sampaikan terimakasihku pada Aera" teriak Zoya.


Ye-Jun mengangguk tersenyum sembari menaruh tangannya di pelipis layaknya sedang hormat pada bendera.


Zoya tersenyum-senyum menatap kepergian mobil itu, kemudian beralih pada kotak bekal yang isinya sangat menggiurkan.


"Aku akan melahapmu, wahai redvelvet" gumam Zoya senang lalu menutup pintu kediamannya.


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2