Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
162. Kebersamaan kembali


__ADS_3

🌸🌸


Sungguh bahagianya Ye-Jun dan keluarganya, Tuhan langsung memberikan dua anugerah pada pasangan muda itu. betapa bersyukurnya dua insan itu pada hari ini. diberi keutuhan keluarga kembali, kini mendapat kabar kalau anggota keluarga mereka akan bertambah oleh makhluk kecil nan mungil yang akan mengisi hari-hari mereka dengan kehebohan.


Kini Ye-Jun menemani sang istri untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ahli obgyn untuk melihat janin Zoya melalui proses USG. kedua wajah pasangan itu begitu terharu melihat jabang bayi mereka didalam sana sudah tumbuh seperti gumpalan daging yang masih kecil. pancaran bahagia tak pernah luput dari raut wajah pasangan muda itu. bayi mungil dan lucu yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan mereka, mendengar tawa, tangis, rengekan dan kebawelan yang akan mereka rasakan pada saat nanti. sungguh ini suatu rezeki yang Allah berikan dengan secepat ini. baru satu bulan lebih bersama sang istri dan langsung diberikan seorang makhluk kecil.


"Selamat ya, janinnya sehat dan berusia sekitar 4 minggu" ucap Dokter wanita dengan senyum termanisnya. turut berbahagia pula menatap pasangan muda itu.


"Empat minggu, Dok?" tanya Zoya kaget


"Yaaa benar"


"Hubby, berarti selama ini anak kita sudah ada disini" girang Zoya dengan raut wajahnya yang bahagia.


"Kecebongku benar-benar ampuh. pasti malam pertama langsung gol" bisik Ye-Jun dengan nada jahilnya.


Plak!


"Buat malu aja!" gerutu Zoya menepuk lengan suaminya. Dokter yang memerhatikan dari seberang hanya tertawa kecil melihat pasangan lucu itu. membuat raut wajah Zoya berubah menjadi merah merona, merasa malu ditertawain oleh Dokter itu.


"Maaf-maaf, kalian itu lucu sekali" ucap Dokter, setelah keheningan sesaat terjadi.


"Jadi, apa anda pernah mendapat keluhan, Nona?" tanya Dokter, mulai menganalisa.


"Mual, tapi gak sering. terus saya gak suka makanan manis karna bisa menyebabkan mual. malah lebih doyan yang pedas" jelas Zoya


"Satu lagi dok, manjanya berlebihan. gak bisa ditinggal dan ingin nempel terus" sambung Ye-Jun


Dokter mengangguk paham,


"Makan pedasnya dikurangi ya Nona, jangan terlalu pedas, itu bisa berdampak pada lambung anda nanti. kasihan janinnya juga."


Zoya mengangguk paham, memperhatikan wajah cantik Dokter itu.


"Dan bila memang makanan manis penyebab mual, hindari saja. Tuan harus lebih sering luangkan waktu bersama istri, sebab bila istri senang, janinnya akan tumbuh dengan baik pula didalam sana"


Pasangan muda itu mengangguk paham,


"Baiklah, ini resepnya yang harus dikonsumsi. vitamin dan pereda mual apabila terjadi rasa mual" Dokter itu menyodorkan secarik kertas berupa resep yang harus ditebus.

__ADS_1


"Terimakasih, Dokter" ucap Zoya menyalimi tangan Dokter itu sambil mengulum senyum lebarnya.


**


Diluar ruangan, keluarga Ye-Jun sudah menunggu dengan rasa tidak sabarnya. tak sabar untuk mengetahui tentang janin itu. hingga pintu pun terbuka, menampakkan sosok berkerudung yang tengah berbahagia itu. Aera langsung menyambutnya dan memeluk kakak iparnya tersebut.


"Eonnie, gimana keponakanku" tanya gadis itu dengan raut wajah tak kalah bahagianya.


"Yang jelas dia sehat dan masih kecil" jawab Zoya, membulatkan jari telunjuk dan jempolnya, membentuk ukuran seperti bakso.


"Ah syukurlah" ucap Aera.


"Selamat ya sayang, Mama sangat bahagia mendengar ini" ucap Mama Nam memeluk menantunya.


"Terimakasih, Ma"


"Jaga kandungan mu ya Nak" timpal Papa Hwan mengelus belakang kepala menantunya.


"Siap, Pa" sahut Zoya tersenyum, Ye-Jun yang melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah istrinya pun dirinya begitu bangga, bisa memberikan keturunan secepat ini berkat para kecebongnya yang liar.


Pandangan Zoya beralih menatap sesosok gadis yang berdiri sedikit jauh dari mereka. wajahnya datar, hanya dibarengi senyum tipis yang samar. Zoya tertegun melihatnya, adik ipar yang hanya memandangnya sebelah mata itu hanya diam membeku tanpa memberi ucapan kepadanya.


Sedikit demi sedikit Aena melangkahkan kakinya dengan ragu menghampiri Zoya. Aena merasa sangat malu sekali berada didepan Zoya, mengingat begitu banyaknya kesalahan yang ia lakukan. mencaci maki, merendahkan bahkan mendukung Soo Yun merebut kakaknya dari gadis itu. sungguh, rasa malu begitu besar didalam hatinya.


"Selamat ya, Zoya" ucapnya tersenyum dengan tulus


"Terimakasih" jawab Zoya, keadaan menjadi canggung.


**


Kini mereka semua telah berada di kediaman Hwan, Zoya, Mama, dan Aera tengah mengobrol bersama di ruang keluarga. sedangkan Aena berada di kamarnya, entah apa yang dilakukan gadis itu. sedangkan Ye-Jun dan papa Hwan berada di ruang kerja Papa, mengurus suatu hal yang penting.


Hingga tibalah jam makan siang, semua anggota keluarga tidak sabar untuk menikmati masakan yang beraroma wangi itu. Ye-Jun dengan hati-hati menduduki istrinya di sebuah kursi, membuat Zoya begitu malu diperlakukan seperti itu.


"Biasa ajalah, By"


"Aku takut kamu terpeleset. duduk dengan pelan"


"Ada-ada saja. perutku masih datar" tukas Zoya

__ADS_1


"Iya tau, tapi biasakan hati-hati"


"Hhh ..." Zoya menghembus nafas dengan kasar. sungguh tak diduga, suaminya sebegitu was-wasnya dengan keadaannya.


Setelah selesai makan siang, Ye-Jun dan Zoya berpamitan untuk kembali pulang ke kediaman mereka. Mama dengan berat hati melepaskan walaupun ingin terus dekat dengan menantunya itu. Namun mau bagaimana lagi, putranya itu tetap bersikeras memboyong istrinya untuk pulang.


"Suamimu itu menyebalkan" bisik Mama, melirik putranya dengan tatapan sengit. Ye-Jun memerhatikan,


"Ehem!"


"Mama bisa kok kapan-kapan ke datang ke rumah" ajak Zoya


"Serius boleh?" tanya Mama girang


"Iya, bawa Aera dan Aena juga ya, Ma"


"Oke sayang"


"Sudah selesai kan? ayo kita pulang sayang" ajak Ye-Jun menggenggam tangan istrinya. lalu mereka menyalimi punggung tangan Papa dan Mama.


Melihat mobil yang telah berlalu pergi dari pandangannya, membuat hati Mama tiba-tiba berubah menjadi sedih. seketika raut wajahnya pun tampak sedu menatap ke depan. Papa melihat wajah itu, mengelus punggung istrinya seolah memberi ketenangan. Mama menoleh menatap iba pada suaminya, pandangan mereka bertemu membuat Mama gak kuat menatap mata itu. Mama berhambur memeluk suaminya.


"Papa, Mama sangat bersalah sekali. mama begitu bodoh sudah mengkhianati Papa dan menelantarkan anak kita. hiks hiks hiks" keluh Mama didada suaminya, tangisnya pecah mengingat pengkhianatan yang ia lakukan.


"Sudah Ma, papa maafin asalkan jangan diulang lagi. sempat itu terjadi, entahlah. Papa berharap jangan lagi" ucap Papa Hwan


"Hiks hiks hiks, seharusnya Mama gak pantas menginjakkan kaki disini lagi, Pa"


"Lupakan saja. ini rumahmu dan sekarang kamu sudah pulang. jangan pergi lagi, Nam"


Mama Nam mengangguk, menatap wajah itu. lalu berhambur memeluk suaminya kembali.


"Zoya itu anak yang baik ya" ungkapnya, setelah tangis mereda. namun masih dalam pelukan suaminya. suaranya pun serak dan tercekat seperti orang yang baru menangis dalam jangka lama.


"Dia baik sekali dan sopan"


"Pantasan dari awal melihatnya, ada sisi lain di hati mama untuk menyukainya"


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2